
Theo bersama Indira dan pamannya sudah tiba di sebuah restoran. Mereka duduk dan memesan makanan.
"Apa kalian tidak sanggup membayar? Kenapa cuma memesan sendikit?" tanya sang Paman yang memesan lebih banyak dari Theo dan Indira.
"Kami belum lapar Paman. Nikmati saja makanan yang Paman pesan sepuasnya. Tapi sebelum itu katakan di mana putraku?" Indira jengah melihat sikap sang Paman yang selalu mengulur-ulur waktu untuk mengatakan tentang Rafa.
Sang Paman tertawa. "Santailah sedikit! Setelah makananku habis, aku akan memberitahunya."
"Paman, jangan uji batas kesabaranku! Katakan sembari menunggu pesanan datang!" pungkas Indira.
"Baiklah keponakanku yang cantik", balas sang Paman dengan terpaksa. "Rafa berada di salah satu rumah mewah Mark di kawasan perumahan elit di Jalan Angkasa dan dia diawasi para anak buah Mark."
"Apa mereka memberinya makan yang cukup?" tanya Indira lirih.
"Aku tidak bisa melihat ke dalam, karena tempat itu di jaga dengan ketat."
"Bagaimana mungkin seorang anak kecil di jaga begitu ketat!" Indira berdecak kesal seraya menatap curiga sang paman.
"Lagi-lagi kalian meragukan ucapanku!" kesal sang Paman. "Lebih baik kalian mengembalikan aku ke tempat semula saja, dari pada dicurigai terus!"
"Baik!" tantang Indira.
Sang Paman kaget mendengar jawaban Indira. Dia mengira Indira akan memohon padanya. "A-apa kau tidak peduli lagi pada putramu?" tanya sang Paman dengan gugup.
"Aku peduli pada putraku, tapi tidak dengan Paman! Silakan nikmati hari-hari menyenangkan Paman di dalam sana." Indira tersenyum sinis seraya beranjak dari tempat duduknya. Theo pun melakukan hal yang sama.
"Apa-apaan ini, kalian mempermainkanku?" Sang Paman terus berteriak, hingga dia menjadi tontonan para pengunjung restoran lainnya.
Indira dan Theo terus berjalan, mengabaikan suara teriakan sang Paman yang memenuhi ruang restoran.
"Istriku hebat!" puji Theo saat mereka sudah berada di tempat parkiran.
"Aku tidak butuh pujian. Aku butuh temanmu berada di sini sekarang!"
"Tenanglah istriku. Tak lama lagi dia akan sampai di sini", sahutnya. "Nah, itu mereka datang."
Indira menoleh. "Bagus, kalau begjtu rencana selanjutnya kita ke rumah Mark."
"Jangan terburu-buru. Perumahan itu di jaga ketat oleh security. Kita tidak bisa sembarang masuk ke dalam."
"Jangan kuatir. Di sana adalah perumahan tempat orang tua Daven tinggal. Aku bisa masuk dengan bebas ke sana."
"Apa kau yakin?" tanya Theo memastikan.
__ADS_1
Indira menganggukkan kepalanya. "Beberapa security sudah mengenalku", imbuhnya.
"Oke, kalau begitu kita ke sana. Tapi -- "
"Tapi apa?" tanya Indira saat Theo tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi Daven harus ikut bersama kita", lanjutnya dengan terpaksa. Dia merasa Daven akan diperlukan di sana. Karena Daven lebih tahu seluk beluk tempat itu.
"Oke. Aku akan menghubunginya", ucap Indira. Lalu dia meraih ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Daven.
...---...
Theo dan Indira sudah berada tidak jauh dari gerbang menuju perumahan Daven, agar tidak menaruh curiga pada security yang sedang jaga.
"Itu mobil Daven", tunjuk Indira saat Daven akan keluar dari dalam mobil miliknya.
"Ayo, kita masuk", ucap Indira saat Daven telah memberi isyarat agar Theo dan Indira mengikuti mobilnya.
"Tunggu sebentar lagi", pinta Theo seraya melirik ke luar kaca mobil.
Indira mengernyitkan keningnya. "Apa kau sedang menunggu seseorang?" selidiknya.
"Iya", balas Theo tanpa menoleh ke arah Indira. "Nah, itu dia datang", ucap Theo saat melihat Radit turun dari mobil dan berjalan menghampiri mobil miliknya.
"Radit!" ucap Indira. Nafasnya terhembus berat ke udara. Dia yakin Theo masih saja cemburu pada Daven.
