
Mobil yang ditumpangi Tamara baru saja meninggalkan gerbang kampus Arkana University, namun ada sepasang mata yang menatapnya dengan menyeringai.
Mobil itu terus melaju membelah jalanan yang terlihat lengang itu. "Kenapa kita lewat jalan ini pak?" tanya Tamara tanpa curiga. Namun pak Joko tidak menyahut ucapannya sama sekali.
"Pak Joko", panggil Tamara dengan santai. Namun pak Joko masih saja diam. Akhirnya Tamara mulai curiga, dia pun melirik ke kaca spion dalam mobil untuk melihat siapa yang sedang mengemudi mobilnya saat ini.
"Siapa kau?" tanya Tamara dengan panik. Lalu tangannya berusaha untuk membuka pintu mobil, namun tidak berhasil, karena si pengemudi sudah mengunci otomatis. "Mana pak Joko?" tanyanya dengan nada suara bergetar, dia baru menyadari bahwa dirinya dalam keadaan bahaya.
"Turun!" titah pria bertopeng yang telah menyupiri Tamara hingga sampai ke tempat itu. Pria itu juga menyamarkan suaranya.
"Aku gak mau. Katakan siapa kau. Kenapa kau membawaku ke tempat ini?" Tamara berisaha mempertahankan diri dengan cara tidak keluar dari dalam mobil, bahkan dia.juga sudah siaga dengan membuat ponselnya terrhubung dengan seseorang.
"Ayo!" Pria bertopeng itu menarik paksa tangan Tamara.
"Aku gak mau!" teriak Tamara dengan sangat keras, untuk menarik perhatian orang-orang disekitar barangkali ada yang akan lewat di sana.
Pria itu menarik tangan Tamara lebih kuat lagi, hingga Tamara terjatuh terjerembab.
"Aww..." ringisnya.
Pria itu langsung menyeretnya ke sebuah tempat yang sepi dan tampak seperti gudang kosong.
"Lepaskan aku. Ku mohon." Tamara mengatupkan kedua tangannya memimta belas kasihan pria yang ada dihadapannya. Namun pria itu tampak seperti tak peduli sama sekali. Dia langsung menjatuhkan tubuh tamara tepat di tumpukan jerami.
"Tidak! Jangan mendekat!" teriak Tamara dengan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.
"Pria itu tidak peduli dengan suara teriakan Tamara. Tanpa rasa belas kasihan pria itu langsung melakukan aksi bejadnya, hingga Tamara kehilangnn miliknya yang paling berharga, yang sudah dia jaga selama 19 tahun.
Tamara menjerit kesakitan, air matamya pun jatuh dengan bebas. Tubuhnya gemetar dan tak mampu untuk bangkit berdiri.
Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya. "Ara... " teriaknya memanggil Tamara, lalu dia membungkus tubuh lusuh Tamara dengan jaket miliknya. Dalam pandangan Tamara yang buram dia melihat samar sosok pria dihadapannya.
"Kenapa kau lama sekali datang?" tanyanya lirih. Belum sempat pria itu menjawab, Tamara sudah tak sadarkan diri.
Pria itu langsung menggendong tubuh berat Tamara. Air matanya jatuh berderai kala mengingat suatu kesepakatan yang telah dibuat sang ibu pada pria yang ternyata masih punya hubungan saudara dengannya.
"Bertahanlah Ara, aku akan membawamu ke rumah sakit", ucap pria itu sembari menggendong Tamara dengan sekuat tenaganya. Lalu membawanya masuk ke dalam mobil yang khusus dia sewa untuk membawanya ke tempat itu sesuai dengan gps ponsel Tamara.
__ADS_1
"Ke rumah sakit terdekat pak!" titahnya pada sang supir.
"Baik, mas", sahutnya. Lalu supir itu melajukan kendaraannya tanpa bertanya apapun pada penumpang yang sedang dia bawa.
Di tempat lain di sebuah rumah yang tampak sepi itu, seorang wanita paruh baya sedang tertawa bahagia saat seseorang baru saja memberitahu dirinya bahwa rencana mereka telah berhasil.
"Akhirnya aku bisa makan dan minum dengan enak", ujarnya dengan tersenyum puas.
"Bi... Bibi..." teriaknya memanggil ARTnya yang selalu setia melayaninya meskipun gaji yang dia dapatkan sering tertunda.
"Ya nyonya", sahut sang bibi dengan ramah.
"Buatkan makananan favorit saya", titahnya yang terlihat sangat bersemangat.
"Nyonya kelihatannya bahagia sekali hari ini."
