Love Me Tender

Love Me Tender
Sebuah Pesan


__ADS_3

Tamara dan Indira sedang dalam perjalanan pulang menuju ke tempat kediaman mereka. Mobil yang dikendarai oleh pak Joko itu hening seketika, karena Tamara dan Indira asyik dengan lamunan masing-masing.


Sedangkan Theo masih berada di kampus. Dia terpaksa meminta pak Joko menjemput Tamara dan Indira, karena ada sesuatu yang harus dia bereskan. Saat ini dia sedang menatap serius Tiara yang berjalan mondar mandir diruangannya.


"Aku punya rekaman CCTV yang menunjukkan kau berjalan masuk ke dalam kamarku", ujar Tiara dengan yakin sembari menghentikan langkahnya.


Theo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Tiara. "Tapi apa kau punya bukti bahwa aku telah melakukannya denganmu?"


"Memang di dalam kamarku tidak ada CCTV. Tapi aku bisa melakukan visum."


Theo terdiam sesaat, lalu dia menghirup udara. "Oke, aku akan bertanggung jawab jika kau hamil!" Theo memberi solusi di awal sembari mencari bukti yang valid.


"No... No... " tolak Tiara. "Kau tetap akan bertanggung jawab walau aku hamil ataupun tidak!"


"Oke!" sahut Theo dengan ragu. Sebenarnya sudah lama dia merencanakan pernikahannya dengan Tiara, jauh sebelum dia menjadi suami Indira. Namun takdir seakan berkata lain, Theo harus menikah dengan Indira.


"Kalau begitu, ayo kita pulang bareng." Tiara langsung menggayut manja tangan Theo. Dia menatap guratan wajah Theo dengan tersenyum. Dia sangat tampan kalau lagi serius, batin Tiara.


 


Di sebuah rumah yang tampak sedikit rapi. Seorang ibu duduk sembari memegang kalender di tangan kirinya. "Ini hari ulang tahunmu ma, tepat seminggu setelah hari kepergianmu." Wanita paruh baya itu mulai menangis saat mengingat peristiwa memilukan itu.


"Ibu, ayo kita makan. Biar ibu punya tenaga, besok kita pergi ziarah ke makam nenek", ajak sang anak yang datang dari arah ruang makan.


"Ibu tetap kuat kok, walau ibu hanya duduk di kursi roda."


"Iya, ibu sayang. Tapi ibu harus tetap makan biar tambah kuat. Setelah itu ibu minum obatnya, biar cepat pulih."


Sang ibu kembali merengut saat mendengar kata obat. Dia bosan setiap hari harus meminum obat, bahkan sering sekali dia membuangnya tanpa sepengetahuan siapa pun.


 


Di balkon kamar, Indira menatap nanar langit yang mulai gelap. Dia teringat akan perkataan Daven yang telah mendengar percakapan sang suami dengan Tiara.


Indira mendengus kasar, namun tiba-tiba dia merasa pusing. "Aku kenapa? Apa aku punya penyakit vertigo", ucapnya bergumam yang mengira dia merasakan pusing karena berada diketinggian. Lalu dia buru-buru masuk ke dalam kamar bersamaan dengan Theo yang juga baru masuk.


"Kakak sudah pulang?" tanya Indira saat baru saja menutup pintu balkon. Lalu dia berjalan menghampiri Theo.


"Seperti yang kau lihat sendiri!"


Kenapa lagi dia? Bukankah tadi pagi sikapnya manis padaku, batin Indira.


Indira membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Theo. "Dasar bunglon", ucap Indira bergumam, namun masih dapat di dengar oleh Theo.


"Siapa?" tanya Theo.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa!" sahut Indira dengan kesal. Lalu dia menempelkan bokongnya di atas sofa dan memainkan ponselnya di sana.


 


Makan malam di keluarga Theo terasa nikmat, karena selain seluruh anggota keluarga ada di sana, masakan buatan Indira juga melengkapi kegembiraan mereka saat makan.


"Bi, coba minta resep yang ini deh. Biar lain kali bibi buat", ujar Ratu saat meletakkan serbet di atas meja.


"Sudah nyonya. Kapan-kapan bibi praktekin."


"Owh, bagus kalau begitu. Tolong diberesin ya, bi. Semuamya sudah selesai makan."


"Baik, nyonya."


Semua keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga.


"Dad, Ara ke kamar ya. Mau kerjain tugas."


"Oke. Berarti Dira juga dong?"


"Iya, dad. Tapi tugasnya gak banyak kok. 15 menit juga selesai", ujar Indira.


"Daddy, jangan dengarkan kakak ipar. Dia adalah mahasiswi terpintar di kelas Ara, dalam sekejap dia bisa menyelesaikan banyak soal. Tapi kalau putrimu ini butuh perjuangan menyelesaikan hanya beberapa soal saja."


