
Theo semakin panik kala petugas keamanan tidak menemukan Rafa di toilet yang dia minta untuk di cek.
Indira menangis histeris saat Rafa sama sekali tidak dapat ditemukan.
"Maafkan saya, Bu", ucap Julie dengan perasaan bersalah. Dia tidak menyangka kesukaannya pada coklat berujung petaka bagi Rafa.
"Jangan bahas kesalahanmu dulu. Aku pusing!" tukas Indira seraya memijit pelipisnya.
Julie bergegas membantu Indira untuk membuat tubuhnya terasa rileks. Namun Indira menolaknya, dia tidak mau di ganggu sebelum Rafa ketemu.
Theo sedang menginterogasi security yang telah meninggalkan pintu masuk saat pria yang telah memakai seragam OB perusahaannya pergi tanpa halangan.
Kini sang security terancam PHK, karena dia telah lalai melakukan tugasnya walaupun dia beralasan sudah tidak dapat menahan ingin segera pergi ke toilet.
Divisi HC dan IT pun kena imbasnya, karena telah lalai tidak langsung memblokir ID card karyawan yang sudah resign dari perusahaan.
"Permisi, Pak. Mantan karyawan yang Pak Theo minta datang sudah ada di sini", ucap petugas keamanan yang mengantarkan Danu ke ruangan Theo.
Sontak Indira bangkit dari tempat duduknya, saat mendengar penuturan petugas keamanan.
"Mana orangnya?" tanya Indira dengan tidak sabar.
"Ini Bu", jawab petugas itu dengan menyingkir dari hadapan Indira.
"Kamu yang bernama Danu?"
Danu mengangguk sebagai jawaban. "I-iya, Bu."
"Dimana putraku? Apa kau punya dendam dengan Bosmu ini?" tanya Indira seraya menunjuk ke arah Theo.
"Sa-saya tidak melakukannya, Bu!" sahut Danu gugup.
"Jangan bohong!" sergah Indira sembari menatap tajam Danu. "Lepaskan putraku, maka aku tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum", tawarnya.
"Saya berani sumpah, saya memang tidak tahu apa-apa", imbuh Danu dengan sedikit ketakutan. Dia juga merasa bingung, ID cardnya bisa dimiliki orang lain, padahal dia sudah menyerahkan tanda pengenalnya itu pada HC perusahaan milik Theo bersamaan dengan surat resignnya.
Theo langsung mengkonfirmasi kebenarannya pada HC. Tidak ingin dipersalahkan Divisi HC memeriksa kembali berkas yang pernah di terima dan ternyata pernyataan Danu benar adanya.
Tak lama kemudian petugas pengawas CCTV datang dengan membawa nomor plat mobil yang di duga menjadi alat transportasi pria yang telah membawa Rafa di dalam kantong besar hitam.
Theo langsung menghubungi kenalannya yang ada di kantor polisi dan meminta bantuannya untuk melacak kepemilikan mobil itu.
Indira pun tidak mau tinggal diam. Dia menelpon Daven dan memberitahu apa yang telah terjadi pada Rafa. Daven sangat terkejut. Dia langsung bergegas hendak pergi ke kantor Theo.
__ADS_1
Karyawan HC dan IT perusahaan Theo mulai ketar ketir, karena hilangnya putra Theo secara tidak langsung berkaitan dengan mereka.
Theo mulai frustasi kala mendapat info bahwa nomor plat mobil yang di pakai adalah palsu. Dia memijit pelipisnya seraya duduk di kursi.
"Apa kau punya musuh?" tanya Indira sembari berjalan menghampiri Theo.
Theo menggelengkan kepalanya. "Sepertinya aku tidak pernah menyinggung seseorang", jawabnya.
Tiba-tiba Raja dan Ratu masuk ke dalam ruangan. "Apa cucuku sudah ditemukan?" tanya Ratu dengan wajah panik.
"Belum, Mom", sahut Theo.
Ratu menghampiri Indira dan duduk disisinya. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Ratu sembari menatap Indira.
"Maafkan Dira, Mom. Aku sudah lalai menjaga cucu Mommy", jawab Indira yang membuat Ratu sedikit senang mendengar Indira memanggilnya dengan sebutan Mommy. Namun sapaan itu tidak di waktu yang tepat.
