
Saka berjalan masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu, namun dindingnya terlihat kusam karena catnya yang sudah memudar.
"Ibu... Ibu..." panggil Saka dengan menyusuri ruangan sepi itu. "Apa ibu sedang di kamar", gumamnya sembari berjalan menuju kamar sang ibu.
Ceklek.
"Ibu..." Saka masih terus memanggil ssng ibu, namun sang ibu masih belum juga menyahut panggilan darinya. "Kemana ibu pergi", ucapnya masih dengan bergumam. Lalu dia keluar dari kamar sang ibu.
"Bibi..." teriak Saka saat dia melihat sang bibi.
"Iya, den. Perlu bantuan bibi?"
"Bibi, lihat ibu Saka?"
"Kenapa mencari ibu?" tanya suara sang ibu yang berasal dari belakang sang bibi.
"Ibu dari mana saja?" ucapnya sembari menghamburkan diri memeluk erat sang ibu.
Citra, ibunya Saka itu membalas pelukan sang anak. "Tumben, kamu manja? Pasti pengen sesuatu, ya?"
"Saka sudah melamar Ara, bu", ujarnya membuat Citra tersentak kaget. Sontak dia mendorong tubuh Saka menjauh.
"Apa yang baru saja kau katakan?" Citra menatap Saka dengan tatapan membunuh.
"Saka minta tolong ibu datang ke rumah keluarga Tamara besok malam."
"Heh, ibu tidak akan pernah sudi punya menantu dari keluarga Raja!" seru Citra seraya mendorong kursi rodanya.
"Bu, please. Ibu bisa minta apapun pada keluarga Tamara sebagai syarat."
Citra mengabaikan ucapan Saka. Dia terus mendorong kursi rodanya menuju kamar.
Saka mengacak kasar rambutnya. "Bagaimana ini", ucap Saka bergumam, namun masih dapat didengar oleh sang bibi.
"Biar bibi coba ngomong sama nyonya, den", ujar sang bibi menawarkan diri.
"Apa bibi yakin?"
Sang bibi menganggukkan kepalanya. "Yakin, den."
"Oke, kalau begitu bi. Saka masuk ke kamar dulu."
Sang bibi menatap kepergian Saka dengan tersenyum. "Bibi akan selalu membantumu, karena kamu orang baik", ucap sang bibi lirih.
__ADS_1
---
Di kota Paris ini adalah hari pertama Daven dan Indira masuk kuliah. Sebenarnya Indira sangat senang, karena bisa kuliah di tempat itu. Namun keadaannya yang sedang berbadan dua membuatnya ragu untuk meneruskan kuliahnya.
"Kenapa bengong?" tanya Daven, saat baru saja keluar dari kelas.
"Aku sedang memikirkan kandunganku. Bagaimana aku bisa kuliah dengan kondisi seperti ini."
"Kau tenanglah dulu, nanti coba bicarakan dengan dosenmu. Barangkali mereka punya solusi."
"Akan aku coba besok. Sekarang kita cari makanan dulu yuk, aku lapar sekali."
"Kau mana pernah gak lapar. Aku rasa ini karena kau sedang hamil."
"Iya, itu kau tahu", sahut Indira dengan berdecak kesal, lalu dia berjalan mendahului Daven.
"Ibu hamil moodnya suka berubah-ubah", ucap Daven bergumam. Kemudian dia berlari kecil mengejar Indira.
---
Di dalam kamar Theo.
Ponselnya tak berhenti berdering, karena Theo baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Sebelumnya Theo sudah melihat siapa yang telah menghubunginya, nama yang membuatnya mulai ragu pernah mencintainya.
Khayalan Theo mulai terusik oleh bunyi ponsel miliknya sendiri.yang tiada berhenti. Dengan buru-buru dia meraih ponsel di atas nakas. "Ada apa?" ketus Theo.
"Kenapa harus marah-marah?" tanya suara pria dari seberang telepon.
"Ini telepon Tiara. Kenapa ada padamu?"
"Tiara jatuh di kamar mandi. Kata dokter janinnya tidak dapat diselamatkan", ucap Radit dari seberang telepon.
