
Seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang makan, untuk menikmati makan malam kecuali Indira dan Theo.
"Dari mana saja?" teriak Raja saat mendengar seseorang baru saja masuk.
Theo pun berbelok menuju ruang makan."Iya, daddy nanya Theo?"
"Emang siapa lagi?" ketus Raja. Dia mulai curiga melihat gelagat Theo, yang suka berada di luar rumah.
"Dari kampuslah, dad. Emangnya Theo dari mana lagi."
"Jangan pura-pura gak paham dengan ucapan daddy. Katakan dari mana?"
"Daddy sudahlah. Selesaikan dulu makannya. Bicarakan hal itu nanti di ruang kerja daddy saja, ya", bujuk sang istri yang melihat urat leher Raja mulai menegang.
"Oke, pergilah. Kasihan istrimu belum makan, hanya karena menunggumu."
"Baik, dad", sahut Theo. Lalu dia berjalan meninggalkan ruang makan dengan menahan rasa amarah.
Di dalam kamar, Indira sedang duduk di sofa sambil membalas pesan dari seseorang.
Tak.
Suara pintu di banting membuat Indira tersentak kaget. Lalu dia bangkit dari sofa. "Ada apa kak?" tanya Indira seraya berjalan menghampiri Theo.
"Ini semua karnamu! Jangan berlagak sok polos gitu!"
Indira mengernyitkan keningnya. "Maksud kakak apa?"
"Ini kan yang kau mau? Mengambil empati semua keluargaku, supaya mereka memihak padamu!" tuduh Theo, yang membuat Indira terperangah.
"Jadi selama ini kakak pikir aku orang sepicik itu? Semua yang aku lakukan itu hanya kamuflase? Bodohnya aku jika mau melakukan semua itu", rutuknya. Indira membalikkan badannya, lalu berjalan menjauhi Theo. Dia duduk di kursi dengan meringkuh. Air matanya jatuh bebas membasahi pakaiannya.
Theo seakan acuh melihat Indira yang sedang bersedih. Entah apa yang ada dalam pikiran Theo, hingga dia membiarkan Indira menangis begitu saja.
Malam semakin larut, namun Indira belum juga bisa memejamkan matanya karena sedang menahan rasa lapar. Dia pun memberanikan diri untuk turun ke lantai bawah, walau jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
__ADS_1
Saat baru saja akan masuk ke dapur, terdengar suara dentungan. "Siapa?" tanya Indira dengan rasa takut. Dia melangkahkan kakinya mendekati sumber suara dengan kaki gemetar.
Aaa... Pekik mereka bersamaan, hingga membangunkan sang bibi di dalam kamarnya.
"Kenapa kau di sini malam-malam begini?" tanya Theo yang juga kelaparan sama seperti Indira. Karena mereka berdua sama-sama melewatkan makan malam masing-masing.
"Aku lapar", jawab Indira sembari mencari sesuatu di dapur.
"Tidak ada makanan lagi di sini. Aku sudah membuka semua almari, namun aku tidak menemukan makanan apapun di sana."
Indira menatap sebuah dandang yang jatuh di lantai dan menduga itu pasti ulah sang suami.
"Kenapa den Theo dan Non Dira ada di sini?" tanya sang bibi yang baru saja datang.
"Mau cari makanan bi", sahut Theo kesal.
"Yah, sudah bibi bagikan semuanya ke pak Joko dan penjaga gerbang. Tuan yang suruh, den. Katanya mubazir kalau di buang."
"Astaga, jadi gimana dong ini bi?"
Indira berjalan menuju kulkas, lalu membukanya. "Bahan makanan yang ada cuma ini doang bi?"
Indira sedikit frustasi menghadapi perut keroncongnya. Dia berusaha untuk memikirkan ide masakan yang bisa dibuat dari bahan seadanya.
"Kebetulan bibi punya 2 bungkus mie instant. Kalau kalian mau, biar bibi ambil."
"Mau bi", sahut Theo dan Indira hampir bersamaan.
Lalu sang bibi bergegas mengambil dari dalam kamarnya. Tak berselang lama sang bibi sudah membawa 2 bungkus mie instant. Indira meraih keduanya. Dengan tangan yang terampil dia pun memasaknya.
"Bibi mau?"
