Love Me Tender

Love Me Tender
Bertemu di Restoran


__ADS_3

Di sebuah restoran yang tampak mewah, Theo bersama sang Ayah dan rekan bisnis Ayahnya sedang duduk menatap hidangan yang tak kalah mewah tersaji di hadapan mereka.


"Kau memang tidak pernah lupa dengan hidangan spesial restoran ini", ucap Raja pada Rifano sahabat sekaligus rekan bisnisnya.


"Ini hanya kebetulan saja. Hotel tempat aku menginap tak jauh dari sini", ujar Rifano dengan nada santai.


"Oh, begitu. Tapi aku harus berterimakasih buat bantuan yang kau berikan", kata Raja dengan tulus. Suntikan dana yang telah diberikan Rifano walau tidak banyak, namun sangat berarti buat perusahaan Theo.


"Jangan sungkan. Kita ini sudah bersahabat dari TK. Lagipula kau juga pernah membantuku dulu.


"Tapi aku melakukannya tanpa pamrih."


"Aku juga sama!" seru Rifano yang tidak mau kalah.


Lalu mereka saling menatap, sesaat setelahnya tawa mereka pun pecah, hingga membuat mereka menjadi tontonan para pengunjung lainnya. Theo hanya bisa tersenyum kala melihat keakraban sang Ayah dengan teman sekaligus rekan bisnisnya itu.


Rifano mengalihkan pandangannya pada Theo yang masih tersenyum. "Putramu sangat mirip denganmu, hanya saja dia lebih tampan darimu", ujar Rifano dengan tersenyum meledek.


"Jelas dia lebih tampan, karena dia lebih muda. Coba saja dia hidup di masa-masa kita. Dia masih kalah jauh", jawab Raja yang tidak ingin kalah dari putranya yang memang tampan itu.


Rifano dan Theo terkekeh mendengar penuturan Raja.


"Daddy tenang saja. Theo tidak akan pernah bersaing dengan Daddy!" ujarnya dengan santai. Namun di sela ucapan Theo, seorang anak kecil yang tidak asing lagi bagi Theo berjalan masuk ke dalam restoran. "Daddy, coba lihat anak kecil yang sedang memakai baju seragam itu", tunjuk Theo menggunakan ekor matanya.


Raja pun berbalik dan mencari anak kecil yang baru saja dibicarakan Theo. Raja terbeliak saat melihat anak laki-laki yang sedang berlari mencari meja pesanan Ibunya. "Dia mirip sekali denganmu sewaktu kecil", kata Raja dengan raut wajah bahagia.


"Dia putraku, Dad", kata Theo.


Sontak sang Ayah kaget mendengarnya. "Kau tahu dari mana?" tanya sang Ayah.


"Daddy, coba lihat siapa Ibunya", jawab Theo yang membuat Raja kembali berbalik.


Tampak Indira sedang berjalan masuk sembari mencari keberadaan putranya. "Owh, dia ada di sana:, ucapnya seraya berjalan menghampiri putranya yang sedang asyik membaca buku menu.


"Mama, makanannya mahal semua", ucap Rafa yang sudah mengenal angka dan huruf itu.


Indira menggeleng dengan cepat seraya meletakkan jari telunjuk dibibirnya. "Sshht, jangan ngomong kencang-kencang, Nak. Nanti kita dikira gak sanggup bayar", ucapnya setengah berbisik.


Theo terus memperhatikan interaksi Ibu dan anak yang tampak sangat akrab itu.


"Sudah... Jangan dilihatin terus. Lebih baik pergi hampiri mereka", kata sang Ayah dengan rasa empati.

__ADS_1


Baru saja Theo memutuskan akan mengikuti saran sang Ayah. Tiba-tiba seorang pria yang tidak asing bagi Theo datang menghampiri Indira dan putranya.


"Om Daven!" teriak Rafa girang. Lalu dia berlari menghamburkan diri dalam pelukan Daven.


Theo menatap kecewa Indira dan Daven yang tampak sangat akrab. Ternyata ini alasan Dira ingin bercerai, ucap Theo di dalam batinnya.


"Bro... Istriku barusan kirim pesan. Katanya dia lagi pengen makanan dari restoran ini. Sepertinya aku harus pamit untuk memesan makanan, setelah itu aku langsung ke hotel", katamya dengan buru-buru bangkit dari tempat duduknya, lalu dia pergi untuk memesan.


"Theo juga malas berlama-lama di sini, Dad", katanya dengan melirik ke meja Indira.


"Sabar... Daddy pastikan mereka tidak punya hubungan apa-apa."


"Emangnya Daddy cenayang, yang bisa menebak hanya dalam sekali melihat?"