Raja terkekeh mendengar ucapan Tamara. "Makanya belajar yang rajin. Daddy yakin Ara sebenarnya bisa seperti Indira."


"Ya, sudah kerjakan tugasnya sekarang. Entar gak kelar kalau kebanyakan ngobrol."


"Daddy sih, dari tadi ngajak ngobrol", ucap Tamara berdecak kesal sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruang keluarga.


Tak berselang lama Indira pun berpamitan. Di susul Theo setelah Indira.


 


Saat ini Theo duduk di atas ranjang sembari memperhatikan wajah Indira yang tersenyum saat melihat sesuatu di laptop.


"Kamu lagi kerjakan tugas atau lagi nonton, sih?" tanya Theo yang tidak fokus membuat soal quiz dilaptopnya.


"Kakak sibuk dengan pekerjaan kakak sendiri saja, jangan ganggu kesenangan orang lain", ucapnya dengan santai.


Theo meletakkan laptopnya, lalu dia turun dari atas ranjang dan berjalan menghampiri Indira yang sedang melindungi laptopnya.


"Tunjukkan!" titah Theo.


"Ini privasi, kakak gak boleh memaksa!"

__ADS_1


"Aku suamimu!" ucap Theo dengan tegas, lalu dia menjulurkan tangannya mencoba merampas laptop yang coba dipertahankan oleh Indira.


"Gak dapat!" ledek Indira sembari berlari. Theo pun mengejarnya hingga kaki Indira tersandung di sudut ranjang. Dia langsung terjatuh di atas ranjang, Theo yang tidak siap menjaga keseimbangan ikut terjatuh bersama Indira.


Indira buru-buru mendorong Theo. "Kakak berat sekali", keluhnya sembari bergeser menjauhi Theo, hingga mereka sama-sama berbaring sambil menatap langit-langit kamar itu.


"Jadi tadi kau sedang menonton apa?"


"Masih penasaran?" tanya Indira balik seraya menoleh ke samping.


Theo manggut-manggut. "Ayo ceritakanlah, jangan buat aku mati penasaran." Theo menyerongkan tubuhnya hingga dia menatap wajah Indira dari samping.


"Ya, sudah. Dari pada nanti kakak mati penasaran trus menghantui Dira, lebih baik Dira ceritakan saja", ucap Indira sembari menoleh ke arah Theo. "Jadi tadi Dira lagi baca novel online bergenre komedi. Ceritanya lucu, asyik lagi."


"Owh, kirain tadi kamu..." Theo menggantung ucapannya.


"Sekarang kenapa jadi kakak yang buat Dira penasaran. Ayo, selesaikan ucapan kakak! Kakak kirain apa?"


Theo mengabaikan Indira yang terus mengekor dibelakangnya. Dia kembali duduk di atas ranjang, meraih laptopnya dan mengotak atiknya.


"Selesaikan tugasmu atau aku akan memberimu nilai C", ancam Theo untuk menghentikan desakan Indira padanya. Sebenarnya dia malu karena telah salah menduga.


"Iya deh", sahut Indira lesu. Lalu dia kembali berjalan menuju sofa. Memeriksa kembali tugas yang sebenarnya sudah selesai dia kerjakan.


Ting.


Notifikasi pesan masuk di ponsel Indira. Dia langsung meraih ponsel yang ada disampingnya. Dinyakannya layar ponselnya, lalu dibukanya pesan dari seseorang yang dia kenal. Indira tersenyum kala membacanya. Dia pun membalas pesan singkat itu, hingga chatingan pun berlanjut. Tanpa Indira sadari Theo memperhatikannya.


"Lagi balas chat siapa sih? Kayaknya seru banget."


"Ini si ... " Awalnya Indira bersemangat untuk mengatakannya pada Theo, namun sesaat kemudian dia menggantung ucapannya. "Bukan siapa-siapa", ucapnya dengan santai. Lalu dia kembali tersenyum kala membaca guyonan Daven melalui chat itu. Menurut Indira, Daven adalah anak yang baik, hanya saja karena tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, dia menjadi tidak terarah dan melakukan sesukanya.


Indira membalas chat dengan sebuah wejangan.


Belajarlah dengan rajin


Jangan kecewakan lagi kedua orang tuamu


Mereka sudah menaruh harapan lebih padamu


Tunjukkan pada mereka kau bisa melebihi target yang mereka berikan.


Indira meletakkan kembali ponselnya di atas meja, setelah mendapat balasan chat dari Daven yang membuatnya merasa senang. Lalu dia menonaktifkan laptop dan memasukkannya ke dalam ransel.


"Semua tugas sudah selesai", ucapnya bergumam. Kemudian dia melangkah menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas malamnya.

__ADS_1


Theo masih terus memperhatikan Indira dari posisinya duduk, bahkan saat Indira berjalan menuju kamar mandi. "Apa yang akan terjadi padanya, jika aku benar-benar menceraikannya", ucap Theo bergumam.


__ADS_2