
Di dalam kamar bercat biru muda itu Saka sedang duduk termenung di atas tempat tidur sembari memikirkan penolakan sang ibu atas lamaran yang dia tujukan pada Tamara, kegelisahan Saka saat ini membuat dirinya melewatkan makan malamnya.
Tok. Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Saka. Dengan malas dia beranjak dari atas tempat tidurnya.
"Ada apa, bi?" tanya Saka saat pintu terbuka sebagian.
"Maaf, bibi sudah mengganggu istirahat den Saka", ucap sang bibi rasa bersalah.
"Gak mengganggu kok, bi."
"Bibi kesini cuma mau kasi tahu kalau nyonya sudah bersedia untuk melamar Tamara kekasih den Saka."
"Serius!" ucap Saka terperangah. "Bibi bilang apa sama ibu? Kenapa ibu langsung setuju?"
"Mengenai hal itu kayaknya bibi gak perlu beritahu den Saka. Sekarang den Saka fokus pada non Tamara aja."
"Terserah bibi kalau memang gak mau beritahu Saka. Yang penting ibu sudah setuju", ucap Saka dengan girang.
"Kalau gitu bibi kembali ke kamar ya den."
"Ya, bi. Sekali lagi Saka mau bilang terimakasih, bibi memang terbaik", ucap Saka sembari mengacungkan jempolnya.
Sang bibi hanya membalas dengan tersenyum, lalu dia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi pintu kamar Saka.
Flashback on.
Tok. Tok.
"Masuk!" ucap suara Citra dari dalam kamarnya.
"Permisi nyonya", tutur sang bibi dengan sopan.
"Ada apa bi?"
"Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat nyonya."
"Jangan berbelat-belit bi. Katakan saja langsung keintinya", ucap Citra berdecak kesal, karena moodnya sedang tidak baik.
"Saya mau ngomong tentang Saka, nyonya", tutur sang bibi yang membuat Citra mendelik. Tatapan Citra seakan menghunus tajam jantung sang bibi.
"Kalau begitu bibi silakan keluar!"
"Saka bukan putra kandung nyonya", ucap sang bibi mengungkap kebenaran.
"Jangan bicara omong kosong, bi!"
"Nyonya harus tahu faktanya. Di hari nyonya melahirkan, tuan besar sudah menukar anak nyonya yang sebenarnya dengan Saka, karena Tuan besar sangat membenci anak kandung nyonya,"
__ADS_1
Citra menatap intens sang bibi. "Jadi dimana anak kandungku berada?"
"Aku akan memberitahu nyonya, kalau nyonya mau menuruti permintaan Saka."
"Cih, apa bibi punya hak tawar menawar denganku?"
"Terserah nyonya. Kalau nyonya tidak bersedia, maka saya akan pergi."
"Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapan bibi. Bisa saja ini hanya akal-akalan bibi untuk membantu Saka."
"Putra nyonya tidak mempunyai tanda lahir, sedangkan putra orang lain yang bayinya telah ditukar punya tanda lahir. Mungkin mereka yang merawat putra nyonya sudah mengetahuinya dari awal meskipun wajah mereka sedikit mirip, tapi tanpa tanda lahir mereka sudah pasti tahu kalau yang mereka bawa pulang bukan putra mereka."
Citra tertegun saat mendengar penuturan sang bibi. Bagaimana mungkin seorang ART diberi wewenang untuk melakukan hal itu, batin Citra.
"Apa nyonya tidak curiga dengan sikap Tuan dan nyonya besar yang mau menerima keberadaan Saka."
Citra kembali berfikir. Sebenarnya dia merasa heran dengan kedekatan kedua orangtuanya dengan Saka. Hal itu juga yang menjadi alasan Citra untuk menerima keberadaan Saka
"Baiklah aku setuju, tapi sesaat setelah aku melakukan tugas melamar, tolong langsung beritahu keberadaan putraku", pinta Citra.
"Baik nyonya", balas sang bibi dengan ramah.
