Love Me Tender

Love Me Tender
Rafa memanggil Papa


__ADS_3

Theo menghentikan kendaraannya di parkiran sebuah restoran yang terlihat ramai.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Indira dengan rasa gugup, karena mengingat kejadian waktu itu.


"Emangnya kenapa dengan tempat ini. Aku pikir ini tempat yang sangat cocok buat pasangan muda seperti kita."


"Mulai lagi deh", gumam Indira yang jengah dengan sikap sok romantis Theo.


"Ayo, kita masuk", ajaknya seraya mencoba meraih tangan Rafa. Hatinya bahagia kala Rafa tidak menolak tangannya. Namun sesaat kemudian Theo menangkap basah Rafa sedang melihat sepasang suami istri menggandeng mesra putrinya.


Apa mungkin Rafa terinspirasi dari pasangan yang ada di depan kami? Tanya Theo di dalam batinnya.


Mereka terus berjalan menuju meja yang telah dilakukan reservasi oleh Theo.


"Ayo, duduklah!" ujar Theo.


Theo menarik kursi untuk Rafa. "Jagoan Papa duduk di sini", kata Theo.


Rafa mendongak menatap wajah Theo dengan tersenyum. "Terimakasih, Pa", balas Rafa yang berhasil membuat Theo terenyuh.


Theo langsung membawa Rafa masuk ke dalam pelukannya. "Sama-sama, sayang", jawabnya sembari mengusap lembut punggung Rafa. "Papa senang mendengarnya, Nak", lanjut Theo dengan mengecup pucuk kepala Rafa.


"Rafa mau makan apa?" tanya Theo setelah menghentak pelan tubuh Rafa.


"Em, ice cream", sahutnya dengan cengiran kuda.


"Boleh, tapi setelah Rafa makan sesuatu terlebih dulu", tukas Theo.


"Oke, Pa", patuhnya.


Indira mengusap cepat matanya yang mulai berkaca-kaca. Ternyata aku tidak salah mengambil keputusan, ucapnya di dalam batin.


"Mama, pesan apa?" tanya Rafa yang membuat Indira tersentak kaget.


"Em, Mama pesan sama seperti Papamu saja," jawab Indira. Theo mendelik mendengar kata Papamu itu keluar dari mulut Indira.


Sepertinya Rafa adalah kunci untuk menggugah hati Dira, ucap Theo di dalam batinnya.


"Mama pesan sesuai pesanan Papa", kata Rafa seraya menatap Theo.


Namun siapa sangka ada 2 orang yang sedang duduk di meja dengan jarak yang tidak jauh dari meja Theo dan Indira, menatap kesal keakraban mereka.


"Em, sepertinya aku salah ingat. Ini bukan tempat favoritku!" ralat Daven pada wanita yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Dealova, wanita yang berada di samping Daven mengernyitkan keningnya. "Maksudmu apa?"


Daven tidak menjawab pertanyaan Dealova. Sorot matanya masih menatap ke arah Theo dan Indira.


Dealova mengikuti arah pandangan Daven. "Apa kau punya perasaan padanya?" selidik Dealova yang sebelumnya mengira Indira hanya sebatas teman kuliah Daven di LN.


Sontak Daven menoleh ke arah Dealova. "Kenapa kau menanyakan itu?"


"Sorot matamu menunjukkan kau cemburu saat melihat mereka", sahut Dealova seraya membalas tatapan Daven.


"Sudah jangan bahas yang tidak penting! Buruan habiskan makananmu, waktu istirahat kantor hampir usai", elak Daven.


"Cih, si paling taat aturan", ledek Dealova sembari meletakkan sendok dan garpu ditangannya. "Aku sudah selesai", lanjutnya sambil meraih gelas minumannya.


"Kalau sudah, ayo kita pergi", pungkas Daven.


"Tapi itu..." tunjuk Dealova pada makanan Daven yang masih menyisakan setengah.


"Kalau kau masih ingin tetap di sini silakan. Aku pulang lebih dulu", tukasnya sembari bangkit dari kursi.


"Tunggu dulu! Aku ikut!" seru Dealova dengan buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan mengejar langkah Daven yang sudah berjalan meninggalkannya.


Theo yang mendengar samar suara wanita yang dikenalnya sontak melihat ke sekeliling. "Lova", gumamnya saat mengenal Dealova walau yang terlihat hanya punggungnya saja.


Theo sadar kalau Indira memperhatikannya. "Owh itu, aku salah mengenal orang", jawab Theo. Lalu dia lanjut makan desert kesukaannya.


