Love Me Tender

Love Me Tender
Di bandara


__ADS_3

Kehidupan Indira seakan menjadi lebih berwarna setelah pengakuan cinta Theo padanya. Mereka memulai kisah mereka seperti pasangan yang baru berpacaran. Bahkan terkadang mereka lupa telah memiliki Rafa.


Ratu sering menasehati keduanya yang terlalu sibuk di luar, hingga mengabaikan Rafa. Meskipun ada Julie yang selalu menjaganya, namun Ratu tidak ingin cucunya itu kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia meminta Theo dan Indira meluangkan waktu buat putra mereka.


Theo dan Indira sadar bahwa tanpa disengaja mereka telah mengabaikan Rafa. Theo membuat rencana untuk mengajak keluarga kecilnya itu berlibur.


Sementara Tamara sudah mulai terbiasa dengan tidak adanya Saka disisinya. Pria yang sangat dia cintai itu telah memberinya luka sangat dalam. Citra, Ibu mertua Tamara telah memilihkan Saka seorang istri dan Saka menyetujuinya. Kini Tamara berusaha menjalani kehidupan bahagia bersama putri kecilnya.


...---...


Di sebuah rumah besar yang tampak sedikit usang, seorang wanita menatap pria yang telah lama dia cari. Pria tampan yang pernah dia minta untuk melakukan sesuatu pada Tamara, kini berdiri dihadapannya.


"Aku bukan putramu!" tegas pria itu dengan wajah dingin.


"Kau putraku yang telah di tukar oleh pelayan di rumah ini atas perintah orang tuaku. Percayalah nak. Bahkan jika kau meminta untuk dilakukan tes DNA pun akan aku sanggupi."


"Cih, Ibuku wanita adalah wanita baik-baik. Bukan sepertimu!"


Wanita itu merasa terhina. Dia tidak menyangka putranya akan mengatakan hal buruk tentangnya. "Ibu bukan jahat, Nak. Ibu hanya membalaskan dendam Ibu pada keluarga yang telah membuat hidup Ibu hancur."


Pria itu tertawa meledek. "Anda terlalu naif. Apa anda pikir saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"


"Kau sudah tahu. Harusnya kau membela Ibumu ini."


"Stop! Aku tidak punya Ibu sepertimu. Kau sudah punya putramu sendiri. Jika tidak ada hal lain, aku pamit." Pria itu melangkahkan kakinya menjauhi wanita yang sedang duduk di kursi roda itu.


"Jangan tinggalkan Ibu, nak. Ibu sudah lama menunggu saat ini. Ibu tidak ingin kehilanganmu lagi, walaupun Ibu sangat membenci Ayahmu, tapi Ibu sangat menyayangimu."


"Ibu... Ibu... aku muak mendengarnya! Kau bukan Ibuku!" tunjuknya pada wanita yang duduk di kursi roda itu. Lalu dia pergi meninggalkannya dengan mengabaikan teriakan dan tangisan wanita itu.


Tiba-tiba saja kursi roda itu menabrak sesuatu hingga wanita itu terjatuh. Namun pria yang dia klaim sebagai putranya itu mengabaikannya. Dia terus berjalan menuju pintu keluar.


"Nyonya, kamu tidak apa-apa?"ART dirumahnya bergegas menolongnya dan membantunya untuk duduk kembali.


"Jangan terlalu memaksanya, Nyonya. Nanti dia membenci Nyonya."


"Bawa aku ke kamarku!" titahnya.

__ADS_1


ART itu pun mendorong kursi roda majikannya itu.


...---...


Theo dan Indira awalnya hanya ingin berangkat bertiga. Namun Cha cha tiada henti menangis meminta sang paman mengajaknya.


"Ayo,.kita berangkat!" ajak.Theo saat Tamara baru saja menuruni anak tangga.


"Kalian harus menjaga baik-baik cucuku", ucap Ratu memberi nasehat. "Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka!"


"Iya, Mommy", jawab mereka hampir bersamaan. Lalu mereka berangkat ke bandara menuju kota Paris.


Rumah besar milik keluarga Theo.tiba-tiba terasa hening. Tidak ada lagi suara tawa dan kegaduhan yang sering diciptakan cucu-cucunya.


...---...


Di tempat berbeda, diruangan sunyi Dealova baru saja menutup sambungan teleponnya. Entah apa yang dia pikirkan, namun dia telah meminta seorang suruhan untuk menggagalkan liburan keluarga Theo.


