Love Me Tender

Love Me Tender
Perundungan


__ADS_3

Mentari pagi sudah muncul di ufuk timur. Indira pun selesai membersihkan peralatan dapur dan seluruh ruangan tempat tinggalnya saat ini.


"Apa kau tidak tidur semalaman?" Nyonya rumah tempat Indira tinggal dibuat terbelalak saat mendapati rumahnya bersih saat pagi-pagi sekali.


"Maaf tante, cuma ini.yang bisa Dira lakukan. Sekarang Dira mau siap-siap ke kampus." Indira menatap pemilik rumah dengan mengiba. Dia tidak ingin pemilik rumah tersebut mengusirnya sebelum menemukan kos-kosan.


"Ini bukan hanya cuma, tapi ini sudah lebih dari yang bisa tante lakukan setiap pagi", ujarnya dengan berdecak kagum. "Tapi tante kuatir, kau sampai tidak tidur hanya untuk melakukan ini semua."


Indira menghela nafas lega, karena pemilik rumah puas dengan hasil kerjanya. "Tante tenang saja. Dira bisa atur waktu kok."


"Baguslah kalau begitu. Sebelum berangkat sarapan dulu", ujar pemilik rumah seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Indira. Dia pun ada jadwal piket pagi ini di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Baik, tante!" Indira mengeraskan suaranya, agar pemilik rumah mendengarkannya. Namun tiba-tiba suami pemilik rumah keluar dari dalam kamar. "Ma-maaf, Om. Dira gak bermaksud mengganggu", ucap Indira sedikit gugup.


Pria bertubuh gemuk itu pun menghampiri Indira. Dengan rasa trauma yang masih ada, Indira beringsut mundur dan menundukkan kepalanya.


"Jangan takut, om tidak seperti pamanmu." Suara lembut pria itu membuat Indira memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "Om, sudah dengar semua masalahmu dari tantemu. Kalau saja bibimu tidak melarang kami untuk melaporkan pamanmu ke pihak yang berwajib, maka kejadian malam tadi pasti tidak akan terjadi." Pria itu mendengus kasar saat amarahnya muncul tatkala menyebutkan peristiwa tadi malam. "Tapi syukurlah kau tidak kenapa-napa." Pria itu menatap iba Indira.


"Kita lupakan saja semua yang buruk itu, karena itu sudah berlalu dan semoga kau betah tinggal di sini, walau untuk sementara", ucapnya seraya tersenyum ke arah Indira. "Kalau begitu Om tinggal, ya", ujarnya sambil beranjak dari posisinya berdiri, lalu kembali masuk kedalam kamar.


Indira tersentuh dengan ucapan pria seumuran pamannya itu. Dia pun kembali bersemangat pagi ini, walau masih ada rasa trauma akan kejadian malam itu.


 


"Ayo, berangkat bareng tante", ujarnya seraya memakai sepatu pansusnya.


"Jangan tante, nanti merepotkan", sahut Indira saat baru saja menyandang tas ranselnya. "Dira pesan ojek online saja."


"Jangan! Kita kan searah. Tempat kerja tante melewati kampus Arkana University", ujarnya sambil meraih kunci mobil di atas meja.


Indira terdiam sesaat, seakan tidak ada lagi yang bisa dia jadikan alasan.


"Sudah ikut saja. Tantemu tidak akan direpotkan kok", ucap pria itu seraya menggandeng anak kecil.

__ADS_1


"Ini siapa, Om?" tanya Indira dengan tersenyum seraya menghampiri anak kecil itu.


Anak kecil itu langsung bersembunyi dengan rasa malu di belakang papanya. "Jangan takut, ayo kenalan sama kakak cantik", ujar pria itu seraya menarik tangan anak kecil dibelakangnya. "Ini Nisya, kak."


"Wah nama yang cantik sesuai dengan orangnya."


"Maacih, kak", ucap mulut mungilnya.


"Mama dengan kakak cantik berangkat dulu, ya sayang!" seru wanita pemilik rumah berpamitan pada putri kecilnya.


"Iya, mama", sahutnya. "Da. Da.."


"Daaa... " balas Indira dengan melambaikan tangan.


 


Kurang dari 20 menit mobil yang ditumpangi Indira berhenti sebelum gerbang kampus.


"Semangat belajarnya, ya", sahutnya saat Indira baru saja menutup pintu mobil. Lalu melajukan kendaraannya meninggalkan Indira yang sudah melangkahkan kakinya berjalan menuju gerbang kampus.


