Love Me Tender

Love Me Tender
Kemana Theo Semalaman


__ADS_3

Indira berusaha menyembunyikan kemarahannya pada sang suami. Di depan kedua mertuanya dia tetap melayani sang suami seperti biasanya, walaupun tak ada senyum diwajahnya.


Makan malam pun selesai dengan sedikit rasa canggung, karena diamnya Indira selama makan malam berlangsung.


"Daddy mau lanjut ke ruang kerja, ya", pamitnya.


"Oke, dad", sahut Ratu dan yang lainnya.


Lalu satu per satu mereka meninggalkan meja makan menyisakan Indira seorang diri yang masih mengaduk-aduk makanan dihadapannya.


"Non Dira, tumben makannya lama."


"Lagi gak selera makan, bi. Kepikiran bibi Dira terus."


"Emangnya bibinya Dira kenapa?" tanya sang bibi sembari membereskan beberapa peralatan makan yang baru saja selesai digunakan.


"Bibi Dira jatuh di kamar mandi. Dan sekarang dia koma."


"Oo, gitu ya", sahut sang.bibi yang membuat Indira mendelik.


"Bibi paham arti koma?"


Sang bibi.menggelengkan kepalanya. "Gak tahu, non. Bibi cuma sampai kelas 2 SD, jadi gak paham yang gituan."


"Oo, maaf bi. Dira gak tahu."


"Gak apa-apa, non."


Indira meletakkan sendok di atas piring. "Dira udah gak kuat lagi ngabisin makanannya. Maaf bi makanannya bersisa."


"Gak apa-apa, non. Atau bibi buatkan teh hangat, barangkali Dira masuk angin."


"Gak usah bi. Dira langsung ke kamar saja."


"Ya, non. Hati-hati."


"Oke, bi", sahut Indira sembari melangkah menuju lantai atas.


 


Tok. Tok.

__ADS_1


"Apa memang harus seperti itu selamanya?" Theo berdecak kesal kala sang istri masih juga mengetuk pintu sebelum masuk.


Sorot mata Indira menangkap layar ponsel dalam genggaman Theo yang sedang menyala. Tampak panggilan video yang masih berlangsung dengan seorang wanita berambut panjang. Wanita yang pernah di lihat Indira jalan bareng Theo di mall.


"Siapa dia?" tanya Indira dengan dingin.


Theo sedikit kelabakan kala menyadari dia lupa untuk mengoffkan panggilan videonya. Namun karena sudah tertangkap basah, Theo pun memberanikan diri berbicara jujur pada sang istri.


"Nanti kita sambung lagi", ujar Theo pada wanita dalam layar ponselnya dan segera mengoffkan panggilan itu. Lalu Theo menghampiri Indira yang sedang duduk di sofa.


"Berhubung kau sudah melihatnya, aku pun tidak bisa lagi mengelak. Dia itu mantan sekaligus kekasihku, karena aku tak pernah menyetujui permintaan putus darinya. Selama ini dia kuliah di London dan baru kembali ke kota ini 2 minggu yang lalu."


"Jadi kakak akan balikan padanya?"


"Tidak semudah itu, karena aku sudah menikah denganmu walaupun terpaksa."


Seketika hati Indira terhenyak kala mendengar kata terpaksa dari sang suami. Sebenarnya dia pun tidak menginginkan pernikahan itu, namun keadaan juga memaksanya. Tanpa terasa bulir kristal itu jatuh di sudut matanya. Dengan cepat Indira langsung menyingkirkannya.


"Kakak maunya Dira lakukan apa?" Pertanyaan itu tak ingin dia ucapkan, namun terpaksa keluar dari mulutnya.


"Kakak ingin kita melakukan kontrak pernikahan selama satu tahun. Setelah kontrak berakhir kau bebas melakukan apapun dan kakak janji akan memberikan kompensasi yang setimpal saat kontrak berakhir."


Indira terdiam sesaat, namun hatinya bergejolak dengan hebat. Begitu gampangnya Theo menganggap pernikahan mereka. "Dira gak mau kak!" tegasnya.


"Tidak ada seorang pun yang ingin mengganti kain baru dengan kain lama."


Theo mengernyitkan keningnya. "Maksud kamu apa?"


"Tidak ada seorang pun yang menginginkan pernikahan kontrak jika dia sudah menikah secara sah!"


Theo seakan di hantam oleh benda yang keras saat mendengar perkataan Indira. "Oke, jangan salahkan aku jika kau akan terus melihatku berhubungan dengannya!" Theo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu dia menutup pintu dengan membantingnya.


