Love Me Tender

Love Me Tender
Persiapan Acara Resepsi


__ADS_3

Tamara dan Indira sudah berada di dalam mobil. Pak Joko pun bergegas melajukan kendaraan meninggalkan parkiran cafe.


"Ara, tadi kamu lihat apa yang dikerjain kak Dion dilaptopnya?" tanya Indira seraya menoleh ke arah Tamara.


Tamara menggelengkan kepalanya. "Emangnya kenapa?"


"Tadi aku sempat lihat dia sedang melakukan pencarian di sebuah laman website. Apa kau bisa menghubungkannya dengan sesuatu?"


Tamara mendelik. "Jangan-jangan..."


Indira mengangguk-anggukkan kepalanya, menunjukkan bahwa mereka sepikiran.


"Surat cinta", ucap mereka bersamaan yang membuat pak Joko tersentak kaget.


"Kau punya contoh tulisan kak Dion?" tanya Indira.


Tamara tampak berfikir sejenak. "Ya, ada. Kak Dion pernah menuliskan resep makanan buat mommy. Semoga aja catatannya gak hilang."


Indira menganggukkan kepalanya. "Oke."


 


Di sebuah rumah yang besar namun kurang terawat, seorang ibu duduk di sebuah kursi roda sembari menatap kedatangan putra semata wayangnya itu.


"Bagaimana kuliahmu hari ini, nak?"


Pria yang baru saja pulang dari kampus itu pun menghamburkan dirinya memeluk sang ibu, kemudian dia mencium keningnya. "Bagaimana kabar ibu hari ini? Apa ibu sudah minum obat?"


"Sudah, nak. Kau gak perlu kuatir dengan ibu. Bi Rodiyah sudah mengurus ibu dengan baik."


"Baguslah, kalau bibi sudah merawat ibu dengan baik. Sekarang, ayo kita jalan-jalan di taman."


"Tidak perlu, nak. Ibu disini saja. Ibu hanya mau menanyakan mengenai progress rencana kita. Apa kau sudah mendapatkannya?"


"Belum, bu", sahut pria itu dengan tertunduk.


"Dasar anak tidak berguna! Melalukan hal mudah seperti itu saja kau tidak bisa, ha!" Seketika kelembutan sang ibu berubah.


Pria itu hanya bisa diam menatap sang ibu yang sedang marah dengan melempar sesuatu yang berada disekitarnya. Tanpa terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.


 

__ADS_1


Di rumah kediaman Tamara.


Tampak dekorasi rumah yang simple tapi tetap terkesan mewah.


"Apa keluargamu sedang mengadakan acara?" Indira mengedarkan pandangannya melihat dekorasi indah memenuhi ruangan itu.


Tamara mengernyitkan keningnya. "Bukankah kita sudah satu keluarga? Harusnya kau mengganti kata keluargamu dengan keluarga kita."


"Iya itu maksudnya." Indira meluruskannya sebelum Tamara melanjutkan ucapannya.


"Apa kakek tidak memberitahumu. Kalau besok siang akan diadakan acara resepsi pernikahanmu dan kak Theo."


Indira menggelengkan kepalanya. 'Tapi untuk apa diadakan acara seperti itu? Ini bukanlah sebuah pernikahan yang kami inginkan."


"Semua itu sudah terjadi dan waktu pun tidak bisa di ulang kembali. Lebih baik dijalani saja dulu", ujar Tamara memberi nasehat.


"Atau sebenarnya kau tak ingin hubunganmu dengan Daven terganggu?" tanya Theo tiba-tiba saat baru saja masuk ke dalam rumah.


Indira menatap Theo yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Daven, selain dari teman kampus. Dia juga sudah mengetahui tentang pernikahan kita."


"Jelas dia tahu. Karena dialah pelaku yang sudah menjebak kita."


"Awalnya dia hanya ingin mencemarkan nama baikku. Tapi dia tidak menyangka akhirnya yang terjadi adalah aku menikah denganmu. Daven pun stres saat rencananya gagal total, karena tidak ada pemberitaan di surat kabar tentang kejadian itu."


Indira manggut-manggut. "Jadi panggilan... "


"Aku capek saat ini, besok pun ada acara resepsi pernikahan kita. Lebih baik pikirkan itu saja, jangan pikirkan orang lain. Ingat, aku adalah suamimu!" Theo memotong ucapan indira yang tidak ingin membicarakan pria lain. Lalu dia beranjak meninggalkan Indira dan Tamara.


