
Mentari pagi sudah mulai meninggi, tampak seorang pria sedang berdiri di atas rooftop sebuah bangunan berlantai 5. Pria itu menatap langit biru dengan perasaan gelisah, karena mengingat sebuah permintaan tak masuk akal dari sang ibu. Meskipun dia sangat menyayangi ibunya itu, tapi dia tidak mau rasa dendam membuatnya kehilangan akal sehat.
"Hei, siapa di sana?" teriak seorang petugas kebersihan kampus Arkana University saat dia baru saja membuka pintu menuju rooftop.
"Maaf, pak. Saya hanya mau menikmati udara pagi disini."
Petugas kebersihan itu mengira pria itu sedang frustasi dengan kuliahnya. Dia pun mencoba membujuknya. "Jangan berdiri terlalu ketepi, bahaya! Ayo, saya bawa kamu kembali ke kelasmu!"
"Iya, bentaran doang pak. Nanggung nih."
"Tidak boleh! Kalau tidak akan saya laporkan pada dosenmu." Pak petugas kebersihan itu berjalan menghampirinya dan menarik paksanya untuk turun.
"Pelit amat sih, pak", ucapnya berdecak kesal.
"Siapa nama kamu? Dari jurusan mana?"
Pria itu langsung melarikan diri menjauhi petugas kebersihan yang masih berdiri diposisinya dengan wajah emosi.
"Sampai jumpa lagi, pak", ucapnya dengan cengiran kuda sembari melambaikan tangan, yang membuat petugas itu semakin emosi.
Di dalam kelas Indira dan Tamara mulai riuh karena keterlambatan Theo masuk ke kelas mereka. Kali ini Indira tidak lupa dengan posisinya sebagai asisten dosen. Dia pun meminta teman satu kelasnya itu agar tenang sampai dia kembali dari ruangan Theo.
Indira berjalan dengan langkah gontai menuju ruangan Theo. Tak berselang lama dia sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan Theo.
Tok. Tok.
"Siapa?" tanya suara dari dalam.
"Ini Dira,.kak", sahutnya. Setelah itu tidak ada lagi suara dari dalam. "Kenapa gak di balas ya? Apa itu artinya aku boleh masuk sekarang?" ucapnya bergumam.
Ceklek.
Indira langsung membuka pintu. Seketika matanya terbeliak saat melihat seorang wanita cantik sedang membenarkan beberapa biji bajunya.
"Maaf... Maaf kak", ucap Indira sembari menutup matanya dengan telapak tangan.
"Kalau begitu, aku tunggu nanti di cafe biasa ya sayang", ucap Tiara dengan mesra pada Theo.
"Oke, sayang", balasnya dengan memberi ciuman pipi kanan dan kiri sebagai tanda perpisahan.
Lalu Tiara berjalan meninggalkan Theo. Saat dia akan melewati Indira dengan sengaja dia menyenggol bahu Indira yang masih berdiri di ambang pintu. "Sayang, tolong ingatkan mahasiswimu ini, agar lain kali bersikap sopan pada dosennya", ucapnya sembari menatap Indira dengan sinis.
"I- iya sayang", sahutnya dengan gaguk. Setelah itu Tiara benar-benar pergi dari ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Theo dengan serius.
__ADS_1
"Sebelumnya kakak memintaku melakukan tugas sebagai asisten dosen. Jadi Dira datang kemari untuk meminta tugas hari ini, agar teman-teman Dira tidak ribut di kelas kak."
"Tidak perlu! Saya kesana sekarang."
"Baik, kak", sahut Indira sembari membalikkan badannya.
"Tunggu dulu", ucap Theo yang menghentikan langkah Indira.
Indira langsung membalikkan badannya. "Ya, ada apa kak?"
"Bawakan ini ke kelas!"
Indira berjalan melangkah ke depan, lalu dia meraih beberapa buku yang di tunjuk Theo di atas meja. Setelah itu Theo keluar lebih dulu dari ruangannya diikuti oleh Indira dibelakangnya.
Di kampus saja dia sudah berani menunjukkan kemesraan mereka, berarti rumah tangga kami akan segera berakhir, batin Indira menangis. Namun sesaat kemudian dia tepis pikiran itu. Pikirkan yang baik Dira, ucapnya di dalam hati.
Dia terus berjalan mengikuti langkah Theo dibelakangnya, hingga mereka sampai di kelas.
Setelah hampir 2 jam lamanya, kelas yang sedang diajar oleh Theo pun usai. Indira langsung menoleh bertanya pada Tamara yang sedari tadi memegang perutnya.
