
Seluruh keluarga inti Theo melangkahkan kakinya meninggalkan gedung setelah acara pernikahan itu selesai. Berbeda dengan acara pernikahan pada umumnya yang mengundang banyak tamu, acara pernikahan Theo dan Indira hanya dihadiri keluarga inti kedua belah pihak.
Setelah beberapa menit diperjalanan, keluarga Theo pun tiba di rumah kediaman mereka.
"Lelah sekali!" ucap Tamara menghela nafas seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.
"Mommy ke atas dulu", ujar Ratu, lalu dia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Sang suami yang berada tepat dibelakangnya pun mengikuti.
"Tolong kamu urus sahabatmu itu, dek", pinta Theo saat melihat Tamara duduk di sofa.
"Kenapa harus Ara, kak?" Tamara berdecak kesal karena di beri tugas yang tak ingin dilakukannya.
Tak berselang lama Indira pun masuk ke dalam rumah. Dengan sedikit ragu dia meneruskan langkahnya memasuki rumah mewah yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Cih, si penipu datang." Tamara bangkit dari sofa lalu berjalan menghampiri Indira. "Ayo, ikut denganku", ujar Tamara dengan menatap Indira sekilas, lalu melanjutkan langkahnya menuntun Indira ke sebuah ruangan.
"Ini kamarmu!" ujar Tamara menunjuk dengan ekor matanya sebuah ruangan sempit tanpa pendingin ruangan.
"Terimakasih, Ara", sahut Indira sambil tersenyum ke arah Tamara.
"Buka saja topengmu. Jangan berpura-pura lagi", ujar Tamara dengan tatapan sinis. Lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan Indira seorang dirim
Seorang wanita tiba-tiba datang menghampiri Indira saat Indira baru saja akan masuk ke dalam kamar barunya itu. "Setelah beres-beres pakaian, langsung ke ruang makan ya", ucap orang tersebut tanpa memperkenalkan dirinya. Lalu dia meninggalkan Indira yang masih berdiri dengan wajah bingung.
Indira berjalan menghampiri keluarga Theo yang sudah berkumpul di meja makan.
"Kenapa lama sekali?" tanya wanita yang telah memintanya datang ke ruang makan.
"Ma- maaf, tadi banyak yang mau dibereskan", ujarnya gugup seraya menarik salah satu kursi lalu menempelkan bokongnya di kursi itu.
"Kenapa duduk di sana?" tanya wanita yang tak lain adalah pembantu di rumah Theo.
Indira mengernyitkan keningnya. "Apa kursi ini sudah ada pemiliknya?" tanyanya dengan polos.
__ADS_1
Pembantu wanita itu pun menghampiri Indira. "Ayo, bantu siapkan semua makanan!" ucapnya seraya menarik tangan Indira.
Indira menatap semua anggota keluarga Theo dengan bergantian, seakan meminta pembelaan pada mereka.
"Bagaimana dengan pembantu barunya, bi? Apa kerjanya lambat?" tanya Ratu saat melihat Indira hanya diam diposisinya berdiri tanpa melakukan apapun. Indira tersentak mendengar ucapan sang mertua. Dia berjingkat seraya memegang kursi saat tubuhnnya hampir merosot.
"Ibu tenang saja. Di tangan saya, dia pasti akan berubah", ujar sang bibi yang sudah sangat lama bekerja dengan keluarga Raja itu.
Indira menjulurkan tangannya meraih wadah air minum, lalu menuang air ke dalam gelas kosong di atas meja. Semoga akan ada hari baik bagiku, batinnya.
Setelah semua makanan terhidang di atas meja, seluruh keluarga langsung menikmati makanan itu. Namum tak ada seorang pun di antara mereka yang meminta Indira untuk duduk dan makan bersama dengan mereka.
Indira menelan salivanya saat keluarga Theo makan dengan begitu lahap.
"Apa kau mau?" tanya Tamara saat akan menelan suapan sendok terakhir ke dalam mulutnya. "Makanya kerja yang benar! Jangan jadi penipu!" ledek Tamara.
Indira tertunduk lesu saat mendengar penuturan Tamara. Dia tak tahu apa kedepannya dia akan sanggup menjani kehidupan seperti itu.
