
Saka, pria yang sedang menggendong tubuh Tamara itu, berlari dengan terburu-buru menuju resepsionis rumah sakit.
"Tolong dia sus!" pintanya dengan nafas yang memburu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya sang perawat saat melihat Tamara yang dalam kondisi lemah itu di taruh di atas brankar.
"Langsung cek kondisinya saja sus! Ini bukan untuk dibicarakan di depan orang banyak", sergah Saka dengan perasaan gelisah.
Sang perawat seakan tak teeima dengan ucapan Saka. Dia pun langsung mendorong brankar itu masuk ke dalam ruang IGD, tanpa mengucapkan sepata kata. Saka hanya bisa menunggu di luar ruangan, sambil berharap Tamara bisa menerima kenyataan pahit itu. Tiba-tiba dia teringat pada keluarga Tamara. Dia yakin keluarganya pasti sangat risau karena Tamara belum juga kembali dari kampus.
Saka mencoba mencari ponsel milik Tamara yang ada di dalam tasnya. Sesaat setelah ketemu, Saka langsung mrenyalakannya dan mencoba mencari kontak keluarganya, namun dia tidak berhasil karena layar ponsel Tamara di beri sandi. Saka memasukkan kembali ponsel milik Tamara itu.
"Bagaimana ini. Siapa lagi yang harus aku hubungi?" Saka bergumam sembari mengusap kasar wajah mulusnya. "Indira..." ucapnya sambil mencari kontak Indira, namun tiba-tiba jarinya berhenti menscroll. Dia baru tersadar kalau Indira sudah tidak bersama keluarga Tamara lagi. Lalu Saka duduk di kursi tunggu, menyandarkan tubuh kekarnya dan menatap nanar pintu ruang IGD.
Raja dan pengawalnya baru saja tiba di tempat kejadian perkara. Buru-buru dia menyusuri tempat itu, meskipun orang suruhannya mengatakan tidak menemukan siapa pun di sana. Setelah benar-benar tidak menemukan siapapun di sana, Raja keluar dari gudang tua itu.
Tiba-tiba sebuah mobil asing menepi di sana. Seorang pria paruh baya keluar dari dalamnya.
"Permisi, pak. Bapak-bapak ini sedang mencari apa ya?" tanya pria yang baru saja datang di tempat itu.
"Bukan urusan bapak!" sergah seorang pengawal.
"Apa kalian mencari seorang wanita cantik berambut panjang?"
"Siapa kau? Apa kau termasuk dalam komplotan penculik itu?" selidik pengawal Raja dengan menarik kerah pria itu.
"Cih, beginikah caramu berbicara dengan orang yang lebih tua?" Pria itu membalas dengan menatap tajam pengawal yang sedang menarik kerah bajunya.
"Lepaskan!" titah Raja sembari menghampiri pria itu. Setelah pengawal itu melepaskan kerah pria itu, Raja langsung berdiri tepat dihadapan pria itu. "Siapa kau? Apa tujuanmu datang kemari?"
"Aku adalah orang yang sudah mengantar wanita malang itu", sahut pria itu dengan rasa iba.
"Apa yang terjadi pada putriku?"
"Jadi dia putri bapak?" Pria itu mendengus kasar, rasanya sulit untuk dia melanjutkan ucapannya. "Sekarang dia ada di rumah sakit."
"Ayo, kita ke sana sekarang!" Raja langsung menarik tangan pria itu dan memintanya mengemudi mobil miliknya, sedangkan mobil milik pria itu dia serahkan pada pengawalnya.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama mereka pun tiba di rumah sakit.
"Saya hanya bisa mengantar di sini pak, karena tadi saya juga gak masuk ke dalam. Ada seorang pria tampan yang menemaninya di dalam."
"Tidak bisa! Kau harus tetap ikut, karena hanya kau yang bisa mengenali pria itu."
Pria itu tampak berfikir sejenak, dia tak ingin pria yang sudah menyewa mobilnya itu marah padanya. "Tapi aku hanya bisa menunjuk dari kejauhan saja", ujar pria itu.
"Baik. Ayo, kita kesana."
Mereka pun berjalan buru-buru menuju meja resepsionis. Pria paruh baya itu bertanya tentang seorang wanita yang baru saja masuk dalam keadaan yang sulit dia jelaskan bersama seorang pria yang menemaninya.
Sang resepsionis tidak mengerti maksud pria itu. Dia menyarankan mereka menunggu di ruang IGD saja.
Raja langsung membawa pria itu ke ruang IGD.
"Pak, berhenti di sini." Pria itu menarik tangan Raja hingga menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Oke, sekarang kau boleh pergi", ucap Raja pada pria itu. "Berikan dia kunci mobilnya!" titah Raja pada pengawalnya.
