
Hari ini Saka baru saja pulang setelah menemani sang istri mengikuti sidang kelulusannya.
Tok. Tok.
"Kamu saja yang buka pintunya, sayang", pinta Tamara saat mereka sama-sama menaiki anak tangga. Saka menoleh ke arah Tamara sebentar, lalu dia membalikkan badannya dan menuruni anak tangga.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar. Sisil yang sedang berdiri dihadapan Saka tersenyum menyapanya.
"Selamat siang. Kamu pasti Saka suaminya Ara."
"Iya, tante benar. Tante ini siapa?"
"Saya ini teman dekat ibu mertua kamu dan ini Dion putra saya", ucapnya memperkenalkan diri.
"Owh, begitu ya tante. Ayo, masuklah dulu!" ajaknya dengan sopan. "Silakan duduk", ucapnya melanjutkan. "Tapi Ibu mertua saya sedang tidak ada di rumah."
"Kemana dia pergi? Apa dia masih bersama dengan teman sosialitanya?" tanya Sisil saat bokongnya berhasil menempel di sofa.
"Bukan tante, tapi sedang menjemput putri kami Cha cha di sekolah."
Perkataan Saka barusan membuat Dion kesal. Jika saja mamanya tidak mengajaknya pindah, mungkin dialah yang akan menjadi suami Tamara bukan Saka.
"Kira-kira Ibu mertua kamu masih lama pulangnya?" tanya Sisil yang tidak sabar menunggu.
"Biasanya jam segini mereka sudah tiba di rumah, Bu. Tapi sebentar saya coba hubungi Ibu mertua saya dulu", imbuh Saka seraya merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Setelah ponsel berada dalam genggamannya, dia pun langsung menghubungi sang Ibu mertua.
Dion menatap tidak suka keakraban Saka dengan Ibu mertuanya di telepon. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang membuatnya mau menikahi Ara, meskipun Ara telah dil***hkan, tebak Dion di dalam benaknya.
"Maaf tante menunggu lama", tuturnya dengan ramah. "Kata Ibu mertua saya, dia sedang dalam perjalanan pulang."
"Oke, kalau begitu saya akan menunggunya."
"Baik, tante", sahut Saka. "Saya tinggal sebentar tidak apa-apa kan, tante."
"Ya, silakan jika kamu punya kesibukan sendiri."
Saka beranjak dari posisinya berdiri, lalu berjalan menuju pantry. Dia menuangkan sirup dingin ke dalam dua gelas kosong di atas nampan, lalu membawanya.
Sisil dan Dion terkesiap melihat prilaku Saka yang tidak gengsi melakukan pekerjaan ART itu.
"Silakan di minum Tante, kak", ujar Saka dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
Sisil dan Dion saling memandang. "Kayaknya Dion harus belajar banyak darimu", ujarnya seraya menoleh ke arah Saka.
Dion kesal mendengar penuturan sang mama. "Mama pikir Dion tidak punya kerjaan. Buat apa membayar pembantu, jika kita harus melakukan tugas mereka", ujar Dion dengan tegas.
"Kamu jangan salah mengartikan ucapan Dion ya, nak. Dia bukan merendahkan kamu", tutur Sisil yang tidak ingin Saka tersinggung.
"Tidak apa-apa, Tante. Saka tahu pandangan setiap orang itu berbeda-beda. Jadi Saka tidak bisa memaksa kak Dion untuk mengerti."
"Kamu anak baik. Beruntung Ara mendapatkan suami seperti kamu."
"Tante terlalu memuji. Seharusnya Saka yang beruntung telah mendapatkan Ara."
"Kalau begitu, kalian berdua sama-sama beruntung", ujar Sisil dengan tersenyum.
"Sorry, lama menunggu", ujar Ratu yang baru saja datang masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa. Kami di temani menantumu yang tampan, tidak akan terasa kalau menunggu lama."
"Papa..." teriak Cha dari balik sang nenek.
"Iya, sayang. Ayo, kemarilah", ajak Saka dengan merentangkan kedua tangannya. Cha cha pun berlari menghamburkan diri dalam pelukan sang ayah. Dengan menyentak lembut badan putri kesayangannya itu Saka menatapnya. "Ayo, sapa Oma dan Om itu", tunjuk Saka menggunakan ekor matanya.
Cha cha membalikkan badannya. "Hai, Oma. Hai Om", sapa Cha cha bergantian.
