Love Me Tender

Love Me Tender
Awal Kesuksesan


__ADS_3

Tamara berjalan menuruni anak tangga dengan buru-buru.


"Jangan berlarian di tangga seperti itu!" seru Ratu saat melihat putrinya itu melangkah dengan tergesa-gesa.


"Iya, maaf mom. Ara memang lagi buru-buru", sahutnya dengan nafas yang memburu.


"Sudah santai aja, nak. Toh, kakakmu juga baru aja datang", ujar Ratu yang membuat Tamara menatapnya dengan mengernyitkan kening.


"Maksud mommy?"


"Itu...", tunjuk Ratu menggunakan ekor matanya. "Dion baru aja sampai."


Tamara masih mengernyitkan keningnya. "Siapa yang mau pergi dengan kak Dion, mom?"


"Tapi tadi Dion nyariin kamu. Mommy pikir dia mau jalan bareng kamu", ujarnya.


"Ara mau ke rumah Dira, mom."


Ratu menatap Tamara dengan penuh selidik. "Kenapa harus malam-malam gini?" tanya Ratu yang tak ingin putrinya itu suka keluyuran malam.


Tamara melihat jam yang melingkar ditangannya. "Dari 2 jam yang lalu Dira tidak mengangkat telepon Ara, mom. Ara kuatir Dira kenapa-napa."


"Mungkin lagi sibuk, nak. Jangan panik gitu."


Tamara menggelengkan kepalanya. "Kayaknya gak mungkin deh, mom. Dira kan masih tinggal di rumah tetangga bibinya."


"Sudah... Jangan paranoid gitu. Berfikir positif saja sayang", ucap Ratu seraya menuntun Tamara menuju ruang tamu.


Tamara melangkahkan kakinya sambil terus memikirkan ucapan sang mommy. Sebenarnya dia ingin berfikir positif, tapi hatinya berkata lain. Tiba-tiba saja Tamara dikejutkan suara dering ponselnya. Dia pun langsung meraih ponsel dari dalam tas selempangnya.


"Dira", ucap Tamara saat melihat nama di layar ponselnya.


"Ara", panggil Dion dengan melambaikan tangan, saat melihat Tamara sedang berjalan kearahnya bersama Ratu.


Ratu memberi isyarat pada Dion, kalau Tamara sedang menerima panggilan telepon. Dion pun menganggukkan kepalanya sebagai balasan. "Baik, tante", ucapnya.


Ratu membalikkan badannya dan melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu, dia berjalan menuju ruang makan untuk menyiapkan makan malam.


"Aku tinggal bentar ya.", ucap Theo seraya bangkit dari sofa, lalu dia berjalan meninggalkan Dion seorang diri.


"Malam, om", sapa Dion saat melihat Raja datang memghampirinya.

__ADS_1


"Malam... Bagaimana kabar papa dan mamamu?" tanya Raja sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.


"Mereka baik, om. Tadi juga mereka titip salam sama om dan keluarga", ucap Dion dengan sopan.


"Sampaikan salam balik dari om buat orang tuamu ya", ujar Raja. Lalu dia meraih ponsel dari sakunya saat mendengar notifikasi masuk. Raja langsung membuka layar ponsel dan notifikasi yang baru masuk. "Om tinggal sebentar, ya." Raja langsung berjalan menuju tangga sembari menatap layar ponsel.


"Kenapa keluarga ini suka meninggalkan aku, ya. Apa kehadiranku tidak penting", ucap Dion bergumam sambil menunduk.


"Memang tidak penting", sahut Theo yang baru datang dari arah ruang makan. "Nih, minumlah. Kebetulan bibi lagi sibuk menyiapkan makan malam." Theo meletakkan segelas juice jeruk di atas meja, lalu duduk kembali di sofa tepat di sebelah Dion.


"Hai, kak Dion", sapa Tamara seraya memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya.


Dion terbelalak saat melihat penampilan Ara. "Dek Ara cantik, mau kemana?" tanya Dion sembari memegang segelas juice jeruk ditangannya.


Tamara ikut menempelkan bokongnya di sofa. "Tadi sih mau ke rumah Dira", sahut Tamara seraya menyandarkan tubuhnya. "Tapi gak jadi, karena Dira udah ngabarin."


"Jalan bareng kakak aja, mau gak?" tanya Dion yang mulai memberanikan diri.


"Cuma berdua?" tanya Tamara balik.


"Ya, bertiga dong bareng mobil", sahut Dion dengan gurauan.