"Jangan khawatir! Rafa kita pasti baik-baik saja", ucap Ratu mencoba membuat Indira tenang.
"Kamu sudah lapor polisi?" tanya Raja pada Theo saat dia tidak melihat satu orang polisi pun di sana.
"Belum 24 jam, Dad."
Raja manggut-manggut. "Bukannya kau punya seorang kenalan di sana?"
"Ada, Dad. Aku juga sudah minta bantuannya untuk melacak mobil pelaku. Hasilnya nihil, mobil itu pakai plat palsu."
"Daddy curiga ini ada kaitannya dengan penipu yang menyebabkan kita hampir bangkrut", imbuh Raja.
"Kalau masalah itu nanti kita pikirkan, Dad. Theo tidak tenang sebelum ada kabar dari penculik."
"Kamu benar. Daddy juga sepemikiran dengan kamu, tidak tenang memikirkan cucu Daddy."
Tok. Tok.
"Mungkin itu Daven", tebak Indira.
"Masuk!" titah Theo.
Daven muncul dari balik pintu. "Dira!" serunya sembari mencari Indira.
"Ya, Daven", sahut Indira.
"Apa sudah ada kabar tentang Rafa?" tanya Daven panik. Dia sama khawatirnya dengan Theo. Hal itu membuat Theo cemburu.
__ADS_1
"Kau tidak perlu ikut campur, Rafa adalah putraku sendiri!" tegas Theo. "Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada putraku!"
"Aku bukan mau ikut campur! Tapi Rafa sudah bersamaku selama 5 tahun ini. Dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri!" tegas Daven.
"Stop berdebatnya!" teriak Indira. "Daven hanya ingin membantu, kenapa kau melarangnya?" tanya Indira seraya menatap tajam Theo.
Theo membalikkan badannya dengan berdecak kesal. Dia tidak ingin berdebat dengan Indira di saat Indira mulai mengakuinya sebagai Ayah Rafa.
"Theo..." panggil Ratu. "Mommy rasa apa yang dikatakan Dira ada benarnya. Saat ini kita membutuhkan bantuan yang datangnya dari mana saja, termasuk Daven."
"Apa Rafa memakai jam tangan pemberianku?" tanya Daven.
"Aku tidak ingat pastinya. Sebentar aku tanyakan pada Julie", sahut Indira seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak perlu!" seru Daven. "Aku akan mengecek lewat laptopku saja", lanjutnya.
Indira menuntun Daven menuju meja kerjanya. "Duduk di sini saja", kata Indira.
Daven pun duduk dan membuka laptop yang sengaja dia bawa. Lalu membuka aplikasi yang sudah dia rancang untuk terhubung dengan GPS milik Rafa. Dengan wajah serius dia mengotak atik laptop miliknya.
"Binggo!" seru Daven sembari menjentikkan jarinya.
"Apa kau menemukan lokasinya?" tanya Indira dengan tidak sabar.
"Ya", sahut Daven singkat yang membuat Raja, serta Ratu dan Theo mendelik.
"Apa kau yakin?" tanya Raja.
"Sejauh ini aku yang terbaik di kelasku dalam hal melacak GPS. Ayo, kita ke sana", ajak Daven.
"Tunggu dulu!" seru Theo. "Kita tidak tahu ada berapa orang yang telah menculik Rafa. Aku akan menelpon temanku untuk minta bantuan", lanjut Theo.
Radit orang pertama yang dia hubungi. Setelah itu dia menghubungi pihak yang berwajib.
"Kenapa menelpon Radit?" tanya Indira.
"Dia sahabatku. Setidaknya ada orang yang akan membelaku di sini!" jawab Theo dengan menatap ke arah Daven.
Indira menggelengkan kepalanya. "Apa ini waktunya untuk mencari pembelaan?"
Theo berdiri di sisi kanan Indira. "Kau istriku, tidak akan aku biarkan orang lain berada sangat dekat denganmu", sindirnya.
"Kalau bukan karena Rafa, aku tidak akan pernah sudi untuk datang!" balas Daven dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Indira merasa jengah dengan sikap cemburu Theo. Dia mengajak Ibu mertuanya untuk keluar dari ruangan itu. Raja pun mengikuti langkah mereka di belakang, meninggalkan Theo dan Daven yang sedang bersiteru.
"