
Theo menatap tajam pada mobil yang berada tepat di depan mobilnya saat ini.
"Kalau kau begitu terus,.Indira akan ragu untuk kembali padamu!" ledek Radit. "Lagian Daddy dan Mommymu semobil dengan mereka. Apa yang membuatmu khawatir?" lanjutnya.
"Aku memintamu datang untuk membelaku! Tapi kenapa rasanya sama saja dengan tidak adanya kau di sini!" celetuk Theo.
"Aku hanya akan membela yang benar", balas Radit.
"Kalau begitu sebaiknya kau pulang saja!" ucap Theo berdecak kesal.
"Sudah terlambat kau mengatakan itu. Kita sudah sampai", sahut Radit saat melihat mobil di depan mereka menyalakan lampu sein kiri.
"Ternyata Kau cukup beruntung!"
Theo menepikan kendaraannya. Lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri Indira. "Apa lokasinya sudah benar?" tanya Theo.
"Dari petunjuk titik koordinatnya sih sudah sesuai. Untuk lebih pasti, ayo kita cek", ajak Daven sambil melangkah ke dalam semak belukar.
Semuanya menatap bingung apa yang ada di balik semak belukar.
"Ini hanya TPS. Apa kau ingin mengerjai kami?" tanya Theo berdecak kesal.
Daven mengabaikan ucapan Theo. Dia terus mencari jam tangan milik Rafa yang masih mengirimkan signal.
"Ketemu!" seru Daven, yang membuat semuanya menoleh.
"Apanya yang ketemu?" tanya Indira seraya berlari menghampiri Daven.
"Ini jam tangan milik Rafa. Kayaknya ada yang dengan sengaja membuangnya", imbuh Daven.
"Aku tidak butuh jam tangannya. Aku butuh anakku Rafa!" tegas Indira. Tiada hentinya Indira menangis memikirkan keberadaan putranya.
"Sudah.. Jangan menangis lagi. Simpan energimu untuk mencari putramu", ujar Ratu.
Senja sebentar lagi berganti malam, namun kabar Rafa belum juga diketahui. Hati Indira tentulah resah menanti kabar yang tak pasti.
"Bagaimana kalau Rafa kita di -- " Indira menggantung ucapannya seraya menutup mulutnya, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal buruk yang bisa saja terjadi pada putranya.
"Tu, kan. Kamu semakin berfikir yang aneh-aneh", ujar Ratu berdecak kesal.
Daven tampak sedang berfikir keras. Sementara Theo dan Radit menyusuri setiap sudut tempat itu barangkali ada petunjuk.
"Di sana ada gubuk", tunjuk Radit.
__ADS_1
Theo langsung menoleh ke arah jari Radit menunjuk. "Ayo, ke sana!" ajaknya pada Radit.
Daven pun menoleh. Lalu dia berjalan mengikuti langkah Theo dan Radit.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Theo saat tidak menemukan petunjuk apapun.
Radit menggelengkan kepalanya. "Mungkin di sini memang tidak ada petunjuk apapun", imbuhnya.
Daven menyusuri kembali setiap sudut yang telah diperiksa Theo dan Radit.
"Tidak ada apapun di sini. Jangan sok mau jadi pahlawan!" sergah Theo. Dia tidak ingin kalah dari Daven.
"Barangkali kau melewatkan sesuatu", jawab Daven tanpa menoleh.
"Terserah kau!" ketus Theo. Lalu dia membalilkan badannya. "Ayo, kita pergi dari sini", ajaknya pada Radit.
Baru saja Theo bergabung bersama dengan Indira dan kedua orang tuanya, Radit keluar dari gubuk itu.
"Sudah aku katakan tidak ada apa-apa! Ngeyel sih!" celetuk Theo.
"Kalau tidak ada apa-apa di sini. Ayo, kita pulang saja", ajak Ratu yang mulai merasa tidak nyaman dengan tempat itu.
"Aku menemukan sesuatu", ujar Daven. Sontak semuanya menoleh ke arah Daven.
"Apa yang kau temukan?" tanya Indira dengan tidak sabar.
Theo tertawa meledek saat mendengar ucapan Daven. "Itu cuma pensil, anak-anak lain pun bisa memilikinya!" ucap Theo.
