
Indira menatap nanar ke luar kaca jendela cafe. Namun pandangannya lama kelamaan memudar, hingga akhirnya dia tubuhnya lunglai terjatuh ke lantai.
"Indira", teriak Daven panik. Lalu dia membopong tubuh Indira membawanya ke kursi yang lebih panjang.
Beberapa orang dari pelayan cafe itu datang menghampiri mereka.
"Ini saya punya minyak angin, mas." Salah seorang pelayan menyodorkan minyak angin pada Daven.
"Terimakasih, mba." Daven langsung meraihnya dari tangan pelayan cafe, lalu mengoleskannya pada alat penciuman Indira. Namun setelah beberapa saat menunggu Indira belum juga sadarkan diri. Daven mencoba menepuk-nepuk pelan pipi Indira, hasilnya tetap sama. Daven pun mulai panik, dia langsung menggendong Indira dan membawanya ke dalam mobil.
Baru saja Daven akan memasang safety belt pada Indira, dia pun terbangun hingga kepala mereka beradu.
"Aww.." ringis Indira saat merasakan sakit di bagian kepalanya.
"Maaf.. Maaf. Aku tidak sengaja."
"Ya, gak apa-apa. Tapi kenapa aku bisa ada di dalam mobil? Bukannya tadi lagi di cafe, ya?" Indira masih ingat posisi dirinya sebelumnya meski baru saja tak sadarkan diri.
"Karena kau pingsan dan tak kunjung sadarkan diri, makanya aku berencana membawamu ke rumah sakit. Tapi sebelum berangkat ke rumah sakit kau sudah sadarkan diri."
Indira manggut-manggut sembari memegang kepalanya. "Aku pusing sekali, bisa tolong bawa aku masuk ke cafe lagi, mau minta air hangatnya."
"Oke. Ayo, aku antar."
Daven dan Indira berjalan masuk kembali ke dalam cafe. Lalu dia meminta segelas air hangat pada pelayan.
Di dalam ruang sempit itu, Theo sedang duduk termenung dengan berpangku tangan. Dia masih memikirkan perkataan sang kakek atas sebuah fakta yang sangat ingin dia buktikan sendiri kebenarannya.
Ting.
__ADS_1
Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Sesaat kemudian dia mendesah setelah membaca pesan singkat yang baru saja dikirimkan oleh Tiara itu. "Apa aku harus mengurus surat cerai itu sekarang?" ucap Theo gusar. Dia belum sepenuhnya percaya atas apa yang sudah dituduhkan sang kakek pada Indira.
Theo mendengus kasar sembari bangkit dari kursi. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar.
"Kakak mau kemana?" tanya Tamara saat melihat Theo keluar dari dalam ruangannya.
Theo lagi-lagi mendengus kasar. Sebenarnya dia tidak ingin pergi, tapi kata di akhir pesan itu terselip kata kakek yang minta. Theo pun tak dapat membantah.
"Kakak mau ke kantor pengadilan."
"Ngapain kak? Kakak jadi saksi kasus apa?" Tamara panik membayangkan sesuatu seperti jalannya persidangan yang pernah dia tonton.
Theo menyentil kening jenong Tamara. "Mikirnya kejauhan Ara! Kakak cuma mau urus surat cerai."
Ucapan Theo membuat Tamara terkesiap. Dia tidak menduga akan secepat itu sang kakak menceraikan Indira. "Kenapa kakak buru-buru menceraikan kakak ipar? Apa kakak tidak ingin mencari tahu dulu kebenarannya?" tanyanya dengan nada tinggi.
Theo menghela nafas sembari menatap Tamara. "Ini semua bukan keinginanku!"
"Ara... Ara... " Theo terus memanggil Tamara, namun tidak digubris sama sekali.
Theo terdiam sesaat sembari menatap punggung Tamara yang semakin menjauh. "Andai kejadian malam itu tidak terjadi, mungkin pernikahanku dengan Tiara berlangsung seperti pasangan pada umumnya." Theo bermonolog. Sesaat kemudian dia melangkahkan kakinya berjalan menuju koridor kampus.
