Love Me Tender

Love Me Tender
Kita ini Suami Istri


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor Theo berpamitan pada seluruh anggota keluarganya. Pagi ini dia ada meeting mendadak untuk membahas masalah yang sedang terjadi di kantor cabang. Raja, daddynya Theo tersenyum saat melihat putranya itu mulai membiasakan diri untuk menangani setiap masalah di kantor. Kelak Theo sudah siap menjadi CEO menggantikan dirinya.


"Dira ke kampus gak pagi ini?" tanya Tamara saat meneguk air yang menyisakan setengah gelas ditangannya.


"Jangan memanggil namanya. Panggil dia kakak ipar", sela sang mommy. "Hari ini dia gak perlu ke kampus. Dira itu kan pengantin baru."


"Tapi hari ini kak Theo masuk kantor."


"Itu beda. Anak kecil gak boleh tahu! Ayo, sayang habiskan sarapannya. Setelah itu kita ke kamar ya."


Indira menelan salivanya dengan susah payah, karena ucapan sang ibu mertua. Sedangkan Tamara mulai kesal dengan sikap sang mommy yang lebih perhatian pada Indira. Dia berangkat ke kampus dengan wajah murung.


---


Di dalam kamar Indira.


Sang ibu mertua duduk bersama Indira di sofa. Awalnya mereka berbincang biasa, namun lama kelamaan menjadi lebih dalam. Sang ibu mertua ingin mengetahui hubungan Indira dan Theo apakah sudah pada tahap yang lebih intim.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Indira sedikit gugup. Dia sangat malu mengatakan hal itu pada mertuanya. Namun desakan sang mertua membuat Indira tak bisa lagi mengelak. Dia pun menceritakan kejadian malam itu pada sang mertua.


Ratu tersenyum bahagia. "Tak lama lagi aku akan punya cucu", ucapnya.


Indira hanya bisa tertunduk malu, karena dia baru saja melakukannya, namun sang mertua sudah memikirkan cucu.


"Kamu gak boleh terlalu lelah. Makan yang cukup dan hati-hati saat berjalan." Nasehat sang mertua seakan Indira sedang hamil.


---


Di kampus Arkana University.


Para mahasiswa berdecak kagum tatkala melihat seorang mahasiswa berjalan dengan segak dan bergaya.


"Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya", ucap seorang mahasiswi yang baru saja dilewati oleh pria itu.


"Entahlah. Tapi wajahnya kayak mirip seseorang."


"Sudahlah! Mana mungkin dia akan melirik orang seperti kita."


Mahasiswa itu pun tersenyum saat mendengar ucapan dari para mahasiswi yang sedang mengaguminya. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kelas.


"Tamara", panggil pria itu saat melihatnya berjalan di depannya dengan langkah gontai.


Tamara membalikkan badannya dengan malas. "Maaf, anda memanggil saya?"

__ADS_1


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Iya, apa.kau tidak mengenalku?" tanyanya sembari menunggu reaksi Tamara.


Tamara menggelengkan kepalanya tanpa ekspresi. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Pria itu tersenyum pada Tamara. "Mungkin kita akan sering bertemu", ujarnya. Lalu dia berjalan meninggalkan Tamara yang masih melongo.


"Dasar cowok aneh", ucap Tamara bergumam.


---


Di lobi kantor Theo


Saat ini Indira sedang duduk di sofa lobi kantor Theo, menunggu sang suami selesai meeting.


"Apa pak Theo masih lama?" tanya Indira pada sang resepsionis, karena sudah hampir 1 jam lamanya dia menunggu. Sebenarnya jika sang ibu mertua tidak memaksanya membawakan makan siang buat Theo, sudah pasti dia berada di rumah bobok cantik saat ini.


Sang resepsionis seakan acuh padanya. "Sudah pulang saja dek. Ini bukan tempat untuk bermain", sahutnya.


"Saya bukan mau bermain kemari, tapi memang ada urusan dengan pak Theo. Tolong beritahu pak Theo, Dira mencarinya di lobi sekarang."


"Idih, dibilangin kok ngeyel. Pergilah sebelum saya panggil security!"


"Ada apa ini?" tanya suara seseorang yang tak asing bagi Indira.