Keluarga Theo meninggalkan ruang makan bergantian saat mereka sudah merasa kenyang.
"Kau cuci semua piring, bibi makan duluan", ujar sang bibi memerintahkan Indira seraya meninggalkannya bersama tumpukan piring kotor.
Perut keroncong Indira yang sedari tadi berbunyi, membuatnya merasakan perih di bagian ulu hatinya. Dengan menahan rasa perih, Indira berusaha membersihkan semua piring kotor. "Akhirnya selesai", ucapnya bergumam, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Mau kemana?" tanya sang bibi sambil membawa sepiring lauk ditangannya.
"Mau makan, bi", sahut Indira lirih.
"Ini makanlah di dapur", ujar sang bibi seraya memberikan piring yang ada ditanggannya.
Indira mendelik tatkala melihat setengah potong daging berukuran kecil tersisa di piring yang sedang dia pegang. "Apa lauknya tinggal ini saja, bi?" tanyanya dengan sopan.
"Makan saja! Jangan banyak maunya." Sang bibi melangkahkan kakinya menjauhi Indira yang masih mematung diposisinya berdiri sembari memegang piring ditangannya.
Indira tersentak saat menyadari dirinya mulai berlaku tamak. "Benar kata bibi, aku hanya tinggal makan saja" ucapnya bergumam, lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan menyantap makanan sisa itu dengan rasa syukur.
__ADS_1
Mentari senja dengan malu bersembunyi di ufuk timur. Senja yang kelam bagi Indira, bahkan untuk hari-hari berikutnya.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu mengganggu istirahat Indira yang baru saja akan memejamkan mata.
"Siapa?" tanya Indira saat akan membuka pintu.
"Kenapa kau di dalam kamar terus? Tanya sang bibi dengan wajah emosi. Dia pun meminta Indira segera beres-beres. Indira menuruti sang bibi dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Saat melakukan pekerjaan layaknya pembantu itu, Indira tanpa disengaja bertemu dengan Theo yang sedang menuruni anak tangga. Indira pun menyapanya dengan sopan. "Sore pak, ada yang bisa dibantu?" Namun Theo mengabaikannya. Dia berlalu melewati Indira tanpa menoleh.
Indira hanya bisa menelan pahit semua perlakuan dari keluaega yang tidak menginginkannya sebagai menantu di keluarga itu. Dia melanjutkan pekerjaan sebagai pembantu dan bersikap sopan seperti biasanya.
"Apa keinginanmu sebagai nyonya besar tidak terpenuhi?" ledek Tamara saat akan melewati Indira.
"Ara..", panggil Indira dengan lirih, namun Tamara tidak memperdulikannya lagi. Amarahnya telah membuatnya memutus tali persahabatan mereka.
---
Senja sudah meninggalkan peraduannya digantikan dengan malam sepi, yang menemani hati yang rindu akan seseorang.
Indira menatap nanar langit gelap tanpa bintang, yang seolah-olah melukiskan keadaan hatinya saat ini. Tanpa aba-aba air matanya pun jatuh bebas membasahi pipi mulusnya.
"Pa, ma, kalian di mana?" tanya Indira seraya mencari bintang yang tak kunjung muncul. Indira mulai menekan dadanya yang terasa sesak karena menahan tangis yang tak ingin berhenti.
"Dira rindu pa, ma. Janganlah sembunyi lagi. Dira tak kuat kalau sendiri. Tolong bawa Dira." Indira meluapkan perasaannya sembari mengusap air mata yang tiada henti mengalir.
Desiran angin malam membuat Indira mulai merasa kedinginan. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Namun saat akan membuka pintu, Indira panik. Tangannya tak berhasil membukanya.
"Bi... Bibi... Tolong buka pintu!" teriak Indira dengan rasa cemas. Namun tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
"Bibi...", panggil Indira tiada henti disertai gedoran kuat tangan Indira, namun hasilnya tetap sama.
__ADS_1
Indira menatap ke sekeliling, mencari penjaga gerbang, namun tak dapat dijangkau oleh netranya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju pos penjaga gerbang yang berjarak 1 km dari teras rumah.