
Tiara terbangun setelah beberapa waktu lalu jatuh pingsan.
"Aku dimana?" tanya suara paraunya sembari menyusuri setiap sudut ruangan.
"Kau sedang di rumah sakit!" sahut Radit yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Tiara mengernyitkan keningnya menatap sosok pria dihadapannya. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Kau sungguh cerewet. Tapi kau tidak pernah cerewet untuk memberitahu keadaanmu padaku. Apa karena sudah ada Theo bersamamu?" sergah Radit. Dia merasa Tiara datang padanya hanya saat dibutuhkan saja.
"Maafkan aku!" sahut Tiara tertunduk lesu. "Jika aku tahu kau akan marah seperti ini, aku tak akan menyembunyikannya darimu."
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya merasa kalau aku ini tak ada artinya lagi bagimu."
Hiks. Hiks.
Tiara menangis tersedu-sedu. "Apa aku ini berarti bagi siapapun?"
Radit semakin mendekati sisi ranjang Tiara, lalu menggenggam tangan Tiara. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?"
"Emangnya dokter berkata apa padamu?" tanya Tiara balik masih dengan terisak.
Radit menatap Tiara dengan intens. "Dokter berkata kalau kau itu stress, dan kau juga belum makan sesuatu, makanya tubuhmu lemah sampai pingsan."
"Iya, aku lupa makan. Ini semua karena sikap yang Theo mengabaikanku."
"Kenapa Theo sampai mengabaikanmu? Bukankah istrinya sudah tidak bersamanya lagi?"
"Mereka sedang menghadapi masalah keluarga yang sangat besar."
"Owh, begitu", sahut Radit dengan rasa kecewa. Sebenarnya dia tahu kalau Tiara mengalami keguguran, karena dokter memberitahu itu adalah salah satu penyebab dia pingsan. Radit menebak bahwa Tiara sudah tidak punya alasan lagi untuk mendesak Theo menikahinya.
Radit berdehem sembari menahan amarahnya, tatapannya yang penuh arti seakan tak ingin beralih dari Tiara. "Dokter sudah mengijinkanmu pulang. Ayo, bersiaplah! Aku akan membawamu ke tempat makan."
"Oke, aku ke toilet sebentar", ucap Tiara sembari bangkit dari ranjang. Setelah Tiara keluar dari toilet, Radit pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu, Tiara pun melakukan hal yang sama.
Di rumah kediaman Theo, tampak sang bibi yang berjalan mondar mandir di dekat pintu kamar Raja dan Ratu.
"Bibi ngapain di sana?" tanya Theo saat baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"I-itu, a-anu den. Ada hal penting yang harus bibi omongin sama Tuan dan Nyonya." Tiba-tiba ART Theo itu gagap.
__ADS_1
"Bicarakan sama saya saja, bi. Daddy dan mommy masih sibuk", pinta Theo sembari berjalan menghampiri bi Iyem yang sedang berdiri dengan gelisah.
"Baiklah, den. Apa bibi.kasi tahu di sini saja?"
"Kalau bibi gak leluasa disini. Ayo, kita ngobrol di kamar Theo saja, bi."
"Baik, den", sahut sang bibi sembari mengikuti langkah Theo dibelakangnya.
Setelah berada di dalam kamar. Sang bibi menceritakan apa yang telah dia dengar kemaren malam saat dia sedang berada di toilet yang ada di dekat dapur.
Theo terkesiap saat mendengaer penuturan sang bibi. Lalu dia bergegas menemui kedua orang tuanya. Namun.sesaat kemudian dia berubah pikiran. Dia tak ingin menambah beban pirikan kedua orsng tuanya. Aku akan memberitahu mereka saat keadaan sudah tetkendali." batin Theo.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Theo yang semula hendak berjalan menuju pantry. Dia membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu.
"Siapa sih yang bertamu jam segini", ucap Theo berdecak kesal, karena jam masih menunjukkan pukul 11 siang.
"Siang kak", sapa Saka saat pintu baru saja dibuka oleh Theo.
"Siang juga. Silakan masuk", ajak Theo sembari membuka lebar pintu. Lalu menutupnya saat Saka sudah berada di dalam. "Duduklah dulu. Saya ke pantry sebentar."
