Love Me Tender

Love Me Tender
Makanan Asam Tapi Enak


__ADS_3

Raja buru-buru menyelesaikan meeting penting yang baru berjalan setengah jam itu. Langkah panjangnya menunjukkan dirinya sedang panik saat ini.


"Risa... Tolong kamu cancel semua meeting saya hari ini."


"Baik pak", balas Risa, namun dalam sekejap Raja sudah tidak berada diposisinya berdiri.


"Apa sesuatu yang besar terjadi, kenapa ibu Ratu ngomong seperti itu, ya?" ucap Risa bergumam. "Lebih baik aku lanjutkan pekerjaanku saja, tidak baik ngurusin masalah orang lain", lanjutnya masih dengan bergumam.


 


Di kota Paris.


Tampak Indira yang tengah bahagia menikmati makanan manis dihadapannya. "Um, tasty", ucap bibir yang sudah berubah warna itu.


"Jangan kebanyakan, entar gemuk."


"Biarin aja, aku bukan lagi wanita lajang. Lagi pula anakku sangat menyukainya."


"Yakin anakmu yang menyukainya?" tanya Daven seraya menaik turunkan alisnya.


"Jangan menaruh curiga pada ibu hamil. Entar lu gak punya anak, mau?"


"Ih, amit-amit jabang bayi", sahut Daven sembari mengetuk kepalanya.


Indira pun tertawa kecil melihat tingkah Daven.


"Nah, gini dong. Kamu harus sering tertawa dan tersenyum, karena ibu hamil harus sering happy, biar anak kamu di dalam juga happy."


"Sok tahu!"


"Tahu dong. Walaupun aku bukan ayahnya, tapi aku berusaha mencari tahu info seputar ibu hamil."


Seketika raut wajah Indira berubah saat mendengar penuturan Daven. "Bagaimana saat anakku lahir nanti, dia sudah tidak punya ayah sebelum lahir ke dunia."


"Dira, anakmu bukan tidak punya ayah. Tapi kau yang tidak mau memberitahu ayahnya mengenai kehamilanmu."


Indira mendengus kasar. "Tak ada gunanya aku memberitahu mengenai kehamilanku, jika dia akan segera memiliki anak dari wanita lain."


"Itu menurut pikiranmu. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan suamimu, jika dia tahu tentang kehamilanmu."


"Sudah, jangan bahas itu lagi. Perutku keram nih. Mungkin anakku tidak suka ibunya menceritakan ayahnya yang jahat."


Daven menatap nanar wajah Indira yang berubah murung. "Aku akan tetap menemanimu sampai anakmu lahir. Aku janji."


Indira hanya membalas dengan tersenyum getir. Yang aku butuhkan suamiku, bukan sahabatku. Batin Indira. "Ayo, kita pulang. Anakku sudah bobok karena kekenyangan', ajak Indira seraya bangkit dari tempat duduknya.


Daven pun bangkit dari tempat duduknya. Mereka berjalan bersama meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


 


Di rumah kediaman Theo.


Raja berjalan masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istri dan putrinya.


"Apa bibi melihat nyonya?" tanya Raja saat bertemu sang ART di ruang tamu.


"Mungkin di kamar Tuan", balas sang bibi dengan sopan.


"Oke, terimakasih bi."


"Sama-sama Tuan", balas sang bibi saat Raja sudah melewatinya.


Raja berjalan dengan terburu-buru. Dia pun mengabaikan Theo yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Kenapa daddy terlihat panik ya bi?" tanya Theo yang membuat sang bibi bingung.


"Bibi gak tau den."


"Bi, bisa tolong buatkan makanan yang terasa asam tapi enak di makan."


Sang bibi mengernyitkan keningnya. "Den Theo bisa langsung sebutkan nama makanannya saja. Bibi yang sudah tua ini gak bisa kalau di suruh berfikir."


"Maaf, jadi membuat bibi bingung. Biar Theo cari sendiri", ujarnya sembari mengotak atik ponsel ditangannya. "Dapat!"


"Rujak cingur, bi. Apa bibi bisa buatkan?"


"Bisa den, tapi bibi harus lihat dulu bahannya ada semua gak di dapur."


