Love Me Tender

Love Me Tender
Lupa ingatan


__ADS_3

Di dalam ruang Theo di rawat.


Seluruh keluarga menanti kesadaran Theo pulih pasca operasi. Sebenarnya mereka tidak diizinkan untuk berada di dalam sana bersama-sama, tapi karena sang kakek memilih ruang vvip berukuran besar itu maka sang dokter pun mengizinkannya.


Raja dan Ratu saling berbisik di ruang sunyi itu. Sedangkan Tamara berada di luar kamar, karena sedang menerima panggilan telepon dari Saka. Tak berselang lama Theo mulai mengerjap menormalkan matanya dengan cahaya di dalam ruangan itu.


"Theo..." panggil sang kakek saat melihat Theo membuka matanya.


"Aku dimana?" ucap suara paraunya. "Kenapa semuanya ada di sini?" tanya Theo yang bingung saat melihat sang kakek dan seluruh anggota keluarganya berkumpul di sana.


Raja dan Ratu langsung menghampiri sisi ranjang Theo. "Syukurlah kau sudah sadar, nak", ucap Ratu sembari mengusap lembut wajah putranya itu.


"Apa yang terjadi dengan Theo, mom?"


"Ada kecelakaan kecil sewaktu kau pergi ke desanya Dira."


Theo mengernyitkan keningnya, kepalanya pun mulai terasa sakit. "Siapa Dira, mom?" tanya Theo sembari memegang kepalanya.


Seluruh keluarga terkesiap mendengar ucapan Theo, mereka curiga sesuatu terjadi pada ingatannya karena benturan itu.


"Apa kau benar-benar tidak mengingat Dira?" tanya Ratu sambil menatap Theo.


Theo menggelengkan kepalanya. "Dira itu siapa, mom?"


"Baguslah kau tidak mengingatnya lagi. Dia itu seorang penipu, bahkan keluarganya pun sama", tukas sang kakek.


Raja dan Ratu terdiam saat mendengar penuturan sang kakek. Mereka tak bisa membantah ucapan sang kakek, karena tidak punya bukti yang kuat.


"Apa kau mengingat Tiara?"


"Ya, Tiara di sini, mom", sahutnya saat baru saja melangkah masuk. Raut wajah Ratu berubah saat melihat Tiara, entah kenapa dia tidak menyukai gadis itu, lebih tepatnya perempuan tak tahu malu itu. Lalu Tiara berjalan menghampiri sang ibu mertua.


"Mommy tahu aja kalau Tiara mau datang ke sini", sambungnya dengan menggayut tangan Ratu.


"Cukup 1 orang menantu perempuan yang memanggilku mommy!"


"Iya memang menantu perempuan mommy itu cuma 1. Tiara kan?" ucap Tiara dengan percaya diri.

__ADS_1


"Kapan kita menikah?" tanya Theo. Dia mengira bahwa Tiara masih berada di luar negeri saat ini.


"Kita memang belum menikah sayang. Tapi setelah..."


"Kalian akan menikah minggu depan!" ucap sang kakek dengan tegas. Dia tak ingin orang-orang akan membicarakan Tiara, karena kehamilannya tanpa seorang suami.


Theo menatap bingung perbincangan antara keluarganya dengan Tiara. "Jadi kakek sudah menerima Tiara sebagai cucu menantu?" tanya Theo dengan mata berbinar.


Sang kakek menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba Theo meringis sambil memegang kepalanya, saat tidak bisa mengontrol rasa bahagianya. Sedangkan Raja keluar dari ruangan itu untuk menemui sang dokter. Ratu yang melihat sang suami berjalan keluar, dengan buru-buru mengikutinya. Dia tidak suka dengan perbincangan mengenai Tiara.


"Mommy mau kemana?" tanya Tamara saat melihat sang mommy juga ikut keluar.


"Mau ngikutin daddy kamu", sahutnya dengan terus berjalan mengejar ketinggalannya dari sang suami.


Tamara memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya, lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar sang kakak.


"Owh, ada wanita ular ini", ucapnya bergumam. Lalu dia berdiri tepat di samping sang kakek. "Ternyata kak Theo udah sadar. Bagaimana perasaan kakak sekarang?" tanyanya sembari menatap sang kakak yang sedang tersenyum.


"Seperti yang Ara lihat. Kakak sedang bahagia."


Tamara mengernyitkan keningnya. "Kakak bahagia setelah mengalami semua ini?"


Tamara menoleh ke arah sang kakek. "Apa kepala kak Theo terbentur dengan sangat keras, kenapa ucapannya sangat aneh?" bisiknya pada sang kakek.


