Love Me Tender

Love Me Tender
Maafkan Aku Dira


__ADS_3

Daven baru saja memarkirkan kendaraannya dengan sempurna di halaman rumahnya.


"Ayo, turun!" seru Daven saat melihat Indira hanya memandangi rumah tinggalnya itu dari dalam mobil.


"Rumahmu bagus", ujar Indira berdecak kagum.


"Tapi ini tidak sebagus rumah mertuamu sebelumnya."


Indira mengernyitkan keningnya. Otaknya sedikit oleng mengartikan ucapan Daven barusan. Kata mertuamu sebelumnya berarti ambigu bagi Indira, seolah-olah rumah yang ada dihadapannya saat ini adalah rumah mertuanya sekarang.


"Kenapa bengong?" tanya Daven saat membuka pintu di sebelah Indira.


"Bukan apa-apa", sahut Indira, lalu dia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu masuk. "Apa kedua orang tuamu tak akan memarahiku?" Indira berhenti sejenak, dia sedikit ragu untuk meneruskan langkahnya.


"Jangan takut. Papa dan mamaku orangnya baik kok."


Indira kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu. Belum sempat Daven memencet bel, mama Daven sudah membuka pintu.


"Hai Dira, apa.kabar?" sambut mama Daven dengan ramah. "Ayo, kita masuk." Sang mama langsung menggandeng tangan Indira, mereka berjalan masuk bersama-sama mengabaikan Daven dibelakang mereka.


Indira kembali berdecak kagum saat melihat nuansa putih menghiasi rumah yang tampak mewah itu.


"Ayo, duduklah. Tante sudah banyak mendengar cerita tentangmu dari Daven. Katanya beasiswa Dira di cabut karena Theo, cucu pemilik kampus itu."


Indira terdiam sejenak, sebelum menjawab mama Daven. "Sebenarmya dia itu sua..."


Suara nada dering ponsel Rita, mamanya Daven itu mengalihkan perhatian Rita dan Indira. "Tante angkat telpon sebentar ya", ucapnya seraya menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu. Lalu dia berjalan menjauhi Indira.


Sembari menunggu mama Daven berbincang di telepon, Indira mencoba melihat satu foto lama yang di pajang di dinding. "Ini pasti foto Daven sewaktu kecil, lucu juga", ucapnya bergumam namun di dengar oleh Daven.


"Siapa yang mengizinkanmu melihat foto itu?" suara Daven tepat di belakang Indira membuat Indira kaget.


"Sejak kapan kau berdiri di sana?"

__ADS_1


"Sudah dari tadi. Kau saja yang sibuk sendiri, jadi gak tahu kalau ada orang disekitarmu."


Indira tersenyum menampilkan deretan gigi rapihnya. "Aku terpesona dengan paduan warna dan perabotanya. Keren banget!"


"Itu mama yang atur", ujar Daven sembari melangkahkan kakinya berjalan menuju sofa. "Mama lulusan desainer dari luar negeri." sambungnya saat berhasil menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Wah, mamamu hebat! Aku sempat terpikir ingin mengambil jurusan desainer, tapi karena gak ada dalam pilihan saat akan mendaftar beasiswa. Jadi aku memilih jurusan saat ini."


"Kamu masih bisa pilih jurusan itu kalau mau. Lagi pula jurisanmu sekarang baru jalan 1 semester, jadi gak ketinggalan jauh", ucap Rita saat baru saja datang dari arah pantry.


"Dira cukup dengan jurusan yang ada sekarang ini aja tante. Dira gak mau berangan-angan terlalu tinggi."


"Kamu tenang saja, kalau masalahnya mengenai biaya kuliah. Tante akan berikan, walau di luar negeri sekalipun.


"Kalau Dira kuliah di luar negeri, Daven juga ikut ma."


Rita tersenyum saat mendengar penuturan Daven. "Mama senang dengarnya, akhirnya anak mama mau kuliah di luar negeri."


Daven baru saja sadar, kalau ucapannya barusan sama saja dengan dia menyetujui permintaan kedua orang tuanya selama ini, agar dia kuliah di luar negeri.


"Ada apa sih, ma? Ini papa mau turun ke bawah."


