Love Me Tender

Love Me Tender
Theo Menggendong Indira


__ADS_3

Theo dan Indira tidak banyak bicara setelah mobil yang Theo kemudikan melesat meninggalkan gerbang sekolah Rafa dan Cha cha.


"Apa kau memikirkan Ara?" tanya Theo memecah keheningan.


Indira membuang nafasnya ke udara seraya menoleh ke arah Theo. "Aku khawatir pada Cha cha. Bagaimana reaksinya nanti saat tahu Papa dan Mamanya berpisah."


"Dia pasti menangis seharian, tidak makan dan tidak mau di bujuk oleh siapapun sebelum dia bertemu dengan Papanya.


Indira terdiam mendengar penuturan Theo. Dia merasa kasihan pada Cha cha yang masih kecil. "Apa aku boleh mencoba untuk membujuk Saka?"


Theo mendelik seraya melirik sekilas ke arah Indira. "Apa kau yakin bisa membujuknya?" Theo tidak ingin Saka kembali pada Tamara hanya karena perkataan Indira. Dia ingin Saka kembali karena Saka benar-benar mencintai Tamara.


"Aku akan mencobanya. Jadi kau mengizinkan aku berbicara padanya?" tanyanya kembali.


Theo senang Indira meminta izin terlebih dahulu padanya. Itu berarti Indira telah menganggapnya sebagai suami.


"Emm, aku mengizinkanmu. Tapi jangan sampai Saka mengira Tamara mengemis cinta padanya."


"Oke", jawab Indira.


Theo membalas Indira dengan tersenyum, lalu dia menepikan kendaraannya di sebuah cafe.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Indira.


"Aku suka kopi di sini dan kebetulan aku masih mengantuk", sahut Theo seraya keluar dari dalam mobil. "Apa kau butuh sesuatu?" tanyanya saat akan menutup pintu.


Indira menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh apa-apa", jawabnya.


"Oke, kalau begitu aku tinggal sebentar." Theo melangkahkan kakinya menjauhi mobilnya yang sedang di parkir, namun sesaat kemudian langkah Theo berhenti. "Saka", gumamnya seraya menyipitkan mata. "Siapa wanita disampingnya?" Theo semakin penasaran. Jarak yang cukup jauh menyulitkan Theo untuk melihat teman Saka yang ada di dalam mobil.


Indira menurunkan kaca mobil, lalu menjulurkan kepalanya. "Kenapa masih berdiri di situ?" tanyanya dengan bingung.


"Owh, bukan apa-apa", balas Theo. Lalu dia melanjutkan langkahnya, berjalan masuk ke dalam cafe.


Indira mengernyitkan keningnya sambil menatap tingkah mencurigakan suaminya itu. "Pasti ada yang dia sembunyikan", tebaknya bergumam.


...---...


Theo dan Indira tiba di kantor, setelah perdebatan keduanya mengenai Saka. Theo mengingkari ucapannya, dia tidak mengizinkan Indira untuk pergi menemui Saka, karena dia takut sesuatu pada Indira.


Theo turun dari mobil, sedangkan Indira merengut dan tidak mau turun dari dalam mobil.


"Ayo, turunlah", bujuk Theo. Namun Indira bergeming.

__ADS_1


Theo mendekati Indira hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Theo mengangkat tubuh Indira yang membuat Indira tersentak kaget.


"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" desak Indira yang merasa malu karena para karyawan menatap mereka sembari berbisik. Indira malu dan menangkup mukanya dengan kedua tangan.


"Pagi Pak.Theo", sapa wanita dari Departemen IT yang pernah bertemu dengannya di dalam lift.


"Pagi", balas Theo seraya menahan tubuh Indira yang terus meronta.


"Bu Indira kenapa, Pak?"


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, lalu Theo masuk ke dalam lift masih dengan menggendong Indira.


"Kamu tidak masuk?" tanya Theo saat melihat wanita itu tidak beranjak dari posisinya berdiri.


Wanita itu menatap Theo dengan tersenyum. "Tidak Pak", sahutnya sembari menggelengkan kepala.


"Turunkan aku!" ucap Indira saat pintu lift tertutup rapat.


