Love Me Tender

Love Me Tender
Niat Jahat Paman Indira


__ADS_3

Indira terdiam sesaat. Kakinya seakan tercekal untuk melangkah melewati sang paman. "Paman ada tikus!" teriaknya mengkambing hitamkan tikus agar sang paman takut.


Benar saja sang paman berjingkat hingga posisinya bergeser dari tempatnya semula. "Mana... Mana...?" tanya sang paman seraya mengangkat kakinya. Indira tidak melewatkan kesempatan itu. Dengan langkah cepat dia melewati sang paman.


Indira bernafas lega saat sudah berada di depan pintu kamarnya. Dia pun masuk ke dalam kamar sebelum sang paman menyadari kebohongannya. Dia mengecek kembali pintu untuk memastikan pintu kamarnya sudah terkunci. Lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas malam sebelum tidur.


Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Indira berjalan menuju meja belajar dan mempersiapkan semua keperluan untuk kuliah esok hari. Rasa kantuk mulai menghampirinya saat baru saja menutup tas ranselnya. Dia pun berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas dada. "Semoga mimpi indah", ucapnya bergumam.


Malam semakin larut, sudah waktunya terlelap dan bahkan mendapatkan mimpi. Namun Indira tiba-tiba terbangun, padahal dia belum bermimpi sama sekali. Dia berjalan menuju kamar mandi. Saat berada di dalam kamar mandi Indira mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Buru-buru Indira mengunci rapat pintu kamar mandi.


"Dira sayang... Kau dimana?" suara sang paman yang bergema di dalam kamarnya.


Indira duduk di balik pintu kamar mandi dengan meringkuh. Dia belum siap untuk melawan sang paman yang mempunyai ilmu bela diri jauh diatasnya.


"Dira... ayo buka pintunya dong. Jangan takut gitu. Paman akan melakukannya dengan pelan sayang", rayu sang paman.


Indira semakin ketakutan mendengar penuturan sang paman. Air matanya jatuh berderai, tak henti membasahi pipinya.


"Apa yang papa lakukan disini?" Suara sang bibi terdengar di dalam kamar Indira.


"Apa urusanmu wanita mandul?" Suara makian sang paman seakan menyayat hati Indira. Sang paman tidak pernah lagi menghargai bibinya itu, setelah 7 tahun usia pernikahan mereka, karena sang bibi tidak bisa memberinya keturunan.


"Dia keponakanku!" teriak sang bibi yang mungkin di dengar oleh tetangga.


"Itu salahmu sendiri. Kenapa kau tak mengizinkanku untuk menikah lagi!"


"Tapi bukan begini caranya!"


"Apa? Kau mau bilang cara kunomu itu!" Pamannya Indira semakin menyudutkan sang istri. "Aku mau darah dagingku sendiri, bukan anak angkat!"


"Iya, tapi jangan dengan Indira!"


"Ah, persetan dengan omonganmu! Aku mau dia sekarang!"


"Jangan... Aah... " Suara tamparan keras membuat ngilu hati Indira. Sebenarnya dia ingin sekali keluar dan melawan sang paman. Namun dia takut akan kalah dari sang paman.

__ADS_1


"Keluar... !" Dengan beringas sang paman menendang pintu kamar mandi. Namun Indira tetap tidak membukanya.


Arrgg... Tiba-tiba terdengar suara teriakan sang paman.


"Apa yang kau suntikkan padaku? Jawab!"


Indira mulai mengumpulkan keberaniannya. Dia keluar dari dalam kamar mandi dengan emosi yang meluap. Namun mulutnya menganga saat melihat sang paman tergeletak di atas lantai.


"Bibi..." panggilnya seraya menghampiri sang bibi. "Apa yang terjadi pada paman?" tanya Indira yang mulai curiga saat melihat sebuah jarum suntik menancap di punggung sang paman.


Dengan gemetar sang bibi menjatuhkan bobot tubuhnya di lantai. "Dia bukan manusia. Dia egois. Tak punya hati. Dia pantas mendapatkannya!" ujar sang bibi yang mulai frustasi.


Indira memberanikan diri menyentuh nadi sang paman. "Masih hidup", ucapnya bergumam.


"Itu hanya obat bius", sahut sang bibi lirih.