"Daven, pa. Dia sudah setuju untuk kuliah di luar negeri", ucapnya dengsn berlonjak kegirangan.


"Mama serius", sahutnya sembari menutup pintu.


Tak berselang lama Daven datang. "Ya, pa. Tapi Dira harus ikut bersamaku."


"Oke, papa setuju. Kalau gitu nanti papa yang urus semua keperluan kalian."


"Terimakasih pa", ujar Daven dengan perasaan bahagia. Tidak lagi dia merasa tertekan seperti sebelumnya karena desakan kedua orang tuanya yang memintanya kuliah di luar negeri.


"Sama-sama, nak", balas sang papa dengan tersenyum lebar. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa sangat bahagia, hingga dia ingin menari-nari mengekspresikannya.

__ADS_1


"Ayo, kita temui Dira di ruang tamu", ajak Rita pada suami dan anaknya itu. Lalu mereka berjalan menuju ruang tamu, namun seketika mereka terkesiap saat melihat Indira sudah tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.


"Dira..." pekik mereka hampir bersamaan. Lalu Daven membopongnya dan meletakkan di atas sofa. Rita langsung menaruh minyak angin di penciuman Indira.


Sesaat kemudian Indira mulai mengerjap dan akhirnya sadarkan diri. "Aku kenapa?" tanyanya sembari memegang kepala.


"Tadi kau pingsan. Dan ini sudah kedua kalinya kau pingsan. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" titah Daven yang takut ada penyakit serius diderita Indira.


Indira pun terpaksa mengikuti perkataan Daven, mereka bergegas pergi ke rumah sakit.


 


Theo sedang duduk ternenung setelah selesai mendaftarkan perceraiannya. Sebenarnya dia takut untuk melakukan perceraian itu, walaupun saat ini ada Tiara yang sangat dia cintai dan sedang mengandung anaknya. Namun sang kakek memintanya, maka dia pun tidak bisa membantahnya.


Theo mendengus kasar kala mengingat semua yang terjadi begitu cepat. Baru saja acara resepsi pernikahannya diadakan, namun dia sudah harus mengurus perceraian itu. Padahal sang kakek pernah menasehatinya untuk mempertahankan rumah tangganya. Entah kenapa sang kakek berubah 100% kala sebuah fakta terungkap, walau kebenarannya masih belum sepenuhnya dibuktikan.


Drrtt.


Ponsel Theo bergetar saat seseorang sedang menelponnya. "Tiara", ucapnya bergumam saat membaca nama kontak yang muncul di layar ponselnya. Refleks jarinya mereject panggilan itu.


Sesaat kemudian ponselnya kembali bergetar, nama yang sama kembali muncul di layar ponselnya. Dengan sedikit ragu, namun akhirnya dia menggeser tombol hijau.


"Kenapa telponku di reject?" terdengar dari ujung telepon suara Tiara yang bernada emosi.


"Tadi gak sengaja jarinya kepleset. Ada apa?" tanya Theo dengan nada datar.


"Apa surat perceraiannya sudah ada?" suara Tiara kembali terdengar dari ujung telepon.


"Apa kau pikir ini aku sedang membuat buku rekening?" kesalnya dan hampir saja menutup sambungan telepon.


"Maaf sayang. Aku hanya ingin kita tinggal bersama secepatnya, agar anak kita nanti terbiasa mendengar suara papanya", ujar Tiara.


"Oke, aku paham", balas Theo. Lalu dia langsung memutus sambungan telepon, sebelum Tiara melanjutkan kata-kata manisnya yang akan membuat Theo semakin pusing.

__ADS_1


Saat ini Theo sedang menatap sebuah foto kenangan yang ada diponselnya. Foto pernikahan seadanya antara dirinya dengan Indira. "Kau sangat manis", ucapnya bergumam. "Maafkan aku Dira, jika aku telah menyakitimu. Aku harap kau akan menemukan seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu. Bukan seperti aku, yang gampang goyah karena cinta." Theo menyimpan kembali ponselnya dan bangkit dari posisinya duduk. Lalu dia berjalan meninggalkan kantor pengadilan itu.


,


__ADS_2