Love Me Tender

Love Me Tender
Indira di antara Pria tampan


__ADS_3

Theo melajukan kendaraannya menuju kampus Arkana University dengan wajah di tekuk, karena sang daddy meminta Indira dan Tamara bareng dengan dia. Padahal dia ingin bertemu sang kekasih terlebih dahulu sebelum ke kampus.


"Kalau kakak gak ikhlas kami nebeng sama kakak bilang aja. Kami bisa naik taxi online kok", keluh Tamara yang sedari tadi menatap wajah murung Theo melalui spion dalam mobil.


"Kenapa baru ngomong sekarang. Ini juga udah mau nyampai."


Tamara berdecak kesal mendengar ucapan Theo barusan. Dia tak menyangka perubahan sikap sang kakak berubah drastis menjadi seorang yang kasar dalam berucap. Dia mulai menghubungkan hal itu dengan Tiara. Dia yakin Tiara memberi pengaruh buruk pada sang kakak.


"Ehem, kak Theo." Tamara berdehem mencuri perhatian Theo.


"Kalau ada yang mau diomongin nanti aja setelah pulang dari kampus. Sekarang turunlah! Kita sudah sampai."


Tamara langsung menoleh ke luar kaca jendela mobil. Dan benar saja mereka sudah berada di tempat parkir kampus. Dengan malas Tamara turun dari mobil. Lalu dia berjalan mengikuti langkah Indira dan Theo.


"Dira... Coba lihat. Itu Daven bukan?" tunjuk Tamara pada seorang pria yang sedang berjalan bersama seorang pejabat yang tidak asing lagi bagi mereka.


"Ya, itu Daven datang bersama ayahnya.


Tamara menatap Daven dengan tatapan benci. "Mau ngapain lagi dia datang kemari? Bukankah dia sudah dikeluarkan?"


"Dengar-dengar dia pakai pengacara. Sudah ada putusan mungkin, makanya mereka datang atau barangkali ayahnya Daven membuat sebuah kesepakatan", tebak Indira bak seorang ahli hukum.


"Aku saranin kakak ipar pindah jurusan deh. Dari pada entar nyesal salah pilih jurusan."


Indira menatap Tamara dengan serius. "Aku lapar", ucapnya dengan wajah sendu mengabaikan ucapan Tamara barusan. Tamara pun tertawa kala mengingat apa yang terjadi di meja makan pagi ini.


"Ayo, kita ke kantin dulu", ajak Tamara saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Kak Theo mau sekalian dibawakan makanan?"


"Tidak perlu", jawabnya singkat. Lalu dia kembali melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang kerjanya.


"Pagi Dira", sapa seseorang dari arah belakang Indira dan Tamara.


Merasa dipanggil Indira langsung menoleh ke arah belakang. "Raka", ucapnya dengan tersenyum sumringah, bahkan berhasil mengusik perhatian Theo.


Indira berjalan beriringan dengan Raka. "Kenalkan ini Tamara. Dia teman satu kelas aku."


"Hai, Tamara."


"Hai, juga. Aku Tamara, biasa dipanggil Ara."


Tiba-tiba Theo menghentikan langkahnya. "Ehem, Dira... Ke ruangan saya sekarang", titahnya yang menurut Indira terlalu mendadak.


"Tapi, kak..."


"Eits, ingat kamu itu asisten dosen saya, jadi gak boleh membantah!"


"Aku lapar kak! Bukannya mau membantah!" ketus Indira. Untuk pertama kalinya dia bersikap kasar pada sang suami.

__ADS_1


"Ikut keruangan saya sekarang!" Theo menarik paksa tangan Indira. Walaupun Indira sudah merintih kesakitan saat Theo memegang kuat pergelangan tangannya.


"Lepaakan, kak", pinta Indira dengan kesal, namun Theo maaih saja memegang pergelangan tangan Indira, hingga mereka tiba diruangan Theo. Ternyata di sana sudah ada yang menunggu Theo.


"Kenapa lagi dengan mahasiswi ini, sayang?" tanya Tiara dengan suara mendominasi. Dia berjalan menghampiri Indira, lalu melepas paksa pegangan tangan Theo.


Aww... Ringis Indira saat pegangan Theo terlepas.


"Terimakasih, kak. Tapi seharusnya aku yang bertanya pada kak Theo. Kenapa wanita ini bisa ada disini?" tunjuk Indira pada Tiara dengan menggunakan telunjuknya.


"Jelas aku ada di sini, karena aku calon istri Theo."


"Cih, baru calon istri! Kenalkan aku adalah istri sahnya!" sindir Indira. "Jangan jadi perusak rumah tangga orang lain dong. Percuma kuliah jauh-jauh, kalau ujung-ujungnya jadi pelakor", ketus Indira.


Tiara merasa tersindir dengan ucapan Indira, karena untuk pertama kalinya ada orang yang berani menghinanya seperti ini. Tiara menatap ke arah Theo seakan meminta pembelaan.


"Apa yang dia katakan ada benarnya juga."


Tiara mendelik kala mendengar ucapan yang keluar dari mulut Theo. Bukannya pembelaan yang dia dapatkan, malah Theo semakin memojokkan dirinya. Tiara berdiri diposisinya sembari menatap tajam ke arah Theo. "Apa kau sudah lupa dengan janjimu?"


"Aku memang mencintaimu lebih dari pada Indira. Tapi aku tidak akan membiarkan kejadian malam itu terjadi begitu saja. Saat ini aku sedang menyelidiki kebenarannya!" tegas Theo.


