
Indira menghentikan langkahnya di ambang pintu keluar. "Rafa, ayo kita berangkat Nak!" seru Indira pada putranya yang masih sibuk membungkus kado yang dia siapkan dengan mendadak.
"Tinggal sedikit lagi, Ma. Jangan desak Rafa gitu, nanti hasilnya jelek", gerutunya.
Indira mulai jengah, dia berjalan masuk kembali dan menghampiri putranya yang masih sibuk merapikan bungkusan kadonya. "Perlu bantuan Mama?"
"Tidak perlu, Ma", jawabnya dengan menggeleng.
Indira melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Mama tunggu 5 menit lagi."
"Sudah selesai", ucap Rafa puas seraya memeluk kado yang akan dia berikan nanti.
"Oke, sekarang kita berangkat", titahnya pada Rafa.
Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar.
...---...
Theo berdiri di balkon kamarnya. Mata nanarnya menatap hamparan langit senja yang akan segera berganti malam.
"Aku harus berusaha meyakinkan Dira, kalau aku benar-benar menyesali perbuatanku", ucapnya bermonolog sambil mendengus pelan. "Tidak akan aku biarkan pria lain menjadi ayah dari putraku", lanjutnya.
Theo masih tetap berdiri di atas balkon kamarnya. Sesaat kemudian dia menatap ke bawah. Tampak Saka sedang bermain bersama putrinya Cha cha. Suara tawa mereka menggelitik hati Theo, hingga air mata haru mengalir begitu saja.
"Uncle Ti!" teriak Cha cha memanggilnya. Theo pun membalas dengan melambaikan tangannya.
"Ayo, kita bermain bersama", ajaknya dengan melambai seolah sedang memanggil.
Theo menggelengkan kepalanya. "Cha cha main sama Papa, saja. Uncle masih ada kerjaan."
Cha cha tersenyum menatap samar wajah sang paman. "Oke, uncle", balasnya. Namum Saka menyudahi permainan mereka, karena langit senja akan segera kembali keperaduannya.
Theo pun tersenyum lalu berpamitan. Dia masuk ke dalam kamar setelah mengunci rapat pintu menuju balkon.
...---...
Di tengah perjalanan menuju rumah Daven, Indira terpaksa menghentikan mobilnya.
"Rafa pegang ini, Nak. Biarkan ponselnya terus menelepon. Kalau Pak Polisi bertanya, kamu bilang ada penjahat. Tolong kami Pak. Kamu ngerti, nak?" tanya Indira yang di balas dengan anggukan oleh Rafa.
"Bagus", ucap Indira. "Tutup mata Rafa, jangan pernah melihat keluar", lanjutnya mengingatkan putranya. Dengan berani Indira turun dari mobil kala melihat 4 orang pria sedang menyerang 1 orang pria yang tampak tidak asing baginya.
Setidaknya ilmu bela diriku sudah meningkat dari sebelumnya, ucapnya di dalam batin dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Hentikan!" titah Indira pada keempat pria yang masih berdiri mengitari seorang pria.
Sontak Ke empat pria garang itu berhenti seraya membalikkan badannya. Namun sesaat kemudian mereka tertawa meledek. "Cih, ada yang sok jadi jagoan", ujar seorang pria berkepala plontos.
Pria lainnya pun kembali tertawa. "Mungkin dia adalah hadiah untuk kita ni**ati setelah berhasil mengalahkan orang itu", tunjuknya pada pria yang berusaha berdiri untuk kembali melawan.
"Kau benar. Si bos memang sangat pengertian", balas pria dengan gambar singa dilengannya.
"Kalau begitu, ayo kita selesaikan dengan cepat", ujar pria bertubuh gemuk. Mereka membalikkan badannya hampir bersamaan.
Indira mulai mengangkat tinggi rok yang hanya disatukan menggunakan tali kain pengikat itu. "Untung aku memakai celana short", gumamnya seraya mengambil kuda-kuda.
Tak menunggu waktu yang lama, Indira sudah menyentak kakinya ke punggung pria garang itu. Ke empat pria itu pun jatuh bergiliran.
"Indira!" seru pria yang hampir babak belur di buat ke empat pria yang menyerangnya.
"Ternyata kalian saling kenal. Bagus kalau begitu", seringai pria berkepala plontos.
Dengan tiba-tiba ke empat pria itu bersamaan menyerang Indira, hingga dia terjatuh. Pria yang ingin di tolong Indira pun mendesah seolah ikut merasakan sakit yang dialami Indira.
