
Theo menggenggam erat tangan Indira sembari berjalan melewati Risa.
Ternyata sejak istri Pak Theo kembali, dia tidak mau melepaskannya lagi, ucap Risa di dalam batinnya.
"Lepaskan!" bisik Indira saat dia menyadari bahwa tidak hanya Risa yang menatapnya dengan mata melotot.
Indira berhasil melepas genggaman Theo, kala Divisi Marketing membutuhkan persetujuannya, kata urgent membuat Theo tidak bisa menolak berkas yang disodorkan padanya.
"Lain kali harus melewati Sekretaris saya!" tegas Theo seraya berjalan masuk ke dalam ruangan Divisi Marketing.
"Iya, siap salah Pak", jawab sang Manager yang tidak ingin berdebat dengan atasannya itu. Sebenarnya klien perusahaan yang telah meminta revisi dengan tiba-tiba, dan harus dikirim sebelum pukul 12 siang.
"Terimakasih, Pak", ucapnya saat Theo sudah membubuhkan tanda tangannya.
"Oke", balas Theo singkat. "Saya sekalian mau memperkenalkan istri sekaligus desainer baru kita", lanjutnya dengan rasa bangga.
"Selamat bergabung, Ibu CEO kami", sambut sang Manager dengan tersenyum ramah.
"Hem, lumayan bagus... Ibu CEO kami", ulang Theo dengan manggut-manggut. "Kalian boleh terus memanggilnya dengan sebutan itu", ujar Theo dengan tersenyum.
Sementara Indira berusaha tersenyum, walaupun dia tidak senang dengan panggilan itu.
Apa ini salah satu trik Theo? Kalau memang iya, sungguh tidak akan mampu menggugah hatiku, ucap Indira di dalam batinnya.
"Sayang, kamu lagi ngelamunin apa?" tanya Theo dengan lembut, hingga hampir membuat ponsel di tangan Indira terjatuh.
Para karyawan jomblo merasa teraniaya dengan kemesraan mereka. Mereka buru-buru menjauh dari pasangan romantis itu.
Kini Theo dan Indira menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Mereka hampir tidak percaya bahwa pria tampan yang mereka lihat itu adalah CEO mereka.
"Aku mau ke toilet sebentar", bisik Indira pada Theo.
"Hem, jangan jauh-jauh ya sayang, nanti rindu", jawab Theo dengan nada suara lembut yang membuat Indira langsung pergi ke toilet tanpa menyahut ucapan Theo.
...---...
Tak berselang lama Indira kembali menghampiri Theo.
"Sepertinya aku tidak jadi ikut denganmu", kata Indira saat sudah berdiri di samping Theo.
"Kenapa?"
"Rafa merengek terus. Julie sudah membujuknya, tapi Rafa minta diantarkan kemari. Jadi aku akan menunggu mereka datang", terang Indira.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pun ikut menunggu."
"Jangan!" tolak Indira. "Lagipula masih ada lain waktu. Kita bisa pergi saat itu", imbuhnya.
"Aku akan tetap menunggu!" tegas Theo.
"Terserah kau saja", sahut Indira dengan kesal. Lalu dia menarik salah satu kursi kosong dan menjatuhkan bokongnya di sana.
Theo pun melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat menunggu sebuah bucket bunga di bawa masuk ke dalam ruangan.
"Dengan Bu Indira?" kata sang OB yang belum mengenal Indira.
Sontak Indira menoleh saat namanya di sebut. "Ya, saya sendiri", jawab Indira kaget.
"Ini bunga untuk Ibu", kata sang OB seraya memberikan bucket bunga pada Indira.
"Terimakasih", ucap Indira dengan tersenyum. Lalu dia melihat nama sang pengirim. Matanya melotot kala melihat nama pengjrimnya. "Your husband, Theo", gumamnya namun masih dapat di dengar oleh Theo.
"Bagaimana sayang? Apa kau suka dengan bunganya?" tanya Theo.
Indira menggangguk pelan sebagai jawaban. "Jangan lakukan lagi seperti ini!" tegas Indira. "Cinta yang tulus tidak bisa di ukur dengan seberapa banyak bunga yang diberikan", lanjutnya.
"Kau jangan kuatir, ini baru permulaan. Tidak akan sama dengan apa yang akan aku lakukan untuk hari berikutnya", sahut Theo.