"Sepertinya dia lupa ingatan sebagian", balas sang kakek dengan berbisik.


"Apa yang kakek dan Ara bicarakan? Kenapa harus berbisik?" Senyum di wajah Theo perlahan hilang saat melihat sang kakek dan Ara seperti merahasiakan sesuatu darinya.


"Bukan apa-apa. Ara cuma mengatakan kalau dia lapar dan ingin memesan pizza", ujar sang kakek berbohong.


"Owh, begitu ya. Apa Theo boleh ikutan pesan?" tanyanya.


Ara kembali bingung mendengar ucapan sang kakek. Kenapa kakek berbohong, batin Tamara.,


"Kamu istirahat saja yang cukup. Setelah itu kita akan bicarakan tentang hari pernikahanmu", sahut sang kakek.


"Tidak bisa pa", bantah Raja saat baru saja melangkah masuk, namun berhasil mendengar perkataan papanya barusan. "Theo masih belum bercerai dan dia sedang mengalami amnesia jangka pendek."

__ADS_1


"Surat perceraiannya sudah dalam proses. Dan mengenai keadaan Theo yang mengalami amnesia, papa rasa itu tidak jadi masalah, karena Theo hanya melupakan kenangannya bersama Dira bukan Tiara."


Raja dan Ratu saling berpandangan. Mereka seakan kehabisan kata untuk mencegah terjadinya pernikahan itu.


"Pa, ada baiknya kita memastikan dulu bahwa janin dalam kandungan Tiara memang benar darah daging Theo", usul Ratu.


"Maksud tante apa? Tante menuduhku telah menipu Theo?" Tiara menatap calon ibu mertuanya itu dengan emosi.


Theo menatap bingung perdebatan kekasih dan mommynya itu. Dia khawatir pernikahannya akan batal jika mereka terus bertengkar. "Sudshlah, mom. Kita bicarakan ini baik-baik setelah Theo pulang ke rumah ya", bujuk Theo agar amarah keduanya mereda.


"Benar kata Theo. Lebih baik jangan membahas hal itu disini", timpal sang kakek.


Raja langsung menepuk pelan pundak sang istri. "Iya, mom. Lebih baik jangan dibicarakan disini."


Ratu pun terdiam sesaat. Dia ingin mengatakan pada sang ayah mertua mengenai kecurigaannya, namun karena tidak punya cukup bukti, dia pun terpaksa diam untuk sementara.


Tamara yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan itu, akhirnya disadarkan akan sesuatu. "Mumpung kita sedang di rumah sakit, lebih baik.kita cek kandungannya kak Tiara", usul Tamara.


"Iya, mommy setuju dengan Ara. Jadi kita bisa sekalian tanya untuk tes DNA", timpal sang mommy yang sama sekali tidak percaya dengan perkataan Tiara mengenai kehamilannya.


"Tapi Tiara baru saja dari dokter kandungan tante. Ini hasil pemeriksaannya." Tiara menyodorkan sebuah amplop berlogo.rumah sakit itu pada Ratu.


Dengan perasaan ragu Ratu meraih amplop itu dari tangan Tiara. Dia pun membukanya dan membaca catatan hasil pemeriksaan Tiara. "Usia kandungan 6 minggu?" tanya Ratu.


"Iya, tante", sahut Tiara. Amnesia Theo adalah keberuntungan bagiku, jadi aku tak perlu repot mengganti hasil pemeriksaan kehamilanku, batin Tiara.


"Jadi kalian sudah berhubungan saat Theo baru saja menikah dengan Dira?" tanya Ratu dengan menahan emosinya.


"Apa? Jadi aku sudah menikah dengan Dira itu?" Theo kaget mendengar ucapan Ratu.


"Sudah kakek katakan jangan pernah ada lagi yang menyebut nama penipu itu! Dia bukan cucu menantuku lagi!" ucap sang kakek dengan tegas.


Kali ini aku selamat dari pertanyaan ibu mertuaku yang cerewet ini, batin Tiara.


"Ada yang mau menceritakan tentang Dira pada Theo?"


Seluruh keluarga tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Theo, mereka benar-benar menuruti ucapan sang kakek.

__ADS_1


Tiba-tiba sang dokter masuk ke dalam ruangan Theo. "Wah, ramai ya di sini. Saran saya untuk mempercepat pemulihan pasien ada baiknya jangan terlalu ramai berkumpul, supaya pikiran pasien rileks."


"Baik, dok", sahut Raja. Lalu beberapa di antara keluar dari ruangan Theo, menyisakan Ratu seorang diri.


__ADS_2