
Fajar sudah mulai menyingsing, tampak seorang pria penyuka rofftop itu kembali berdiri di atas rooftop bangunan yang tak jauh dari tempatnya pernah berdiri sebelumnya.
Dia mendengus kasar sembari menatap nanar langit biru, kala mengingat desakan dari sang ibu yang ingin segera membalaskan dendamnya. "Kenapa harus ada dendam, sih? Jika ini terus berlanjut, maka dendam ini tidak akan ada habisnya", rutuknya.
"Hei yang di sana, jangan terlalu ke tepi. Ayo, kemarilah", panggil petugas kebersihan yang baru saja membuka pintu roofop.
"Kenapa setiap kali aku naik ke rooftop, bapak ini kebetulan ada disini?" ucapnya berdecak kesal seraya menghampiri petugas kebersihan itu.
"Kamu lagi!" seru petugas kebersihan yang tidak bisa melupakan rupa pria itu. "Bagaimana kamu bisa masuk? Seingat saya pintu selalu saya kunci setiap saya turun dari rooftop."
"Mungkin bapak kemaren lupa ngunci", jawabnya dengan santai.
Sang petugas kebersihan seakan terhipnotis akan ucapan pria itu. Dia pun mencoba mengingatnya kembali. Tanpa dia sadari pria itu telah menipu dirinya, agar dia bisa kabur di saat petugas kebersihan itu sedang berfikir.
"Eh, mau kemana kamu anak nakal!"
"Maaf pak, saya pakai rooftopnya tanpa ijin. Lain kali saya pasti ijin dulu pak!" teriak pria itu dari kejauhan yang membuat penghuni gedung itu terganggu.
"Siapa sih yang teriak-teriak? Gak ada sopan santunnya" ucap seorang dosen wanita yang kebetulan lewat.
"Hai, Dira. Hai, Ara", sapa Daven saat dirinya telah mensejajarkan langkahnya dengan langkah Indira dan Tamara di lorong kampus.
"Hai, Daven. Apa kau sudah siap untuk hari ini?" tanya Indira dengan penuh semangat. Sedangkan Tamara tidak menggubris sapaan Daven sama sekali.
"Sudah dong", sahut Daven percaya diri. "Kita lihat aja entar tugas siapa yang akan mendapat nilai A+."
"Wah, sombong! Itu gak baik lo. Apalagi kamu baru memulai untuk hari ini."
"Bukan seperti yang kamu pikirkan Dira cantik. Aku cuma mau menunjukkan betapa seriusnya aku mengerjakan tugas itu."
"Owh, bagus dong kalau begitu. Dan aku yakin kau pasti bisa memulai semuanya dengan baik."
"Terimakasih dukungannya cantik."
Indira hanya membalasnya dengan tersenyum. Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Theo mendengarkan percakapan itu tepat di belakang mereka.
Apa ini jawaban pertanyaanku tadi malam. Jika aku sampai menceraikan Dira, maka aku memberi kesempatan pria lain untuk mendekatinya, batin Theo.
O, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus berusaha mempertahankannya, ucapnya di dalam hati.
__ADS_1
Jam kuliah terasa begitu menyenangkan bagi Daven, kala Indira membimbingnya dalam belajar. Dia yang semula tak punya cita-cita, kini sudah membuat suatu keinginan yang ingin di kejar.
Waktu luang Daven gunakan untuk membaca buku diperpustakaan, bahkan saat berada di taman dia tidak lagi tidur seperti biasanya. Dia membawa bukunya di sana sembari menikmati angin sepoi-sepoi.
Kedua orang tua Daven mulai memujinya kala melihat kerajinan sang anak. Saat mereka bertanya apa yang membuatnya berubah seperti saat ini, dia selalu menjawab cinta. Kekuatan cintalah yang sudah mengubahnya.
Kedua orang tuanya berfikir bahwa sang anak sedang jatuh cinta. Mereka pun berusaha mencari tahu wanita yang telah menjadi penyemangat putra mereka itu.
Sudah 2 minggu berlalu sejak Daven belajar sungguh-sungguh. Hampir di semua mata kuliah dia berhasil, walau masih ada yang mendapat nilai C, tapi itu tidak membuatnya patah semangat. Dia pun meminta Indira mengajarnya private.
---
Saat ini Indira sedang berada diruangan Theo. Dia harus menuruti semua perintah sang suami yang menurutnya tidak masuk akal. Sebenarnya hal itu dilakukan Theo agar Indira tidak sering bersama dengan para pria tampan itu, meskipun selalu ada Tamara di antara mereka.
"Sudah selesai, kak. Apa ada lagi yang harus Dira kerjakan?"
Theo berdecak kesal saat melihat Indira terlalu cepat mengerjakan apa yang dia suruh. "Owh, kalau begitu tolong pesankan nasi pakai rendang di restoran bundo."
Indira dengan cepat mengotak atik ponselnya.
"Pesankan untukmu sekalian, nanti kakak yang bayar."
Di lapangan basket tampak tiga orang pria sedang mengadu kehebatan masing-masing, setelah perdebatan alot yang terjadi di antara mereka, yang dengan percaya diri mengatakan bahwa Indira akan memilih satu di antara mereka bertiga.