"Kata Julie, Rafa merengek terus. Kenapa, Nak?" tanya Indira sembari menatap putranya itu.
"Rafa mau tinggal di rumah kita yang dulu", sahut Rafa.
Indira menuntun putranya unruk duduk di salah satu kursi yang kosong. "Ayo, duduklah", titahnya. Lalu Indira menghela nafas. "Rafa sayang. Mama juga maunya kita tinggal di rumah yang lama, tapi di sana ada orang jahat. Apa Rafa mau bertemu dengan orang jahat?"
Rafa menatap bingung ke arah Indira. "Tapi rumah kita gak perlu turun tangga kalau mau ke dapur, Ma!" sahut Rafa yang membuat Indira tertegun.
"Jadi masalahnya hanya itu?" tanya Indira.
Rafa mengangguk dengan cepat. "Iya, Ma."
Indira mengalihkan pandangannya pada Julie. "Apa kau juga tahu alasan Rafa merengek adalah karena masalah yang dia katakan tadi?"
Julie.sedikit gugup. Dia merasa bersalah, karena tidak memberitahunya di telepon. "Maaf, Bu. Tadi Julie panik, jadi gak kepikiran mau kasih tahu Ibu."
"Hem, kalau masalah dapur, kamu bisa minta tolong ke Bi Iyem untuk dibuatkan apa yang Rafa mau", ucap Indira seraya mengusap lembut wajah putranya itu.
"Atau Rafa bisa langsung ngomong ke Papa", potong Theo, yang membuat beberapa karyawan terperangah kala mendengar bahwa Theo sudah memiliki seorang anak.
__ADS_1
Rafa tidak menyahut ucapan Theo. Dia memeluk sang Ibu seraya menenggelamkan wajahnya di dada sang Ibu.
"Kenapa sembunyi? Apa yang Mama ajarkan kalau lagi ngomong sama orang yang lebih tua?" tanya Indira seraya menghentak pelan tubuh Rafa.
"Rafa lapar, Ma!" rengeknya.
"Kebetulan kalau begitu. Kita bisa pergi bersama", ujar Theo. Lalu dia menoleh ke arah Julie. "Kau boleh ikut, tapi kita beda meja", imbuhnya.
Indira bangkit dari tempat duduknya. "Julie, aku minta maaf. Untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa mengajakmu. Kau bisa makan di kantin atau di seberang kantor sembari menunggu kami pulang", imbuhnya.
"Baik, Bu", sahut Julie.
"Oke, kalau begitu kami pergi dulu", ucap Indira seraya menggandeng tangan putranya.
Theo mengikuti langkah mereka menuju pintu keluar.
...---...
Di tempat berbeda yakni di kantin kantor Westy Production, Dealova tersenyum puas kala dia tahu alasan Indira tinggal di rumah Theo. Dia menyeringai kala memikirkan sesuatu yang ingin dia lakukan pada Indira.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri" tanya Daven saat melihat senyuman di wajah Dealova.
"Aku hanya terimgat sesustu", balas Dealova sekenanya.
"Apa kau akan makan siang lagi?" tanya Daven yang telah menyaksikan Dealova menghabiskan 2 mangkok bubur ayam pagi ini.
"Tentu!" jawab Dealova singkat.
"Kalau begitu perusahaan rugi besar karena telah mempekerjakanmu", ledek Daven.
Dealova tidak terima dengan perkataan Daven. "Aku bukan karyawan biasa! Kau mungkin tidak tahu kalau perusahaan tempatku bekerja di LN telah memintaku memimpin satu divisi di sini", tegas Dealova.
"Kenapa kau terlalu serius menanggapinya? Aku tidak bermaksud untuk menilai kinerjamu! Kau saja yang terlalu senaitif", balas Daven dengqn wajah serius.
Dealova langsung mengubah mimik wajahnya. "Em, aku minta maaf Daven. Mungkin ada kesalahpahaman di antara kita."
"It's Oke. Tapi aku jadi takut bercanda denganmu."
"Jangan takut Daven! Aku juga suka bercanda, tapi tidak sampai kelewatan", sindirnya.
"Sudah jangan di mulai lagi! Kalau kau mau, ikut denganku ke tempat favoritku", ajak Daven.
"Oke, aku ikut", balas Dealiva.
__ADS_1
Lalu mereka pergi bersama ke tempat makan favorit Daven.