Theo menatap nanar Indira yang datang dari arah berlawanan. Indira sedang berjalan bersama Daven dengan bergandengan tangan. Theo pun menghentikan langkahnya tepat dihadapan Indira.
"Cih, baru saja aku berfikir kalau kakek telah salah menilaimu. Tapi ternyata aku yang salah. Kau sendiri telah mengungkapkan siapa dirimu yang sebenarnya", ketus Theo. Lalu dia berdiri tepat di samping Indira. "Kalian memang pasangan serasi", bisiknya di telinga Indira, namun masih dapat di dengar Daven. Lalu Theo melangkahkan kakinya meninggalkan Indira dan Daven yang masih berdiri diposisinya.
Air mata Indira yang sudah membendung di pelupuk matanya, akhirnya jatuh bebas.
"Sudah, tenangkan dirimu", bujuk Daven sembari menepuk pundak Indira. Namun air mata Indira semakin membanjiri wajahnya, membuat Daven kelabakan. "Dira, please", ucapnya memohon. Akhirnya Indira menghentikan tangisnya. "Nah, gini kan enak. Ayo, kita ke ruang dekan." Daven kembali menggandeng tangan Indira, lalu mereka berjalan menuju ruang dekan.
Setelah perbincangan alot Indira dan Daven dengan pihak kampus, akhirnya mereka dapat surat rekomendasi pindah ke kampus lain yang lebih kecil dan kurang terkenal.
__ADS_1
Indira terpaksa pindah kampus karena beasiswanya telah dicabut. Meskipun dia bisa menjalani kuliahnya sampai satu semester, namun Indira tidak ingin bertemu Theo walau hanya 2 bulan saja.
"Aku merasa bersalah telah menyeretmu ke dalam masalahku, bahkan kau sampai pindah kampus. Apa kata orang tuamu nanti? Mereka akan menyalahkanku."
"Sudah aku katakan berulang kali bahwa masalahmu adalah juga masalahku. Jadi kau jangan sungkan meminta sesuatu dariku. Sekarang, ayo kita ke rumahku. Papa dan mamaku ingin bertemu denganmu."
Indira menautkan kedua alisnya. "Untuk apa mereka bertemu denganku?" tanyanya sedikit gugup. Pikirannya pun mulai berkecamuk.
"Mau dinikahkan!" jawab Daven santai yang berhasil membuat Indira mendelik. Daven tertawa melihat ekspresi kaget Indira. "Bercanda! Serius amat wajahnya", sambung Daven.
Indira memukul lengan Daven. "Hampir saja jantungku kau buat copot!"
"Aku hanya tak ingin kau bersedih terus. Lupakan sejenak masalahmu itu, oke."
Indira menarik paksa kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan indah. Dia tak ingin Daven ikut bersedih karena masalahnya.
---
Di tempat lain, seorang ibu sedang berteriak histeris kala melihat air sirup berwarna merah itu tumpah di atas lantai.
"Ada apa bu?" tanya sang anak yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengar suara teriakan sang ibu.
"I-itu", tunjuknya dengan tangan yang gemetar.
Putranya itu menatap dengan mengernyitkan keningnya seraya berfikir maksud sang ibu. Setelah berfikir keras sang anak pun paham maksud ibunya itu. "Ini bukan seperti yang ibu pikirkan. Ini hanya sirup", ujar sang anak dengan mencedok jarinya lalu memasukkannya ke dalam mulut untuk meyakinkan sang ibu.
Sang ibu pun mulai tenang. Dia tersenyum menatap putranya yang masih berjongkok itu. "Kamu pintar", ujarnya dengan mengacungkan jempolnya, sang anak juga membalas dengan tersenyum. Namun sesaat kemudian ekspresi sang ibu berubah datar. "Sudah sejauh mana hasilnya?"
"Ibu tenanglah! Rencana kita sudah hampir berhasil, kok", ucapnya berbohong hanya demi menenangkan sang ibu. Namun yang sebenarnya dia lakukan hanya naik ke atas rooftop untuk membuang rasa frustasi akibat desakan sang ibu.
Semoga ibu bisa merubah keinginan balas dendam itu, batinnya.
__ADS_1
---