Theo pun menuruti permintaan Indira. "Lain kali dengarkan ucapan suamimu ini", ucap Theo dengan mencubit gemas pipi Indira.


Indira terbelalak melihat keberanian sang suami. "Aku belum menerimamu sepenuhnya!" ucapnya mengingatkan Theo.


"Ya, aku tahu. Dan tak lama lagi kau akan menerimaku", sahut Theo dengan percaya diri. Lalu dia menggandeng tangan Indira keluar, saat pintu lift terbuka lebar di lantai yang ingin mereka tuju.


...---...


Mata nanarnya menatap ruang sempit tanpa pendingin udara itu. Dia harus menerima resiko akibat kekacauan yang dia ciptakan sendiri.


Dalam hening dia menangis, menyesali keputusan yang dia ambil 9 tahun yang lalu. Andai saja dia tidak mengenal Mark dan tetap yakin akan cintanya pada Theo, maka dia tidak akan bernasib seperti saat ini.


Nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan selalu datang belakangan. Kata yang sangat menyayat hati Tiara. Kini dia hanya bisa berpura-pura patuh pada Mark agar tidak mendapat celaka.


...---...


Di tempat lain Daven sedang sibuk membuka galery foto di ponselnya. Dia membuka satu per satu foto kenangan dirinya dan Alana sewaktu berada di LN.


Sesekali Daven tersenyum kala melihat foto yang membuatnya bahagia.


"Aku rindu masa-masa kita bersama", gumamnya seraya menatap foto dirinya dan Indira yang sedang hamil besar.


Duar...!

__ADS_1


Dealova tiba-tiba menepuk pundak Daven. "Lagi lihat apaan? Serius amat", tanya Dealova tanpa rasa bersalah.


"Hampir saja ponselku jatuh", ucap Daven kesal.


"Iya, maaf. Aku hanya bercanda."


"Lain kali jangan diulangi!" ketusnya seraya mengunci layar ponselnya.


"Iya, bawel!" imbuh Dealova.


"Ada apa kau kemari?" tanyanya masih dengan nada ketus.


"Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih marah-marah!" kesal.Dealova.


Daven beranjak dari posisinya. Dia sedang tidak mood melayani sikap.manja Dealova.


"Eh, tunggu dulu. Kau mau kemana?" tanya Dealova sembari mengejar Daven. Dia tidak punya teman untuk ngobrol atau lebih tepatnya teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya selain Daven.


Daven terus melangkahkan kakinya hingga dia sampai di toilet. "Apa kau akan masuk?" tanya Daven.


Dealova baru menyadari bahwa Daven berada di toilet. "Aku tunggu di luar", sahutnya sembari membalikkan badannya dan berjalan ke luar.


...---...


Di dalam ruangan Theo. Indira masih sibuk membolak balikkan draft yang akan dia serahkan dalam pertemuan dengan klien siang ini.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Theo. Lalu dia berjalan menghampjri istrinya yang sedang merapikan berkasnya di atas meja.


"Sudah. Aku hanya tinggal memasukkannya ke dalam amplop."


"Kalau sudah selesai, ayo kita pergi!" ajak Theo.


Indira melihat jam yang melingkar ditangannya. "Masih satu jam lagi", sahutnya dengan kesal.


"Tapi aku sudah lapar. Aku tidak akan bisa makan sepuasnya jika sedang berhadapan dengan klien."


Indira menatap jengah sikap Theo yang selalu ingin menciptakan momen mereka berduaan. Namun tak dapat dia pungkiri, Theo yang ada dihadapannya saat ini jauh berbeda dengan Theo yang dia kenal 5 tahun yang lalu.


"Ayo, kita pergi", kata Indira seraya membawa amplop berisi draft desain miliknya.


Theo langsung meraih tangan Indira. Dia selalu ingin menunjukkan kemesraannya di depan semua orang.


"Coba pegang dulu", pintanya pada Theo seraya memberi amplop yang ada ditangannya pada Theo. Theo pun menerimanya. Lalu Indira meraih ponselnya dan menghubungi Julie.

__ADS_1


"Oke, terimakasih", sahut Indira saat mengakhiri pembicarannnya di telepon.


"Dia sudah menjemput Rafa dan Cha cha", kata Indira saat Theo sedang menatapnya.


__ADS_2