
Indira melangkah masuk ke dalam kantor pengadilan. Sorot mata sendunya menatap seseorang yang dia kenal. Lalu dia berjalan menghampirinya.
"Halo, Kek. Apa kabar?" tanyanya dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Kakek sudah tua, kesehatan Kakek tidak selalu baik", jawabnya. "Kakek.juga tidak tahu seberapa lama lagi umur Kakek. Jadi Kakek secara khusus meminta maaf padamu atas kejadian 5 tahun yang lalu", lanjutnya.
"Kakek melakukannya untuk melindungi keluarga Kakek dari penipu, jadi untuk apa Kakek meminta maaf?"
Sang Kakek membuang nafasnya dengan kasar. "Kakek bukan di tipu oleh orang tuamu, tapi oleh warga yang sudah berhutang budi pada seseorang yang meminta mereka berbohong."
"Berarti orang tua Dira di fitnah?"
Sang Kakek mengangguk pelan. "Maaf, Kakek lebih percaya dengan kata-kata Tiara. Dia yang meminta Kakek menanyakan langsung tentang sifat orang tua kamu pada warga desa."
Indira tertegun mendengarnya. "Jadi dia dan Theo sengaja melakukan ini agar kami berpisah. Kalau begitu aku penuhi keinginan mereka", pungkasnya seraya melirik ke arah Theo.
"Kau sudah salah paham, Dira. Ayo, kita bicarakan hal ini dengan tenang", pinta Theo dengan wajah memelas.
"Heh, salah paham? Seharusnya aku melakukan hal ini dari dulu. Jadi aku tidak perlu repot lagi berurusan dengan keluargamu", sahut Indira dengan menatap serius Theo.
"Aku mohon Dira. Ayo, kita bicarakan baik-baik", pohon Theo dengan lembut. Namun Indira masih tetap dengan keputusannya.
""Ayo, segera selesaikan semuanya hari ini. Aku masih ada pekerjaan lain." Indira melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang urusan perceraian rumah tangga.
Sikap acuh Indira membuat Theo kesal. "Aku baru tahu ternyata kau punya sifat keras kepala."
Sang Kakek memberi isyarat pada Theo untuk tetap diam. "Jangan lanjutkan", katanya dengan menggelengkan kepala. Dia tidak ingin Indira bertambah marah, jika Theo terlalu mendesak.
Mereka pun mengikuti langkah Indira dengan wajah lesu.
...---...
Bagian administrasi pengadilan menatap bingung pasangan muda dihadapannya yang ingin segera bercerai.
"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Apa hal ini sudah dibicarakan dengan kepala dingin?" tanya petugas.
"Sudah..." jawab Indira
"Belum.." jawab Theo, yang hampir bersamaan.
Petugas menatap keduanya dengan bergantian. "Jawaban kalian saja tidak kompak. Berarti hal ini belum kalian bicarakan dengan baik-baik. Lebih baik kalian pulang, dan datanglah kemari setelah membuat keputusan."
"Tidak bisa, Bu. Hal ini harus diselesaikan hari ini juga. Karena proses perceraian ini sudah tertunda selama 5 tahun."
"Sepertinya Ibu terlalu mendesak. Apa Ibu sudah punya orang lain yang Ibu cintai?"
"Jangan fitnah saya, Bu!" Indira menatap petugas wanita dihadapannya dengan tajam.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya bertanya tidak bermaksud untuk menuduh. Jika memang tidak ada pria lain dalam hati Ibu, kenapa memaksa bercerai?"
Indira terdiam kala mendengar pertanyaan wanjta yang sedang menatapnya dengan serius.
"Atau mungkin Ibu pernah melihat suami Ibu bersama wanita lain dan Ibu salah paham dengan hubungan mereka?" lanjutnya bertanya.
"Bu, tolong jangan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Semua ini memang kesalahan saya. Saya yang telah berselingkuh", sahut Theo.
Petugas wanita itu mengalihkan pandangannya pada Theo. "Jadi Pak Theo yang sudah membuat Ibu Dira kecewa. Pantas dia ingin sekali bercerai."
"Tapi itu terjadi 5 tahun yang lalu. Saat ini saya tidak bersamanya lagi", sanggah Theo.
Petugas wanita menghela nafas dengan kasar. "Sepertinya rumah tangga kalian masih bisa diperbaiki. Bicarakan kembali dari hati ke hati, jangan gegabah mengambil keputusan!"
"Jadi perceraian saya tidak bisa di proses, Bu?" tanya Indira berdecak kesal.
"Bukan tidak bisa di proses. Tapi di tunda sampai kalian sudah benar-benar memutuskannya. Tapi saya berharap kalian tidak kembali ke sini untuk melanjutkannya."
