
Rafa berlari menuju kamarnya, saat mereka sudah berada di dalam apartemen. Sedangkan Indira berjalan menuju kamarnya, menutup pintu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya terasa lelah setelah seharian dirinya sibuk bersama keluarga Theo.
Suara dering ponsel miliknya mengganggu dirinya yang baru saja memejamkan mata.
"Siapa, sih. Ganggu aja", decaknya saat meraih ponsel di atas meja. "Julie", ucapnya kemudian saat melihat nama di layar ponsel.
Indira langsung menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel ditelinganya.
"Halo, Julie", ucapnya.
"Halo, Bu. Saya mau memberitahu kalau Pak Theo sudah mengirimkan email. Dia mengatakan bahwa klientnya menerima draft yang kita buat", sahut Julie dari seberang telepon.
"Oke, nanti saya cek emailnya", balas Indira.
"Baik, Bu. Kalau ada perintah selanjutnya Julie siap kapan pun", ucap Julie.
"Oke, nanti saya kabari."
Indira langsung memutus sambungan telepon. Lalu dia buru-buru membuka laptopnya yang ada di atas meja dan membuka email yang dikatakan oleh sang asisten.
Sorot mata Indira fokus pada layar laptop, hingga dia mengabaikan sosok bayangan hitam yang ada di luar jendela kamarnya.
"Mama!" teriak Rafa ketakutan.
"Ada apa?" tanya Indira bingung.
"Itu!" tunjuk Rafa pada kaca jendela kamar sang Ibu.
Sekelebat bayangan itu pergi saat Indira menoleh untuk melihatnya. "Tidak ada apa-apa", ucapnya seraya berjalan ke arah kaca jendela untuk memeriksa.
"Mama, jangan ke sana!" pinta Rafa masih dengan rasa takut.
"Ini baru jam 4 sore. Tidak mungkin Rafa melihat yang seperti itu!" tegas Indira yang mengira Rafa melihat sosok yang tak kasat mata.
"Tadi beneran ada, Ma", tegasnya namun masih sedikit takut. "Nah, itu... Itu", teriak Rafa sembari menunjuk kaca jendela, lalu Rafa bersembunyi di balik selimut.
Indira berbalik, dia pun terbeliak kala melihat sosok bertubuh tinggi mengenakan pakaian hitam dan penutup kepala, sehingga Indira tak dapat mengenali wajahnya.
Dengan tubuh gemetar Indira meraih ponselnya di atas meja, lalu dia menghubungi kontak Daven. Namun Daven tidak mengangkat telepon darinya. Dia pun mencobanya sekali lagi, dan hasilnya tetap sama.
Indira mulai panik karena sosok orang berpakaian serba hitam itu seolah sedang menatap mereka dari luar. "Siapa lagi yang harus aku hubungi?" tanyanya di dalam benaknya.
"Mama... Rafa takut", katanya dari balik selimut.
"Tenang, ya. Mama lagi menelpon Om Daven", ucapnya yang mencoba menenangkan Rafa.
"Cepat dong, Ma. Nanti orang jahatnya masuk", rengek Rafa masih dari balik selimut. Tubuh kecilnya tak berhenti bergetar, hal itu terlihat jelas dari selimut yang Rafa pakai seakan tak berhenti bergoyang.
Indira meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu dia berjalan menghampiri putranya. Indira membuka selimut yang sudah membuat Rafa sesak.
"Ayo, kemarilah", titah Indira seraya merentangkan tangannya. Rafa pun memeluk sang Ibu dengan sangat erat.
Saat Indira menoleh ke arah jendela kamarnya bayangan hitam itu sudah menghilang. "Kemana dia?" tanya Indira dengan panik. Netra Indira menyusuri setiap sudut ruangan, memastikan bahwa sosok orang berpakaian hitam itu tidak masuk ke dalam kamarnya.
Suara ponsel Indira membuat kaget dirinya sendiri dan juga Rafa.
__ADS_1
"Mama", panggil Rafa berdecak kesal.
"Iya, sebentar Mama angkat telepon dulu", sahutnya.
Ternyata Daven menghubunginya kembali. Dia menjelaskan pada Indira bahwa sebelumnya dia pergi ke toko kue langganan sang Mama, dan meninggalkan ponselnya di dalam mobil.
Indira tidak mempersoalkan hal itu. Dia langsung menyampaikan pada Daven, apa yang baru saja mereka alami sore itu.
Mendengar penuturan Indira, Daven pun emosi. Tanpa pikir panjang, dia langsung memutar balik kendaraannya.
...---...
Hanya butuh waktu 10 menit Daven sudah berada di depan pintu apartemen Indira.
Namun sebelum membuka pintu, Indira mencoba menghubungi Daven terlebih dahulu untuk memastikan bahwa benar dia sedang berada di depan pintu.
Setelah Indira yakin, dia pun membuka lebar pintu apartemennya.
"Daven, syukurlah kau cepat datang. Ayo, kita masuk", ucap Indira dengan raut wajah khawatir.
"Di mana kalian telah melihat orang yang berbaju hitam itu?"
"Di depan jendela kamarku", jawab Indira.
"Apa aku boleh memeriksa ke dalam kamarmu?"
