
Sorot mata Daven menatap fokus rekaman CCTV pada pria yang masuk ke dalam apartemen di sisi kanan dan kiri apartemen Indira.
"Pria itu siapa?" tanya Daven pada security.
"Coba kita perbesar wajahnya", sahut sang security saat mengklik zoom pada layar monitor.
Semua mata menatap dengan cemas. Saat wajah pria itu berhasil diperbesar sang security menoleh ke arah Daven.
"Dia itu penghuni lama di sini. Namanya Kevin."
"Owh, begitu ya", ucap Daven lemas. Karena tidak mungkin dia mencurigai penghuni di sisi kanan apartemen Indira yang adalah seorang wanita, apalagi dia seorang wanita karir.
"Selanjutnya kita harus bagaimana?" tanya Indira bingung.
"Kita kembali ke apartemenmu saja dulu. Nanti kita pikirkan di sana", ujar Daven yang tidak ingin Rafa di bawa-bawa dalam masalah itu.
Indira pun mengangguk sebagai jawaban.
"Terimakaih buat waktunya, Pak. Kalau begitu kami permisi", ucap Daven pada sang security.
"Sama-sama, Pak", sahutnya. "Jika Bapak masih ragu, lebih baik lapor ke pihak yang berwajib saja", lanjutnya.
"Iya, terimakasih sarannya Pak", balas Daven seraya menggendong Rafa. Lalu mereka berjalan bersama menuju apartemen Indira.
...---...
Senja sudah kembali keperaduannya, namun Indira masih berada diapartemennya, meskipun sudah mengemas pakaian miliknya dan putranya di dalam koper.
"Bagaimana kalau kalian tinggal di rumah Theo?" tanya Daven yang membuat Indira terbelalak.
"Apa kau tidak punya solusi selain itu?" tanya Indira balik.
"Aku sudah berusaha Dira. Kau juga tahu itu", jawab Daven kesal. "Julie asistenmu hanya punya satu kamar. Di rumahku, Papa dan Mama sedang tidak ingin bertemu denganmu. Hanya rumah Theo tempat yang aman buat kalian berdua saat ini", lanjutnya.
Indira berfikir sejenak. Mata nanarnya menatap Rafa yang masih ketakutan.
"Hem, aku setuju", balasnya mengangguk.
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang!" kata Daven seraya membantu membawa koper Indira dan Rafa.
Mereka berjalan ke luar dari apartemen milik Indira.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Mereka masuk kedalam lift. Lalu Daven menekan tombol basement.
"Bukankah lebih baik jika kita menelpon keluarga Theo lebih dulu?" tanya Indira yang merasa tidak sopan tiba-tiba mendatangi rumah orang dengan membawa koper di malam hari. Entar mertuaku mengira aku lari malam karena gak bayar uang kontrakan, batin Indira.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kalau kalian tiba-tiba datang, mereka tidak punya alasan untuk menolak."
"Walau melalui telepon mereka pasti tidak akan menolak", sahut Indira dengan yakin. "Percaya padaku!" lanjutnya saat Daven menatapnya ragu.
"Sudah, ikuti saja caraku", bantah Daven.
Indira mendengus kasar seraya meraih ponselnya dari dalam saku.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Daven.
"Tidak ada! Aku hanya bosan saja", balas Indira. Lalu jari jemarinya lanjut mengotak atik ponsel miliknya.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Mereka berjalan ke luar pintu lift menuju mobil Daven di parkir.
"Sementara kita naik mobilku saja. Besok pagi minta asistenmu untuk mengambil mobilmu di sini", kata Daven seraya memencet remote mobil miliknya.
Indira hanya membalas dengan anggukan. Lalu dia membawa masuk Rafa ke dalam mobil.
Daven melajukan kendaraan menuju rumah kediaman Theo.
...---...
Dalam waktu 20 menit mereka tiba di rumah keluarga Theo. Indira mengetuk pintu dengan ragu.
"Ketuk yang lebih kecang!" seru Daven.
"Dira!" seru Theo.yang tidak terlihat kaget.
"Apa kau sudah menungguku lama?" selidik Indira.
"Ya, sudah 5 tahun. Dan akhirnya kau kembali", balas Theo yang membuat Indira kesal saat mendengarnya.
"Ini putramu", ucap Daven seraya memberikan Rafa yang tertidur dipangkuannya pada Theo.
