
Raja berjalan masuk ke dalam rumah sembari mendorong kursi roda Tamara. Saka pun mengikuti ayah dan anak itu dari belakang.
"Ara...!" teriak sang bunda sembari berlari menghampiri putrinya itu. Lalu dia berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya. "Apa yang sudah terjadi padamu, nak?" tanya Ratu dengan tangan gemetar sembari menangkup kedua pipi Tamara.
Hati Raja bagai teriris sembilu mendengar pertanyaan sang istri, tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengungkap kebenarannya.
Raja tertunduk lesu. Belum pernah dalam sejarah hidupnya dia merasa kesedihan yang teramat dalam seperti saat ini, hingga air matanya tak ingin berhenti mengalir.
Ratu menebak sesuatu yang buruk telah terjadi, karena melihat gelagat aneh sang suami.
"Apa Ara kita telah...? Uh!" Ratu menggantung ucapannya dengan menatap wajah sendu sang suami. Raja yang paham arah pertanyaan sang istri, langsung membalas dengan mengangguk pelan.
Sontak Ratu menutup mulutnya yang menganga. Hatinya bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya pun mulai beringsut mundur kala mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu.
"Biarkan Ara kita istirahat dulu, mom", ucapnya, yang membuat Ratu tersadar.
Ratu pun bangkit dari posisinya, dia tak ingin putrinya itu semakin sedih saat melihat raut wajah sedihnya. "Ayo, kita ke kamar nak", ajaknya dengan penuh kelembutan.
Saka yang sedari tadi mengikuti sampai ke dalam rumah, akhirnya berpamitan pulang.
Setibanya di dalam kamar. Ratu langsung membaringkan tubuh putrinya yang masih tampak bergetar itu dengan sangat hati-hati. Namun tiba-tiba Ratu merasa pedih yang amat dalam kala melihat wajah putrinya itu. Dengan buru-buru dia berjalan keluar ruangan, agar Tamara melihat kesedihannya saat ini.
"Kenapa?" gumam Ratu dengan terisak. Dadanya semakin terasa sesak kala mengingat kondisi putrinya itu. Tubuhnya yang sedang menyandar ke dinding semakin merosot di saat kakinya tak mampu lagi menumpu. Sesaat kemudian Ratu tersadar tidak ada gunanya dia bersedih sedalam itu. Dia pun bergegas mencari psikolog terbaik di kota itu. Dia tak ingin mental putrinya akan terganggu nantinya.
Di rumah tua itu namun masih terlihat kokoh, seorang wanita paruh baya menikmati hari baik baginya. Makanan yang menggugah selera terhidang lengkap di meja makannya.
"Terimakasih bi", ujarnya dengan tersenyum penuh bahagia. Sang.bibi.hanya membalas dengan tersenyum. "Sudah lama aku tidak makan enak, apa bibi mau mencicipinya? Ayo bi, jangan sungkan", ucapnya dengan semangat.
Lagi-lagi sang bibi.membalas dengan tersenyum. "Saya sudah kenyang nyonya", jawab sang bibi.
"Ya, sudah kalau tidak mau", ucap wanita yang bernama Citra itu. Dia pun menikmatinya seorang diri. Sepotong demi sepotong daging ayam di panggang itu masuk ke dalam mulutnya dengan begitu nikmat rasanya.
__ADS_1
Tak berselang lama putra semata wayangnya datang memasuki ruang makan dengan raut wajah emosi. "Ibu..." panggilnya sambil berjalan menghampiri ibunya itu.
"Sudah datang? Ayo duduklah, nak! Kita nikmati bersama. Ini sangat enak", ujarnya dengan raut wajah bahagia.
"Apa ibu sudah puas?"
"Tentu. Bila perlu mereka sekeluarga menderita. Tapi ibu tidak setamak itu."
"Kenapa ibu bersikeras melakukan perbuatan terkutuk itu, ha?"
"Karena itulah yang ibumu ini rasakan!" Citra berteriak sembari melempar sendok ditangannya. Air matanya pun jatuh membasahi wajahnya yang sudah menua itu.
"23 tahun yang lalu, ibumu di penjara. Kakek dan nenekmu mendapat hinaan, karena perbuatan ibumu. Bahkan saat keluar dari penjara, seorang pria bejad merenggut kehormatan ibu. Dan sialnya ibu pun hamil!" Citra berdecak kesal sembari mengacak kasar rambutnya. Mulutnya mulai tertawa keras, memenuhi ruangan sepi itu. Tatapan matanya kosong membuat Saka ketakutan.
