Love Me Tender

Love Me Tender
Tamu di pagi hari


__ADS_3

Tiara mengerjap untuk menormalkan netranya dengan cahaya disekitarnya.


"Aku di mana?" tanyanya lirih.


"Kau dikamarku", jawab suara bariton Mark.


Seulas senyum terbit di wajah Tiara. "Terimakasih sayang", ucap Tiara seraya merangkul lengan Mark.


"Lepaskan!" tegas Mark.


Tiara mendongak menatap Mark seraya mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"


"Cih, jangan berpura-pura lugu. Karena kau sudah sadar segera pindah kekamarmu!" tegas Mark.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Pergi sekarang atau aku akan berubah pikiran!"


Kata yang keluar dari mulut Mark membuat Tiara merasa takut. Dia tidak ingin masuk kembali ke dalam ruangan dingin tanpa penerangan itu.


"Oke, aku ke kamar", sahut Tiara seraya bangkit dari tempat tidur Mark.


"Tunggu dulu!" kata Mark saat Tiara baru saja melangkahkan kakinya.


Tiara berbalik sembari tersenyum menatap Mark. "Aku - "


"Bawa sekalian selimut yang sudah kau pakai itu!" titah Mark memotong ucapan Tiara.


Tiara yang semula senang Mark memanggilnya, kini berubah murung karena apa yang di minta Mark untuk dia lakukan. Dengan rasa kesal dia menarik selimut dan membawanya ke luar.


Sudah cukup kau mempermainkanku, batin Mark saat menatap punggung Tiara menjauh.


...---...


Di tempat berbeda, di dalam sebuah kamar. Indira meletakkan koper bawaannya di samping lemari.


"Kalian tidur di sini sementara. Setelah kamarku di desain ulang oleh desainer terkenal, kalian boleh pindah kekamarku", kata Theo sembari meletak Rafa di atas ranjang.


"Apa kau butuh sesuatu?"


Indira menggeleng sebagai jawaban. "Ini saja sudah cukup", jawabnya.


"Oke, kalau begitu aku keluar sekarang."


"Bagaimana kalau kita beritahu Daddy dan Mommymu lebih dulu", ulang Indira.


"Apa kau ingin mengganggu tidur mereka?"


Indira terdiam sesaat. Di satu sisi dia tidak ingin membuat orang tua Theo terganggu, tapi dia juga tidak mau dikatakan tidak sopan, masuk ke rumah orang lain tanpa izin. Meskipun Theo penghuni rumah, namun ada yang lebih berhak atas rumah itu.


"Oke, kalau begitu aku akan bangun lebih awal besok pagi", putus Indira.


Theo melanjutkan langkahnya berjalan ke luar kamar. Baru saja Theo menutup rapat pintu kamar Indira, dia di buat kaget oleh sang bibi yang sedang berdiri mematung di sisi kirinya.


"Kenapa bibi berdiri di situ?" tanya Theo dengan kesal.

__ADS_1


Bi Iyem menatap Theo dengan rasa penasaran. "Apa Non Dira akan menetap di sini lagi, den?" tanya sang bibi sembari mengikuti langkah Theo.


"Kurang-kurangi bergosip, Bi. Perbanyak amal ibadah", jawab Theo sekenanya.


"Bibi hanya bertanya bukan mau bergosip, den", bantah sang bibi.


Theo menatap jengah Bi Iyem yang mengikutinya sampai di depan pintu kamarnya. "Apa Bibi mau tidur di sini?" tunjuk Theo pada pintu kamarnya.


Bi Iyem terpaksa pergi, meskipun dia belum mendapat jawaban atas pertanyaannya.


Lalu Theo membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


...---...


Keesokan paginya Indira benar-benar melakukan seperti apa yang dia ucapkan. Bersama Bi Iyem dia menyiapkan sarapan pagi khusus buat semua anggota keluarga Theo.


"Kenapa Non Dira tidak tinggal di sini saja. Kan, bagus kalau keluarga Non bisa kembali utuh", tanya sang Bibi sambil mengatur piring di meja makan.


Indira tersenyum getir. "Dira maunya seperti itu, Bi. Tapi ada hal yang sulit Dira ungkapkan", balas Indira yang tanpa dia sadari Ratu sudah berdiri dibelakangnya dan mendengar pembicaraan mereka.


Gelagat aneh sang Bibi membuat Indira curiga. Dia pun menoleh ke belakang, sontak Indira kaget melihat sang mertua berdiri dibelakangnya.


"Pagi, Bu", sapa Indira dengan sedikit grogi.


Apa mommy mendengar percakapan kami tadi? Tanya Indira di dalam batinnya.


"Pagi", balas Ratu dengan tersenyum menatap wajah gugup Indira. "Bagaimana tidurmu malam ini?" tanya Ratu tanpa curiga keberadaan Indira di rumah itu.


"Sa-saya tidur nyenyak, Bu", jawabnya.


