
Setelah 30 menit di perjalanan Ratu, Indira dan Tamara tiba di depan rumah. Mereka turun dari dalam mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
Baru saja Indira melangkah masuk, tiba-tiba ayah mertua datang menghampiri. "Maaf, daddy gak datang kepemakaman, karena daddy baru saja dapat kabar kematian bibi Dira."
"Iya, gak apa-apa dad", balas Indira lirih.
"Kamu yang tabah ya, nak. Jangan bersedih terus, karena kami adalah keluargamu saat ini."
Ucapan sang ayah mertua membuat Indira terenyuk. Dia kembali menangis kala mengingat perkataan Theo. Bagaimana mungkin mereka akan menjadi keluargaku, kalau suamiku saja sudah tak menginginkanku. Batin Indira.
"Sudahlah sayang." Ratu berjalan menghampiri Indira, membujuknya untuk tetap tenang. Mereka menatap Indira dengan rasa haru, mengira Indira bersedih karena kepergian sang bibi.
Setelah beberapa saat Indira mulai tenang, sang ayah mertua mulau memberi wejangan agar Indira tidak pernah patah semangat dalam menjalani hidup. Dia pun membuat perbandingan keadaan Indira dengan anak yatim piatu lainnya yang tidak punya kesempatan seperti yang Indira dapatkan.
"Iya, dad. Dira bersyukur masih diberi kesempatan seperti ini."
Semua keluarga kembali ceria setelah disuguhi sebuah kisah lucu dari sang daddy untuk menghibur Indira, namun Indira tersenyum di dalam kesedihannya.
Di sebuah ruangan yang tampak mewah, seorang wanita sedang menghubungi seseorang yang tak lain adalah orang suruhannya. Berbekal informasi yang dia dapat dari seseorang dia pun berhasil menyempurnakan rencananya yang sudah dia susun sangat lama.
"Oke, tunggu saja arahan dari saya berikutnya." Wanita itu memutus sambungan telepon dengan menyeringai. Lalu dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dan berjalan menuju kamar mandi menyelesaikan hasrat yang sedari tadi tertunda.
Di dalam kamar Theo baru saja memutus sambungan telepon saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas dia melangkah untuk membuka pintu
Ceklek.
Netranya terkesiap kala melihat Raja berdiri di depan pintu kamarnya.
"A-ada apa, dad?" tanya Theo agak.gugup, karena dia menduga bahwa Indira sudah menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Tiara.
__ADS_1
"Apa kau tak mengizinkan daddy masuk?" tanyanya. Dia berani masuk, karena tahu Indira sedang tidak berada di dalam kamar.
"Oh, maaf dad. Ayo, masuklah."
Raja pun melangkah masuk. "Apa kau tahu apa yang sudah terjadi pada bibinya Indira?"
Theo bingung membalas pertanyaan sang daddy. Kesibukannya mencari bukti membuatnya tidak memperhatikan Indira. "Maaf dad. Theo tidak tahu" jawabnya dengan jujur. Dia sudah siap menerima kemarahan sang daddy.
"Kenapa?" nada suara Raja mulai meninggi.
"Karena Theo sibuk mencari bukti yang daddy minta. Dira juga gak memberitahu Theo, dad", sahutnya membela diri.
Raja manggut-manggut. "Oke kalau begitu. Coba hiburlah istrimu itu. Dia sudah tidak punya kerabat dekat lagi, hanya kitalah keluarganya."
"Baik, dad."
"Ingat pesan daddy!" ucap Raja tegas sembari berjalan menuju pintu.
"Siap, dad", balas Theo seraya membukakan pintu untuk sang daddy.
Baru saja Theo menutup pintu, seseorang kembali mengetuk pintu kamarnya.
"Ya, da..." ucapannya terputus karena mengira daddynya kembali. Namun setelah melihat siapa yang berdiri dihadapannya, Theo langsung membalikkan badannya tanpa menyapa Indira.
Indira berjalan masuk, lalu menutup kembali pintu . Dia meneruskan langkahnya menuju kamar mandi tanpa bertegur sapa dengan Theo.
"Aku turut berdukacita atas kepergian bibimu. Tetap tabah, ya", ucap Theo saat Indira menghentikan langkagnya dengan membelakangi Theo.
