Love Me Tender

Love Me Tender
Daven muncul kembali


__ADS_3

"Pagi daddy... Pagi mommy." sapa Indira pada kedua mertuanya yang sedang duduk di kursi meja makan. Pagi ini dia terlihat lebih bersemangat dari pagi sebelumnya.


"Pagi... "


"Pagi sayang.", sahut kedua mertuanya hampir bersamaan. Lalu mata sang mommy terbeliak saat melihat wajah lesu Theo.


"Kenapa denganmu, nak?" tanya sang mommy yang membuat sang daddy dan Tamara menoleh ke arah Theo.


Theo langsung menarik salah satu kursi yang kosong, lalu duduk di sana. "Aku gak bisa tidur satu malam ini ma."


"Lho, kenapa?"


"Aku takut jika tidur di samping Dira nanti terjadi lagi seperti kejadian malam sebelumnya. Jadi aku tidur di sofa."


Sang mommy mengiba sekaligus menahan tawanya. "Sebenarnya kau tidak perlu pindah tempat tidur. Cukup dengan mengontrol dirimu untuk tidak melakukannya berkali-kali, maka semua pasti akan baik-baik saja.


Theo menatap sang mommy dalam kebisuannya. "Kenapa mommy baru ngomong sekarang?" kesalnya.


"Kakak juga aneh. Kenapa kakak gak bisa berfikir seperti itu?"


"Anak kecil gak boleh berpendapat. Ini urusan orang dewasa!" seru Theo yang kesal atas pendapat Tamara pada dirinya.


"Aku bukan anak kecil lagi!" protes Tamara sembari meletakkan sendok di atas piringnya.


"Sudah cukup! Jangan berdebat di meja makan!" Sang daddy yang sedari tadi diam mulai terusik dengan perdebatan kedua putra putrinya itu.


Theo dan Tamara menghentikan perdebatan mereka. Namun di dalam hati mereka masih menggerutu.


Tidak ada lagi percakapan setelah perkataan dari sang daddy, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi ini. Mereka pun melanjutkan aktifitas masing-masing. Pagi ini Theo memilih berangkat ke kantor bersama sang daddy. Sedangkan Indira dan Tamara tetap berangkat ke kampus.


 


Cit.


Di perjalanan menuju kampus pak Joko tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Aww..." ringis Indira dan Tamara hampir bersamaan.


"Kenapa pak?" tanya Tamara dengan berdecak kesal.


"Maaf, non. Bapak sengaja menghentikan mobil, karena di depan ada..." Pak Joko menggantung ucapannya saat melihat para preman bergerak menghampiri mobil mereka.


"Tabrak saja pak!"


"Jangan non Ara. Nanti kalau mereka mati gimana? Bapak gak mau dipenjara."


Mereka ada 3 orang, kalau mereka ahli bela diri juga, aku sendiri mungkin gak sanggup melawan, ucap Indira di dalam batinnya.


Tiba-tiba seorang pria menghampiri para preman itu. Lalu terjadi perdebatan di antara mereka, hingga berlanjut pada aksi saling serang. Indira tidak tinggal diam. Dia pun keluar dari dalam mobil dan mencoba membantunya. Dalam sekali tendangan Indira berhasil mengalahkan para preman bersama dengan pria yang kebetulan melewati tempat itu.

__ADS_1


Tamara langsung membuka jendela kaca mobil. "Terimakasih Saka", teriak Tamara dengan tersenyum bahagia. Entah kenapa sikap heroik Saka berhasil menarik perhatian Tamara. Saka hanya mengangguk tanpa membalas senyuman dari Tamara.


"Jadi kau Saka?" Indira terbelalak saat melihat penampilan Saka yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


"Iya, Dira", balas Saka dengan tersenyum padanya. Namun hal itu telah membuat Tamara menjadi cemburu.


"Ayo, kita berangkat ke kampus bareng!"


"Ayo", sahut Saka sembari berjalan menuju motornya yang terparkir di tepi jalan.


"Kenapa di daerah sini tiba-tiba ada preman, ya?" tanya Indira seraya menoleh ke arah Tamara. Namun Tamara sama sekali tidak merespon ucapannya. "Menurutmu, apa ini bukan suatu kebetulan?" Indira kembali bertanya, namun Tamara masih saja tetap diam.


"Iya, ini agak aneh, non", sahut pak Joko.yang merasakan hal yang sama seperti Indira.


"Itu hanya perasaan pak Joko saja. Namanya juga preman, maling dan perampok, itu kapan saja bisa datang."