Raja bangkit dari tempat duduknya. "Daddy akan pergi menanyakannya langsung!" seru Raja.


Namum Theo langsung menahan langkah sang Ayah. "Jangan pergi, Dad. Nanti malah membuat takut putraku", pintanya.


"Oke. Daddy beri kamu waktu 2 hari untuk bisa membawa cucu Ayah pulang ke rumah", ucap Raja dengan tegas.


"Baik, Dad", sahutnya dengan wajah sendu.


"Kalau begitu selesaikan makananmu, setelah ini kita ke rumah Kakek", ujar sang Ayah yang membuat Theo senang, karena Ayahnya itu akhirnya mau menemani dirinya.


Mereka sama-sama berjalan keluar dari restoran dengan melewati meja Indira. Namun Indira hanya menolehnya sekilas.


"Ayo makan dulu!" pinta Indira saat melihat putranya sedang sibuk bermain game dengan Daven.


Namun Rafa mengabaikan ucapan sang Ibu. Dia masih sibuk bernain dengan Daven.


...---...


Di tempat berbeda yang tampak sunyi itu. Mark sedang menghukum Tiara. Dia terus me****sa kekasihnya yang telah mengatakan bahwa dia lebih mencintai pria lain dibandingkan dirinya.


"Kau harus tahu batasanmu!" sergah Mark. Dia berjalan melewati Tiara yang terduduk di lantai dengan menahan rasa sakit. Air matanya pun berderai mengingat perbuatan jahat Mark.


"Tolong bebaskan aku", pintanya dengan suara lirih.


Mark menghentikan langkahnya. "Apa aku sedang mengurungmu?" tanyanya dengan nada dingin.


"Tapi hidupku tidak jauh beda dengan kurungan", balasnya. "Kau punya segalanya, bahkan wanitamu juga sangat banyak. Jadi buat apa kau masih membiarkanku ada di sini?"

__ADS_1


"Apa aku butuh alasan untuk melakukan sesuatu?" tanya Mark balik.


Tiara seakan kehabisan cara untuk bisa lepas dari Mark. Dia memilih untuk patuh lebih dulu, baru setelah itu dia beraksi.


"Maaf sayang. Aku sudah membuatmu marah. Aku tidak akan mengulanginya lagi", imbuh Tiara.


"Oke. Aku pasti akan selalu menjadikanmu yang utama dari antara wanita yang lain", ujar Mark. Tiara hanya membalas dengan deheman.


...--...


Di rumah kediaman Kakeknya Theo. Rumah yang hanya didiami 3 orang itu tampak lengang.


"Kakek di mana, Bi?" tanya Raja saat mereka melihat sang Bibi sedang berjalan menuju dapur.


"Eh, ada den Theo dan Tuan. Mau ketemu Tuan besar, ya?" tanya sang Bibi ramah.


"Iya, Bi. Kakek di mana?"


"Ada di kamarnya, den."


Mereka bergegas mencari sang Kakek di dalam kamarnya.


Tok. Tok.


"Kakek!" panggil Theo dengan tegas.


Ceklek.


"Kalian mengganggu tidurku saja", ujar sang Kakek seraya mengucek matanya. "Ada apa tiba-tiba datang kemari?" tanyanya.


Theo butuh bantuan Kakek", ujarnya dengan memohon.


"Bantuan apa? Cepat katakan, Kakek mau lanjut tidiur", ucapnya dengan malas.


Theo langsung menceritakan tentang Indira dan putranya, bagaimana mereka bertemu hingga mereka menjadi rekan kerjasama. Hal itu membuat sang Kakek terkesiap. Rasa kantuknya seketika hilang begitu saja kala mengetahui Theo benar-benar memliki seorang putra.


"Oke, Kakek akan mengikuti permintaanmu. Tapi hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang Kakek buat. Kalau untuk membujuknya itu tetap bagianmu. Kakek tidak ikut campur."


"Kakek curang! Semua ini kan bermula dari Kakek", tegas Theo.


"Kamu salah! Semua ini bermula dari kekasihmu penipu itu", sahut sang Kakek. "Jadi karena dia kekasihmu, maka kaulah seharusnya yang bertanggung jawab untuk membereskannya."

__ADS_1


Theo tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sadar bahwa masalah itu disebabkan oleh dirinya sendiri. "Baiklah, Kek. Asal Kakek mau membantuku untuk menjelaskan pada Indira. Selebihnya biar Theo yang urus", ucapnya.


Lalu mereka berpamitan pulang, karena Raja dan Theo masih harus mengurus beberapa berkas pelaporan penipuan ke kantor polisi.


__ADS_2