Indira menganggukkan kepalanya. "Tentu boleh. Ayo, ikut denganku", ajak Indira.
Daven meletakkan sekotak kue yang dia bawa di atas meja, lalu berjalan mengikuti langkah Indira menuju kamarnya.
Namun Daven malah fokus pada kamar Indira yang terlihat rapi dan sangat nyaman itu. Untuk pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar Indira. Meskipun sebelumnya di LN mereka tinggal bersebelahan, namun mereka saling menjaga privasi masing-masing.
"Daven!" teriak Indira kala melihat sahabatnya itu tidak fokus pada jendela yang dia tunjuk.
"Owh, maaf. Aku kagum dengan kamarmu. Sangat jelas ini sentuhan tangan dari seorang disainer."
"Jangan fokus ke yang lain. Coba kau lihat ke luar, barangkali penguntit itu masih di sana", desak Indira.
"Iya, sebentar", balas Daven seraya berjalan menuju pintu. Lalu dia membukanya dan berjalan menuju balkon. Sorot matanya melihat ke sisi kanan dan kiri apartemen Indira.
"Bagaimana?" tanya Indira dengan penasaran. Dia takut penguntit itu masih berada di sekitar balkon kamarnya.
"Kalau di lihat jarak setiap balkon tidak terlalu jauh. Ada kemungkinan penguntit itu sedang bersembunyi di salah satu apartemen", jawab Daven dengan serius.
"Jadi kami tidak aman di sini?"
Daven mengangguk sebagai jawaban. "Hem..."
"Kalau begitu, kami harus segera pindah", ucap Indira dengan perasaan was-was.
"Jangan panik. Aku akan bertanya lebih dulu pada pengelola apartemen. Barangkali ada penghuni apartemen yang baru. Kau punya nomornya kan?"
"Iya, ada", sahut Indira seraya mengotak atik ponsel ditangannya, lalu mengirimkan nomor yang di minta Daven.
Daven menghubungi pengelola apartemen. Sementara Indira menghampiri putranya yang masih meringkuh di dalam selimut meskipun Daven ada di sana.
__ADS_1
"Ayo, keluarlah. Paman Daven ada di sini", bujuk Indira.
Rafa menyingkap selimutnya. "Paman Daven mana, Ma?" tanyanya.
"Paman Daven sedang sibuk, Nak", jawab Indira.
"Dira", panggil Daven yang membuat Indira menoleh ke arahnya.
"Ya, apa kata pengelola?"
"Pengelola tidak mengangkat telepon dariku. Aku akan bertanya pada security, barangkali dia tahu."
"Jadi kau akan turun ke bawah?"
Daven mengangguk. "Iya, karena aku bisa sekalian memintanya mengecek CCTV", sahut Daven. "Apa kalian takut, jika aku tinggal?" tanyanya kala melihat raut wajah takut Indira.
"Sedikit takut. Atau kami ikut bersamamu saja", tawar Indira.
Daven tampak berfikir sejenak. "Oke, daripada aku khawatir kalian kenapa-napa", ucap Daven.
Mereka pun sepakat untuk turun bersama ke Lobi apartemen.
...---...
Di tempat berbeda tampak anggota keluarga Theo pulang ke rumah dengan raut wajah bahagia.
"Cha cha senang Oma, ternyata Rafa saudara Cha cha. Besok di sekolah Cha cha langsung bilang sama Mira, kalau Rafa hanya akan membela Cha cha."
"Kenapa Cha cha berfikir seperti itu?" tanya Ratu.
"Selama ini Mira pura-pura baik di depan Rafa, Oma."
Ratu tersenyum seraya mengusap lembut pipi halus cucunya itu. "Gak boleh bernusuhan, nanti teman Cha cha berkurang."
"Enggak apa-apa. Dari pada Cha cha punya teman jahat kayak Mira", ketusnya.
"Eh, gak boleh gitu Cha cha. Kalau temannya melakukan yang salah, Cha cha harus bantu ingatin dong."
"Males ah, Ma."
Tamara menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin jika berkata keras akan membuat mental putrinya rusak.
"Papa...!" teriak Cha cha saat melihat Ayahnya masuk ke rumah.
"Anak kesayangan Papa. Dari mana saja, jam segini masih pakai seragam sekolah?" tanya Saka seraya menggendong putri kecilnya itu.
"Cha cha makan di restoran, Pa", balas Cha cha yang membuat raut wajah Saka berubah.
Tamara melihat ekspresi sedih sang suami. "Maaf sayang, tadi siang Daddy mendadak mengajak kami makan di luar", bohongnya. Dia tidak ingin Saka mengetahui rencana sang Mommy.
"Owh, gak apa-apa sayang. Lagi pula tadi siang aku juga makan di luar", balasnya dengan senyum dipaksakan.
Tamara pun ikut tersenyum. Lalu mereka berjalan menuju lantai atas.
Ratu yang mendengar perbincangan putri dan menantunya hanya bisa diam. Dia tidak ingin rencana yang sudah dia persiapkan itu gagal.
__ADS_1
Kemudian Ratu beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan menyusul sang suami yang sudah lebih dulu berjalan ke kamar.