"Non Ara ada benarnya juga. Mungkin daerah sini selama ini aman. Jadi mereka ambil kesempatan itu saat orang-orang sedang lengah."


"Betul apa kata bapak", sahut Tamara dengan tegas.


Indira hanya diam saat mendengarkan obrolan pak Joko dan Tamara, karena dia tidak mungkin lagi membantah pendapat mereka. Dia pun memendam kecurigannya itu.


 


Di kantor Arkana Group.


Raja berjalan bersama dengan Theo di lobi kantor.


Raja pun datang menghampirinya, hingga sang resepsionis di buat ketar ketir olehnya.


"Apa kau sudah mengenal wanita itu?" tanya Raja dengan suara pelan.


"I-iya, pak. Sa-saya minta maaf sebelumnya, karena saya tidak mengenal istri pak Theo", jawabnya dengan terbata-bata.


"Oh, jadi sekarang sudah tahu?"


Sang resepsionis mengangguk dengan cepat. "Iya, pak. Saya janji tak akan mengulangi kejadian seperti kemaren."


"Kita lihat saja nanti!" Raja membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan sang resepsionis yang masih berdiri dengan wajah pucat.


"Daddy tadi nanya apa sama Twisa?"


"Bukankah kamu sudah dengar sendiri?"


Theo menggelengkan kepalanya. "Daddy bicaranya sangat pelan, gimana mau dengar."


"Apa tindakan yang akan kau ambil atas perbuatannya yang tidak menghargai istrimu?" Raja bertanya sembari melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Theo pun mengikutinya dari belakang.


Termyata Twisa yang di maksud oleh daddy. Gimana nih, aku belum memikirkan hal itu sama sekali, batin Theo.


"Dad, sebelumnya Twisa kan gak tahu kalau Indira istri aku. Jadi.." Theo menggantung ucapannya saat Raja menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Jadi dia bisa berbuat sesuka hatinya, jika orang itu bukan istrimu? Apa hak dia memperlakukan tamu seperti itu? Segera ganti!" Perintah tegas Raja membuat Theo tak mampu berucap.


 


Setelah mendapat wejangan dari sang Daddy, Theo akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan sang resepsionis ke bagian gudang. Meskipun dia terus memohon pada Theo, namun seperti kata sang daddy, bahwa attitude lebih utama dalam bekerja.


"Risa, tolong ke dalam sebentar!" pinta Theo melalui telepon extension kantor.


Tok. Tok.


"Permisi pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau ke kampus sekarang, tolong kamu reschedule semua jadwal meeting hari ini."


"Baik, pak."


"Apa masih ada berkas yang butuh tanda tangan saya?"


Risa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pak."


"Oke, kalau begitu saya pergi." Theo berjalan keluar dari ruangannya yang diikuti oleh Risa.


 


Di kampus Arkana University.


Theo baru saja memarkirkan kendaraannya di parkiran kampus. Dari dalam mobilnya dia memperhatikan seseorang yang tak asing lagi.


"Daven! Ngapain lagi anak ini datang ke kampus?" ucapnya bergumam.


Baru saja Theo keluar dari dalam mobil. Daven datang menghampirinya.


"Pak Theo!" teriak Daven saat memanggil Theo.


Theo pun diam diposisinya berdiri. "Ada apa lagi?" tanyanya dengam nada tidak ramah.


Daven tiba-tiba sujud di kaki Theo. Refleks Theo beringsut mundur. "Apa yang kau lakukan?"


"Seharusnya ini yang aku lakukan pada bapak. Bukan malah menjebak bapak. Jadi tolong maafkan perbuatan saya sebelumnya pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Oke, saya terima permintaan maafmu. Sekarang berdirilah!"


"Bagaimana dengan kuliah saya pak? Apa saya masih bisa lanjut kuliah di sini?" tanyanya sembari berdiri.


Theo mendengus kasar. "Itu di luar kewenangan saya. Semua keputusan tetap berada di Dewan Direksi.


"Tolonglah pak, bantu saya sekali ini saja. Please", pintanya pada Theo seraya mengatupkan kedua tangannya. "Saya janji akan melakukan apa saja yang bapak inginkan, asal saya diterima kembali sebagai mahasiswa.


Theo menatap wajah memelas Daven, sebenarnya dia merasa iba pada Daven, namun sikap tegas sang kakek tidak dapat dia bantah. "Oke, nanti saya coba bicarakan kembali."


"Terimakasih sebelumnya pak", ucap Daven dengan tersenyum.

__ADS_1


"Oke." Lalu Theo melangkahkan kakinya meninggalkan Daven diparkiran.


__ADS_2