"Owh, begitu", sahut Theo yang bereaksi sangat biasa.
"Kenapa kau tidak bersedih sama sekali, calon anakmu sudah tiada? Atau sebenarnya kau mau lari dari tanggung jawab, ha?"
"Maaf aku tidak ingat apapun. Apa Tiara tidak memberitahumu kalau aku lupa ingatan jangka pendek. Jadi apapun yang aku lakukan dalam satu tahun ini, aku tidak bisa mengingatnya walau sedikit", ujar Theo dengan santai.
"Tapi setidaknya tunjukkan rasa pedulimu pada keadaan Tiara saat ini. Kau datanglah mengunjunginya!"
"Apa Tiara juga tidak memberitahumu, kalau kepalaku masih di perban, besok suster baru akan datang untuk membukanya."
"Kau hanya pandai mencari alasan saja. Ingat aku tak akan membiarkanmu mencampakkan Tiara dengan cara begini", ketus Radit masih dari seberang telepon.
__ADS_1
"Terserah padamu. Aku hanya ingin Tiara jujur pada semua orang, agar hal buruk tidak akan menimpanya."
"Cukup dengan tidak mengakui anak itu, jangan kau menghina Tiara."
"Cih, sepertinya kau dibutakan oleh cinta. Coba kau tanyakan pertanyaan ini padanya jika di antara kita berdua sama-sama jatuh ke dalam jurang dan dia hanya bisa menolong 1 orang siapa yang akan dia pilih?"
"Tidak perlu! Kau melakukan ini hanya untuk menjebaknya. Datanglah sekarang ke rumah sakit atau aku akan menyebarkan aibmu di internet."
"Kau hanya tahu mengancamku. Sifat kalian itu benar-benar sama. Kenapa tidak kalian berdua saja yang menikah?"
"Apa kau tidak mencintai Tiara lagi?"
"Aku pernah mencintainya. Dan karena rasa cintaku padanya aku sampai melakukan apapun yang dia minta, namun apa yang aku dapatkan? Dia pergi begitu saja ke luar negeri.dan langsung meminta putus."
"Jadi hanya itu yang kau ingat?" tanya Radit yang sebelumnya tidak percaya Theo hilang ingatan.
"Iya, emangnya apa lagi?"
"Kalau begitu setidaknya datanglah menjenguk Tiara. Besok pagi Tiara sudah boleh pulang. Jika tidak sempat untuk ke rumah sakit. Datanglah kerumahnya", pinta Radit yang telah mengubah nada bicaranya.
"Akan aku usahakan", jawab Theo.
"Oke, terimakasih."
Theo langsung memutus sambungan telepon, tanpa menunggu Radit menyelesaikan ucapannya. "Kenapa dia berbohong? Apa Radit ikut membantunya berbohong?" Theo terus berfikir keras di dalam benaknya yang membuat kepalanya terasa nyeri.
"Kepalaku sakit kalau sedang berfikir keras. Apa ini juga terjadi padaku sebelumnya?" Theo terus bertanya pada dirinya sendiri.
---
Di dalam ruang kerja Raja. Ratu sedang memohon pada sang suami, karena menolak lamaran Saka.
"Mommy, masih banyak pria lain yang lebih baik dari Saka yang mau menikahi putri kita. Jadi mommy gak perlu kuatir."
"Tapi,.dad. Niat Saka itu tulus, dia juga sudah tahu kondisi Ara putri kita."
"Perasaan daddy mengatakan kalau dia itu berniat jahat. Bagaimana mungkin seorang gadis di lamar sehari setelah dia dilecehkan."
"Daddy jangan berprasangka buruk. Saka itu memang anak yang baik. Mommy bisa lihat dari sorot matanya."
"Terserah mommy mau berfikir apa. Tapi daddy tetap dengan pendapat daddy sendiri."
"Walaupun itu menyakiti hati putri kita sendiri? Coba pikirkan kembali keputusan daddy, jangan biarkan senyum di wajah Ara kita pudar hanya karena ego kita masing-masing", ujar Ratu sembari bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia berjalan meninggalkan ruang kerja sang suami.
__ADS_1