"Apa kau lagi dapat?"
"Sepertinya iya, ini hari pertama."
"Tidak perlu. Aku membawanya selalu di dalam tas. Cuma aku butuh air hangat saja."
"Oke, akan aku ambilkan. Kau tunggu sebentar, ya." Indira berlari dengan buru-buru ke luar kelas.
BRUKK.
Aww... Pekik Indira saat seseorang menubruknya dari arah samping.
"Maaf... Maaf", ucap pria yang tidak sengaja menubruk Indira seraya mengulurkan tangannya membantu Indira berdiri.
"Iya, gak apa-apa. Aku juga salah karena terlalu terburu-buru." Indira menghempas debu yang menempel dicelananya saat terjatuh tadi.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya pria itu sembari menatap Indira dengan tersenyum.
Indira mengernyitkan keningnya, dia mencoba mengingat pria yang ada dihadapannya saat ini. Sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Maaf aku benar-benar gak bisa mengingatnya."
"Aku ini kakak kelasmu sewaktu SMP, tapi karena kau loncat kelas makanya kita jadi bareng lulusnya."
"Owh, maaf kalau Dira lupa. Kakak namanya siapa, ya?"
"Panggil Raka saja. Jangan panggil kakak."
__ADS_1
"Baiklah Raka. Sekarang aku buru-buru mau ke kantin. Jadi lain kali kita sambung ngobrolnya, ya."
"Entar dulu Dira, apa aku bisa meminta nomor ponselmu? Biar memudahkan kita komunikasi."
Indira terdiam sesaat. Dia ingin mengatakan bahwa dia sudah mempunyai suami, namun lidahnya seakan tercekal. Apalagi dia tidak begitu mengenal pria itu.
"Kau jangan kuatir. Aku kuliah disini kok. Ini kartu mahasiswaku dan ini juga foto bahwa kita dari alumni SMP yang sama."
Berbekal KTM dan foto alumni, Indira percaya pada pria dihadapannya saat ini. Dia langsung memberikan nomor ponselnya hingga mereka saling bertukar nomor. Setelah itu Indira berjalan meninggalkan Raka yang masih berdiri diposisinya.
Di sebuah cafe, Theo sedang duduk saling berhadapan dengan kekasihnya. Tiba-tiba dia menerima notif diponselnya. Diaktifkannya layar ponselnya itu dan dibukanya sebuah pesan. Matanya terbeliak kala melihat foto dirinya bersama Tiara yang sedang makan di cafe saat ini. Diedarkannya pandangannya untuk mencari si pengirim, namun dia tidak menemukan orang yang dia curigai.
"Cari apa sayang?"
"Seseorang sedang mengikuti kita bahkan dia sudah memotret kita. Coba lihatlah!" Theo menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya.
"Biarkan saja, sayang. Toh, lambat laun mereka juga akan tahu hubungan kita."
Theo terdiam sesaat, dia tahu ancaman daddynya itu bukanlah bualan semata. Itu akan benar-benar terjadi jika dia sampai melakukan hal yang bisa membuat keluarganya malu.
"Jika aku tidak mempunyai harta kekayaan apapun atau bahkan pekerjaan sekalipun, apa kau akan tetap bersamaku?"
Tiara menatap Theo dengan serius. "Kau tidak akan kehilangan apapun bahkan kita akan bersatu tanpa ada halangan."
"Kenapa kau begitu yakin, sayang?"
Tiara menatap Theo dengan tersenyum penuh arti. "Duduk tenang dan lihat saja nanti."
Tiara begitu percaya diri dengan ucapannya sedangkan Theo terlihat mulai kuatir.
Seseorang yang sedang mengikuti Theo dan Tiara merekam semua perbincangan mereka.
---
Setelah jam kuliah berakhir Theo masuk ke dalam ruangannya. Dia tersenyum karena seseorang menunggunya di sana.
Tiara langsung membalikkan kursi. "Hai, sayang", sapanya sembari memutar-mutar kursi.
"Hai", balas Theo singkat, namun senyum di wajahnya seketika hilang.
"Ayo, kita pulang!" Tiara bangkit dari kursi dan meraih tas jinjingnya di atas meja kerja Theo. Lalu dia berjalan menghampiri Theo.
"Oke", balas Theo ragu. Sebenarnya masih ada yang harus dia bereskan, tapi dia tak mau mood Tiara berubah jika memintanya menunggu lagi.
Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran kampus.
__ADS_1