
Keesokan paginya Indira buru-buru pergi ke kamar Theo. Dia mengajak Theo pergi ke kantor polisi.
Theo yang baru saja bangun tidur bergegas mandi. Setelah selesai dia pun turun ke bawah untuk sekedar makan sarapan pagi buatan Bi Iyem.
"Kenapa kalian buru-buru?" tanya Ratu yang tidak suka melihat seseorang makan terburu-buru.
"Maaf, Mom. Dira kayaknya sudah tidak sabar mau menemui pamannya di kantor polisi", sahut Theo.
"Bukannya ada peraturan jam berkunjung, ya?" tanya Ratu sekaligus mengingatkan.
"Em, kalau untuk masalah itu Mommy.tidak perlu kuatir", jawab Theo. "Kalau begitu kami pamit, Dad, Mom", ucapnya kemudian.
"Oke, kalian berhati-hatilah", ujar Ratu.
Raja pun memberi nasehat yang sama. Tamara hanya bisa mendoakan semoga Rafa segera ditemukan. Sementara Saka menawarkan diri, jika mereka memerlukan bantuannya.
"Kasihan Rafa hilang", ucap Cha cha dengan nada lirih. "Semoga dia cepat kembali, amin", lanjutnya dengan sikap berdoa yang diamini oleh semua keluarga.
Setelah berpamitan Theo dan Indira berjalan menjauhi ruang makan.
...---...
Di tengah perjalanan Theo mengatakan cinta pada Indira.
"Apa ini waktu yang tepat untuk menyatakan cinta?" tanya Indira berdecak kesal. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Theo.
"Aku tahu ini bukan moment yang tepat. Tapi aku harus mengatakannnya sebelum orang lain lebih dulu mengucapkannya."
Indira terdiam sesaat, lalu terdengar helaan nafasnya. "Aku tahu Kak Theo mengatakan ini, agar Rafa tetap menjadi putra Kakak, kan", balas Indira.
"Bukan hanya Rafa, aku juga mau Ibunya tetap menjadi istriku."
Indira kembali terdiam, lalu dia menoleh ke arah Theo. "Aku akan melihat ketulusanmu selama sisa waktu yang diberikan Daddy", lanjutnya. Lalu dia membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil.
"Aku yakin, kamu akan melihat ketulusanku", jawab Theo. Lalu dia menepikan kendaraannya saat hampir tiba di tempat tujuan.
Indira hanya membalas dengan berdehem.
Mereka pun turun dari dalam mobil, saat mobil sudah terparkir sempurna.
"Ayo, kita masuk", ajak Theo. Tangannya hampir saja meraih tangan Indira, namun dia urungkan kala Indira tiba-tiba menoleh dan menatapnya.
"Kamu jalan lebih dulu!" pinta Indira yang tidak ingin menatap langsung sang Paman.
Akhirnya Theo menggenggam tangan Indira. "Ada aku di sini. Jangan takut!" imbuhnya seraya menuntun Indira masuk.
__ADS_1
Indira berjalan seirama dengan langkah Theo. Dia seakan merasa tenang saat Theo menggenggam tangannya.
Seandainya kau memberiku perlindungan seperti ini dari dulu. Maka aku tidak akan mengalami masa suli itu, ucap Indira di dalam batinnya.
Indira duduk di kursi panjang sembari menunggu Theo yang sedang berbincang dengan temannya.
"Ayo, kita masuk", ajak Theo saat teman Theo itu tersenyum menatap Indira.
Indira pun membalas dengan tersenyum, lalu dia masuk mengikuti langkah Theo.
"Hai, keponakanku yang cantik", sapa sang Paman saat melihat Indira bersembunyi di balik tubuh Theo.
"Katakan di mana Rafa?" desak Theo dengan tatapan tajam.
"Cih, apa pedulimu? Bukankah kau tidak pernah mempedulikannya sejak dalam kandungan?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Kenapa bukan urusanku? Dia adalah cucuku", balas sang Paman dengan tersenyum jahat.
"Kalau dia cucu Paman, kenapa Paman berbuat seperti itu?" tanya Indira yang mencoba untuk memberanikan diri menatap sang Paman.
"Aku tidak melakukannya. Mark yang telah membawa putramu", sahut sang Paman.
"Mark!" ucap Theo dan Indira bersamaan.