Indira tersentak kaget saat mendengarnya. Dia mendengus kasar sembari mengelus dadanya.


 


Di sebuah rumah yang minim penerangan seorang ibu yang duduk di kursi roda menatap nanar sebuah bingkai foto dalam pangkuannya. Peristiwa yang tak pernah lekang dari ingatannya.


"Bu, kenapa hanya menyalakan lampu untuk membaca?" tanya seorang pria yang sedang memasuki kamar remang sang ibu.


"Tidak apa-apa. Sekalian ibu bisa menghemat listrik", sahut sang ibu dengan nada lirih.

__ADS_1


"Tidak seperti itu juga caranya bu." Pria itu berjalan menuju saklar dan menyalakan lampu yang bisa menerangi seluruh ruangan. "Nah, gini kan enak bu."


"Sudah ibu katakan jangan menyalakannya. Itu tidak akan mengubah suasana hati ibu. Hanya dengan hasil kerjamu yang berhasil, itu baru bisa membuat ibu senang!"


"Ibu tenanglah. Aku sedang berusaha bu, karena tidak semudah itu melakukannya."


"Mudah saja, asal kau berani!" Sang ibu menatap tajam anaknya itu, hingga sang anak beringsut mundur. Wajah menyeramkan sang ibu membuat dia takut untuk meneruskan rencananya.


 


Malam terasa begitu panjang bagi Indira. Dia terus bergerak dengan gelisah kala sang suami belum juga pulang. Dia menduga bahwa Theo keluar rumah untuk menjumpai kekasihnya, terlihat jelas dari cara berpakaiannya dan parfum yang dia kenakan.


Entah sudah berapa kali Indira menggeser tubuhnya, namun matanya belum juga terpejam. Sorot matanya melihat ke arah jam dinding. "Sudah jam 12, kenapa kak Theo belum pulang juga?" ucapnya bergumam.


Jam terus berputar, menit demi menit berlalu. Tanpa terasa pagi pun menyapa. Indira mengerjap merasakan silaunya mentari yang menyeruak masuk melalui celah kaca jendela.


"Apa? Sudah pagi!" ucapnya saat kesadarannya kembali. Dia melihat ke arah jam di dinding, sepuluh menit lagi jam menunjukkan pukul 7.


Dengan buru-buru Indira masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, dia pun berjalan menuju walk-in closet untuk mengganti pakaiannya. Kemudian dia berjalan menuju cermin dan memakai riasan tipis diwajahnya.


"Sudah keren", ucapnya berdecak kagum pada dirinya sendiri. Diraihnya tas ransel dan ponselnya di ataa meja. Lalu dia melangkah keluar kamar.


 


Saat menuruni anak tangga, hampir saja Indira terpeleset jika tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Hati-hati!" seru Ratu saat datang dari arah ruang makan.


"Iya, mom", sahutnya dengan meneruskan langkahnya berjalan menuju meja makan.


"Tumben kakak ipar telat turunnya. Biasanya selalu lebih dulu dari Ara", ujarnya sembari meraih segelas juice jeruk di atas meja.


"Iya, aku kesiangan bangunnya", sahut Indira seraya menjantuhkan bokongnya di atas kursi. "Daddy dan mommy sudah selesai sarapan?"


"Sudah", jawabnya singkat. "Tingggal kakak ipar dan kak Theo saja lagi. Apa yang kalian lakukan tadi malam, sampai kesiangan bangun?" selidik Tamara dengan tersenyum penuh arti.


"Tidak ngelakuin apa-apa kok. Mungkin emang tidurnya aja yang pulas." Berarti kak Theo gak pulang semalaman. Kemana dia pergi?" batin Indira.


"Hei...!" Tamara mengibaskan tangannya tepat wajah Indira. "Kenapa berhenti menyendok?" tanya Tamara saat melihat Indira baru saja memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam piringnya.


"Owh, ini dari tadi aku liatin, kayaknya nasi goreng ini mirip sama buatan Dira", sahutnya berbohong.

__ADS_1


"Iya miriplah. Resepnya kan dari non Dira", sahut sang bibi yang tiba-tiba datang dari arah dapur. "Tapi rasanya mungkin gak persis sama dengan buatan non Dira."


"Yang penting enak, bi", ucap Tamara sembari menoleh ke arah Indira. Dia mulai curiga Indira sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Senyumanmu gak tulus seperti biasanya, ada apa denganmu kakak ipar? Batin Tamara.


__ADS_2