Tiba-tiba ponselnya berdering. "Daven", ucapnya kala membaca nama yang muncul di layar ponselnya. "Kenapa lagi dia menghubungiku?" tanyanya berdecak kesal. Dia tidak suka pada Daven sejak penolakan Daven untuk membantu dirinya membuat Theo dan Indira berpisah, namun dia tetap menerima panggilan telepon itu.


"Jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang", goda Daven dari seberang telepon.


"Katakan apa tujuanmu menelpon?"


""Aku hamya ingin bertanya padamu", sahut Daven dengan nada serius. "Apa kau telah merencanakan sesuatu yang jahat?"


Dealova mendelik. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan Daven. Apa dia mengetahui sesuatu, batin Dealova.


"Kenapa kau diam? Apa tebakanku benar?" Daven kembali mendesak Dealova dengan bertanya.


"Cih, apa maksudmu berkata seperti itu? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau katakan."


"Kau perlu mengingat satu hal, mencintai bukan harus memiliki! Aku mencintai Indira, tapi aku sadar dia hanya mencintai suaminya, begitu juga sebaliknya, suaminya hanya mencintai Indira seorang!" tegas Daven dari seberang telepon.


Dealova kembali diam beberapa saat, lalu berdehem. "Hem, apa kau pikir aku sama seperti dirimu? Cih, kau terlalu naif Daven! Aku tidak sama denganmu yang menyerah begitu saja sebelum melakukan sesuatu."


"Sebaliknya, kau yang begitu naif. Kau terlalu memaksakan keinginanmu yang akan membuat dirimu hancur!"

__ADS_1


"Diam! Aku tidak butuh nasehatmu!"


"Aku tahu sebenarnya kau orang baik, makanya aku mengingatkanmu. Jangan lagi mengejar sesuatu yang kau sudah tahu kalau dia bukanlah milikmu. Percaya padaku, suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang mencintaimu dengan tulus."


Dealova tidak menyahut ucapan Daven. Dia diam untuk wakru yang lama.


"Lova... Apa kau masih mendengarkanku?" tanya Daven, namun Dealova masih tetap diam. Daven mendengus kasar, dia tahu sebenarnya Dealova masih mendengarkannya. "Hanya itu yang ingin aku katakan, semoga kau benar-benar tidak merencanakan sesuatu yang jahat." Daven memutus sambungan telepon, tanpa menunggu Dealova membalas ucapannya.


...---...


Di bandara Tamara tanpa sengaja melihat sosok pria yang pernah dia cintai. Pria itu tidak sendiri. Dia sedang menggandeng wanita cantik dengan begitu mesra.


Indira yang menangkap ekspresi marah Tamara mengikuti sorot matanya. "Saka", gumamnya. Lalu dia menepuk lembut pundak Tamara. "Jangan lihat dia lagi. Nanti dia mengira kau tidak bisa hidup tanpanya."


Tamara tidak langsung membalas ucapan Indira. Sebenarnya dia masih mencintai Saka. Dia ingin Saka kembali, tapi seluruh keluarga membenci Saka.


Tamara menganggukkan kepalanya. "Iya, aku pasti bisa hidup tanpanya", ucapnya dengan memaksakan senyumannya.


Sesama wanita Indira tahu bahwa Tamara belum benar-benar melupakan Saka. Namun dia tidak akan membiarkan adik iparnya itu sedih hanya karena makhluk bernama Saka.


"Ayo, kita pergi!" ajak Indira. Lalu mereka berjalan menaiki lift menuju ruang tunggu.


Saka yang telah melihat Tamara pergi melepas gandengan tangannya. Wajah cerianya berubah sedih.


"Kenapa sayang? Apa aku berbuat salah?" tanya wanita yang telah dijodohkan Ibunya itu padanya.


"Maaf, aku terpaksa melakukan ini. Aku harap kau tidak menuntut lebih dariku, karena sebenarnya aku sangat mencintai mantan istriku."


Wanita yang di sapa Sany itu mendelik. "Kalau kau mencintainya, kenapa kalian bercerai?" Sany emosi. Dia tidak ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain.


Saka hanya diam. Dia tidak ingin siapapun tahu apa yang telah terjadi padanya.


**********


Hai readers yang budiman, baik hati dan tidak sombong. Untuk cerita ini author tamatin dulu ya, menunggu mood untuk melanjutkan season 2 nya. Karena author mau lanjutin novel yang sedang ikut lomba. Jika berkenan mampir ya, bisa di cek di profil author, di novel yang masih on going.


Tengkyu so much buat supportnya buat para author dan readers yang setia.

__ADS_1


__ADS_2