Tiara bergerak dengan gelisah. "Aku yakin kau akan memilihku!" ucap Tiara, lalu dia beranjak meninggalkan ruangan Theo.


Indira tersenyum kala mengingat kembali ucapan sang suami. Dia tak menduga sang suami akan membelanya kali ini. "Terimakasih, kak."


"Untuk apa berterimakasih? Kau memang istriku."


"Ini makanlah dulu." Theo memberikan sebungkus mie ayam pemberian Tiara pada Indira.


"Jangan kak, itu di beli khusus buat kakak Dira makan di kantin saja."


"Gak akan keburu. Sebentar lagi jam kuliah pertamamu dimulai. Nah, kau makanlah dulu. Aku bisa makan di kantin nanti."


Indira terdiam sejenak. Sebenarnya dia menolak karena itu pemberian Tiara. Dengan terpaksa dia pun menerimanya, lalu memakannya dihadapan Theo.


 


Di dalam kelas yang masih tenang, seorang mahasiswa masuk. Sang dosen yang mengetahui permasalahan mahasiswa itu mempersilakannya langsung duduk.


"Daven", ucap Indira bergumam.


"Kenapa dia bisa masuk kembali?" Tamara berdecak kesal kala mengingat apa yang sudah diperbuat Daven, hingga mengacaukan kehidupan pribadi orang lain.


Daven menatap Indira dengan tersenyum saat berjalan melewatinya. Indira pun membalasnya dengan tersenyum.


Semoga dia tidak berulah lagi, batin Indira.


Dosen kembali menerangkan di depan kelas. Indira pun fokus mendengarkan dan mencatat. Dia adalah satu-satunya mahasiswa penerima beasiswa di dalam ruangan itu. Untuk itu dia gak mau beasiswanya di cabut, karena kelalaiannya sendiri.

__ADS_1


Semangat Dira, kau pasti bisa melakukan yang terbaik. Batin Indira menyemangati diri sendiri.


 


Seusai jam kuliah, Tamara menarik Indira keluar. Dia tidak mau Daven mengambilnya lebih dulu.


"Aku belum lapar", desah Indira yang kesal dengan sikap memaksa Tamara.


"Ayo, temani aku saja. Walau tidak lapar, tapi kau bisa memesan minuman saja." Tamara berusaha membujuk Indira yang sedang menghentikan langkahnya di lorong kampus menuju kantin.


"Hai, Dira. Kenapa berhenti di sini?" Raka menatap keduanya yang sedang termangu menatap dirinya. "Bukankah kalian mau ke kantin?"


"Ya, kami mau ke kantin", sahut Tamara dengan tersenyum menatap manik coklat Raka. Tubuh atletis yang dibalut kaos yang di padu padankan dengan jaket jeans, sebuah jam rolex yang melingkar ditangannya. Semua yang melekat di tubuh Raka menjadikan ketampanannya terlihat sempurna di mata Tamara.


"Ara... Ara..." Indira melambai-lambaikan tangannya tepat di dekat wajah Tamara yang sedang senyum-senyum sendiri.


"Ya, ada apa tanya Tamara?"


"Jadi gak ke kantinnya?"


"Jadi dong. Ayo, Raka", ajak Tamara sembari menghampiri Raka dan mengabaikan Indira yang masih menatapnya dengan muka cengo. "Giliran cewek lain yang histeris lihat cowok tampan dia protes, nah giliran dia malah ngelupain teman sendiri", ucap Indira bergumam.


---


Di meja kantin Tamara di buat kesal oleh sikap Raka yang lebih menilih duduk saling berhadapan dengan Indira ketimbang dirinya. Namun tiba-tiba Saka datang menghampiri meja mereka.


Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada Raka, Saka pun jadi. Tamara berpantun di dalam benaknya.


'"Ini siapa?" tanya Saka saat melihatnya sangat akrab dengan Indira.


"Ini kembaran namamu!" seru Indira dengan riang. "Kalau kamu Saka, nah dia Raka."


Raka menoleh ke arah Saka. "Wah, kebetulan banget bro. Nama kita mirip."


"Iya", sahut Saka dengan canggung. Entah kenapa dia tidak suka dengan kedekatan Raka dengan Indira meskipun dia tahu Indira sudah menikah.


Saka menatap ke arah seorang pria yang sedang berjalan menuju meja mereka. Belum selesai yang ini, eh udah datang satu lagi, batin Saka.


"Yah, aku telat. Mejanya sudah penuh", ucap Daven saat datang menghampiri Indira.


"Lagian siapa juga yang mau semeja denganmu? Gak sudi!" ketus Tamara.


"Hati-hati, jangan terlalu benci. Entar benar-benar cinta!" ujar Indira memotong ucapan Daven saat akan menjawab perkataan Tamara.


"Ih, amit-amit", ucap Tamara sembari mengetuk meja.


"PD amat lo. Siapa juga yang mau denganmu!"


Saling serang pun terus berlanjut di antara keduanya. Hingga Indira bangkit dari tempat duduknya dan berpindah tempat disebelahnya yang kebetulan sedang kosong. Daven pun buru-buru duduk, sebelum pria lain duduk di sana.

__ADS_1


Dari kejauhan Theo menatap dengan emosi perbuatan sang istri yang dia anggap terlalu kecentilan karena telah merayu banyak pria.


__ADS_2