"Charisa, Oma. Tapi Oma bisa panggil Cha cha, aja", ucap bibir mungil Cha cha.
"Cha cha sudah kelas berapa?"
"Cha cha sekolah Paud, Oma."
"Owh, Paud ya. Pasti di sana Cha cha punya banyak teman."
"Oma kok tahu. Oma pernah sekolah di situ juga?"
Sisil dan yang lainnya berusaha menahan tawa mereka. "Oma dulu punya banyak teman waktu sekolah."
"Asyik kan Oma. Gak kayak Uncle Ti", ucapnya seraya mengurucutkan bibir.
Sisil menoleh ke arah Ratu. "Apa yang dia maksud Theo?" tanyanya dengan wajah bingung. Ratu pun membalas dengan anggukan.
"Wah, ternyata di sini.ada tamu. Ara sedari tadi bertanya-tanya, kenapa suami Ara belum naik ke atas", ujar Tamara yang datang tiba-tiba yang membuat mereka semua menoleh kearahnya.
"Hai Ara sayang. Bagaimana kabarmu, nak?" tanya Sisil.
__ADS_1
"Baik, Tante. Tante sendiri apa kabar? Sudah lama Tante gak datang berkunjung ke sini."
"Kabar Tante seperti yang kamu lihat, nak", sahut Sisil dengan merentangkan kedua tangannya. "Sudah hampir 4 tahun tante gak berkunjung kemari. Makanya Tante dan Dion datang, sekalian mau ucapin selamat atas pernikahan Ara", lanjutnya dengan menoleh ke arah Dion. "Eh, ternyata Tante juga harus mengucapkan selamat, karena Ara sudah punya putri yang cantik."
"Tante dan kak Dion perginya bersamaan dengan pernikahan Ara, sih. Makanya sampai 4 tahun baru bisa ucapin selamat", jawab Tamara dengan tertawa.
"Hus, tidak baik mentertawakan orang tua", tukas Ratu seraya menatap serius Tamara.
"Iya, maaf mommy. Ara hanya bercanda."
"Sudah, jangan dimarahi. Dia itu sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Makanya sikap Ara seperti itu padaku."
"Jangan di manja. Nanti dia semakin susah di atur, meskipun sudah menjadi seorang Ibu."
"Ara kita sudah dewasa kok. Meskipun terkadang dia masih suka manja, tapi Ara pasti akan berubah saat putrinya semakin tumbuh besar nanti.
"Terimakasih buat pengertiannya. Tapi kalian tidak marah kan, Ara menikah dengan orang lain?"
"Untuk apa kami harus marah?"
"Karena, saya pikir Dion menyukai Ara", balas Ratu dengan menatap Dion.
"Tante benar. Sewaktu Ara belum menikah, Dion memang menyukai Ara", sahut Dion dengan menatap ke arah Saka.
Sisil sebenarnya mengetahui hal itu. Dia hanya tidak ingin putranya merasa malu, karena tidak bisa mendapatkan cintanya Tamara.
"Syukurlah kamu bisa menerima kenyataan itu, nak", kata Sisil dengan tatapan sendu.
"Dari tadi kita bicara terus, ayo minum dulu", ujar Ratu seraya menunjuk minuman di atas meja. Lalu dia menoleh ke arah Tamara. "Ara, tolong bilang bibi siapkan beberapa kudapan."
"Baik, Mom", sahut Tamara sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur.
"Kenapa harus repot, sih. Lagi pula kami hanya ingin memberitahu, kalau lusa kami akan pindah lagi ke mari."
"Owh, bagus kalau begitu. Harusnya dari dulu juga seperti itu."
"Aku sih pengennya seperti itu, tapi mau gimana lagi, Neneknya Dion ingin kami tinggal di sana sampai waktu dia dipanggil yang kuasa. Setelah keinginannya terpenuhi, kami pun kembali ke kota ini."
"Kami turut berdukacita atas meninggalnya nenek Dion. Maaf kami baru bisa memyampaikan bela sungkawa, karena kami baru mengetahuinya saat ini."
"Tidak apa-apa", balas Sisil dengan nada lemah. Lalu mereka melanjutkan obrolan itu, hingga tanpa terasa waktu begitu cepat berjalan, Cha cha yang berada dipangkuan sang ayah akhirnya tertidur pulas.
.
__ADS_1