"Terimakasih", balas Theo. Lalu dia mengambil Rafa dari pangkuan Daven. "Ayo, kita masuk", sambungnya.
"Aku cukup mengantar sampai di sini saja Kalau begitu aku langsung pulang", imbuh Daven seraya beranjak dari posisinya berdiri.
"Owh, kalau begitu sekali lagi aku berterimakasih. Hati-hati di jalan", balas Theo saat Daven sudah semakin menjauh.
Sementara Indira tampak gugup di tinggal sendiri oleh Daven. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada keluarga Theo.
"Ayo, kita masuk", ajak Theo.
Indira melangkah masuk mengikuti langkah Theo. Sudah 5 tahun lamanya dia meninggalkan rumah itu. Dadanya terasa sesak saat memori kenangan saat dirinya di sana kembali melintas di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Duduklah sebentar", pinta Theo. Lalu dia berjalan menuju kamar sang bibi dengan menggendong putranya.
"Bi Iyem", panggil Theo dari balik pintu.
Ceklek.
"Iya, den", balas sang bibi. "Ini anak siapa, den?" tanya sang bibi, karena tidak mengenalnya.
"Anakku, Bi", jawab Theo singkat, namun mampu membuat Bi Iyem tersentak kaget. "Jangan diam saja Bi. Bantu saya menyiapkan kamar tamu, Bi", lanjutnya.
"Owh, baik den", balas sang bibi. Lalu dia menutup pintu kamarnya dan bergegas berjalan menuju kamar tamu. Namun dia kembali kaget kala melihat Indira sedang duduk di sofa sembari termenung.
"Ternyata ada Non Dira", ucap.sang Bibi yang membuat Indira menoleh.
"Hai, Bi. Apa kabar?" sapa Indira.
Bi Iyem berjalan menghampiri Indira. "Hai, Non Dira. Bibi sudah semakin tua, Non. Jadi mulai pikun. Masakan yang - "
"Bi, nanti ceritanya", potong Theo. Dia tak habis pikir kenapa setiap wanita jika ketemu tidak bisa diam, pasti mulai bergosip.
"Bibi hanya kangen Non Dira,.den", kata sang Bibi.
"Iya, nanti saja Bi. Kasihan Rafa digendong terus. Biar dia bobok dengan nyaman, Bi", imbuh Theo.
"Baik, den", balas sang Biibi sembari berjalan menuju lantai kamar atas.
"Ayo, kita ke atas", ajak Theo pada Indira yang masih duduk santai.
"Apa kau tidak ingin bertanya sesuatu?" tanya Indira dengan menatap curiga Theo.
"Untuk apa aku bertanya? Istriku datang setelah 5 tahun aku pasti sangat rindu padanya", balasnya dengan santai.
"Setidaknya tanyakan alasan kami datang kemari atau beritahukan pada Ayah dan Ibumu."
Theo kembali menoleh ke arah Indira. "Apa kau wanita single yang datang ke rumah seorang pria lajang?" tanya Theo yang membuat Indira terdiam.
Indira terpaksa mengikuti langkah Theo menuju lantai atas.
...---...
Di tempat lain di sebuah ruangan, Tiara mendapat sebuah perlakuan kasar dari sang kekasih akibat perbuatan nekatnya bertemu dengan Theo di cafe. Padahal Mark sudah memperingatkatnya berkali-kali. Kini dia harus di hukum selama 1 minggu tidak bisa ke luar dari ruangan itu.
"Mark sayang, please", pohon Tiara dari balik pintu, agar sang kekasih mengizinkannya keluar dengan alasan rindu bertemu dengan nenek.
"Aku sudah menghubungi Nenekmu. Dia bilang hanya butuh uangku saja. Dia tidak butuh cucu b*dohnya", sahut Mark.dari balik pintu.
Tiara terdiam sesaat. "Kalau begitu katakan pada Nenekku, maka dia tidak akan melihatku lagi untuk selamanya."
__ADS_1
Setelah itu Tiara tidak lagi berbicara. Mark tetap menunggu di balik pintu, hingga berjam-jam lamanya. Merasa ada yang tidak biasa dengan Tiara, Mark pun memutuskan membuka pintu.
"Tiara!" teriak Mark memanggil Tiara kala melihatnya tergeletak tak berdaya di atas lantai. Mark langsung membopong dan membawanya ke luar dan memberinya ruang agar leluasa bernafas.