"Ibu... Ibu...!" teriak Saka sembari memeluk ibunya. "Bi, tolong ambilkan obat ibu", pinta Saka dengan nada panik pada ARTnya itu.
"Sebentar den", sahut sang bibi sambil berjalan menuju kamar ibu Saka.
"Ini den." Sang bibi memberi obat ibunya itu pada Saka.
Sesaat kemudian Citra pun mulai tenang, mata sayunya mengisyaratkan dia ingin tidur. "Ayo, Saka bawa ibu ke kanar", bujuknya pada sang ibu yang mulai melemah. Tanpa ada penolakan sang ibu menurut saat dituntun oleh Saka.
"Bi, tolong dibereskan mejanya ya", tutur Saka sopan.
"Baik, den", sahut sang bibi dengan berdecak kagum. "Nyonya beruntung sekali punya putra sebaik Saka", ucapnya setelah Saka dan ibunya itu pergi.
---
Di rumah kediaman Theo. Raja sedang sibuk menghubungi pihak berwajib kenalannya. Dia ingin masalah putrinya itu diselesaikan dengan segera.
Ratu pun tak kalah sibuk dengan sang suami. Seorang psikolog terkenal sanggup dia bayar mahal untuk mengobati putrinya itu. Dia tak ingin putrinya mengalami depresi berat, akibat kejadian yang telah menimpanya.
"Permisi bu", ucap sang perawat dengan ramah.
"Ya, ada apa?" tanya Ratu, saat membalikkan badannya hingga dia saling berhadapan dengan perawat itu.
__ADS_1
"Non Tamara sedari tadi menangis bu. Sudah saya coba untuk menenangkannya, tapi dia tetap saja menangis.
Ratu langsung beranjak dari posisinya. Dia hampir saja terjungkal saat dicekal oleh kakinya sendiri. Namun dia berhasil berdiri dengan sempurna dan melanjutkan langkahnya berjalan menuju kamar Tamara.
"Ara sayang. Kamu kenapa nak? Apa ada yang sakit?" Ratu menyentuh beberapa bagian tubuh Tamara seolah memeriksa keadaannya.
"Gak ada lagi gunanya Ara hidup, mom. Ara sudah hancur!"
"Hus, jangan bicara sembarangan. Ara itu sangat berarti bagi mommy. Jadi jangan pernah ucapkan kata itu lagi."
Tangis Tamara masih terus berlanjut, hingga Theo datang membawa seorang psikolog masuk ke dalam kamar Tamara. Psikolog itu pun mencoba menenangkan Tamara.
Setelah beberapa saat kemudian Tamara mulai tenang dsn dapat diajak bicara dengan baik oleh sang psikolog. Ratu menangis haru saat melihat putrinya itu tidak lagi menangis histeris.
"Saya bisa bicara empat mata saja?" pinta sang psikolog untuk membuat suasana di dalam ruangan itu lebih tenang.
"Silakan, bu", ujar Ratu sembari beranjak dari sisi ranjang Tamara. Lalu dia berjalan keluar yang diikuti oleh Theo dari belakang.
---
Di tempat berbeda tampak Indira sedang berdiri di atas balkon kamarnya. Mata nanarnya menatap langit cerah kota Paris.
"Kenapa masih berdiri di sana. Ini bukan waktu yang tepat untuk berjemur", ucap Daven berdecak kesal sembari meletakkan cemilan yang baru saja dia beli.
Indira langsung berjalan masuk ke dalam kamar kecilnya itu, sebelum ada kata-kata yang indah keluar dari mulut Daven. "Wah, kau membawaku banyak makanan!" seru Indira dengan girang.
"Aku membelinya untuk calon anakmu, bukan untukmu", ucap Daven sembari merebut kembali cemilan dari tangan Indira.
"Dasar pelit! Aku akan membelinya sendiri kalau begitu."
"Eh, jangan pergi! Tidak baik naik turun tangga di saat usia kandunganmu masih sangat muda."
Indira menatap Daven dengan melongo. "Caramu menjagaku seperti kau itu suamiku saja", ucap Indira dengan santai. Namun tidak dengan Daven. Jantungnya seakan berdegup sangat kencang mendengar ucapan Indira barusan.
Andai itu adalah kenyataanya, batin Daven.
__ADS_1