"Kayaknya sih enak non. Tapi kalian lanjut aja, nanti bibi minta cara masaknya aja non. Biar lain kali bibi buat sendiri."
"Bagus deh bi. Entar kalau dibagi 3, takutnya jadi gak kenyang", sela Theo yang membuat Indira tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Indira langsung membagi mie kuah itu ke dalam 2 mangkuk. Lalu membawanya ke meja makan. Sedangkan sang bibi sudah kembali ke dalam kamarnya.
"Ini buat kakak." Indira menyodorkan semangkuk mie yang isinya lebih banyak. Lalu semangkuk lagi buat dirinya.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama Theo sudah memindahkan semua isi mangkuk itu ke dalam perutnya. "Ini mie terenak yang pernah aku makan", ucapnya sembari mengusap perutnya.
Indira baru saja menyelesaikan semangkuk mie dihadapannya. "Kalau kakak pengen Dira bisa memasaknya lain kali", sahut Indira dengan tersenyum.
"Gak boleh terlalu sering, daddy marah kalau kita sering makan mie instant."
"Ya, gak harus besok. Bisa minggu depan, bulan depan atau kapan saja. Jika ingin makan yang seperti ini lagi bilang Dira aja kak."
"Oke", sahut Theo dengan tersenyum. Lalu dia bergegas mengumpulkan mangkuk yang kotor. "Kalau ini biar kakak yang melakukannya."
"Jangan kak. Itu tetap jadi tugas Dira."
"Oke, kita lakukan bersama ya", usul Theo. Indira pun terpaksa menyetujuinya, agar mereka bisa segera tidur. Tak butuh waktu yang lama untuk mencuci wajan dan mangkuk yang kotor itu. Setelah selesai mereka berjalan bersama-sama naik ke lantai atas dengan langkah perlahan, agar tidak membangunkan yang lain.
Saat sudah berada di dalam kamar Indira sadar bahwa yang dia lihat di atas ranjang bukanlah Theo melainkan guling yang ditutupi oleh selimut. Theo pun tertawa mendengar cerita Indira itu. Sesaat kemudian tidak ada lagi cerita di antara mereka. Hanya kebisuan yang memaksa mereka untuk kembali ke tempat tidur masing-masing.
Selamat tidur suamiku, batin Indira.
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Rasanya baru saja Indira memejamkan mata, namun sinar mentari sudah menyilaukan matanya. "Sudah pagi aja", ucap suara paraunya sembari merentangkan kedua tangannya. Lalu dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Terdengar shower sedang dinyalakan. "Berarti kak Theo baru bangun juga", ucapnya bergumam.
Indira kembali berjalan menuju sofa. Diraihnya ponsel miliknya yang ada di atas meja. Mata Indira terbeliak saat baru saja menyalakan layar ponselnya. Ada begitu banyak pesan masuk di sana. Dibukanya pesan yang telah dikirim oleh satu orang melalui aplikasi WhatsApp itu.
Sesekali Indira tersenyum saat melihat beberapa foto culun dirinya. Dia tak menyangka masih ada orang yang mau menyimpan fotonya itu. Namun sesaat kemudian dia menangis melihat sebuah foto saat mereka mengadakan camping. Ternyata dia pernah berfoto di dekat sungai yang sudah menghanyutkan kedua orang tuanya.
Indira membalas semua pesan foto itu dengan emot bahagia kecuali foto dirinya di tepi sungai.
Ceklek.
Indira melangkah menuju kamar mandi dengan buru-buru, tanpa menoleh ke arah Theo yang sedang menatapnya.
Di ruang makan. Raja dan yang lainnya sedang menikmati makan mie ayam pesanan sang mommy, kecuali Theo dan Indira. Mereka harus menelan salivanya saat mencium aroma mie ayam yang begitu menggoda. Sang daddy menghukum mereka karena memakan mie instant tengah malam.
"Roti dengan selai ini juga enak, kok", ucap Theo yang susah payah mengunyah sepotong roti di dalam mulutnya.
Indira hanya bisa manggut-manggut sembari meminum segelas juice jeruk ditangannya. Sedangkan yang lainmya hanya bisa menahan tawanya, melihat pasangan suami istri yang terlihat kompak saat menikmati sarapan roti mereka.
__ADS_1