"Guys, mahasiswa terbaik mau lewat", sindir seorang wanita yang sedang berdiri bersama dengan 2 temannya.


"Tolong kasi jalan...", teman di sisi kirinya menimpali sembari mundur dari posisinya berdiri.


Indira mengabaikan ucapan mahasiswa usil itu. Dia terus berjalan melangkahkan kakinya melewati ketiganya.


"Aww... ", ringis Indira saat dia jatuh namun tidak sampai terjerembab.


Tawa ketiga wanita itu pecah saat berhasil mencekal kaki Indira. "Selamat mahasiswa terbaik!" ledek wanita yang baru saja mencekal kaki Indira. Mereka pun meninggalkan Indira yang baru saja bangkit dari posisinya jatuh. Dengan tertawa lebar mereka melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal pada Indira.


Indira membersihkan debu yang menempel di celananya. Lalu melanjutkan langkahnya berjalan menyusuri lorong kampus. Tiba-tiba sebuah pengumuman terdengar melalui pengeras suara yang ada di sudut lorong kampus.


Pengumuman: Diberitahukan kepada 3 orang mahasiswi yang baru saja melewati gerbang kampus pukul 7.30. Dipersilakan untuk menghadap di ruang Dekan, karena kalian bertiga telah melakukan perundungan.

__ADS_1


Beberapa mahasiswa terlihat kaget, karena pihak kampus sampai mengetahui hal sedetail itu. Sedangkan mahasiswa lainnya terlihat santai sambil meledek. "Dasar mahasiswa baru, pasti kenakalan waktu SMA di bawa-bawa", ujarnya. Dan mereka pun menertawakan aksi nekad ketiga mahasiswa itu.


Indira merasa bangga bisa kuliah di kampus yang punya peraturan sebagus itu. Dia melanjutkan langkahnya dengan bahagia menuju kelas.


 


Di parkiran mobil kampus semua mata tertuju pada mobil mewah yang baru saja terparkir sempurna. Mereka memang tidak asing lagi dengan mobil anak pemilik kampus itu. Namun ketampanan dan kecantikan kakak beradik itu seakan menambah asupan di pagi hari.


"Mukanya jangan ditekuk dong. Nanti tampannya hilang", ucap Tamara saat dirinya dan Theo baru saja keluar dari dalam mobil.


"Cobalah jadi diriku sebentar saja. Kau akan tahu apa yang kakak rasakan sekarang." Theo melangkahkan kakinya dengan berat tatkala mengingat ucapan sang papa.


Pagi ini Theo mendapat ultimatum dari sang papa,. Bahwa Theo akan menjabat sebagai CEO, jika dia mau melakukan suatu pekerjaan tantangan dari sang papa, yakni menjadi dosen selama 1 tahun di kampus milik keluarganya.


"Tapi kakak kan hanya part time", ucap Tamara menghibur sang kakak.


"Itu sama saja Ara. Intinya keahlian kakak itu bukan jadi dosen." Theo mencubit gemas pipi sang adik. "Kakak juga alumni dari kampus ini, berarti dosen kakak sebelumnya akan jadi rekan kerja." Theo membayangkan hari-harinya yang membosankan, karena akan bertemu lagi dengan orang yang sama, tapi dengan situasi yang berbeda.


"Terserah kakak saja. Ara selalu siap mendukung keputusan kakak."


"Iya, elo sih enak tinggal dukung. Kakak ini yang lebih berat harus menjalaninya."


Tamara tersenyum menampilkan cengiran kuda. "Itu sih derita kakak", ucap Tamara seraya melarikan diri untuk menghindari kejaran sang kakak. Namun Theo sama sekali tidak mengejarnya. Dia harus menjaga image sebagai seorang dosen.


Tamara menoleh kebelakang sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang kakak. "Apa karna sudah tua, jadi larinya lambat", ucap Tamara bergumam.


"Aww..." ringis Tamara saat baru saja membalikkan badannya, tanpa disengaja menabrak seseorang. "Kak Dion." Tamara berdecak kesal karena Dion tidak menghindarinya, dia dengan sengaja berdiri menghalangi langkah Tamara.


"Makanya kalau jalan hati-hati", ucapnya menasehati.


"Iya, kakak bawel", ujarnya dengan kesal. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Dion menggelengkan kepalanya. "Marah aja cantik", ucapnya berdecak kagum. Namun tanpa Dion sadari seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya mendengar ucapannya. Dengan tangan yang mengepal orang itu menatap punggung Tamara yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2