"Papa, Rafa sudah selesai makan", ucap Rafa.


Theo terperangah melihat wajah Rafa yang penuh dengan sisa makanan. "Kenapa bisa seperti ini?"


Indira menoleh ke arah putranya. Dia tersenyum kala melihat Theo dengan begitu telaten membersihkan sisa makanan di wajah Rafa.


"Lain kali biar Papa saja yang suapin", ujar Theo dengan tersenyum bahagia.


"Oke, Pa", balas Rafa. "Ice creamnya mana?" tagihnya.


"Iya, sebentar lagi datang", sahut Theo seraya memanggil pelayan yang sudah dia beritahukan untuk membawa ice cream saat dia memanggil.


"Ini, Pak", kata sang pelayan saat meletakkan ice cream pesanan Theo.


"Terimakasih."


"Sama-sama, Pak", balas sang pelayan. "Bapak butuh sesuatu lagi?" lanjutnya bertanya dengan ramah.

__ADS_1


Theo menggelengkan kepalanya. "Tidak, terimakasih."


"Ini ice cream Rafa. Makan perlahan ya, Nak."


Rafa meraih ice cream pemberian Theo dengan mata berbinar. "Terimakasih, Pa", ucapnya. Lalu dia memakannya dengan perlahan.


Indira pun ikut senang, walau selama ini dia selalu membatasi makanan yang boleh di makan oleh putranya. Semua rasa duka yang dia alami kala sedang mengandung Rafa seketika sirna. Kini dia merasa bahagia melihat putranya tersenyum bahagia.


...---...


Di kantor milik Ratu terjadi kekacauan. Beberapa karyawan yang pro pada pimpinan sementara membuat petisi agar pimpinan tersebut tidak di ganti oleh siapapun.


Beberapa karyawan yang lain menganggap sang pimpinan terlalu serakah, karena mengambil yang bukan miliknya.


Ayahnya Ratu terpaksa turun tangan. Dia datang keperusahaan dan meluruskan permasalahan yang tampak disengaja dibesar-besarkan oleh seseorang.


Setelah penjelasan yang diberikan oleh Ayahnya Ratu beberapa karyawan mulai mengerti, namun ada 2 orang yang membantah ucapan Ayahnya Ratu.


"Berikan kami buktinya!" desak mereka.


"Saya punya buktinya. Saya juga akan melaporkan kalian semua pada pihak yang berwajib", ancam Ayahnya Ratu dengan tegas.


Kedua orang itu mulai gugup. Lalu mereka saling berpandangan dan berbicara dengan bahasa isyarat. Setelah itu mereka beranjak, dan masuk ke dalam ruangan pimpinan.


"Sekarang kita tahu siapa yang sudah menghasut karyawan", kata Ratu pada sang Ayah.


"Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya", ujar sang Ayah sembari duduk di kursi.


"Baik, Pa", balas Ratu. Lalu dia duduk di dekat sang Ayah.


Pemimpin keperacayaan Ayahnya Ratu keluar dari ruangannya bersama kedua pengikutnya.


"Jadi ini balasan Bapak, setelah pengabdian yang kuberikan selama ini?" tanyanya dengan kecewa.


"Jangan membuat masalah menjadi keruh!" tegas Ayahnya Ratu. "Aku hanya menitipkan sementara perusahaanku padamu, tapi kau malah ingin merebutnya!"


"Menitipkan? Apa kata itu cocok setelah belasan tahun berlalu?"


"Apa aku pernah mengatakan berapa lama aku akan menitipkannya padamu?" tamyanya seraya menatap mata Ricky orang kepercayaannya itu.


"Bapak egois!" ketusnya. "Apa Bapak lupa kalau perusahaan ini hampir bangkrut saat Bapak serahkan pada saya? Tapi setelah perusahaan berada di tangan saya, perlahan perusahaan ini kembali maju dan semakin berkembang", lanjutnya.


"Kau selalu memakai alasan itu untuk menarik simpati banyak orang. Tapi apa kau lupa, kalau ini adalah perusahaanku. Semua report keuangan otomatis terkirim padaku. Jadi aku tahu hasil kerja siapa itu semua!" tukasnya yang membuat Ricky gugup.

__ADS_1


"Saya minta Divisi HC memberhentikan semua karyawan yang telah memihak pada Pak Ricky!" pungkasnya seraya bangkit dari tempat duduk. Ratu pun melakukan hal yang sama. Lalu mereka berjalan meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2