"Iya dong bi. 14 tahun lamanya aku menunggu kehancuran seorang yang bernama Raja. Namun baru hari ini aku akan melihat kehancurannya."
"Saya ke dapur sekarang, nyonya", ujar sang bibi dengan lesu.
"Kenapa lesu bi. Harusnya bibi juga ikut bahagia dengan keberhasilanku."
"Nyonya, maaf kalau saya lancang. Tapi alangkah baiknya kita melupakan semua dendam. Tidak cukupkah 5 tahun masa sulit yang nyonya alami di penjara?"
"Cukup, bi! Tugas bibi disini hanya menyediakan makanan dan bersih-bersih rumah! Sekarang saya minta makanan favorit saya!" titahnya dengan tegas.
"Baik nyonya. Saya akan segera menyiapkannya."
Sang bibi berjalan dengan langkah gontai menuju dapur. Tanpa aba-aba, air matanya pun jatuh membasahi kulit wajahnya yang sudah menua itu.
"Maaf Tuan dan nyonya besar, saya tidak bisa melakukan sesuai dengan amanat yang tuan dan nyonya berikan", ucap sang bibi bermonolog.
Keluarga Theo terlihat sangat panik saat sang supir pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Mereka kuatir Tamara telah di culik oleh sekelompok orang. Ratu mulai menangis kala membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada putri kesayangannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana, dad?" tanya Ratu pada sang suami saat baru saja memutus sambungan telepon.
Raja menggelengkan kepalanya. "Belum, mom", sahutnya lesu. Sesaat kemudian dia berteriak kencang sambil mengacak kasar rambutnya. Ini pertama kalinya dia merasa sangat ketakutan.
"Daddy..." panggil Ratu lirih sembari memegang lengan kokoh suaminya itu. Entah kenapa sedari tadi dia merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Theo yang baru saja mengetahui sesuatu terjadi pada pak Joko saat menjemput Tamara, langsung keluar dari dalam kamarnya dan bergegas menghampiri kedua orangtuanya yang sedang berjalan mondar-mandir dengan perasaan gusar.
"Daddy, apa sudah ada kabar tentang Ara?" tanya Theo dengan nafas yang memburu. Dia tak kalah panik dari kedua orangtuanya.
Tiba-tiba ponsel Raja berdering. Dengan cepat tangannya menerima panggilan telepon itu.
"Halo", ucapnya tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya. Lalu dia mendengar suara dari ujung telepon menyahut.
"Apa? Sudah ditemukan! Bagaimana dengan putri saya?" Raja mencecar penelpon itu. Suara si penelpon pun kembali terdengar di ujung telepon.
"Tidak mungkin. Coba susuri tempat itu!" titahnya dengan mendesak. Setelah sipenelpon menjawab akan melakukan sesuai perintah Raja. Mereka pun saling memutus sambungan telepon.
"Bagaimana, dad?" tanya Theo dan Ratu hampir bersamaan. Mereka sangat cemas terjadi sesuatu pada Tamara.
"Mobil kita sudah ditemukan, tapi Tamara tidak ada disana. Daddy gak tenang hanya diam di sini. Daddy mau nyusul ke sana sekarang."
"Theo ikut, dad."
"Jangan! Kau belum pulih total. Tinggallah disini bersama mommymu."
"Iya, nak. Biar daddy dan pengawal saja yang ke sana. Kita hanya bisa berdoa tidak terjadi sesuatu pada Tamara", ucap Ratu menguatkan dirinya sendiri.
Raja berjalan dengan terburu-buru meninggalkan rumah kediamannya. Hatinya.yang tidak tenang membuatnya berkata sedikit keras pada para pengawalnya.
"Ayo, kenapa masih santai?" seru Raja yang membuat para pengawal bergerak dengan kelabakan.
Sepeninggal Raja, pak Joko datang menghampiri Ratu dan Theo yang sedang duduk di sofa.
"Maafkan saya nyonya... den Theo. Jika bukan karena kelalaian saya, maka non Ara tidak akan hilang seperti saat sekarang ini", ucap pak Joko dengan wajah sendu. "Seharusnya saya tidak tertipu dengan wanita itu", ujarnya saat mengingat kembali peristiwa itu. "Kala itu saya melewati jalan biasa menuju kampus Arkana University, seorang wanita berpura-pura pingsan di tengah jalan. Saya ingin menolong wanita itu, tapi tiba-tiba seorang pria menghajar saya dari belakang."
"Semua itu sudah terjadi pak dan tidak bisa diulang kembali", sahut Ratu lirih.
__ADS_1