
Daven dan Indira duduk dihadapan sang dokter dengan perasaan was-was. Indira menyiapkan mental untuk mendengarkan hasil pemeriksaan dari sang dokter.
"Kenapa wajahnya tegang begitu, tidak ada penyakit yang serius, kok." Sang dokter mulai tersenyum yang membuat Indira bingung. "Selamat pak, anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah", ucap sang dokter sembari menjulurkan tangannya untuk menyerahkan sebuah amplop hasil pemeriksaan.
Daven meraih amplop dan membukanya. Dengan mulut yang menganga dia membaca hasilnya. "Positif", ujarnya.
Indira langsung merebut selembar kertas dari tangan Daven. Dia pun tak kalah terkejut membaca hasilnya "Aku positif hamil", ucapnya sembari menutup mulutnya yang menganga.
Sang dokter menaruh curiga saat melihat reaksi keduanya. "Apa anak ini hasil perbuatan zinah?" tanyanya saat baru saja membaca identitas Indira. "Kalian berdua pasti masih sama-sama sekolah, kan?"
Indira menoleh ke arah Daven seakan meminta padanya untuk menjelaskan keadaan sebenarnya pada sang dokter.
"Begini dok, teman saya ini sudah menikah. Dan saya hanya teman satu kampusnya. Hanya saja suaminya sedang di luar kota."
"Kalian tidak sedang berbohong, kan?"
Daven langsung menoleh ke arah Indira. "Apa kau membawa surat nikah kalian?"
Indira menggeleng. "Semua berkas penting di pegang oleh kak Theo."
Daven tampak berfikir sejenak. Dia tidak mungkin meminta bantuan sang mama, karena setelah kejadian dirinya dikeluarkan dari kampus Arkana University, sang mama sudah tidak mau lagi bergabung dengan sosialita yang ada mommy Theo di dalamnya.
"Begini, dok. Tempat tinggal kami itu jaraknya jauh dari rumah sakit ini. Saat ini di rumah sedang tidak ada siapapun. Apa dengan sebuah foto pernikahan sudah cukup membuktikan kalau dia sudah menikah?"
Sang dokter terdiam sesaat. "Oke, saya percaya kalau mba ini sudah menikah. Tapi tolong segera beritahu suaminya tentang kehamilannya, karena wanita hamil biasanya lebih sensitif."
"Baik, dok. Terimakasih atas sarannya. Kami sudah boleh pulang, dok?" tanya Daven yang sudah mulai gusar.
"Ya, silakan."
Daven dan Indira berpamitan dengan sang dokter. Lalu mereka melangkah keluar dari ruangan itu. Saat sedang berjalan di koridor rumah sakit, tanpa di duga mereka bertemu seseorang yang telah menjadi penyebab hancurnya hubungan Indira dengan sang suami.
"Hai, mantan istri suamiku!"
"Jaga bicaramu wanita j*****! Dia belum berpisah dengan suaminya!"
"Cih, siapa sebenarnya wanita j*****? Bukankah kau sendiri yang memakai cara murahan dengan menggoda kekasihku!" seringainya hingga membuat mereka jadi tontonan setiap mata yang melihat.
"Apa ucapanmu tidak salah. Coba ingat lagi apa yang sudah kau lakukan untuk merebut suami orang! Aku ragu kalau anak yang dikandunganmu itu adalah darah daging suami Dira. Tapi kalau anak.."
__ADS_1
Ucapan Daven menggantung, karena dengan cepat Indira membekap mulutnya. Dia tidak ingin siapapun mengetahui kehamilannya. "Ayo, kita pergi dari sini." Tatapan tajam dari Indira membuat Daven mengikuti perintahnya.
"Munafik! Kalian yang berselingkuh, tapi kalian tuduh aku yang bukan-bukan." Tiara terus menggerutu walau Indira dan Daven sudah berjalan jauh. "Apa lihat-lihat!" bentaknya pada pengunjung rumah sakit yang kebetulan lewat. Lalu dia berjalan menuju ruangan dokter kandungan.
Di tempat yang jauh dari perkotaan, tepatnya di desa kelahiran Indira. Theo sedang berjalan berkeliling mencari sebuah fakta atas apa yang sebenarnya terjadi pada usaha orang tua Indira. Sudah ada 5 rumah yang dia kunjungi, namun hasilnya menyatakan bahwa benar ayah Indira sudah menipu pengusaha dari kota itu yakni kakeknya Theo.
"Apa aku menyerah saja, semua bukti memang sudah menunjukkan ayah Indira bersalah", ucap Theo bergumam saat sedang duduk di salah satu batu di dekat tepi sungai.