"Gak asyik kalau cuma bertiga, mana sama mobil lagi. Enaknya tu kalau rame, bareng sama teman yang lain",


"Sudah jangan diteruskan. Ayo, kita makan dulu. Nanti di lanjut lagi ngobrolnya." ucap Theo memotong ucapan Dion.


Theo beranjak lebih dulu, meninggalkan Dion dan Tamara. Sedangkan Dion terus menatap ke arah Tamara, dan berharap adik Theo itu tetap tinggal bersamanya. Namun harapannya pupus tatkala melihat Tamara berdiri.


"Ayo, kita makan kak", ajaknya pada Dion yang sedang menatapnya dengan wajah lesu.


Dengan niat yang berat dan langkah gontai Dion mengikuti Tamara dari belakang.


 


Di tempat kos Indira.


Tampak barang pribadi Indira yang masih terletak di lantai. "Ayo, semangat Dira", ucapnya menyemangati diri sendiri. Lalu menyusun barang-barangnya pada almari yang sudah tersedia.


Sorot mata Indira menangkap sebuah bingkai foto lama. Diraihnya bingkai foto itu, lalu dipeluknya dengan erat. "Pa, ma, semoga ini awal dari kesuksesan Dira", ucapnya lirih dengan berderai air mata seraya menyandarkan tubuhnya pada almari.


Dalam benaknya masih membekas ingatan atas perlakuan bejad sang paman. Ingin rasanya dia memaki, tapi dia tak sanggup. Dan akhirnya dia hanya bisa memendam.

__ADS_1


 


Pagi ini adalah awal bagi Indira berjuang seorang diri. Di kamar kecil ini dia akan memulai perjalanan hidupnya menggapai mimpi. Berbekal Amplop hadiah yang dia terima saat penutupan ospek kampus, dia memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Dira.. Dira.." teriak suara seorang wanita di luar kamar Indira.


Indira tersentak kaget, karena sudah ada yang mencarinya ke kosan. Padahal dia baru saja pindah. Indira langsung membuka pintu kamarnya.


"Ara", ucapnya.saat melihat Tamara berdiri di tengah-tengah seraya meneriaki namanya.


"Nah, itu dia", ucap Tamara saat menemukan orang yang dia cari. "Ayo, ke kampus bareng," ajak Tamara tanpa rasa bersalah telah membuat kebisingan di pagi hari.


"Sshht, pelankan suaramu", ujar Indira.


"Kenapa? Apa mereka lagi ujian?" tanya Tamara dengan berbisik.


Indira pun tertawa mendengar ucapan ngasal sahabatnya itu. "Bukan gitu. Disini tempat kos orang yang tinggal dengan berbagai macam kesibukan. Mungkin saja ada yang baru pulang kerja malam. Jadi mereka butuh istirahat."


Tamara terkesiap. "Maaf, aku tidak tahu", ucapnya penuh penyesalan.


"Ayo, kita ke kampus", ajak Indira seraya meraih tas ransel di atas meja. Lalu mengunci pintu saat mereka sudah berada di luar kamar.


 


Setelah tiba di tempat mobil Tamara di parkir. Tamara kembali membantu sahabatnya itu masuk ke dalam mobil.


"Begini caranya", ucap Tamara seraya mempraktekkannya.


Indira pun mencoba sesuai ajaran Tamara dan dia berhasil. Indira berlonjak kegirangan layaknya seorang anak di beri hadiah.


Dan betapa malunya Indira saat masuk ke dalam mobil, melihat Theo menatapnya melalui spion dalam mobil. Pasti pak Theo menganggapku terlalu kampungan, batin Indira.


"Maaf, pak. Ini pertama sekali saya naik mobil mewah", ujar Indira menjelaskan.


"Gak perlu diomongin", sahut Tamara saat baru saja menutup pintu mobil. "Kau hanya perlu bersyukur, karena punya kesempatan untuk naik mobil ini."


Indira menjawab dengan berdehem. "Terimakasih karena telah memberikanku kesempatan itu", sahut Indira dengan tersenyum. Lalu dia membuang jauh pandangannya ke luar kaca jendela.


 


Tanpa terasa mereka sudah berada di parkiran kampus. Seperti biasanya selalu saja ada mahasiswa yang menunggu mobil itu parkir, hanya untuk sekedar memandang wajah indah Tamara. Dan memandang wajah tampan Theo. Namun kali ini netra mereka seakan ternoda, saat melihat wanita berkacamata juga turun bersama dengan Theo dan Tamara.

__ADS_1


"Cih, kenapa si kucel itu ada di sana? Kan jadi rusak pemandangannya", celetuk seorang mahasiswi.


__ADS_2