Love Me Tender

Love Me Tender
Kemana Theo?


__ADS_3

Theo masuk ke dalam ruangannya, menutup pintu dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang tidur dengan bertopang tangan.


"Pasti dia sangat kelelahan", ucapnya bergumam. Lalu Theo memakaikan jas miliknya pada tubuh Indira.


Namun Indira terusik saat merasakan sesuatu menyentuh punggungnya. "Kakak sudah selesai?" tanya suara parau Indira sembari mengucek matanya.


"Sudah... Ayo, kita pulang." Theo langsung menuntunnya berdiri. "Terimakasih sayang, karena sudah mau menungguku", ucap Theo dengan tersenyum. Lalu dia berjalan beriringan dengan Indira sambil merangkul pinggangnya.


Indira hanya membalas dengan berdehem, lalu telapak tangannya menutup mulutnya yang sedang menguap lebar.


"Kau masih mengantuk?"


"Sedikit", jawab Indira seraya menganggukkan kepalanya.


"Setelah kita sampai di rumah nanti lanjutkan saja tidurnya."


Indira kembali membalas dengan berdehem.


 


Setelah 20 menit diperjalanan Theo dan Indira akhirnya tiba di halaman rumah Theo.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Tamara berdecak kesal saat Theo dan Indira baru saja keluar dari dalam mobil. "Filmnya akan di mulai jam 7."


Indira melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Masih pukul 6, emangnya ke bioskop 1 jam ya?" Indira melirik sang suami.


"Emang siapa yang mau ke bioskop?" tanya Theo.


"Maaf... Dira lupa ngomong sama kakak, kalau tadi siang Saka mengajak kita berdua nonton bareng di bioskop."


"Kakak gak bisa pergi. Kalian bertiga saja yang pergi", ucap Theo sembari masuk ke dalam rumah.


Sepeninggal Theo, Indira langsung menoleh ke arah Tamara dengan wajah memelas. "Maaf, sepertinya kami tidak bisa pergi. Kalian berdua saja yang pergi gak apa-apa kan?"


Tamara menatap Indira dengan kesal. "Harusnya bilang dari awal, biar Saka tahu." Namun sesaat kemudian Tamara senang, karena di sana nanti dia bisa berduaan dengan Saka. "Okelah kalau begitu. Tapi lain kali jangan diulangi lagi."


"Iya", sahut Indira dengan menunduk, seolah sedang diberi wejangan oleh sang dosen.


Tak berselang lama, motor CBR250rr masuk ke halaman rumah mereka. Pengendara motor itu menghentikan motornya tepat di samping Indira berdiri.


"Hai, Dira", sapanya saat baru saja membuka helmet.


"Saka!" ucap Indira dan Tamara bersamaan. Lalu Tamara menghampirinya dengan memaksa Indira bergeser. "Ayo, kita masuk dulu", ajak Tamara.


Saka meletakkan helmetnya, lalu dia mengikuti langkah Tamara berjalan masuk ke dalam rumah. Indira pun beranjak dari posisinya dan mengikuti langkah mereka dari belakang.

__ADS_1


 


"Sore Om, tante", sapa Saka dengan sopan pada kedua orang tua Tamara yang sedang duduk di sofa.


Raja dan Ratu menoleh. "Ya, sore juga", sahut mereka. "Ayo, silakan duduk", ucap Ratu sembari menggeser bokongnya.


"Terimakasih, Om, tante." Saka langsung duduk berhadapan dengan Raja.


"Kamu temannya Tamara, ya?" tebak Ratu.


"Saya temannya Indira dan Tamara tante. Nama saya Saka. Saya juga kuliah di tempat yang sama dengan mereka."


Tamara yang baru saja duduk di sofa dibuat kesal dengan ucapan Saka. Entah kenapa Tamara tidak senang jika Saka mendahulukan Indira ketimbang dirinya.


Pertanyaan saya cuma satu, tapi di jawab dengan sangat lengkap, batin Ratu. "Jadi apa maksud kedatangan nak Saka ke sini?"


"Saya mau mengajak Indira dan Tamara nonton bareng tante."


Raja dan Ratu saling memandang, seakan memberi kode dengan saling bertanya di dalam hati. "Kami bukan menolak kamu jalan bareng mereka, tapi kami minta ajak juga kakak mereka."


"Boleh tante. Saka memang sudah menyediakan tiket untuk 4 orang."


"Oh, ya. Bagus kalau begitu."


Tamara bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Theo yang masih berdiri diposisinya. "Nanti Dira di ambil Saka", bisiknya tepat di telinga Theo.


