Love Me Tender

Love Me Tender
Bukan Anak Theo


__ADS_3

Theo bergegas keluar dari dalam mobil, setelah Saka menghentikan kendaraan tepat di depan lobi kantornya.


"Pagi, Pak", sapa security dengan ramah.


"Pagi..." balas Theo tanpa menatap sang security.


Begitu pula sang resepsionis. Dia pun berdiri dengan tersenyum ramah pada Theo. "Pagi, Pak Theo", ucapnya.


"Pagi..." balas Theo dengan singkat, lalu dia berjalan buru-buru menuju pintu lift.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, Theo melangkah masuk ke dalam lift.


"Tunggu...!" teriak suara seorang wanita yang membuat Theo menahan jarinya di tombol lift.


Seorang wanita dengan tampilan elegan dan memakai kaca mata berwarna gelap itu melangkah masuk ke dalam.


"Terimakasih Pak", ujar wanita itu dengan tersenyum ramah pada Theo.


"Oke", balas Theo dengan singkat. Lalu Theo bertanya lantai berapa yang ingin dituju oleh wanita yang berada disampingnya.


"Sepertinya kita akan ke lantai yang sama, Pak", ujarnya masih dengan tersenyum.


"Owh, oke kalau begitu", balas Theo dengan deheman. Sorot matanya tidak berpaling dari pintu dihadapannya.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar. Theo keluar setelah wanita disampingnya keluar lebih dulu.


Tak. Tak.


Suara hentakan heels wanita dihadapan Theo membuatnya merasa terganggu. Namun karena Theo tidak mengenal wanita yang berjalan didepannya itu, dia pun mengabaikannya.


"Pagi Pak Theo", sapa Risa dengan ramah.


Wanita yang bersama dengan Theo di dalam lift mendengar perkataan sang sekretaris.


"Jadi ini Pak Theo?" tanyanya dengan mata terbelalak.


"Iya, Bu. Ini Pak Theo. Ibu ini siapa?"


"Oh, maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya Rafa Inlove", ujarnya dengan tersenyum ramah.


Theo dan Risa terkesiap dengan saling menatap, mereka seakan ingin mengatakan sesuatu satu sama lain. "Maaf Ibu, jika penyambutan kami kurang berkenan di hati Ibu."

__ADS_1


"It's Oke. Saya yang salah karena tidak langsung memperkenalkan diri."


"Kalau begitu, ayo kita ke ruangan saya saja, Bu", ajak Theo dengan menuntun wanita itu menuju ruangannya.


"Silakan duduk."


"Maaf sebelumnya, apakah Ibu punya nama panggilan atau nama asli? Saya tidak mungkin memanggil Ibu dengan sebutan Rafa kan."


"Tidak apa-apa. Bapak boleh memanggil saya dengan sebutan apapun, asal bukan sebutan meledek saya.


"Tidak mungkin saya berani untuk meledek Ibu.


"Itu hanya umpama saja, Pak", katanya dengan santai. "Saya yakin Pak Theo orang yang baik," lanjutnya.


Tok. Tok.


Risa memunculkan wajahnya dari balik pintu. Lalu dia berjalan masuk dengan membawa nampan berisi 2 gelas kopi.


"Silakan di minum Pak, Bu", ucap Risa dengan sopan, lalu dia undur diri dari hadapan keduanya.


"Ada 1 hal yang ingin saya pastikan. Apa foto profil di akun Ibu itu adalah anak Ibu?"


Wanita itu terdiam sesaat, lalu dia membuka kacamatanya. "Apa kami terlihat sangat mirip?" tanyanya balik yang membuat Theo sedikit kecewa, karena dia mengira bahwa wanita yang ada dihadapannya saat ini adalah Indira.


"Tidak mirip Ibu, mungkin mirip sama ayahnya."


"Wah, selain baik, ternyata Pak Theo juga pintar menebak. Anak itu memang mirip ayahnya", balas wanita itu dengan tersenyum.


"Saya hanya asal menebak saja. Ayahnya tinggal di mana Bu?"


"Ayahnya tinggal di kota ini juga", sahut wanita itu dengan malas. "Tapi maaf saya potong sebentar, Pak. Bukankah kita akan berbicara mengenai bisnis?"


Theo mendengus kasar. "Maaf jika pembahasan saya menyimpang. Saya sedikit tertarik dengan foto anak Ibu. Anak di dalam foto profil itu mirip sekali dengan saya sewaktu kecil."


