
"Cha cha...!" teriak Tamara saat kaki Cha cha salah melangkah dan hampr saja terjatuh. Tamara dengan sigap menangkap tubuh putri kecilnya itu.
"Sayang, ada yang sakit?" tanya Tamara sembari memeriksa seluruh tubuh putrinya.
Cha cha menangis begitu keras yang membuat Tamara semakin khawatir. "Kenapa, sayang? Apa ada yang sakit?" tanyanya kembali. Namun Cha cha tidak menjawab pertanyaannya. Dia semakin menangis dengan kencang. Tamara buru-buru membawa putrinya itu ke arah sofa, kemudian dia membaringkannya di sana.
"Mama...!" rengek Cha cha.
Tamara memeriksa kembali tubuh putrinya. "Apa di sini terasa sakit?"
Cha cha menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Sakitnya tuh di sini, Ma", ucapnya dengan memegang dadanya.
Tamara mendelik saat mendengar ucapan putri kecilnya. "Maafkan Mama sayang", ucapnya dengan memeluk Cha cha. "Mama janji akan berusaha menemui Papa Cha cha, supaya Papa balik ke rumah ini", lanjutnya mencoba membuat putrinya tenang.
Cha cha hanya menatap Ibunya dalam kebisuan. Dia seolah tahu Ibunya sedang di rundung kesedihan, karena kepergian Ayahnya.
"Cha cha sayang Mama", ucap.bibir mungilnya seraya menghamburkan diri memeluk Tamara.
"Mama juga sayang Cha cha", balas Tamara memeluk putrinya itu. Air matanya kembali jatuh hingga membasahi pundak putrinya itu.
"Mama jangan menangis lagi!" pinta Cha cha saat merasakan isak tangis Ibunya.
Bi Iyem menatap iba Tamara dan putrinya. Kenapa den Saka tega meninggalkan istri dan anaknya yang begitu cantik? Tanya sang bibi di dalam batinnya. Dia tidak menyangka tutur baik Saka adalah tameng semata.
Julie yamg baru saja selesai menyuapi Rafa, menatap haru Tamara dan putrinya. Dia berdiri di belakang Bi Iyem sambil menunggu Tamara dan Cha cha beranjak dari anak tangga.
...---...
Di perusahaan milik Ratu telah terjadi kekacauan. Beberapa pekerjaan terkendala karena dia belum mendapatkan karyawan pengganti yang telah resign sebelumnya.
__ADS_1
Divisi HC yang hanya menyisakan 1 orang saja membuat Ratu kelimpungan untuk merekrut karyawan baru.
Ratu hampir saja putus asa saat beberapa klien yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya mendadak membatalkan kerjasama. bahkan anehnya kliennya itu telah menjalin kerjasama dengan perusahaan kompetitor tempat dimana pejabat sementara yang ditunjuk Ayahnya untuk memimpin itu bekerja.
Sesaat kemudian perusahaan Ratu tiba-tiba ramai didatangi oleh para pencari kerja. Pengumuman yang baru saja satu malam diposting, langsung terlihat hasilnya.
Ratu sedikit bernafas lega, walaupun masalahnya belum selesai. Dia pun ikut membantu melakukan wawancara pada setiap pelamar.
...---...
Di tempat parkiran mobil Theo dan Indira sedikit kesal saat melihat ban mobil mereka lehabisan angin. Namun mereka merasa ada yang aneh, karena mustahil ban itu kempes tiba-tiba. Theo curiga seseorang dengan sengaja melakukannya.
"Aku pesan taksi online saja", ucap Indira seraya meraih ponselnya dari dalam tas.
"Kalau begitu aku akan tanya security.barangkali dia bisa membantu", kata Theo sembari berjalan meninggalkan Indira.
"Bagaimana ini, pasti pak supirnya akan marah jika menunggu terlalu lama", ucap Indira bermonolog. Dia mulai bingung menentukan apa yang harus dia lakukan. Sesaat kemudian Indira memutuskan untuk pergi meninggalkan parkiran mobil, setelah mengirimkan pesan pada Theo.