"Baik Tuan", sahut sang pengawal sembari memberikan kunci mobil milik pria itu.
"Terimakasih atas bantuannya."
"Sama-sama", balas pria itu dengan sedikit kesal. Dia mengira bahwa Raja akan memberikannya imbalan atas informasi yang dia berikan.
"Berikan pria itu uang ini!" pinta Raja pada salah satu pengawalnya, karena dia paham maksud dari tatapan pria itu. Lalu Raja melangkahkan kakinya menghampiri Saka.
"Eh, pak. Syukurlah bapak ada disini", ucap Saka yang tersentak kaget saat melihat Raja ada di sana.
"Cih, jangan berpura-pura lagi! Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" sergah Raja dengan menarik kerah baju Saka.
"Bapak salah paham. Saya hanya membawa Ara ke rumah sakit. Bukan saya pelakunya, pak."
"Jangan ber..."
__ADS_1
"Keluarga pasien atas nama Tamara?" Suara perawat memanggil menghentikan ucapan Raja.
"Ya, saya ayahnya, sus."
"Silakan yang boleh masuk hanya 1 orang."
"Baik, sus", sahut Raja dengan nada lirih.
Raja masuk ke dalam ruangan untuk menemui putrinya itu dengan berpakaian steril. "Ara..." panggil Raja saat sudah berada di sisi ranjang Tamara. "Apa yang sudah terjadi, nak?" tanya Raja dengan sendu.
"Daddy..." teriak Tamara sembari memeluk Raja. Sesaat kemudian air matanya sudah membasahi kemeja putih sang ayah. "Su-sudah ti-tidak ada lagi artinya Ara hidup, dad", ucap Tamara dengan terisak.
"Jangan berkata seperti itu!" Raja mendorong tubuh Tamara, agar dia dapat melihat jelas wajah putri kesayangannya itu.
"Ara sudah hancur! Ara sudah kotor, dad!" ucapnya seakan jijik dengan dirinya sendiri.
Raja mendelik kala mendengar ucapan Tamara. "Jadi mereka sudah meno- " Lidahnya tercekal saat akan mengatakan perbuatan terkutuk itu. Hatinya pun hancur berkeping-keping. Tubuhnya beringsut mundur dan tak berdaya.
Tamara mengangguk sambil menangis. "Jadi untuk apa lagi Ara hidup, dad!"rutuknya sembari memukul tubuhnya sendiri, seolah jijik dengan dirinya sendiri.
Raja berusaha kuat kembali. "Cukup Ara. Jangan sakiti dirimu. Daddy akan menyelesaikan hal ini", ucapnya dengan amarah yang meledak-ledak.
Lalu Raja mengurus proses administrasi dan membawa Tamara keluar dari rumah sakit. Dia juga telah meminta perawat khusus yang akan merawat Tamara di rumah. Raja melarang pihak rumah sakit melaporkan hal itu ke pihak yang berwajib atau media. Raja meminta pihak rumah sakit merahasiakan hal itu dari siapapun. Bahkan Raja mengancam akan memproses pihak rumah sakit ke ranah hukum, jika hal itu sampai tersiar.
Dalam perjalanan menuju rumah kediaman Raja. Dia meminta Saka yang ikut bersama dengannya menceritakan apa yang dia ketahui. Setelah mendengar cerita Saka, dia langsung meminta para pengawalnya menyelidiki daerah disekitar kejadian barangkali ada CCTV yang mengarah ke jalan menuju tempat itu.
Para pengawal itu tidak menunda perintah bos mereka. Dengan sigap mereka pergi menyusuri tempat itu.
Saka yang sedari tadi tenang, sedikit terusik dengan apa yang akan dilakukan pengawal Raja. Dia takut meraih ponsel dari dalam saku celananya, karena Raja selalu menatapnya dengan curiga.
"Kenapa kau menyewa mobil? Kenapa tidak menggunakan motormu saja, kan lebih mudah melarikan diri kalau memang tujuanmu untuk menyelamatkan Ara waktu itu." Pertanyaan itu berhasil membuat Saka ketar ketir.
"Maaf om, waktu itu saya tidak tahu kondisi Ara seperti apa. Seandainya Ara terluka, saya pikir kalau naik motor akan sulit untuk membawanya ke rumah sakit."
"Benar apa kata Saka, dad. Jangan mencurigai dia terus. Ara sangat bersyukur sudah di tolong oleh Saka. Jika tidak ada dia, bisa saja Ara melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri."
Raja hanya bisa diam saat mendengar penuturan putrinya itu. Namun di dalam pikirannya terus berkecamuk. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan pria muda yang duduk disamping supir itu.
"Lebih cepat lagi!" titahnya pada sang pengawal. Raja mulai merasa gerah, meskipun pendingin udara dalam mobil itu sudah lebih dari kata sejuk.
__ADS_1