"Pak, hati-hati! Batunya licin", teriak salah seorang warga yang kebetulan lewat.
"Owh, terimakasih sudah diingatkan pak", sahut Theo dengan ramah. Baru saja dia membalas ucapan pria itu kakinya terpleset saat sedang membalikkan badannya.
Aaaa...
Byur.
Theo terjatuh ke sungai dan kepalanya langsung membentur batu yang ada di sekitar sungai.
"Tolong... Tolong!" teriak pria itu, agar ada yang membantunya menarik Theo dari dalam sungai.
Tak butuh waktu yang lama, warga sudah berkumpul dan membawa Theo keluar dari dalam sungai. Mereka buru-buru membawanya ke bidan desa.
Para warga yang membawa Theo saling berpandangan. "Bagaimana ini?" ucap mereka dengan saling berbisik.
"Kita hubungi kakeknya saja. Biar mereka yang urus", ujar salah seorang warga.
"Ya, kamu ada benarnya juga", sahut pria satunya.
"Ayo, tunggu apa lagi. Siapa yang punya nomor kakek itu segera hubungi." timpal seorang warga yang lain.
"Saya punya, sebentar saya hubungi dulu."
"Dari tadi dong", celetuk seorang ibu yang terkenal penggosip itu. Dia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, jika sehari saja dia tidak bergosip.
"Iya, ini sedang dicoba ibu!" sahutnya berdecak kesal. Bukannya membantu, tahunya cuma mengatur doang. Batin pria itu..
__ADS_1
Setelah beberapa kali terdengar nada sambung, akhirnya sang kakek.mengangkat telepon dari pria itu. Lalu dia memberitahu keadaan Theo. Terdengar dari ujung telepon pria itu, suara panik sang kakek yang meminta mereka segera menbawa Theo ke tempat yang telah di tentukan oleh sang kakek.
Di sebuah rumah sakit.
Seluruh keluarga Theo terlihat sangat panik saat Theo di bawa masuk ke dalam ruang IGD. Dengan perasaan cemas mereka menunggu hasil dari pemeriksaan.
Setelah beberapa saat, sang dokter pun keluar. "Sepertinya ada penyumbatan di pembuluh darah otak. Dia harus segera di operasi."
"Lakukan yang terbaik, dok. Kami menyetujui semua tindakan dokter."
"Baiklah. Silakan selesaikan administrasinya dulu. Saya akan segera jadwalkan operasinya."
Sepeninggal dokter, sang kakek menatap serius ke arah Raja. "Kenapa Theo pergi ke desa itu?
Raje membalas dengan menggelengkan kepalanya. "Gak tahu ayah. Dia pergi tanpa sepengetahuan kami."
"Yakin tidak ada salah satu di antara kalian yang tahu?" Sang kakek menatap curiga seluruh anggota keluarganya yang ikut ke rumah sakit.
"Tidak ada yang tahu kek. Bahkan Ara sedang tidak bicara dengan kak Theo."
Sang kakek mendengus kasar. Lalu dia menghubungi seseorang yang pernah menjadi orang kepercayaannya. "Selidiki apa yang terjadi di sana!" titahnya dengan nada serius.
Raja hanya terdiam saat mendengar sang ayah mencoba menyelidiki kejadian yang menimpa Theo. Sedangkan Ratu tampak gugup, karena dia mengetahui kepergian Theo ke desa Indira.
Tiba-tiba tubuh Ratu merosot dan hampir terjatuh ke lantai jika saja Tamara tidak langsung menopang tubuh sang mommy. "Mommy kenapa?"
"Mommy merasa sedikit pusing saja", ujar Ratu sembari memegang kepalanya.
"Kalau begitu, kita duduk di.ruang tunggu saja, mom."
Ratu mengangguk pelan. Lalu mereka berjalan bersama menuju ruang tunggu, meninggalkan keluarganya yang lain yang masih menunggu di dekat ruang IGD.
Setelah hampir 1 jam lamanya menunggu, akhirnya sang dokter keluar. "Operasi berjalan dengan lancar. Pasien bisa di jenguk setelah di bawa ke ruang inap", ujar sang dokter dengan tersenyum.
Seluruh keluarga Theo bernafas lega saat mendengar penuturan sang dokter. Mereka tak lupa bersyukur atas kelancaran operasi Theo.
"Mommy mau lihat kakakmu", ucap Ratu sembari berdiri.
__ADS_1
"Tunggu kak Theo dipindahkan ke ruang inap, mom."
"Oke", ucap Ratu singkat, lalu dia duduk kembali di kursi tunggu.