"Sudah jatuh!" ledek pria gemuk seraya tertawa keras. "Kan, sudah abang bilang tunggu saja di situ, nanti abang akan melayanimu dengan baik."
Ha. Ha. Ha.
"Kau!" tunjuk pria gemuk dengan kesakitan.
Pria yang di tolong Indira berjalan mendekati Indira. "Terimakasih kau mau membantuku", ucap pria itu dengan perasaan bersalah.
"Ini bukan apa-apa. Aku hanya tidak suka orang lain menindas yang sudah tidak berdaya", sahut Indira. "Kau mengenalku, tapi aku tidak begitu mengenalmu."
"Aku Radit, sahabatnya Theo."
Saat Indira dan Radit sedang asyik mengobrol, mereka tidak menyadari ada bahaya yang sedang menghampiri mereka.
"Awas!" teriak Radit seraya menendang pria yang hampir memukul Indira.
Suara sirene membuat ke empat pria itu berusaha melarikan diri. Salah satu dari mereka berhasil melarikan diri, hingga terjadi saling kejar antara aparat dan pria jahat itu.
"Silakan ikut kami untuk memberi kesaksian", kata seorang aparat.
"Baik, Pak", balas Indira dan Radit bersamaan.
Ketiga pria di giring ke dalam mobil. Sedangkan Radit terpaksa ikut bersama Indira, karena mobil Radit sudah disabotase.
__ADS_1
...---...
Setelah berada di dalam mobil, Indira yang sedari tadi menahan rasa penasarannya kini dia ingin langsung mencecar Radit.
"Mereka - "
"Kau pasti ingin bertanya tentang mereka, kan", potong Radit seolah mampu membaca pikiran Indira.
"Apa kau cenayang?" tanya Indira dengan melirik Radit yang masih fokus menyetir.
"Aku hanya menebak saja. Tapi benar kan, kau mau menanyakan hal itu?"
"Iya, mereka itu siapa. Kenapa mereka ingin mencelakaimu?"
"Aku juga tidak tahu sebenarnya mereka itu siapa. Aku hanya tahu kalau mereka adalah suruhan dari seorang yang bernama Mark, karena mereka tidak sengaja menyebut nama itu."
Indira manggut-manggut, namun raut wajahnya menunjukkan ketidakpuasan atas jawaban Radit. "Jadi kenapa mereka menyerangmu?"
Radit menaikkan kedua bahunya. "Tidak tahu."
Indira mendengus kasar. "Kalau begitu kita dengar saja nanti, setelah tiba di kantor polisi", ucap Indira.
"Nah, itu baru benar", balas Radit yang membuat Indira semakin kesal. "Tapi kau punya anak yang hebat", puji Radit dengan tersenyum.
Indira menoleh ke belakang. Mata nanarnya menatap putranya yang sedang tertidur pulas setelah ketakutan melihat dirinya di serang para pria jahat.
"Apa dia putra Theo?" tanya Radit.
Indira terdiam beberapa saat, lidahnya seakan tercekal kala akan mengatakan kebenarannya.
"Maaf kalau pertanyaanku membuatmu sedih. Aku tidak akan mengungkit hal itu, jika bukan kau sendiri yang akan mengatakannya."
Indira tetap diam hingga kebisuan mengiringi perjalanan mereka sampai ke kantor polisi.
Mereka turun dari mobil dan berjalan mengikuti Pak Polisi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sebuah ruangan. Kesaksian mereka dicatat petugas dan setelahnya mereka diperbolehkan pulang.
Indira buru-buru meninggalkan kantor polisi. "Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang", kata Indira seraya masuk ke dalam mobil. Meskipun dia sudah mengirimkan pesan singkat pada Daven tentang keterlambatannya, namun dia masih berusaha datang dengan segera.
Radit mengangguk meskipun Indira sudah tidak melihatnya lagi. "Aku akan mencarimu kembali dan menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi antara Theo dan Tiara", ucapnya bermonolog.
Radit melangkahkan kakinya meninggalkan kantor polisi. Jarinya mengotak atik ponseknya untuk memesan taksi online. Kini tujuan Radit adalah rumah Theo. Setelah dia mengetahui sebuah kebenaran bahwa Tiara adalah kekasih seorang pria kaya, namun terkenal playboy itu.
Radit yang terpesona akan kecantikan dan kelembutan Tiara membuatnya bertindak secara impulsif. Sebuah keluarga hancur karena campur tangannya. Jika dia tidak membantu Tiara untuk menjebak Theo, maka Theo sudah hidup bahagia bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
"Aku akan memperbaiki kesalahanku", gumamnya seraya berjalan menuju taksi online pesanannya yang baru saja tiba.