Love Me Tender

Love Me Tender
Bukan Mantan Istri


__ADS_3

Tamara kembali di buat terkejut kala putrinya mengenali putra dari Indira.


"Apa kalian saling kenal, Nak?" tanya Tamara.


"Kenal dong, Ma. Coba Mama lihat baju kita", sahut Cha cha yang sedikit kesal karena sang Ibu seperti sedang kebingungan.


"Owh, iya. Kenapa Mama gak ngeh ya", sesalnya.


Cha cha tertawa mendengar ucapan sang Ibu. "Mama ngomong apa sih, ngeh itu apaan?" tanyanya.


"Artinya Mama gak perhatiin kalau baju kalian sama", ucap Tamara menjelaskan sesuai dengan apa yang dapat dipahami putrinya.


Raja dan Ratu tersenyum memperhatikan Tamara dan cucu mereka yang sedang asyik mengobrol hingga mengabaikan yang lainnya. Lalu mereka beralih menoleh ke arah Indira yang sedang sibuk membujuk cucu mereka juga.


"Mereka berdua tampak menggemaskan ya, my king", ujar Ratu pada sang suami.


"Halo, Cha cha", sapa Rafa setelah berdebat lama dengan Indira.


"Halo", balas Cha cha ketus seraya membuang wajahnya.


"Eh, kenapa seperti itu?" tegur Tamara pada putrinya. "Mama gak pernah ngajarin Cha cha seperti itu. Ayo, ulangi yang benar!" titahnya kemudian.


"Iya, Ma", sahut Cha cha dengan terpaksa.


"Halo juga Rafa", sapanya dengan lembut.


"Nah, gitu dong baru anak pintar Mama", puji Tamara.


"Cha cha gak marah lagi sama Rafa?" tanya Rafa memberanikan diri. Sebelumnya dia menolak permintaan Indira untuk menyapa Cha cha.


Cha cha menggelengkan kepalanya. "Kita kan teman satu kelas", sahut Cha cha.


"Kita berteman?" tanya Rafa memastikan.


Cha cha manggut manggut. "Iya, dong."


"Hore, Cha cha mau berteman lagi dengan Rafa!" serunya dengan riang.


Kakek dan nenek serta Ibu Rafa dan Cha cha ikut senang, dengan kembalinya hubungan baik keduanya. Mereka tidak menyangka bahwa anak kecil begitu mudahnya memaafkan. Hal itu telah membuat Indira merasa malu, karena sampai saat ini dia masih menyimpan rasa sakit hati.


Indira berbisik meminta Daven membatalkan reservasi mereka. Daven terpaksa mengikuti keinginan Indira. Dia malas berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu diributkan.


"Kami boleh gabung di sini, kan?" tanya Indira memastikan.


"Iya,.silakan. Masih banyak kursi.yang kosong", sahut Ratu dengan raut wajah bahagia.


Indira dan Rafa duduk di kursi yang kosong, di susul Daven setelah membatalkan reservasi.


...---...


Di sebuah restoran mewah. Theo dan Radit sibuk mencari tempat yang kosong.


"Kak Theo", panggil suara seorang wanita yang tidak asing dipendengaran Theo.


Theo menoleh seraya mencari sumber suara.


"Sini Kak", ajak wanita itu sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


Theo menyipitkan matanya kala melihat seorang wanita yang tak asing lagi baginya melambaikan tangan seraya tersenyum padanya. "Lova", ucapnya bergumam.


"Ayo, kita ke sana", ajak Theo. Radit pun beranjak, lalu mengikuti langkah Theo.


"Sendirian?" tanya Theo saat sudah berada di dekat meja Dealova.


"Iya, Kak", balas Dealova dengan tersenyum. "Kak Theo sama siapa saja?"


"Kami cuma berdua. Ini sahabat Kakak, namanya Radit."


"Owh, hai Kak Radit", sapa Dealova dengan tersenyum manis.


Radit pun tersenyum. "Hai, Lova", balasnya. Yang ini lebih cantik dari sekretaris Theo. Sepertinya kali ini aku harus minta bantuan Theo, batin Radit.


"Ayo, duduk Kak", ajak Dealova sembari menatap Theo dan Radit bergiliran.


"Terimakasih", sahut Theo dan Radit hampir bersamaan. Lalu mereka duduk di kursi yang kosong.


"Kenapa kau sendirian saja?" tanya Theo saat bokongnya berhasil menempel di kursi.


"Kalau aku tidak seorang diri, nanti Kak Theo dan Kak Radit gak dapat meja", candanya dengan cengiran kuda.


Theo pun tertawa kecil, lalu dia menoleh ke arah Radit. Dia terperangah kala melihat sahabatnya itu menatap Dealova tanpa mengedipkan mata. Theo spontnlan menyikut lengan Radit.


"Ada apa?" tanya Radit dengan nada kesal.


"Apa kau tidak memesan?" tanya Theo dengan sengaja mengganggu kesenangan Radit.


Dengan kesal Radit meraih buku menu di atas meja. "Aku pesan sup iga bakar dan ice blend cofee", ucapnya.


Theo menggelengkan kepalanya, karena Radit tidak berubah untuk urusan wanita cantik. "Pelayan!" panggil Theo pada seorang pria yang sedang berdiri memakai seragam khas restoran itu.