"Baik. Terimakasih buat waktunya, Bu. Saya permisi!" ucap Indira. Lalu dia buru-buru pergi meninggalkan ruangan itu.
"Saya juga pamit, Bu", ucap Theo seraya berlari mengejar Indira.
...---...
Di luar ruangan Theo terus berusaha menahan Indira.
"Tenanglah sebentar! Aku tahu kau menyimpan rasa sakit hati yang mendalam. Tapi tidak ada manusia yang tidak luput dari kesalahan, berikan aku kesempatan menjelaskan."
Indira berhenti meronta. Dia mengatur nafasnya yang masih memburu. "Oke, ayo kita bicara", pungkasnya.
Theo mengajak Indira ke suatu tempat setelah memesan taksi online untuk sang Kakek. Baru saja Theo dan Indira masuk ke dalam mobil milik masing-masing, Radit tiba di tempat itu. Dia celingak celinguk mencari keberaadaan Theo dan Indira, namun dia tidak menemukannya.
Radit merogoh saku celananya mencari gawai di dalamnya. Setelah gawai berhasil dia temukan, tangannya dengan cepat menghubungi Theo.
"Halo, tumben kau menelponku", sahut suara Theo saat panggilan terhubung.
"Kau di mana?" tanya Radit.
"Ada apa kau mencariku?"
Radit kesal karena Theo seolah curiga padanya. "Ada.yang ingin aku bicarakan dengan dirimu dan Dira. Kalian di mana sekarang?"
"Aku dan Dira sedang di jalan ke Cafe tempat kita biasa nongkrong."
"Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Radit.
"Belum. Tujuanku membawanya ke cafe untuk membicarakan hal itu."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menyusul kalian ke sana." Radit langsung memutus sambungan telepon menuju tempat yang sudah dikatakan oleh Theo. Kemaren malam dia gagal untuk menemui Theo, karena dia tidak ingin Theo melihatnya dalam keadaan babak belur.
...---...
Di tempat lain di perusahaan keluarga dari pihak Ratu, tampak beberapa karyawan menatap sinis kearahnya.
Terdengar desas desus bahwa keluarga Ratu adalah orang yang tamak. Di saat perusahaan sedang mengalami kesulitan orang kepercayaan Ayahnya Ratu berhasil membuat perusahaan kembali jaya dan menjanjikan sebagian saham padanya.
Namun yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti gosip yang beredar. Ayah Ratu tidak pernah menjanjikan apapun pada Pak Ricky orang yang sudah menjadi kepercayaan Ayah Ratu sejak 15 tahun lamanya.
"Apa semua orang kaya mempunyai sifat seperti itu? Suka bertindak sewenang-wenang", ucap seorang wanita yang sedang memperbaiki riasan wajahnya di cermin toilet.
"Hus, jangan bicara sembarangan. Nanti kalau Ibu Ratu dengar bagaimana?" tegur rekannya yang baru selesai memoles lipstik dibibirnya.
"Kenapa harus takut mengatakan kebenaran", tukasnya.
Ceklek.
Ratu berjalan menuju washtafel. "Saya sudah di sini. Lebih baik bicarakan di depan saya!" tantang Ratu.
Kedua wanita yang tadi masih bergosip, kini diam seribu bahasa. Mereka terpaksa memasukkan kembali seluruh alat riasan ke dalam tempatnya semula, lalu buru-buru meninggalkan toilet.
Tamara yang juga sedang berada di dalam toilet, akhirnya keluar menghampiri sang Ibu. "Mommy harus segera memecat karyawan yang seperti itu. Ara kuatir mereka akan mempengaruhi karyawan lain."
"Kita tidak boleh asal memecat orang. Dia pasti akan menuntut kita dan meminta kompensasi yang sangat banyak."
"Jadi kita harus membiarkannya begitu saja!"
"Kau perlu belajar banyak hal untuk bisa menjadi pimpinan perusahaan menggantikan Mommy. Ayo kita bicarakan hal ini diruangan Mommy sebelumnya."
Tamara mengikuti langkah sang Ibu keluar dari toilet dan berjalan menuju sebuah ruangan. Namun mereka tidak tahu seseorang sudah menguping pembicaraan mereka.
...---...
Di sebuah Cafe, Theo dan Indira saling canggung setelah memesan makanan dan minuman.
"Cepat katakan!" desak Indira yang tidak ingin berada lama di tempat itu.
Theo menghela nafas panjang, lalu menatap Indira yang tidak menatapnya sama sekali.
"Aku mengakui kesalahanku sebelumnya. Walau sebenarnya itu bukanlah kesalahanku semata."
Theo menjeda ucapannya. "Semuanya..."
"Sayang... " panggil suara seorang wanita yang tiba-tiba datang dari arah depan Theo. Sontak Indira menoleh.
"Tiara!" seru Indira dengan tatapan tidak senang.
__ADS_1