Theo terkesiap mendengar penuturan Tamara. "Oke, Theo ikut!" ujarnya. Lalu dia menarik tangan Indira berjalan menuju lantai atas.


---


Setelah 15 menit berlalu, Theo dan Indira menuruni anak tangga. Lalu mereka berjalan menghampiri Saka dan Tamara yang masih berada di ruang tamu.


"Daddy dan mommy kemana?" tanya Theo saat tidak melihat kedua orang tuanya di sana.


"Tadi daddy ada pekerjaan yang mau di urus. Mommy ngikut daddy ke ruang kerjanya."


"Owh, ayo kita berangkat!"


Mereka bersama-sama berjalan keluar rumah.


"Ara... Apa daddy ngizinin kamu naik motor?" tanya Theo saat melihat sang adik langsung naik diboncengan Saka.


"Sudah, kak", sahut Tamara berbohong.


"Oke, kalau begitu. Saka tolong jangan ngebut bawa motornya."

__ADS_1


"Baik, kak. Kami duluan ya." Saka langsung melajukan kendaraannya meninggalkan Theo dan Indira.


'Mereka sudah pergi. Lebih baik kita masuk ke kamar saja, dari pada nonton ke bioskop."


"Gak baik membohongi orang tua!" Indira menegaskan sembari menatap tajam sang suami. "Mommy izinin Ara pergi, karena kakak juga ikut."


Theo tersenyum melihat wajah marah sang istri. "Jangan suka marah-marah. Muka kamu keriput tuh, sudah kayak nenek-nenek", ledek Theo.


Indira langsung berjalan masuk ke dalam mobil. Dia mengabaikan ledekan sang suami. Theo pun ikut masuk ke dalam mobil. "Sudah dong sayang, jangan cemberut gitu. Aku kan cuma bercanda", bujuk Theo pada sang istri yang sedang memandang ke arah luar kaca depan mobil dengan muka di tekuk.


"Mereka sudah jauh. Ayo, jalanlah." Indira berbicara tanpa menatap sang suami.


"Baiklah sayang."


Theo langsung melajukan kendaraannya menuju gedung bioskop yang telah dikatakan oleh Tamara sebelumnya.


---


Tak butuh waktu yang lama, mereka tiba di gedung bioskop. "Saka dan Ara dimana ya?" Indira mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mereka.


"Dira!" teriak Tamara saat baru saja membeli popcorn kesukannya.


Indira menoleh ke sumber suara. "Nah, itu dia", ucapnya seraya berjalan menghampiri mereka. Theo pun mengikuti langkah sang istri.


"Kenapa kalian lama sekali" tanya Tamara. Namun di dalam batinnya dia lebih suka jika sang kakak dan kakak iparnya itu tidak datang.


"Tidak perlu di bahas", sahut Theo dengan tegas. "Berikan saja tiketnya!"


Tamara langsung memberikan 2 tiket lagi pada sang kakak. "Ini, kak."


Theo langsung meraih tiket dari sang adik. "Kalian masuk saja dulu. Kami nanti menyusul."


"Oke, kak", sahut Saka dan Tamara hampir bersamaan. Lalu mereka berjalan menuju pintu masuk.


"Ayo, kita beli sesuatu dulu", ajak Theo sembari menggandeng tangan sang istri. Namun tiba-tiba Theo melihat seseorang yang dia kenal. "Kau pergilah beli sesuatu di sana." Theo menunjuk ke sebuah gerai yang menjual makanan sembari memberikan beberapa lembar uang pada Indira. "Aku ada perlu sebentar. Jangan pergi kemana-mana! Tunggu aku di pintu masuk", ujarnya. Lalu dia berjalan menuju arah seseorang yang baru saja dia lihat itu.


Setelah selesai mengantri membeli makanan, Indira berjalan menuju pintu masuk bioskop. Lalu dia berdiri sembari menunggu Theo datang. Namun setelah 10 menit menunggu Theo belum juga muncul, padahal film sudah di mulai. Indira berjalan mondar mandir dengan sangat gelisah, karena Theo bahkan tidak mengangkat telepon darinya.


"Kemana dia?" ucapnya bergumam.


Menit demi menit berlalu, bahkan hingga film selesai di putar dan para pengunjung ke luar dari gedung bioskop, Theo masih belum muncul juga.


"Indira..." panggil Saka saat baru saja keluar dari gedung bioskop. "Kenapa tidak masuk?" tanyanya saat melihat Indira masih memegang popcorn yang belum di sentuh sama sekali.


Namun Indira hanya diam dengan wajah kesal. Ingin rasanya dia segera berada di dalam kamar, lalu menutup wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2