Indira mencari keberadaan taksi online di tempat yang telah dikatakan oleh sang supir. Namun dia tidak menemukannya, bahkan jejaknya sekalipun. Indira mendengus kasar saat telepon darinya tidak di angkat oleh supir taksi online. "Kenapa dengan hari ini? Semua hal menyebalkan terjadi bersamaan", kesal Indira.
Lalu seorang pramusaji berlari menghampiri Indira. Dia memberikan secarik kertas berisi pesan. "Masuklah kembali ke dalam restoran", ucapnya saat membaca pesan itu. Indira pun mengikuti sesuai isi pesan yang dia terima. Dia berjalan masuk ke dalam restoran.
Seorang pramusaji kembali memberinya secarik kertas. "Meja nomor 10", ucapnya seraya melirik ke kanan dan kiri. "Di sana", gumamnya. Lalu dia berjalan menuju meja itu.
"Surprise!" teriak suara orang yang berada tepat di belakang Indira.
Indira menoleh. "Kejutan apa ini?" tanya Indira bingung.
Theo berjalan mendekati Indira. "Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke 5 tahun. Apa kau lupa, sayang?"
__ADS_1
Indira terkesiap. Dia tidak pernah mengingat kapan tepatnya mereka menikah. "Jadi kau yang telah mempersiapkan semua ini?" tanya Indira dengan perasaan haru.
"Iya, sayang. Maaf sudah membuatmu kesal hari ini", tutur Theo dengan lembut. "Sebenarnya hari ini kita tidak ada janji temu dengan klien. Aku yang sengaja meminta Risa mengatakan hal itu di depanmu", lanjutnya.
Indira terdiam beberapa saat. Sebenarnya dia ingin marah pada suaminya itu, tapi karena Theo mengingat hari pernikahan mereka, dia pun memaafkannya. "Terimakasih suamiku", ucapnya dengan tersenyum manis.
Tiba-tiba Theo mencium kening Indira. Lalu dia melihat reaksi Indira. Karena sang istri tidak marah, Theo melanjutkan dengan mengecup bibir ranum istrinya itu. Indira terkesiap, dia menatap Theo yang sudah semakin berani menyentuhnya.
"Maaf, sayang. Aku hanya rindu kita bersama kembali dan melupakan masa lalu yang kelam itu."
Indira membuang wajahnya. "Jangan terlalu memaksa. Aku belum benar-benar siap!" katanya. Lalu dia duduk di kursi dan memunggungi Theo.
Theo tampak sedih melihat sikap Indira. Dia sudah berusaha membuat istrinya itu tersentuh dengan setiap moment yang dia ciptakan. Namun usahanya seakan sia-sia. Theo menarik salah satu kursi, lalu duduk di samping Indira dengan perasaan sedikit kacau.
Pramusaji meletakkan cake yang telah di pesan oleh Theo di hadapan mereka.
"Ayo, kita rayakan. Walaupun kau tidak begitu menginginkannya", ucap Theo dingin.
Indira sedikit kecewa melihat perubahan sikap Theo. Dia merasa suaminya terlalu mudah untuk menyerah. Padahal dirinya sudah mulai membuka kembali hatinya untuk Theo.
"Ayo", jawab Indira singkat.
Lalu mereka meniup lilin dan memotong kue bersama-sama. Theo memberi suapan kue pada Indira, begitu pun Indira memberi suapan kue pada Theo. Meskipun mereka merayakannya hanya berdua, namun Indira tetap merasakan bahagia.
"Maaf, tadi sempat membuatmu marah", kata Indira dengan lembut. "Aku tidak bermaksud untuk menolakmu. Aku hanya ingin melihat ketulusanmu. Jadi aku harap kau tidak terlalu terburu-buru untuk lebih dekat lagi denganku."
Theo menatap Indira dengan tersenyum. "Aku akan sabar menunggu sampai hari itu tiba", jawab Theo. Dia sadar telah menunjukkan sikap yang terlalu terburu-buru untuk mendapatkan kembali hati istrinya itu.
Lalu Indira mulai bercerita tentang masa sulit yang dia alami saat berada di LN. Theo merasa bersalah atas apa yang telah di alami oleh istrinya itu.
__ADS_1