
Setelah kelas selesai, Tamara buru-buru menghampiri Radit yang baru saja melangkah keluar kelas.
"Kenapa kakak yang menggantikan kak Theo? Dimana kak Theo sekarang?" sergah Tamara. Selama ini dia tahu bahwa Radit juga memiliki perasaan pada Tiara, kekasihnya Theo.
"Maaf, di sini kakak sebagai dosen. Jadi jangan bertanya mengenai hal pribadi."
Tamara berdecak kesal saat mendengar ucapan Radit. Dia langsung membalikkan badannya meninggalkan Radit yang masih berdiri diposisinya semula.
"Dia pikir, dia itu siapa, hah!" Emosinya seakan tak mau surut. Dengan langkah cepat dia terus berjalan meninggalkan Indira jauh dibelakangnya.
Theo sedang berjalan memasuki rumahnya dengan mengendap-endap.
"Dari mana saja kau?" tanya sang daddy. Dia terpaksa pulang ke rumah, karena papanya menghubunginya melaporkan apa yang telah diperbuat oleh Theo.
"Daddy, gak masuk kantor hari ini?" Theo berjalan santai untuk menutupi rasa gugupnya.
"Jangan coba alihkan pembicaraan! Jawab pertanyaan daddy tadi!"
Theo menghampiri sang dsddy dan berusaha tenang. "Theo ketiduran di rumah teman, dad. Kemaren malam ada party di rumahnya, jadi karena lelah Theo gak sadar kalau tertidur sampai pagi."
"Di rumah siapa?" Tatapan tajam sang daddy menunjukkan kecurigaannya.
"Di rumah Radit, dad."
"Daddy minta buktinya! Berikan sebelum jam 2."
Theo terkesiap mendengar permintaan sang daddy. "Tidak semudah itu, dad. Beri Theo waktu sampai jam 7 malam ini."
"Berikan sebelum jam 2 atau semua hak warismu daddy cabut!" ancamnya sembari bangkit dari tempat duduk, meninggalkan Theo seorang diri.
Setelah beberapa menit kemudian. Tamara berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggerutu dan wajah yang sulit dikondisikan.
"Kenapa pulang dari kampus muka di tekuk gitu?" tanya Ratu saat sedang duduk di sofa sembari membalas chat group sosialita.
Tamara tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju aofa, lalu menempelkan bokongnya di sana. "Ara lagi kesal sama temannya kak Theo, mom."
"Teman Theo yang mana?' tanya Ratu yang tau persis bahwa Theo tidak memiliki banyak teman.
"Kak Radit, mom."
"Oh, teman satu-satunya kakakmu itu, ya? Apa yang sudah dia lakukan pada putri kesayangan mommy?"
__ADS_1
Belum sempat Tamara menjawab, Indira berjalan masuk ke dalam rumah. Ratu dan Tamara mengalihkan perhatiannya, mereka ternangu saat melihat wajah sendu Indira.
"Kamu kenapa menantuku?" tanya Ratu dengan rasa kuatir.
"Bi-bibi...mom", ucap Indira dengan bibir bergetar.
"Kenapa dengan bibimu?" tanya Ratu yang mulai curiga sesuatu yang buruk terjadi.
"Bibi Dira sudah meninggal", ucapnya dengan menangis histeris. Tiba-tiba tubuhnya semakin merosot hingga dia terduduk di lantai.
Ratu dan Tamara bergegas menghampiri Indira. "Ayo, duduk di sofa", ajak Ratu sembari menuntun Indira bangkit dari lantai. "Coba tenangkan dirimu dulu."
Indira tak berhenti menangis walaupun Ratu memintanya untuk tenang. Akhirnya mereka diam sembari menunggu Indira benar-benar tenang. Setelah beberapa saat tangis Indira mulai meredam.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang, mom", ajak Indira dengan terisak.
"Oke, tapi gantilah dulu pakaianmu. Mommy juga akan berganti pakaian."
"Baik, mom", sahut Indira. Sebenarnya dia sedikit malas untuk mengganti pakaiannya, karena dia ingin menghindar bertemu dengan sang suami. Namun dia tidak punya alasan yang tepat untuk menolak perkataan sang mommy.
Indira yang semula mengira bahwa dia akan bertatap muka dengan Theo di dalam kamar. Ternyata dia beruntung karena Theo sedang sibuk berbincang di telepon dengan seseorang. Dengan buru-buru dia berjalan keluar dari dalam kamar, mengambil kesempatan sebelum Theo mengakhiri perbincangannya di telepon.