"Maaf, pak. Ini biasa terjadi. Saya sudah sering menangani para penggemar pak Theo yang datang ke kantor. Dan untuk yang ini pun akan saya selesaikan dengan baik."


"Saya akan segera mengusirnya pak!"


"Jika kamu berani, maka silakan. Setelah itu segera jumpai HRD dan buatlah perhitungan."


Sang resepsionis mendelik sesaat setelah mendengar penuturan Raja. "Maksudnya, pak?"


Raja mengabaikan pertanyaan sang resepsionis. Dia ingin Theo sendiri yang memperkenalkan Indira pada semua karyawan di sana. "Ayo, Dira. Kita naik ke atas", ajak ayah mertuanya itu. Lalu mereka berjalan bersama menuju pintu lift. Sang resepsionis yang mendengarkan ajakan Raja, seakan kehabisan kata-kata dibuatnya. "Siapa sebenarnya gadis itu, kenapa dia bisa mengenal CEO di sini?" ucapnya bergumam.


----


Indira sedang menunggu Theo di ruang kerjanya. "Dari tadi menunggu terus", ucapnya berdecak kesal. "Padahal cuma mau ngantar makanan doang. Tapi ribetnya minta ampun!" Indira terus berceloteh melampiaskan kekesalannya.


Ceklek.


Suara pintu dibuka membuat Indira bahagia. "Akhirnya datang juga", ucap Indira seraya bangkit dari sofa.


Theo yang baru saja muncul dari balik pintu, langsung di cecar oleh Indira.

__ADS_1


"Ini Dira bawakan makan siang buat kakak. Jangan lupa dihabiskan ya, gak boleh bersisa!"


Theo terpaksa menerima rantang makanan dari tangan Indira. "Terimakasih", ucap Theo.


"Kalau begitu Dira pamit kak."


"Eh, tunggu dulu. Apa kau sudah makan?" tanya Theo yang berhasil menghentikan langkah Indira. Lalu Indira menjawab hanya dengan gelengan kepala. "Nah kebetulan di sini ada makanan, ayo kita makan bersama."


Sebenarnya Indira ingin menolaknya. Namun dia tidak punya alasan yang kuat untuk menolak ajkan Theo. Dengan terpaksa Indira pun duduk bersama di sofa, untuk menikmati makan siang buatannya sendiri.


"Maaf untuk kejadian tadi malam." Theo membuka obrolan memecah keheningan di antara mereka


"Seperti yang kakak bilang. Kita ini suami istri, jadi wajar kita melakukannya."


Theo.terdiam sesaat, sebenarnya arah ucapannya bukan itu. "Ya, kau benar. Ayo, habiskan makanannya", sahutnya yang tak ingin memperpanjang obrolan tentang kejadian malam itu.


Tak butuh waktu yang lama mereka sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Dira langsung pamit ya kak."


"Oke, hati-hati di.jalan."


"Siap kak", sahut Indira, lalu dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Indira dengan ramah menyapa sekretaris sang suami. "Permisi kak", ucapnya seraya berjalan meninggalkan sekretaris Theo yang masih bingung.


Sepeninggal Indira, Raja datang ke ruang kerja Theo. Dia mengedarkan pandangannya mencari Indira.


"Apa Dira sudah pulang?"


"Sudah, dad."


"Cepat sekali dia pulang. Apa kau sudah memperkenalkannya pada semua karyawan?"


Pertanyaan Raja membuat Theo terdiam sesaat. "Belum, dad", balasnya dengan cengiran kuda.


"Kenalkan segera! Daddy gak mau menantu daddy datang diperlakukan seperti tadi!"


"Dira diperlakukan seperti apa, dad?"


"Tanyakan sendiri pada resepsionis. Kalau untuk membela istrimu saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin kau akan memimpin ratusan karyawan! Cepat selesaikan masalah itu. Jangan sampai daddy yang turun tangan."


"Baik, dad. Segera Theo laksanakan."

__ADS_1


"Oke, daddy akan tanya pada karyawan secara acak." Raja meninggalkan Theo yang masih bediri di posisinya.


"Bagaimana ini, aku belum benar-benar siap untuk memperkenalkannya saat ini." Theo berjalan dengan gusar menuju kursi kebesarannya. Lalu dia duduk sembari bertopang dagu.


__ADS_2