
Suasana haru berganti sukacita, kala sang kakek menunjukkan aksi lucunya menghibur mereka semuanya.
"Dira... sekarang kami semua adalah keluargamu, menggantikan kedua orang tuamu yang sudah tiada. Jadi jangan pernah sungkan ataupun bersedih lagi, ya."
Indira menganggukkan kepalanya sembari mengusap lembut sisa air mata di pipinya. "Terima kasih, kek. Dira akan menyayangi kalian semua sama seperti Dira sayang pada kedua orang tua Dira", sahutnya dengan menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan senyum yang indah.
Mereka pun ikut tersenyum. "Nenek sayang sama Dira", ucap sang nenek dari keluarga daddy Theo itu.
"Dira juga sayang nenek", sahut Indira dengan menepuk pelan punggung tangan sang nenek yang duduk tepat disebelahnya.
Sejenak mereka melupakan kesedihan itu. Lalu mereka lanjut membahas acara resepsi pernikahan Theo dan Indira yang hanya mengundang kerabat dekat bahkan acara itu pun dilaksanakan dengan tertutup, agar tidak ada media yang akan meliput.
Tanpa terasa lebih dari 3 jam lamanya mereka saling berbagi pandangan, hingga jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Theo... Dira, kalian boleh istrirahat lebih dulu, nak. Biar besok wajah kalian tidak kusam karena kurang tidur." Sang mommy memberi izin. Karena dia lebih paham urusan riasan wajah.
Theo dan Indira pun menuruti perkataan sang mommy. Mereka beranjak dari tempat duduk masing-masing, lalu melangkahkan kaki menuju kamar.
Di dalam kamar Theo.
Netra Indira menatap cahaya layar ponselnya yang baru saja redup saat dia melangkah masuk ke dalam kamar. Dengan cepat dia meraih ponselnya yang ada di atas meja. Lalu jarinya bergerak untuk menyalakan kembali layarnya.
"Bibi", ucapnya bergumam, namun masih dapat di dengar oleh Theo.
"Kenapa?" tanya Theo saat baru saja menutup pintu.
"Ini bibi menghubungiku."
Theo langsung menghampiri Indira. "Coba telpon balik. Tapi jangan lupa aktifkan speakernya."
Indira pun mengikuti arahan Theo dengan menghubungi kembali sang bibi. Setelah terdengar beberapa kali nada tunggu akhirnya panggilan telepon dari Indira terhubung, namun sang bibi.tidak menyahut dari seberang telepon.
"Halo bi..." Indira mencoba berbicara lebih dulu.
Hahahaha... Suara tawa seorang pria dari seberang telepon membuat Indira tersentak kaget.
"I-ni bibi?"
__ADS_1
"Apa kau tidak mengenal suara pamanmu ini sayang."
Indira buru-buru mengakhiri panggilan telepon. Lalu meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Tangannya mulai gemetar kala mengingat suara sang paman.
Theo memegang tangan Indira yang masih gemetar. "Kau kenapa?"
Tiba-tiba tubuh Indira merosot, hingga bobot tubuhnya jatuh di sofa. Theo yang tidak siap, ikut terjatuh hingga tubuh Theo menimpa Indira. Netra mereka saling mengunci di dalam kebisuan, yang terdengar hanya hembusan nafas keduanya.
Hening.
Hening.
"Maaf", ucap Theo seraya menarik tubuhnya dari Indira. Lalu dia melangkahkan kakinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Indira masih terdiam dengan kaku di posisinya. Debaran jantungnya seakan sulit untuk dia kendalikan, meskipun dia sudah menghela nafas berkali-kali.
Entah apa yang dilakukan Theo di kamar mandi, hampir 1 jam lamanya dia berada di sana.
"Aku yakin dia pasti sudah tidur", ucap Theo bergumam seraya keluar dari dalam kamar mandi.
Theo tersenyum sembari memandangi wajah teduh Indira yang sedang tertidur di atas sofa. Namun tiba-tiba Indira berbalik, spontan Theo langsung berbaring dan menarik selimutnya. Dia mengira Indira sedang terbangun dari tidurnya.