Radit membuka pintu, lalu duduk di belakang bangku kemudi.
Theo menatap Radit melalui spion dalam mobil. "Apa kau sudah mendapatkan alamat tinggal Mark?" tanya Theo saat Radit baru saja menutup pintu mobil.
"Pekerjaan semudah itu. Tentu aku mendapatkan alamatnya."
"Kau memang sahabat yang bisa diandalkan!" puji Theo dengan tersenyum seraya menatap wajah Radit di spion mobil. Lalu dia memajukan mobil mengikuti mobil Daven dibelakangnya.
"Cih, jika ada maunya saja, kau datang mencariku. Tapi saat aku butuh bantuanmu, kau selalu punya banyak alasan", lirih Radit.
"Maaf Radit, segala sesuatu yang berhubungan dengan Lova aku tidak ingin ikut campur", ujar Theo.
Indira mendelik mendengar nama Dealova. Lalu dia menoleh ke belakang menatap serius manik mata Radit. "Apa kau menyukai Lova?"
Pertanyaan dan tatapan menghunus Indira tak dapat Radit elak lagi. Dia mengangguk pelan dengan wajah yang sulit diartikan.
"Ehem, sepertinya kau tidak akan berhasil", tebak Indira. "Saingan terberatmu dia", tunjuk Indira pada Theo.
__ADS_1
Dahi Radit mengkerut dalam. "Dia?" Radit juga menunjuk Theo. "Kau salah besar, Dira!" tegasnya. "Theo hanya mencintai satu orang wanita untuk selamanya", lanjutnya.
Indira paham arah perkataan Radit. "Tapi Lova sangat menyukai Theo."
"Lova yang menyukai Theo, bukan sebaliknya! Theo hanya menyukai istrinya seorang", jelas Radit.
Mulut Indira seakan kaku dan tak mampu untuk membalas ucapan Radit. Namun tiba-tiba Theo menepikan kendaraan. Indira sedikit bernafas lega, karena mereka akan fokus mencari rumah Mark.
Radit mengotak-atik ponselnya menghubungi Tiara, seraya keluar dari dalam mobil.
"Keluarlah! Aku sudah di depan", kata Radit saat panggilan telepon terhubung.
Tidak lama setelah Radit memutus sambungan telepon Tiara keluar.
"Mana Theo?" tanya Tiara saat tidak melihatnya.
"Aku di sini", jawab Theo saat keluar dari dalam mobil. Sementara Indira bersembunyi, agar tidak terlihat oleh Tiara.
"Hai, sayang", sapa Tiara yang membuat Theo bergidik ngeri mendengarnya. "Aku tahu kau tidak pernah melupakanku", sambungnya saat berdiri dihadapan Theo dengan tersenyum manis.
Theo terpaksa membalas senyum Tiara. "Hai", ucap Theo dengan mencoba menahan emosinya.
"Ayo, kita masuk!" ajaknya. "Kebetulan Mark tidak ada di rumah", lanjutnya.
"Apa kau tidak takut anak buahnya akan melapor pada atasannya?"
"Mereka sudah aku suruh pergi! Cuma tinggal satu orang pelayan. Dia orang kepercayaanku", terang Tiara. "Silakan duduk." Tiara tersenyum menatap ke arah Theo.
"Terimakasih", jawab Theo dan Radit hampir bersamaan.
"Tapi aku ingin ke toilet sebentar! Sepertinya aku makan yang pedas terlalu banyak", ucap Radit sembari memegang perutnya.
"Mau aku ambilkan obat?" tanya Tiara.
"Ya. Nanti saja. Sekarang tunjukkan aku di mana toiletnya!" desak Radit.
Tiara tertawa kecil saat melihat wajah Radit yang sedang menahan sesuatu. "Ayo, ikut aku", ajaknya dengan menahan tawanya.
Theo yang ditinggal sendiri, mengambil kesempatan itu untuk menyusuri setiap sudut ruangan. Sorot matanya berhenti pada sebuah kamera CCTV.
Apa Tiara tidak tahu tentang kamera CCTV? Theo bertanya di dalam batinnya.
"Hai, sayang", sapa Tiara yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Apa kau tahu di sini ada kamera CCTV?" tanya Theo tanpa membalas sapaan Tiara.
Tiara menatap tidak suka pertanyaan Theo. "Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?" tanya Tiara yang membuat Theo sedikit gugup.