"Ngapain main basket siang bolong gini?" tanya Indira pada mahasiswi yang sedang menonton mereka saat menenteng makanan pesanannya.
"Katanya sih gara-gara satu orang wanita. Secakep apa sih tu cewek sampai direbutin gitu. Penasaran gue." celetuk mahasiswi yang berbicara dengan Indira tanpa menatap wajahnya.
"Owh, gitu", ucap Indira singkat, lalu dia beranjak dari tempat itu dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Theo.
"Ini makanannya kak." Indira meletakkan 2 bungkus makanan.di atas meja.
Theo langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis sesuatu. Dia menyingkirkan beberapa berkas di atas.mejanya, agar tersedia tempat untuk mereka makan. Sebenarnya Theo sangat ingin menaruh meja dan kursi tamu diruangannya. Namun karena ukuran ruangan Theo yang sangat kecil tak memungkinkan di tambahnya meja dan kursi tamu lagi di sana.
"Ayo, makan yang banyak. Lihat kamu kurus sekali", ujar Theo memberi perhatian pada sang istri.
"Baru saja 2 suap nasi masuk ke dalam mulut Indira, dia sudah ingin memuntahkannya. Dengan buru-buru Indira berlari keluar menuju kamar mandi.
"Uwek...".Indira.memuntahkan semua yang baru saja dimakannya.
__ADS_1
"Kenapa kepalaku pusing sekali", ujarnya sembari memijit pelipisnya. Setelah dia mulai merasa sedikit baikan, dia pun kembali keruangan Theo.
"Kak, sepertinya aku masuk.angin. Jadi aku harus kembali ke kelas untuk mengambil minyak.angin."
"Ya, sudah pergilah. Nanti jangan lupa minum air hangat", ucap Theo dengan rasa peduli. Dia pun melanjutkan memeriksa tugas mahasiswanya itu.
"Akhirnya aku bisa bernafas lega", ucap Indira saat sudah berada di luar ruangan Theo. Kemudian dia melanjutkan langkahnya berjalan menuju kantin, untuk mengambil segelas air hangat.
"Dira", panggil Tamara sembari menghampiri Indira. "Aku sudah mencarimu kemana-mana", ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
Indira mengermyitkan keningnya sembari menatap wajah panik Tamara. "Ada apa?" tanya Indira yang mulai bingung.
"Ayo, kita kelapangan sekarang!" Tamara menarik paksa tangan Indira yang masih mematung diposisinya.
"Buat apa kita panas-panas gini ke lapangan? Lebih baik kita di sini saja. Selain adem juga bisa mengisi perut."
"Kau lihatlah sahabatmu itu. Mereka bertiga saat ini sedang berada di.lapangan basket."
"Owh, itu tadi aku sudah melihatnya, gak ada yang menarik di sana. Apalagi katanya mereka sedang memperebutkan satu orang wanita. Ada-ada saja!"
"Tapi wanita yang sedang mereka ributkan itu kakak ipar!" tunjuk Tamara pada Indira.
"Apa? Aku!" Indira mendelik saat mendengar perkataan Tamara. Namun sesaat kemudian dia tertawa. "Ternyata aku bisa jadi rebutan juga", ujar Indira. "Ayo, kita ke sana", ajak Indira masih dengan sisa tawanya.
---
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding tepat di depan Indira. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Indira sembari menahan bola dalam genggamannnya.
"Owh, kami hanya unjuk kebolehan. Bukan hal yang serius. Ini juga sudah selesai, iya kan", Daven meminta dukungan Saka dan Raka dengan menyikut mereka bergantian.
"Iya", sahut Saka dan Raka hampir bersamaan.
"Kau pergilah dari tempat ini, karena di sini sangat panas."
"Kalau begitu kenapa hanya aku saja yang pergi? Ayo, kita sama-sama pergi dari tempat ini", ajak indira saat melihat dirinya sedang dikibuli mereka.
Dengan terpaksa mereka menghentikan pertandingan dadakan itu. Lalu mereka mengikuti langkah Indira menjauh dari lapangan basket.
"Jadi siapa yang menang?" Saka berbisik sembari menyikut Daven. Namun Daven hanya membalas dengan menaruh jari telunjuk tepat dibibirmya.
"Kalau tidak ada hasilnya, nanti kita ulangi saja", ujar Raka yang tak ingin mengambil pusing dengan menghitung kembali skor mereka. Namun Saka yang merasa skornya lebih tinggi dari mereka bertiga tak terima dengan ide Raka.
"Apa lagi yang kalian ributkan?" tanya Indira dengan kesal. Dia tak habis pikir dengan sikap kekanakan sahabatnya itu. "Kalian bertiga itu sahabat terbaikku, jadi tolong jangan ada perasaan yang lain."
__ADS_1
Mereka bertiga tahu alasan satu-satunya Indira tidak bisa menerima salah satu di antara mereka. Namun Daven terlihat santai, karena dia mengetahui sesuatu yang lain, yakni hubungan Theo dengan Tiara. Dia pun telah menyimpan hasil sebuah rekaman yang dia dapat saat berada di cafe, tempat pertemuan Theo dan Tiara.