"Jangan terlalu repot kak, saya cuma mau ketemu sama Ara."
"Ada hal penting yang mau Saka sampaikan. Boleh saya ketemu Ara sekarang, kak?"
"Tunggu di sini sebentar!" titah Theo. Lalu dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Tamara. Setelah bertannya pada Ratu dan Tamara yang baru saja terbangun dari istirahatnya, Theo pun kembali menemui Saka.
"Oke, Kau boleh menemui Ara sekarang. Tapi jangan lama-lama! Kau sendiri tahu bagaimana keadaan Ara."
"Baik, kak. Kalau begitu Saka permisi ke kamar Ara sebentar."
"Oke", sahut Theo singkat. Lalu dia menpersilakan Saka naik.
Tok. Tok.
"Nak, Saka... Ayo masuk!" ujar Ratu saat membuka pintu kamar Tamara.
"Terimakasih, bu", balas Saka dengan ramah. Lalu dia menoleh ke arah Tamara yang sedang terbaring. "Ara gimana kabarnya?" tanyanya lirih.
"Sudah mulai baikan, Saka,", sahut suara Tamara khas orang baru selesai menangis.
"Maaf, karena aku datang terlambat", ujar Saka dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi dan tak bisa disesali lagi."
"Aku ingin menikahumu!" ucapan itu berhasil lolos dari mulut Saka yang membuat Raru dan Tamara terkesiap.
"Sudah aku katakan, jangan merasa bersalah! Semua itu terjadi karena niat jahat orang lain."
"Aku ingin menikahimu bukan karena rasa bersalah, tapi karena rasa cinta."
Tamara mendelik, dengan susah payah dia menelan salivanya. "Apa kau serius?"
"Ya, aku sangat serius", jawabnya dengan tegas.
Tamara melirik ke arah Ratu. "Gimana mom?"
"Lho, kenapa tanya mommy sayang. Tanyakan hatimu sendiri, apa Ara sisp menikah dengan Saka."
Tamara terdiam sejenak. "Tapi kami masih sama-sama kuliah, mom."
"Mommy mau coba jelaskan niat Saka seperti apa. Begini sayang, sebenarnya Saka kuatir tumbuh benih dalam rahimmu sementara Ara belum menikah, makanya Saka berinisiatif melamarmu. Benar begitu nak Saka?"
"Tante benar, tapi Saka melamar Ara atas dasar cinta juga."
Seulas senyum terbit di wajah cantik Tamara. "Sebenarnya Ara juga menyukai Saka", ucapnya tertunduk malu.
"Nak Saka sepertinya cinta kamu bak gayung bersambut, berarti kita tinggal meminta kedua orangtuamu melamar Ara dengan resmi."
"Baik, tante. Malam ini akan Saka omongin ke ibu Saka, karena ayah Saka sudsh tiada", ucap Saka lirih.
"Maaf tante tidak tahu kalau kamu itu anak yatim. Namun meskipun kamu anak yatim kami tetap akan menunggu kedatangan ibumu."
"Terimakasih atas pengertian tante. Kalau begitu Saka mau pamit undur diri dulu, tante."
"Iya, nak. Kamu hati-hatilah di jalan. Jangan ngebut-ngebut saat berkendaraan."
"Iya, tante", sahut Saka. Lalu dia berjalan ke pintu, dan keluar dari dalam kamar Tamara.
Sepeninggal Saka, Tamara berlonjak kegirangan. Kesedihan yang diakibatkan oleh sesuatu yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup itu, seketika hilang entah kemana. Ratu menatap haru wajah bahagia putrinya itu. Saka baginya bak seorang manusia berhati malaikat.
Seakan tak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia itu, Ratu buru-buru keluar dari kamar Tamara untuk mencari keberadaan sang suami.
"Mommy kayaknya bahagia banget", ucap Theo yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Bagaimana mommy gak bahagia, adik kamu dilamar Saka", ujar Ratu penuh semangat. "Sekarang mommy mau cari daddy kamu", lanjutnya.
__ADS_1
Theo seakan tak percaya mendengar ucapan sang mommy. Dia pun bergegas pergi ke kamar Tamara untuk menanyakan kebenarannya.