Wanita dihadapan Theo terkesiap mendengarnya. "Wajah orang di dunia ini bisa mirip sampai 6 bahkan mungkin lebih, Pak. Tapi saya beruntung jika anak saya mirip dengan Pak Theo."


"Terimakasih karena Ibu mengatakan itu suatu keberuntungan. Tapi saya tertarik untuk melihat foto ayah dari anak itu."


"Maaf sebelumnya, Pak. Sepertinya kita tidak sejalan, ternyata Pak Theo tidak tertarik dengan hubungan kerjasama ini. Kalau begitu saya pamit", ujar wanita itu seraya bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, Bu. Mungkin sedari tadi saya hanya bertanya tentang anak itu. Tapi itu bukan tidak beralasan."


Wanita itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Katakan alasannya!"


"Saya mengira kalau anak itu adalah anak saya. Tapi saat saya melihat Ibu, saya sedikit ragu kalau dia adalah anak saya."

__ADS_1


"Sekarang Pak Theo sudah tahu kalau anak itu bukan anak Bapak, jadi bagaimana?"


Theo tampak tidak puas saat mengetahui anak itu bukan anaknya. "Kalau begitu, kita kembali pada topik pembahasan sebenarnya."


"Baik. Mari kita lanjutkan", sahut wanita itu dengan santai.


Theo memulai pembicaraan mengenai kerjasama yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan nominal yang akan didapatkan wanita itu melebihi jumlah keuntungan yang didapatkan oleh Theo.


Sudah hampir 2 jam lamanya Theo menjelaskan, akhirnya dia mengakhiri ucapannya. "Bagaimana, Bu?" tanya Theo dengan antusias.


"Saya tertarik dengan penjelasan yang Pak Theo berikan. Kalau begitu mari kita bekerja sama," ucapnya dengan tegas.


Theo langsung meminta Risa membawakan draft kontrak pada wanita itu. Setelah draft kontrak berada di tangan wanita itu, dia pun membacanya dengan teliti.


"Oke, saya setuju", ujarnya setelah selesai membaca kontrak.


"Silakan di tanda tangan kalau Ibu sudah setuju."


"Baik", jawabnya. Namun tiba-tiba tangan wanita itu berhenti saat akan membubuhkan tanda tangannya pada lembaran kertas yang bertuliskan nama penanya itu. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa melakukannya di sini. Apakah berkas ini boleh saya bawa ke kantor saya untuk dipelajari kembali hari ini?"


Theo menatap jengah wanita dihadanpannya. "Baik, jika Ibu maunya seperti itu. Silakan berkasnya Ibu bawa."


"Terima kasih, pak. Kalau begitu saya undur diri", ujar wanita itu dengan tersenyum.


"Terima kasih kembali, Bu. Semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar."


"Amin", sahut wanita itu. Lalu dia melangkahkan kakinya berjalan ke luar ruangan Theo setelah berpamitan.


Sepeninggal wanita itu, Theo menyandarkan tubuhnya dan menghela nafas lega. Akhirnya ada secerca harapan untuk menolong kesulitan yang sedang dihadapi oleh perusahaannya. Namun ada hal yang masih mengganggu pikirannya.


"Jika anak itu bukan anaknya Indira, berarti aku masih jauh dari harapan untuk bertemu dengan anakku", ucapnya bermonolog.


Tok. Tok.


"Permisi, Pak", ucap Risa setelah membuka pintu.


"Ya, ada apa?" tanya Theo dengan sedikit kesal karena telah mengganggunya sedang melamun.


"Maaf mengganggu, Pak. Saya hanya ingin mengatakan pendapat saya pak, sepertinya wanita itu bukanlah pemilik Rafa Inlove."


Theo terkesiap mendengar penuturan sang sekretaris. "Jangan menuduh sembarangan!"


"Jika Pak Theo tidak percaya saya akan menunjukkan sebuah foto", tantang Risa seraya mengotak atik ponsel miliknya. "Ini foto pemilik Rafa Inlove", ujar sang sekretaris dengan santai.


Netra Theo terbelalak saat melihat foto wanita yang sedang menggandeng seorang anak. Tampak raut wajah bahagia di antara Ibu dan anak itu. Seketika Theo ikut tersenyum saat membayangkan keluarga itu.

__ADS_1


__ADS_2