Love Me Tender

Love Me Tender
Bibi Indira Koma


__ADS_3

Tamara dan Indira sedang duduk di dalam mobil setelah pak Joko menjemput mereka dari mall. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Indira membuang jauh pandangannya keluar kaca mobil.


"Kakak ipar kenapa?" tanya Tamara memecah keheningan di antara mereka.


Indira bergeming. Mata nanarnya tak henti memandang pepohonan yang terus berlari. Tamara pun tak ingin lagi melanjutkan ucapannya. Dia duduk dalam kebisuan. Pak Joko yamg sedari tadi memperhatikan mereka, berinisiatif memutar sebuah lagu untuk mengisi keheningan di dalam mobil.


 


Hanya butuh waktu 15 menit mereka tiba di halaman rumah. Indira buru-buru turun dari mobil tanpa mengatakan sepata kata pada Tamara dan pak Joko.


Indira terus melangkah masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, Indira buru-buru meraih ponsel dari dalam tas selempangnya untuk menghubungi Theo. Dengan sabar Indira menunggu sang suami mengangkat panggilan telepon darinya, namun Theo tetap tidak menjawabnya. Indira mencoba berfikir positif bahwa ponsel Theo sedang dalam mode silent. Dia pun mengirim pesan singkat pada sang suami.


Baru saja dia selesai mengirimkan pesan, jari jemarinya kembali menghubungi kontak seseorang.


Tut. Tut.


Terdengar nada terhubung, namun belum ada yang mengangkatnya.


"Hallo, Dira", sahut suara seseorang yang tidak asing di pendengarannya.


"Hallo, ini siapa?"


"Ini dengan tante, tetangga bibimu. Masih ingat, kan?"


"Owh, tante Nisya. Iya, ingat dong. Tante apa kabar?"


"Tante baik-baik saja. Tapi tidak dengan bibimu. Sekarang dia sedang terbaring di rumah sakit."


Indira termangu saat mendengar kabar sang bibi. Hampir saja ponsel ditangannya terjatuh, saat tubuh Indira merosot hingga hampir terjatuh.


"Dira... Dira... Apa kau masih di sana?" Suara dari ujung telepon.


"Ya, tante. Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya. Dira langsung datang ke sana."


Dengan air mata yang berderai, Indira melangkah keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga.


"Kenapa Dira menangis?" tanya sang ibu mertua saat berpapasan di ruang tamu.


"Bibi Dira sakit, mom", jawabnya dengan terisak.


"Jadi sekarang Dira mau ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya, mom."


"Oke, mommy ikut sama kamu. Tapi jangan nangis lagi, ya. Doakan saja bibimu cepat pulih." Ratu mengusap lembut wajah Indira. Lalu mereka berjalan bersama.


 


"Pak Joko, nanti singgah di toko buah dulu", ujar Ratu saat sudah berada di dalam mobil.


"Baik, bu."


Pak Joko langsung melajukan kendaraan menuju tempat yang baru saja disebutkan oleh Ratu.


Setelah kepergian Indira dan sang mommy, mobil Theo baru saja memasuki halaman rumah. Lalu dia memarkirkan mobil miliknya itu di garasi. Dia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah dengan wajah riang.


"Darr!" Hati kakak sedang berbunga-bunga, ya?" tebak Tamara yang tiba-tiba datang dari belakang Theo.


"Kau ingin membuat kakakmu ini terkena serangan jantung, hah!" ucap Theo berdecak kesal. "Kenapa kau bisa ada di belakang kakak?"


"Tadi Ara melihat mommy buru-buru masuk ke dalam mobil. Ara mau kejar itu mobil, eh malah semakin melaju kencang, jadi Ara gagal deh bertanya sama mommy."


Theo menatap Tamara dengan serius. "Mommy pergi dengan siapa?"


Apa ada yang serius? Tak biasanya mommy keluar rumah di akhir pekan, batin Theo.


 


Indira berjalan terburu-buru saat sedang melewati lorong rumah sakit.


"Jangan tergesa-gesa! Mommy yakin tidak terjadi sesuatu yang membahayakan pada bibimu."


"Tapi bibi tidak bisa bicara, mom. Berarti sakit bibi sangat parah."