"Hem, terimakasih", jawab Indira tanpa menatap Theo. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Indira menyalakan shower dan keran di washtafel bersamaan. Pemborosan sih, tapi itu tidak jadi masalah bagi Indira dia hanya tak ingin ada orang yang mendengar suara tangisannya.
Di dalam kamar Theo masih asyik dengan ponsel ditangannya. Dia saling membalas pesan dengan seseorang yang selama ini dia rindukan. Perasaan bahagia terlihat jelas dari raut wajah Theo. Dia selalu tersenyum saat mendapat balasan pesan dari kekasihnya itu. Tanpa terasa waktu pun terus berlalu.
__ADS_1
"Sepertinya dia sudah satu jam di dalam", ucap Theo bergumam saat menyadari Indira belum juga keluar dari dalam kamar mandi. Dia bangkit dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Tok. Tok.
Theo mengetuk pintu dan menununggu Indira menjawab dari dalam. Setelah beberapa saat berlalu Indira tidak kunjung mengatakan apapun. Theo kembali mengetuk sembari memanggil nama Indira. Namun hasilnya masih tetap sama, Indira tidak juga bersuara. Theo yang panik mulai mengambil ancang-ancang, dia ingin menyeruduk pintu kamar mandi.
Ceklek.
Aaaaa...
Sesuatu terjadi pada Theo dan Indira. Mereka saling menahan keseimbangan saat mengelak terjadinya tubrukan. Alhasil Theo terjatuh tertimpa Indira. Netra sembab Indira menatap manik mata Theo, hingga netra mereka saling mengunci. Setelah beberapa saat saling membisu, Theo membuang pandangannya dan meminta Indira menyingkir dari atas tubuhnya.
Indira mulai bergerak menjauhi Theo, yang membuat hatinya kembali perih kala melihat sang suami tidak ingin memandangnya lebih lama. Dia buru-buru berjalan menuju walk-in closet dan mengganti pakaiannya.
---
Theo berjalan bersama Indira menuju ruang makan. Sebenarnya hal itu dia lakoni untuk menghindari kecurigaan keluarganya. Namun dia tidak tahu bahwa Tamara sudah mengetahui hubungannya dengan sang kekasih.
"Dira, gimana perasaanmu sekarang, nak? Mommy lihat mata kamu masih sembab", ucap Ratu saat Indira sedang menarik salah satu kursi yang kosong.
"Dira sudah sedikit baikan, mom. Cuma tadi tiba-tiba aja teringat kembali sama ayah dan ibu, makanya Dira nangis lagi", balas Indira dengan wajah sendu.
"Kalau begitu kamu makan yang banyak, biar gak sakit."
Indira mengangguk pelan. "Iya, mom." Lalu dia mengambil makanan buat sang suami, setelah itu buat dirinya sendiri. Tindakan itu adalah hasil perenungan Indira selama 1 jam di dalam kamar mandi. Dia sudah memutuskan akan melayani sang suami sebaik mungkin, sampai sang suami tidak menginginkannya lagi.
Tamara melihat tindakan Indira. Dia pun berdecak kagum atas ketegaran hati sang kakak ipar. "Kakak ipar baik banget, selalu mendahulukan suami dibandingkan diri sendiri. Ara pun nanti lakuin hal yang sama kalau punya suami nanti." Kak Theo akan melihat perbandingan berlian dengan emas, batin Tamara. Walaupun dia sudah mengetahui prilaku sang kakak, namun dia tidak menceritakannya pada kedua orang tuanya, karena dia telah berjanji pada Indira.
Theo dengan susah payah menelan makanannya, karena dia sadar bahwa Indira adalah wanita yang sangat baik melayaninya selama ini, tapi dia tidak bisa mencintainya sama seperti mencintai Tiara.
Tiba-tiba Raja dan Ratu berdiri, mereka pamit meninggalkan meja makan, karena mereka sudah datang terlebih dahulu di meja makan dan mereka sudah selesai menikmati makan malam.
"Ara juga sudah kenyang. Ara duluan ke kamar ya kak Theo dan kakak ipar", ucap Tamara sembari bangkit dari kursi.
__ADS_1
Saat ini hanya Theo dan Indira yang berada di meja makan, namun sama sekali tidak ada perbincangan di antara mereka, yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan, hingga sampai mereka menghabiskan makanan masing-masing.