Love Me Tender

Love Me Tender
Kelahiran Bayi


__ADS_3

Acara pernikahan Saka dan Tamara akhirnya selesai dengan perasaan bahagia. Lalu mereka kembali ke rumah keluarga Theo. Setelah tiba di rumah keluarga Theo, mulai dari kakek dan nenek hingga orang tua mereka saling memberi wejangan, agar rumah tangga mereka langgeng.


"Kakek dan semuanya, Apa Ara boleh ke kamar lebih dulu?"


Pertanyaan Tamara itu membuat seluruh keluarga tertawa. "Iya, silakan cucu kakek yang cantik", sahutnya, hingga membuat Tamara tersipu malu.


"Maksud Tamara bukan seperti itu", ujarnya dengan menyilang kedua tangannya. Namun penjelasan Tamara tidak membuat ucapannya semakin jelas, melainkan semakin membuat seluruh anggota keluarga tertawa.


Tamara yang kesal melihat sikap keluarganya, langsung beranjak dari tempat duduknya. Lalu dia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan terburu-buru yang diikuti oleh Saka dibelakangnya.


"Kakek, nenek dan semuanya, Theo juga mau minta izin pergi ke rumah sakit", ujarnya seraya bangkit dari tempat duduk.


"Kamu sakit apa?" tanya sang kakek dengan raut wajah serius.


Theo menatap ke arah Raja seolah sedang meminta bantuan. Namun Raja membalasnya dengan menaik turunkan alisnya. Kenapa daddy gak peka sih? Batin Theo.


"Beberapa hari ini Theo sering muntah gak jelas gitu, kek. Makanya Theo mau langsung cek ke dokter, takutnya ada penyakit yang berbahaya."


Sang kakek mulai manggut-manggut. "Setahu kakek itu bisa terjadi kalau istri kamu hamil. Sama seperti waktu nenek kamu mengandung daddy kamu ini", ujar sang kakek dengan bahagia. "Tapi Tiara sudah keguguran."


"Tiara bukan istri Theo, pa!" protes Ratu.


"Iya, maksud papa bukan seperti itu, tapi wanita yang sedang mengandung anak Theo."


"Tiara tidak pernah mengandung anak Theo", ucap Raja dan Ratu hampir bersamaan.


"Kenapa kalian begitu kompak?"


"Kami kompak untuk mengungkap kebenaran, pa, bukan untuk melakukan perbuatan jahat."


"Apa kalian punya bukti atas semua tuduhan itu?"


"Ini bukan tuduhan pa, tapi kenyataan. Sudah pasti kami punya buktinya. Dan satu hal.yang harus papa ketahui informasi yang mengatakan bahwa ayah Indira seorang penipu itu semua hanya fitnah belaka."


Sang kakek terkesiap mendengar penuturan Raja. "Tunjukkan pada papa buktinya!" pintanya dengan raut wajah serius.


Raja meraih ponselnya dan menunjukkan sebuah video rekaman.


Maafkan kami Tuan, karena telah berbohong mengenai pak Indrawan. Sebenarnya beliau adalah orang yang sangat jujur dan baik pada warga di sekitar sini. Tapi keluarga Tuan Marco dan Almarhumah Elsa adalah orang yang berpengaruh di desa ini, jadi kami tidak bisa menolak permintaan dari mereka.

__ADS_1


"Nama itu seperti tidak asing", ujar sang kakek.


"Dia pernah jadi tetangga di depan rumah kita, pa."


"Owh, iya papa ingat. Jangan-jangan tujuannya ingin membalas dendam."


"Seratus buat papa", ujar Raja yang membuat sang kakek kesal.


"Kita ini lagi serius, jangan pernah di bawa bercanda", ucap sang kakek sembari menatap tajam Raja.


"Iya papa sayang. Jangan marah-marah, entar tuanya kadaluarsa."


"Raja!"


"Daddy!" ucap mereka semua hampir bersamaan.


Theo berusaha menahan tawanya, agar tidak terkena imbas kemarahan sang kakek.


"Jadi Indira di mana sekarang?"


Mendengar pertanyaan sang kakek, seluruh keluarga menjadi tertunduk lesu. Tidak pernah sekalipun mereka menanyakan kabar, ataupun mencari tahu di mana Indira tinggal.


...---...