Setelah beberapa saat Theo berdiam di dalam selimut, perlahan dia bangkit dari posisi tidurnya dan melihat kembali ke arah Indira. Seulas senyum terbit di wajah Theo kala melihat Indira yang masih tertidur pulas. "Selamat malam istriku", ucapnya bergumam. Lalu dia kembali tidur.
Namun Theo tidak tahu bahwa Indira mendengar semua ucapannya itu. Istriku? Suami mana yang membiarkan istrinya tidur di sofa? Ucap Indira di dalam hatinya.
Malam pun berlalu digantikan sang fajar yang memberikan semangat baru di pagi hari.
Seluruh keluarga Theo terlihat bahagia pagi ini. Mereka berkumpul bersama di ruang makan menikmati sarapan pagi khas buatan Indira, karena nasi goreng buatannya sebelumnya berakhir di tong sampah, akibat rasa iri sang bibi.
"Dira kita ini memang top deh. Selain cantik dia juga jago masak", puji sang nenek saat menikmati suapan demi suapan bubur ayam buatan Indira.
"Nenek terlalu memuji. Dira hanya tahu beberapa masakan saja, tidak ada yang spesial."
"Tapi ini spesial bagi nenek", sahut sang nenek yang memang pencinta kuliner khas Indonesia itu.
__ADS_1
Indira hanya membalas dengan tersenyum. "Dira senang kalau nenek menyukai masakan buatan Dira."
"Iya, sayang. Lain kali datang ke rumah nenek ya, ajak suami kamu Theo. Biar nanti Dira ajarin nenek masak."
"Siap, nek", sahut Indira.
Theo hanya bisa diam, karena dia tidak berani membantah jika kedua kakeknya berada di sana.
Di dalam kamar Theo.
Indira sedang di rias oleh perias profesional pilihan Ratu. "Kamu cantik,.nak", ujar Ratu saat melihat pantulan wajah Indira di cermin. "Maaf jika prilaku mommy sebelumnya sangat buruk padamu, padahal kamu pernah menolong mommy waktu hampir tenggelam."
Indira menatap sang ibu mertua dari pantulan cermin dengan tersenyum. "Semua sudah berlalu, bu. Tidak perlu di ingat lagi."
"Jangan panggil ibu. Panggil mommy dong, sama seperti Theo dan Ara."
"Baik mommy", sahut Indira dengan anggukan disuguhi senyuman manisnya.
Tiba-tiba Theo masuk ke dalam kamar. "Apa semuanya sudah siap? Para tamu undangan sudah menunggu kita." Theo melangkah kakinya menghampiri Indira seraya menjulurkan tangan. Namun netranya terkesiap kala melihat wajah cantik sang istri.
"Theo, itu Dira sudah megang tangan kamu!" ujar Ratu saat melihat Theo melongo. "Kamu bawa Dira turun, ya. Mommy mau menyapa para tamu dulu."
"Baik, mom", sahut Theo dengan grogi. Lalu Theo menuntun Indira menuju tempat acara diadakan.
Semua mata tertuju pada pasangan yang sedang menuruni anak tangga. Mereka berdecak kagum saat melihat ketampanan dan kecantikan keduanya.
"Sungguh pasangan yang serasi", ucap Sisil, mamanya Dion itu sembari menghampiri mereka.
Pembawa acara memulai acara dengan penuh semangat. Dia meminta para tamu undangan untuk memberi perhatiannya sejenak pada pasangan yang sedang berbahagia saat ini.
"Terimakasih buat kehadiran bapak, ibu dan saudara sekalian. Saat ini kita minta pasangan yang sedang berbahagia ini untuk berdiri di tengah. Kita akan melakukan pemotongan kue pengantin."
Theo berjalan dengan menggandeng tangan sang istri. Mereka terus melangkah ke tempat yang sudah di minta oleh MC, lalu melakukan sesuai arahannya.
Semua rangkaian acara hari ini berjalan dengan semestinya. Terlihat jelas dari kegembiraan yang dirasakan oleh semua orang yang hadir dalam acara itu secara khusus kakek dan nenek dari pihak kedua orang tua Theo.
__ADS_1