"Ini memang punya Rafa!" seru Indira. Mana mungkin pensil seperti ini dimiliki semua anak", lanjutnya seraya menatap jengah Theo.
Daven membalas dengan tertawa meledek Theo. "Makanya aku yakin itu milik Rafa", imbuhnya dengan melirik ke arah Theo. "Kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara", lanjutnya meledek Theo, hingga membuat Theo semakin emosi.
Ratu menepuk pundak Theo, mencoba membuat tenang putranya itu.
"Oke, kalau memang benar itu milik Rafa. Apa gunanya buat kita?" tanya Ratu.
"Setidaknya kita tahu kalau Rafa pernah di bawa ke sini", jawab.Daven.
"Aku tahu niatmu baik", kata Raja yang sedari tadi diam. "Tapi tolong lakukan itu hanya karena ingin membantu, bukan untuk tujuan yang lain", tegas Raja.
Daven tersinggung dengan ucapan Raja. "Saya sudah mengatakan dengan jelas di awal, Pak. Saya sudah menganggap Rafa seperti putra saya sendiri. Jadi saya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Rafa."
"Terimakasih telah membantu kami sejauh ini. Untuk selanjutnya biar kami yang tangani sendiri", pungkas Raja.
__ADS_1
Daven merasa dirinya di usir secara halus. Dia menoleh ke arah Indira seolah meminta bantuan.
"Daven, terimakasih. Kau telah membantu kami. Aku minta maaf karena selama ini.selalu menjadi beban bagimu", ucap Indira yang membuat Daven kecewa.
"Oke, kalau begitu aku pergi." Daven beranjak dari posisinya berdiri, lalu berjalan menuju mobilnya di parkir.
Semoga kau mengerti keadaanku saat ini, Daven. Ucap Indira di dalam batinnya.
...---...
Langit senja sudah kembali keperaduannya. Indira bersama keluarganya dan Radit meninggalkan tempat itu. Mereka masuk ke dalam mobil Theo.
Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan dengan seringai jahat.
"Kenapa perasaan Dira mengatakan kalau Rafa masih ada di sekitar tempat itu ya, Mom", ujar Indira dengan gelisah.
"Biasanya ikatan batin anak dan Ibu itu kuat. My king, apa tidak sebaiknya kita putar balik?" tanya Ratu pada sang suami.
"Hari sudah mulai gelap. Kita tidak tahu orang seperti apa yang akan kita hadapi", jawab Raja.
"Daddy benar, Mom. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Theo gak mau Rafa celaka", sambung Theo.
Ratu manggut-manggut, sementara Indira selalu menoleh ke belakang. Dia malah tidak tenang pergi begitu saja, tanpa memastikan keberadaan Rafa. Ratu paham akan rasa khawatir Indira, dia langsung menepuk pelan punggung tangan Indira untuk membuatnya tenang.
Sepanjang perjalanan air mata Indira tiada henti mengalir. Dia kecewa karena keinginannya untuk memastikan sekali lagi bahwa Rafa benar-benar tidak ada di sana, sama sekali tidak dituruti.
...---...
Hanya dalam waktu 15 menit mereka tiba di rumah.
"Mana Rafa, Mom?" tanya Tamara saat tidak melihat keberadaannya. "Jadi itu benar -- " Tamara menutup mulutnya. Dia mengira jika Rafa hanya sedang bersembunyi di satu tempat di dalam kantor Theo.
"Jangan membahas itu dulu!" tukas Ratu. Lalu dia duduk di dekat Indira.
Drrt. Drrt
Ponsel milik Indira bergetar. Dia lansung meraih ponselnya dari dalam tas.
"Siapa ini?" tanya Indira seraya menatap layar ponselnya.
"Angkat saja dulu. Jangan lupa di speaker", sahut Raja.
Indira melakukan sesuai intruksi sang mertua. Dia pun menggeser tombol hijau itu.
__ADS_1
"Halo, ini siapa?" tanya Indira saat sudah mengaktifkan speaker ponselnya. Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.
"Halo, katakan kau siapa?" tanya Indira kembali dengan menaikkan nada suaranya satu oktaf, namun hasilnya masih sama.