"Dari mana bibi mendapatkannya?" tanya Indira seraya menghampiri sang bibi, lalu membantunya berdiri.


"Dari tetangga kita", ujar sang bibi saat Indira menuntunnya duduk di tepi ranjang.


"Satu kali tetangga kita berdiri di teras lantai 2 rumahnya. Dia tidak sengaja melihat pamanmu berdiri sambil memperhatikanmu menjemur pakaian. Dari situ tetangga kita mulai curiga. Hari berikutnya dia melihat gelagat aneh pamanmu yang memaksa untuk mengantarmu ke sekolah."


Indira manggut-manggut. "Jadi tetangga sudah tahu."


"Iya", sahut sang bibi. "Kemaren sore, tetangga kita itu datang ke tempat kerja bibi. Dia bawa sebuah bungkusan yang bibi tidak tahu isinya pada saat itu. Dia hanya berbisik, supaya bibi berani melakukannya saat keadaan darurat. Katanya itu hanya obat bius dan tidak berbahaya."


"Berarti paman akan segera bangun?" tanya Indira dengan rasa khawatir.


Sang bibi mengangguk. "Obatnya hanya bertahan 1 jam, setelah itu pamanmu akan sadar."


"Jadi kita harus bagaimana, bi?" Indira mulai panik, kemungkinan sang paman bisa sadarkan diri sebelum 1 jam.


"Kemasi semua barang-barangmu. Selama 2 hari kedepan kau bisa tinggal di rumah tetangga, menunggu bibi menemukan kos-kosan buatmu."


Indira pun bergegas mengambil koper dan memasukkan semua barang miliknya ke dalam koper.

__ADS_1


Sambil menunggu Indira berkemas, sang bibi menatap sendu suaminya yang masih belum sadarkan diri. Entah apa yang sudah merasukinya hingga nekad hendak menodai keponakannya sendiri.


"Sudah selesai, bi."


Sang bibi mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. "Ayo, kita pergi", ajaknya sambil membantu membawa beberapa barang bawaan Indira.


Mereka melangkahkan kaki keluar, meninggalkan paman Indira seorang diri di dalam kamar. Dan berharap sang paman tidak sadarkan diri hingga Indira sudah berada di rumah tetangga.


Namun perkiraan mereka salah. Sepeninggal mereka, paman Indira terbangun bahkan sebelum mereka pergi meninggalkan kamar Indira.


"Cih, kau pikir dia akan aman di sana", seringai sang paman masih dalam posisi tergeletak. Lalu dia bangkit dari posisinya seraya memegang kepalanya yang sakit akibat benturan dengan lantai.


---


Indira dan sang bibi bergegas masuk ke dalam rumah berlantai dua itu.


"Maaf jadi merepotkan", ujar bibi Indira dengan menunduk, karena jam menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Tidak apa-apa, mba. Kita sesama wanita kaum yang lemah harus bisa saling menolong", ujar sang tetangga. "Ayo, saya antar ke kamar."


Indira dan sang bibi berjalan mengikuti langkah wanita yang terlihat masih muda itu.


"Ini kamarnya", ucapnya saat baru saja membuka pintu kamar. "Maaf kamarnya sedikit sempit."


Indira dan sang bibi berjalan masuk ke dalam kamar. "Gak apa-apa tante. Ada tempat untuk tinggal saja Dira sudah bersyukur", sahut Indira seraya menatap wajah wanita yang sedang tersenyum padanya.


"Sekali lagi terimakasih ya mba. Saya janji Dira disini untuk 2 hari saja."


"Sudah saya katakan, keberadaan Dira bukan beban buat saya. Jadi jangan sungkan ya, mba."


Sang bibi berpamitan pulang sambil menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan sang suami. "Sekali lagi terimakasih, mba. Saya titip Dira di sini."


"Mba tenang aja. Dira aman di sini."


"Dira, bibi pulang dulu. Besok kita cari kos-kosan buatmu", ujar sang bibi. Lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan Indira bersama tetangganya.

__ADS_1


"Tante tinggal ya. Jangan lupa kunci pintu", ucap wanita itu seraya melangkahkan kakinya menjauhi kamar Indira saat ini.


Indira pun masuk ke dalam kamar, menutup rapat pintu dan menguncinya dari dalam.


__ADS_2