Hari berganti minggu dengan begitu cepat, namun keberadaan Indira tidak juga ditemukan oleh sang kakek. Bahkan sampai berbulan-bulan, namun sang kakek belum juga mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Indira. Seakan putus asa, sang kakek pun mencoba memasang iklan, namun dilarang oleh Raja, karena dia tidak ingin menantu dan calon cucunya itu berada dalam bahaya.


Namun jauh di kota yang tidak ada satu pun keluarga Theo ketahui, Indira sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melahirkan anak pertamanya itu tanpa suami disisinya.


Owek. Owek. Suara tangisan bayinya membuat Indira menangis bahagia.


"Congratulations, your baby is a boy", ujar sang dokter dengan tersenyum.


...---...


3 bulan kemudian.


Hari ini adalah hari perkiraan lahir setelah 9 bulan lamanya Tamara mengandung. Bahkan dia sudah mengambil cuti kuliah untuk 2 semester selama kehamilannya itu.


Seluruh keluarga Theo tampak sedang sibuk mempersiapkan semua kebutuhan Tamara dan bayinya nanti, karena Tamara sudah merasakan sakit hendak melahirkan.

__ADS_1


"Ayo, cepat pak", titah Ratu yang panik saat mendengar teriakan Tamara.


"Jangan di desak pak Jokonya, mom. Entar pak Joko juga ikutan panik", ujar Raja dengan santai. Ini bukan kali pertama dia menghadapi kelahiran anak.


Dalam waktu 15 menit mereka pun tiba di rumah sakit. Saka yang baru saja pulang kuliah, sudah tiba lebih dulu di rumah sakit. Lalu dia berjalan menghampiri mobil mertuanya itu yang sudah tiba di depan lobi rumah sakit.


"Ayo, pelan-pelan", ujar Saka saat membantu sang istri naik ke kursi roda. Lalu dia mendorongnya menuju ruang bersalin.


Seluruh keluarga kecuali Saka berada di luar ruangan seraya berdoa, agar persalinan Tamara berjalan dengan lancar. Sesekali terdengar suara Tamara yang sedang kesakitan. Tak butuh waktu yang lama terdengar suara tangisan bayi, yang membuat seluruh keluarga menangis haru.


Tiba-tiba Saka keluar dengan riang. "Daddy, mommy, Saka sekarang sudah menjadi ayah seorang putri yang cantik", ujarnya dengan suara keras.


"Selamat ya, nak", ucap Ratu dengan rasa bahagia. "Bagaimana keadaan Ara, nak?"


"Ara sehat, mom. Dia sangat senang dan terus mencium putri kecil kami."


"Syukurlah semunya berjalan dengan lancar. Mommy sudah gak sabar pengen gendong cucu."


"Daddy juga, mom", timpal Raja dengan tersenyum bahagia.


Mereka menunggu dengan tidak sabar Tamara dipindahkan ke ruang rawat.


"Bagaimana dengan Ara, mom?" tanya Theo dengan nafas memburu, karena setelah meeting dengan klien penting selesai, Theo langsung bergegas menuju rumah sakit.


"Putri Ara sudah lahir, nak. Dan semuanya dalam keadaan sehat."


"Wah, syukurlah. Saka di mana, mom?"


"Masih di dalam. Katanya mau membawa bayinya keluar."


"Nah, itu dia", ucap Ratu dengan riang. Dengan tidak sabar dia menghampiri Saka. "Cucu cantik oma."


Theo terdiam seraya memikirkan keadaan Indira. Sejak ingatannya pulih, Theo tak pernah berhenti memikirkan istrinya itu.


...---...


Sedangkan di tempat lain yakni di kota Paris, Indira harus berjuang sebagai single mom untuk mengurus bayi sekaligus bekerja paruh waktu. Dia beruntung, karena pekerjaan paruh waktinya bisa dia kerjakan di rumah. Sebagai mahasiswi disainer, dia merupakan yang terbaik. Dalam satu tahun dia sudah membuat banyak karya-karya terbaik.


Berbekal pengetahuan dan kemampuannya dalam merancang busana, dia mendapat pekerjaan yang sebagian orang sulit untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Daven selalu memuji kepintaran Indira. Namun Indira selalu berkilah. "Ini rezeki bayi dalam kandunganku", elaknya setiap kali Daven memujinya.


__ADS_2