"Oke, bi. Di tunggu ya", ucap Theo seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tumben den Theo minta makanan yang asam. Apa ngidamnya telat?" celoteh sang bibi sembari berjalan menuju dapur.


---


Di dalam kamar Tamara. Suasana tegang yang sebelumnya menyelimuti Raja dan Ratu, kini berganti tenang. Raja akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Saka dengan syarat mereka tinggal bersama di rumah ini.


Tamara yang semula ingin berbuat nekad, akhirnya menyesali perbuatannya itu. Dia pun berjanji pada kedua orangtuanya tidak akan mengulanginya lagi.


Setelah merasa yakin putri mereka sudah tenang, Raja dan Ratu langsung beranjak dari posisi masing-masing. Lalu mereka berjalan keluar dari dalam kamar Tamara.


"Theo... Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Ratu saat Theo sedang berjalan menghampirinya.


"Mungkin Theo salah makan, mom. Atau bisa jadi ini efek obat yang Theo konsumsi, dari tadi Theo tak berhenti muntah."


"Itu biasanya karena masuk angin. Kamu minum air hangat saja, nanti juga baikan", ujar Ratu dengan santai.

__ADS_1


"Oke, mom."


"Den Theo", panggil sang bibi dari arah bawah. Dia berjalan menaiki anaka tangga dengan membawa sepiring makanan ditangannya.


"Cepat sekali bibi membuatnya", ucap Theo dengan mata berbinar. Sikapnya yang tak sabar menunggu sang bibi naik, membuatnya seperti sedang mendapat harta karun yang tak ternilai.


"Sejak kapan kamu suka makan rujak, nak?" tanya Ratu saat sepiring rujak diterima Theo dari tangan sang bibi.


"Sejak hari ini, mom", sahut Theo dengan menelan salivanya.


"Apa ini bawaan ibu hamil, ya. Yang mengandung Tiara dan yang mengidam Theo." Ratu menatap Theo yang tak sabar ingin menghabiskan sepiring rujak buatan sang bibi.


"Apa bisa seperti itu, ya mom?" tanya Raja yang masih saja menatap Theo yang sedang duduk di anak tangga sembari menghabiskan sepiring rujak.


"Ah, ini baru puas rasanya", ujar Theo. Lalu dia turun ke bawah sembari mencari keberadaan sang bibi, tanpa sadar dia sudah mengabaikan kedua orang tuanya yang sedang berdiri dibelakangnya.


"Hal seperti itu bisa saja terjadi, dad", sahut Ratu. Namun tiba-tiba dia sadar akan sesuatu. "Kalau memang begitu, berarti anak dikandungan Tiara itu anak Theo dong dad."


"Kenapa mommy seperti tidak rela."


"Jelas mommy tidak rela, karena mommy sudah punya menantu yang baik, cantik pula."


"Mereka akan segera bercerai, mom. Jangan menambah masalah baru lagi."


Ratu memang tidak suka pada Tiara, sejak kedatangan Tiara untuk memberitahu kehamilannya pada seluruh keluarga Ratu.


"Mommy mau minta rujak dulu", ujar Ratu sembari meninggalkan sang suami yang masih berdiri diposisinya. Lalu dia berjalan menuju dapur.


---


Waktu seakan terus berpacu, hingga malam pun tiba. Keluarga Tamara sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Saka.


Tamara telah menanggalkan kesedihannya. Kini dia berdiri menatap pantulan wajah cantiknya yang dipadukan dengan gaun merah tak bermotif, namun tampak anggun saat dikenakan oleh Tamara.


"Putri mommy cantik", ujar Ratu yang baru saja melangkah masuk.


"Terimakasih, mom", sahut Tamara dengan tersenyum bahagia.


Lalu mereka turun bersama, karena mobil keluarga Saka sudah parkir dihalaman rumah mereka.


"Kenapa Ara merasa deg-degan ya, mom?"


"Itu biasa terjadi, nak. Karena Ara akan di lamar, bukan diapelin pacar", jawab Ratu dengan tersenyum.


"Ada apa?" tanya Ratu saat melihat suasana tegang di ruang tamu.


"Coba mommy ingat lagi siapa calon besan mommy ini!"

__ADS_1


Ratu menautkan kedua alisnya. Wajah tak asing wanita dihadapannya mengingatkannya pada peristiwa 25 tahun yang lalu.


__ADS_2