"Benar yang dikatakan kak Theo. Lebih baik kita fokus dengan urusan kita sendiri saja."


Indira terdiam sesaat. Dia hanya bisa menyimpan sementara rasa penasarannya atas apa yang terjadi pada Daven.


 


Di dalam kamar.


Indira menatap nanar ke luar kaca jendela kamar saat sedang duduk termenung di sofa. Dia masih menunggu Theo menyelesaikan ritual mandinya.


Ceklek.


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Indira. Spontan Dia pun menoleh ke arah kamar mandi. Dengan santainya Theo berjalan keluar dari dalam kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya dan memamerkan roti sobek miliknya, hingga membuat Indira tak ingin mengalihkan perhatiannya dari Theo.

__ADS_1


"Apa kau sudah puas melihatnya?" tanya Theo saat melihat Indira menatapnya tanpa berkedip.


Seakan tertangkap basah, Indira pun berdalih. "Mata gunanya untuk melihat bukan untuk merasakan puas atau tidak", jawab.Indira ngssal. Lalu dia kembali membuang pandangannya ke luar kaca jendela agar Theo tidak melihat wajah meronanya.


Theo tersenyum saat mendengar suara gugup Indira. Entah kenapa setiap perkataan yang keluar dari mulut Indira, semakin membuatnya tertarik. Lalu Theo berjalan menuju walk-in closet untuk memgenakan pakaiannya. Indira pun bangkit dari sofa. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan buru-buru agar tidak bertemu kembali dengan Theo.


 


Di ruang makan.


Sambutan hangat keluarga Theo saat dirinya dan Theo datang bersama ke meja makan membuat Indira merasa terharu. Rasa gugup yang dirasakan Indira sebelumnya karena perlakuan manis Theo yang menunggunya hingga dirinya selesai mandi perlahan hilang.


"Kakek senang kalian mulai menjalani kehidupan sebagai suami dan istri. Kakek harap kalian akan lanjut ke tahap berikutnya." Kakek tersenyum menatap Theo dan Indira bergantian.


Indira mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan ambigu dari sang kakek. "Maksudnya, kek?" Pertanyaan Indira itu berhasil membuat Theo tersedak.


Kakek dan yang lainnya pun tersenyum kala mendengar pertanyaan polos Indira. "Tanyakan saja nanti pada suamimu saat kalian sedang berdua di dalam kamar", ucap sang kakek.


Indira manggut-manggut. "Baik, kek", sahutnya dengan santai. Lalu tangan Indira menyendok makanan ke dalam piring, untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri. Tanpa Indira sadari Theo diam-diam memperhatikan setiap gerak geriknya. Theo ingin membuktikan apakah ucapan sang kakek benar mengenai Indira.


Tak butuh waktu yang lama mereka semua sudah menyelesaikan makan malam. Setelah itu semua keluarga Theo berkumpul di ruang keluarga seperti yang biasa mereka lakukan. Malam ini mereka ingin membahas acara resepsi pernikahan Theo dan Indira.


"Malam semuanya..."


"Kakek... Nenek..!" teriak Tamara sembari bangkit dari tempat duduknya, lalu menghamburkan diri memeluk kakek dan neneknya bergantian.


"Mana cucu nakal kakek itu?" Sang kakek mencari Theo yang sedang bersembunyi di balik tubuh kakek dari pihak daddynya itu


"Besan tenanglah dulu!" pinta sang kakek. "Ayo, duduk di sini."


"Maaf, kek", ucap Theo dengan penuh rasa bersalah. Dia selalu kesulitan bila menghadapi kemarahan kedua kakeknya.


Sang kakek mengabaikannya. "Apa ini cucu menantu kakek?" tanya sang kakek saat melihat ke arah Indira, karena hanya Indira orang yang tidak dia kenal di antara keluarganya itu.


"Iya kek", sahut Theo. Namun kakek masih tak memperdulikannya.


"Keluargamu tinggal di mana, cu?"


Tiba-tiba mereka semua terdiam, lalu menoleh ke arah Indira.


"Mereka sudah tiada, kek. Sejak 3 tahun yang lalu", ucap Indira lirih. Air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya, akhirnya jatuh dengan bebas.

__ADS_1


__ADS_2