"Saya ingin memesan", kata Theo.


"Owh, baik Pak. Silakan disebutkan pesanannya", sahut sang pelayan dengan ramah. Lalu dia mencatat semua pesanan Theo.


"Saya ulangi ya, Pak", kata sang pelayan sembari membacakan ulang pesanannya. Theo pun mengangguk sebagai jawaban. "Selain ini ada pesanan yang lainnya, Pak?" tanya sang pelayan.


"Tidak, terimakasih."


"Oke, mohon ditunggu Pak. Saya permisi", ucap sang pelayan dengan sopan seraya beranjak dari sisi meja Theo.


"Lova, masih kuliah?" tanya Radit mencoba akrab dengan Dealova.


"Lova sudah kerja, Kak."


"Owh, padahal masih kelihatan sangat muda. Kakak pikir masih kuliah", puji Radit.


"Kak Radit bisa aja bercandanya", balas Dealova dengan tersenyum.


"Kakak gak lagi bercanda Lova. Coba lihat muka Kakak. Apa kelihatan sedang bercanda?"


Dealova menatap Radit dengan serius. "Lha, itu hidung Kakak kembang kempis", guraunya


"Wah, selain cantik kamu juga humoris ya", puji Radit kembali.


"Kak Radit terlalu berlebihan. Lova bukan seperti yang Kakak pikirkan.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan ngobrol?" tanya Theo saat makanan sudah terhidang di meja mereka.


Radit menatap jengah sahabatnya yang sedang sibuk menikmati makanannya. "Kau selalu saja menggangguku. Aku curiga, jangan-jangan kau cemburu!" sahut Radit dengan berdecak kesal.


Dealova tersenyum riang kala mendengar ucapan Radit. Sedangkan Theo memberikan tatapan yang mampu mrmbuat Radit ciut.


"Oke, aku makan. Jangan terlalu galak sobatku, nanti Dira tidak mau kembali padamu!" kata Radit yang membuat Dealova tersentak.


"Dira siapa Kak?" tanyanya.


"Bukankah kalian saling kenal. Kenapa Lova tidak kenal dengan istri Theo?"


"Owh, mantan istri Kak Theo", sambut Dealova seraya manggut-manggut.


"Bukan mantan istri!" tegas Theo.


"Dira itu masih istri Theo", jelas Radit. "Ceritanya panjang, kalau Lova punya waktu Kakak bisa menceritakannya", lanjutnya kala melihat ekspresi bingung Dealova.


"Hari ini Lova sibuk, Kak. Bagaimana kalau besok saja", tawar Dealova.


"Aku sudah selesai makan. Kalau kalian punya banyak waktu, makanlah pelan-pelan. Aku yang akan bayar", kata Theo seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Eh, tunggu dulu!" seru Radit dengan raut wajah bingung. Dia mengira Theo sedang bercanda padanya.


Theo beranjak dan berjalan meninggalkan Radit dan Dealova.


"Theo, tunggu sebentar lagi!" pinta Radit dengan suara setengah berteriak. Dia takut membuat kebisingan hingga mengganggu pengunjung restoran lainnya.


Theo terus berjalan mengabaikan Radit yang tak berhenti memanggilnya.


Dealova menatap kesal kepergian Theo, karena telah mengabaikan dirinya. Bahkan Theo seakan sedang membuka jalan buat sahabatnya Radit.


"Apa aku bisa meminta nomormu?" tanya Radit.


"Boleh", jawab Dealova dengan raut bahagia. Lalu mereka saling bertukar nomor. "Aduh, aku tidak sengaja menghapus kontak Kak Theo dari daftar kontakku", bohongnya.


"Kenapa harus panik? Kakak kan bisa kirim balik nomornya Theo ke Lova", kata Radit dengan langsung mengirim nomor Theo.


"Terimakasih, Kak", ucap Dealova.


"Itu hanya hal sepele, jangan sungkan."


Dealova hanya membalas dengan tersenyum. Selama ini Ratu tidak pernah mau memberikan nomor Theo padanya. Tapi hari ini dia telah mendapatkannya dengan begitu mudah.


"Lova masih sibuk di kantor. Apa Kak Radit tetap di sini?" tanyanya.


"Yah, Lova. Padahal Kakak rela ditinggalin Theo. Tapi sekarang malah Lova mau ninggalin Kakak. Lova gak aayik", ujarnya.


"Lova minta maaf, Kak. Lain waktu Lova temani Kak Radit, ya."


"Iya, gak apa-apa. Kakak hanya bercanda, kok."


"Terimakasih, Kak", balas Dealova dengan tersenyum, lalu dia beranjak meninggalkan Radit.


Dasar playboy, gampang dikibulin, ucap Dealova dalam batinnya.


Radit menghela nafas panjang kala melihat makanan yang masih ada dihadapannya. Dia pun menghubungi Theo, untuk memintanya kembali ke restoran. Namun Theo menolaknya, karena dia sudah di jalan.

__ADS_1


Radit menjanjikan akan memberitahu ide darinya untuk membujuk Dira, asalkan sahabatnya itu datang kembali ke restoran. Theo pun menyetujui tanpa berfikir panjang.


Radit tersenyum bahagia karena telah berhasil membuat sahabatnya patuh padanya.


__ADS_2