Ratu mendengus kasar. "Tidak semua hal bisa kita prediksi seperti itu. Bisa jadi bibimu sedang tidur, makanya tidak bisa mengangkat telepon."


Indira melangkah dengan cepat sambil berusaha berfikir positif seperti nasehat dari sang ibu mertua.


Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu kamar bibi Indira.


"Bibi", panggil Indira dari luar kaca ruangan saat melihat beberapa peralatan medis menempel di tubuh sang bibi. "Bibi sakit apa tante?" tanyanya pada mama Nisya yang sedang menemani sang bibi.


"Tadi pagi bibimu jatuh di kamar mandi, kata dokter pembuluh darahnya pecah dan harapan dia untuk hidup hanya 5 persen, dengan kata lain saat ini bibimu koma."

__ADS_1


Indira beringsut mundur dengan mulut yang menganga. "Kenapa ini terjadi pada bibi?" rutuknya, seakan berharap hal itu terjadi pada sang paman.


"Ini siapa?" tanya mama Nisya pada Ratu.


"Saya mertua Indira, mba. Terimakasih sudah mau membantu bibi Dira. Jika tidak ada mbanya di sini, kami tidak tahu apa yang sudah terjadi pada bibinya Dira."


"Sama-sama, bu. Itu sudah kewajiban kita sesama manusia, menolong orang yang membutuhkan bantuan."


Tiba-tiba sang dokter masuk ke dalam ruangan untuk mengecek keadaan bibi Indira. Lalu dia berjalan keluar menghampiri Indira dan yang lainnya "Keadaannya masih sama dengan semula. Belum ada perkembangan." ucap sang dokter sembari menatap mereka yang masih berdiri di luar kaca ruangan sang bibi.


Tubuh Indira mulai gemetar kala mendengar penuturan sang dokter, bahkan dia mulai hilang keseimbangan dan dalam sekejap mata tubuhnya jatuh tergeletak di lantai.


"Dira... Dira... " panggil Ratu dan mama Nisya bersamaan, mencoba membangunkan Indira dengan menepuk pelan pipinya, namun Indira masih belum sadarkan diri. Lalu mama Nisya mengoles minyak angin di dekat penciuman Indira. Perlahan mata Indira mengerjap dan kesadarannya mulai kembalu.


"Syukurlah kau sudah siuman. Ayo kita duduk di sana", tunjuk sang ibu mertua pada bangku tunggu. Lalu mereka menuntun Indira berjalan menuju bangku tunggu itu.


 


Di tempat lain, di dalam kamar Theo. Dia terus berjalan mondar mandir sembari memikirkan sesuatu yang telah membuatnya resah. Kedatangan seseorang yang sudah dia nanti sejak lama membuatnya bimbang. Kalau ditanya mengenai perasaannya, dia masih memiliki cinta 90% pada sang mantan dan sisanya pada sang istri.


"Bagaimana ini? Kakek pasti akan membunuhku, jika aku sampai menceraikan Dira." Theo terus bergumam di kamar sunyinya. Dia tidak tahu harus bercerita pada siapa mengenai hal itu, karena dia tidak mau lagi berhubungan dengan Radit sejak sahabatnya itu menjebaknya.


"Apa aku bicarakan pada daddy saja. Siapa tahu daddy punya solusi."


Theo berjalan keluar dari dalam kamarnya. Dia terus melangkah menuju kamar sang daddy.


Tok. Tok.


Theo mengetuk pintu kamar orang tuanya berkali-kali sembari memanggil sang dady, namun tidak ada seorang pun yang menyahut dari dalam kamar itu.


"Kemana daddy?" ucapnya bergumam.


"Kakak ngapain disitu?" tanya Tamara saat baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Apa kau melihat daddy?"


"Tadi Ara lihat daddy keluar. Kata daddy ada rekan bisnisnya yang mengajak bermain golf. Emang kakak ada perlu apa cari daddy?"


"Kakak kan perlunya sama daddy bukan Ara!" ucap Theo sembari beranjak melewati Tamara.


"Kak Theo nyebelin! Awas kalau nanya sama Ara lagi, bakal Ara cuekin!" teriak Tamara berdecak kesal, namun Theo mengabaikannya. Dia terus berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2