"Itu artinya kau sangat nyaman berada di rumah ini", imbuh Ratu saat sedang mempersiapkan sarapan khusus buat sang suami.


Ratu menatap Indira dengan tersenyum. "Ya, pergilah", jawabnya.


Indira langsung beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan meninggalkan Ratu dan Bi Iyem. Tidak berselang lama Raja datang menghampiri sang istri yang telah menyiapkan sarapan spesial untuknya.


"Pagi, my queen", sapa pagi Raja.


"Pagi juga, my king", balas Ratu yang membuat Bi Iyem tersipu malu melihat adegan romantis pagi ini.


"Tuan dan Nyonya membuat saya iri saja", kata sang Bibi saat sudah menata rapi meja makan.


Raja dan Ratu sama-sama tertawa mendengar perkataan sang bibi.


Ting Tong.


Suara bel berbunyi menghentikan suara tawa mereka.


"Coba lihat siapa yang datang, Bi", titah Ratu.


Bi Iyem berjalan terburu-buru menuju pintu. Lalu dia membukanya. "Non, Lova", ujarnya seraya mempersilahkan Dealova masuk ke dalam rumah.


Dealova melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu dia berjalan menuju ruang makan tanpa bertanya terlebih dahulu pada Bi Iyem . Dia menduga-duga bahwa seluruh keluarga Theo saat ini sedang sarapan bersama.


"Pagi, Tante. Pagi, Om", sapa Dealova dengan tersenyum ramah. Sontak Raja dan Ratu kaget melihat sang keponakan datang sepagi ini.

__ADS_1


"Pagi", balas Raja dan Ratu hampir bersamaan.


"Ada perlu apa, sampai dstang sepagi ini?" tanya Ratu tanpa basa basi.


"Lova kangen masakan Bi Iyem. Sudah 10 tahun Lova gak merasakannya", jawab Dealova seraya menarik salah satu kursi.


"Masakan Bi Iyem sama saja dengan yang lain", celetuk Ratu. Dia curiga niat sebenarnya Dealova adalah ingin bertemu Theo.


"Beda Tante! Lova sudah pernah mencicipi masakan yang lain, rasanya gak sama."


"Terserah kamu saja. Tapi tolong kamu duduk di sebelah sana saja!" tunjuk Ratu pada kursi yang ada di ujung.


"Emangnya kalau di sini kenapa Tante?" tanya Dealova. Dia tahu bahwa kursi disebelahnya biasa diduduki oleh Theo.


"Itu kursi buat istri Theo."


"Emm, tapi kan istri Theo belum ada", imbuhnya.


"Tante kan sudah bilang Theo sudah menikah!" tegas Ratu.


"Pagi, Dad. Pagi, Mom", sapa Theo saat berjalan menghampiri meja makan.


"Pagi Kak Theo", sapa Dealova dengan tersenyum manis, karena dia mengira Theo tidak melihatnya.


"Pagi", jawab Theo singkat. "Apa kau bisa pindah tempat duduk?" tanyanya pada Dealova.


Raut wajah Dealova seketika berubah murung. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu dia duduk di kursi yang di tunjuk oleh Ratu.


"Pagi, Opa...Oma... Uncle Ti dan ... " Cha cha menghentikan ucapannya kala melihat Dealova.


"Aunty Lova..." sahut Dealova dengan tersenyum.


"Pagi Aunty Lova", sapa Cha cha mengulangi.


Tamara menyapa Dealova hanya dengan sebuah senyuman.


"Ini suamimu?" tanya Dealova saat melihat Saka berjalan di belakang Tamara.


"Hem, Iya. Kenalin ini saudara sepupu aku", ujar Tamara pada sang suami.


"Hai, salam kenal", ucap Saka dengan tersenyum.


"Salam kenal juga", sahut Dealova yang ikut tersenyum. Lalu dia menatap kursi yang ada di samping Theo.


Kenapa aku harus pindah, jika kursi itu tetap dibiarkan kosong, ucap Dealova kesal di dalam batinnya.


"Pagi semua", sapa Indira saat berjalan bersama Rafa menghampiri semua anggota keluarga. "Maaf Rafa sedikit terlambat bangunnnya", lanjut Indira seraya mencari kursi untuk dia duduki.


"Lova, tolong bergeser di kursi sebelahnya", pinta Ratu menunjuk kursi paling ujung.


Dengan hati yang meledak meletup Dealova bergeser ke kursi disebelahnya. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia merasa malu hanya karena perkara kursi.


Indira merasa tidak nyaman, karena dia telah membuat anggota keluarga sang mertua tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Duduklah, sayang. Kasihan Rafa nanti terlambat ke sekolah", tutur Ratu.

__ADS_1


Indira terpaksa duduk di kursi yang sudah di jaga sang mertua untuknya, lalu menikmati sarapan pagi buatannya yang di bantu oleh Bi Iyem.


"Ini pasti masakan Dira! Enak banget", puji Tamara yang diakui oleh Ratu dan yang lainnya kecuali Dealova.


__ADS_2