Flashback off
Sang bibi berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tangannya membuka laci di dekat tempat tidurnya. Di raihnya sebuah foto dari dalamnya. Diusapnya foto lama yang menyimpan kenangan itu. Tanpa terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
"Ara... Sayang... buka pintunya dong", bujuk sang mommy yang merasa khawatir Tamara akan melakukan tindakan nekad. Ratu berdecak kesal kala melihat pintu tidak dibuka sama sekali, bahkan Tamara tidak menyahut ucapannya.
Lalu Ratu bergegas menghubungi sang suami yang sedang meeting di kantor. Panggilan pertama Ratu direject sang suami. Lalu Ratu mencoba untuk kedua kalinya, namun hasilnya tetap sama. Ratu.yang tersulut emosi langsung menghubungi sekretaris sang suami.
"Risa, beritahu bos kamu sekarang. Kalau dia tidak datang saat ini juga, maka jangan harap untuk menemui saya dan putrimya lagi!" titah Ratu tanpa basa basi yang membuat Risa gemetaran.
"Baik, bu", balas Risa dengan gugup dari seberang telepon.
"Oke, Risa. Saya tunggu kabarnya." Ratu langsung menutup sambungan telepon.
Di rumah kediaman Tiara.
Theo baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah mewah milik Tiara.
Ting. Tong.
Theo menyusuri sekelilingnya sembari memencet bel rumah Tiara. Dia pun menunggu dengan tidak sabar.
Ceklek.
__ADS_1
Seseorang telah membukakan pintu buatnya.
"Akhirnya kau datang juga. Masuklah, Tiara sudah menunggumu di dalam kamarnya", ujar Radit saat melihat Theo berdiri dihadapannya.
"Oke", balas Theo seraya melangkah masuk.
"Kenapa perbanmu belum dibuka?" tanya Radit saat baru saja menutup pintu.
"Nanti sore", balas Theo dengan santai masih tetap melangkah menuju kamar Tiara yang berada di lantai 2.
Krek.
Theo mencoba membuka pintu perlahan, namun masih menimbulkan bunyi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Theo saat melihat Tiara berbaring di atas tempat tidur.
"Aku lemas sayang. Tolong bantu aku untuk duduk", pintanya dengan suara lirih. Theo pun menuruti permntaan yang masih masuk akal itu. Dia membantu Tiara untuk duduk dengan menyandar.
"Sayang, maafkan aku.yang tidak bisa menjaga dengan baik calon anak kita", ujar Tiara dengan terisak.
"Di kamar mandi yang mana kau jatuh?" tanya Theo yang membuat Radit dan Tiara sedikit kelabakan.
"Di kamar mandi itulah! Di mana lagi?" tunjuk Tiara pada kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Theo melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar mandi yang di maksud.
"Lantainya tidak licin", ujar Theo saat berada di dalam kamar mandi.
"Memang tidak licin, tapi aku menginjak sabun dan akhirnya terpeleset", sahut Tiara dengan sedikit kesal.
"Owh begitu ya", balas Theo dengan santai. Lalu dia meminta surat dari sang dokter.
Tiara pun memberiksn surat yang diminta oleh Theo tanpa ragu.
"Ini suratmya", ucap Tiara dengan menyodorkan amplop surat di tangannya.
Theo langsung membacanya dengan sangat teliti. Dia membuat surat palsu ini dengan sangat rapi, batin Theo.
"Bagaimana kalau aku saja yang menyimpan suratnya? Aku ingin menunjukkanmya pada kedua orang tuaku", ucapnya berbohong.
Spontan Tiara menatap ke arah Radit, hingga membuat Theo semakin curiga.
"Tidak bisa Theo, karena Tiara akan ada pemeriksaan lanjutan. Jadi dia perlu catatan itu", ucap Radit yang mencoba membantu Tiara.
"Oke kalau begitu. Aku pamit pulang", ucap Theo langsung beranjak dari posisinya berdiri.
"Kenapa cepat sekali? Kau bahkan belum menghibur Tiara sama sekali!' tukas Radit dengan sedikit emosi.
"Tapi aku melihatnya baik-baik saja", Maaf aku tak bisa berlama-lama di sini, karena aku juga sedang dalam masa pemulihan", ucap Theo dengan santai.
__ADS_1
Dengan terpaksa Radit dan Tiara membiarkan Theo pergi meninggalkan tempat itu.