"Seharusnya kakak ipar gak perlu menanyakan hal itu. Karena tanpa diminta aku akan tetap datang."
Indira menatap Tamara dengan wajah sendunya. "Iya, maaf kalau aku salah dalam berucap."
"Tidak ada yang salah. Mungkin ucapanku saja yang sedikit kasar. Jadi akulah seharusnya yang meminta maaf.
"Ya, sudah lebih baik kita saling memaafkan saja. Biar impas", sahut Indira. Lalu mereka saling tertawa sembari menuruni anak tangga, melupakan sejenak kesedihan itu. Mereka melanjutkan langkah mereka menghampiri sang mommy yang sudah menunggu di dalam mobil.
Jam sudah menunjukkan pukul 2. Theo berjalan menuju ruang kerja sang daddy, karena sesuai dengan permintaan daddynya itu, bahwa Theo harus menyerahkan semua bukti di ruang kerja sang daddy.
Tok. Tok.
"Masuk", ucap suara Raja dari dalam.
Theo melangkah masuk setelah menutup pintu. Lalu dia menghampiri Raja yang sedang duduk sembari menatap kearahnya.
"Mana buktinya?" desak Raja tanpa basa basi.
Theo langsung memberikan ponsel miliknya pada sang daddy. Sebuah rekaman video diputar di sana. Raja mulai mengernyitkan keningnya saat menonton video yang berdurasi 5 menit itu. Dia' mencoba memperhatikan keaslian video tersebut.
__ADS_1
"Oke, daddy percaya." Raja menghela nafas menjeda ucapannya. "Tapi daddy tidak mau melihatmu mengikuti pesta seperti ini lagi. Ingat... Kau ;sudah punya istri! Tapi jika sampai kau melanggar, maka daddy akan segera bertindak", ancamnya.
Baru saja Theo bernafas lega, namun kembali dibuat ketar ketir oleh ancaman sang daddy.
"Baik, dad", sahut Theo.
"Apa ada yang mau kau tanyakan?"
"Tidak ada, dad."
"Oke, mulai besok kau fokus saja di kampus. Daddy sendiri masih bisa menghandle kantor. Tapi kalau memang benar-benar dibutuhkan, daddy akan memanggilmu."
Perintah sang daddy ada plus dan minusnya bagi Theo. Karena plusnya adalah dia bisa dengan bebas bertemu dengan kekasihnya, maka dia pun mengabaikan minusnya.
"Baik, dad", sahut Theo dengan yakin.
"Oke, kalau tidak ada lagi, daddy mau lanjut kerja."
Theo langsung pamit keluar dari ruangan sang daddy.
Di tempat pemakaman umum.
Indira memegang tanah merah yang masih basah itu. "Tidak ada lagi saudara dekat Dira yang bisa jadi teman curhat Dira. Bibi adalah satu-satunya adik ayah. Sekarang bibi sudah pergi menyusul ayah dan ibu." Indira terisak sembari menatap gundukan tanah merah itu. "Semoga bibi di beri tempat terbaik di sisi Allah."
Indira bangkit dari posisinya berjongkok. Mata nanarnya menatap seorang pria yang sedang berdiri di kejauhan. "Siapa dia? Apa itu paman? Batinnya.
"Kenapa, Dira?" tanya Ratu saat melihat Indira masih diam.diposisinya.
Indira menoleh.ke arah Ratu. "Apa mommy melihat ada pria di sana?'" tunjuk Indira menggunakan ekor matamya.
Ratu dan Tamara sama-sama menoleh. "Mana?" tanya Ratu saat tidak melihat seorang pun di tempat yang telah di tunjuk oleh Indira.
"Iya, aku juga tidak melihat siapapun", timpal Tamara.
Indira mengernyit bingung. "Apa aku sedang berhalusinasi", ucapnya bergumam.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ayo, kita pulang", ajak Ratu pada Indira dan Tamara saat semua pelayat sudah meninggalkan tempat itu hingga menyisakan mereka bertiga.
"Oke, mom", sahut Tamara. Sedangkan Indira masih mematung diposisinya semula.
"Ayo, kakak ipar", ucap Tamara membuyarkan lamunan Indira yang masih memikirkan pria tadi. "Jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu orang yang kebetulan datang ziarah", tebak Tamara untuk mengalihkan perhatian Indira.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Indira berjalan mengikuti langkah Ratu dan Tamara.
__ADS_1