"Suatu hari saat anak buah Mark menemukanku dan membawa ke tempat kediaman Mark. Aku tidak sengaja mendengar seorang wanita Mark merengek meminta Mark melakukannya. Dia juga menyebut namamu. Dari situ Paman selalu mengintai apa yang dilakukan Mark", terang sang Paman.
Theo pun tersadar akan sesuatu. "Tiara", ucapnya dengan menoleh ke arah Indira.
"Ya, Tiara. Dia wanita yang paling disayangi oleh Mark", sahut sang Paman.
"Jadi kemana Mark membawa Rafa?" tanya Indira dengan tidak sabar.
"Aku akan memberitahukannya, jika kalian sudah menjamin kebebasanku dan melunasi semua hutangku", ujar sang Paman.
"Aku akan menjaminnya!" tegas Theo. "Tapi apa jaminannya kalau semua yang kau ucapkan itu benar?"
"Jika kau tidak mau percaya dengan kata-kataku, maka aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada Rafa."
"Aku percaya, Paman. Kalau begitu aku akan pergi menjamin kebebasan Paman dulu. Tapi setelah itu Paman harus menunjukkan tempatnya", balas Indira.
"Bagus. Paman akan menunggu sampai kalian sudah membebaskan Paman. Setelah itu kita bicarakan lagi", jawab sang Paman dengan tersenyum puas.
...---...
__ADS_1
Tidak berselang lama Indira telah berhasil menjamin kebebasan sang Paman. Dia kembali menemui sang Paman setelah kebebasannya.
"Katakan di mana Rafa, Paman?"
"Aku lapar. Ayo, kita berbincang sambil makan", jawab sang Paman dengan santai.
Indira mengikuti kemauan sang Paman, walau Theo menentang tindakannya.
"Aku bisa memaksanya untuk mengatakannya!" bisik Theo dengan emosi.
"Jangan mengacaukannya", balas Indira berbisik.
Sang Paman membalikkan badannya. "Kenapa kalian lamban sekali? Aku sudah sangat lapar", imbuhnya.
"Iya, sebentar Paman", jawab Indira. Lalu dia melanjutkan langkahnya. Theo pun ikut berjalan dan mensejajarkan langkahnya dengan Indira.
...---...
Di perusahaan milik Ratu, tampak sedikit riuh, karena beberapa karyawan telah diberhentikan dengan tidak hormat. Kini yang tinggal hanya karyawan yang menurut Ratu memiliki integritas pada perusahaan.
Ratu mulai memperkenalkan Tamara sebagai wakilnya. Semua karyawan menyambutnya dengan gembira, namun siapa sangka jika ada karyawan yang masih memiliki niat terselubung.
"Mommy harus mendampingiku selama 6 bulan ini", pinta Tamara saat merasakan ada mata yang menatap tidak suka padanya.
"Iya, seperti janji Mommy sebelumnya", sahut Ratu dengan tersenyum. Lalu dia meminta tim auditnya memeriksa beberapa berkas yang sudah dia pilihkan.
"Apa kamu sudah meminta Saka menjemput Cha cha?"
"Saka masih sibuk, Mom. Tadi Ara minta Pak Joko yang jemput."
"Suami kamu sudah jarang menjemput Cha cha pulang sekolah. Apa akhir-akhir ini apa kamu melihat sikapnya yang mencurigakan?"
"Tidak ada, Mom. Saka benar-benar sibuk di kantor", bantah Tamara.
"Owh begitu. Tapi kamu harus tetap waspada. Karena Saka bukanlah Ayah kandung Cha cha. Dia bisa saja berubah pikiran dan meninggalkan kalian berdua."
"Mommy jangan berfikir yang aneh-aneh deh. Kayaknya Mommy kebanyakan nonton sinetron nih", tukas Tamara.
"Mommy hanya mengingatkanmu. Tidak ada salahnya kamu waspada", sambung Ratu.
"Iya, Mommyku sayang. Ara sudah lapar, nih. Kita makan siang yuk, Mom."
"Hem, kamu harus banyak belajar manage waktu, nih. Bisa kacau kalau atasannya saja tidak punya integritas waktu", sahut Ratu yang membuat Tamara kesal.
"Perut Ara semakin berontak nih, kalau Mommy bahas integritas melulu", ucap Tamara berdecak kesal seraya berjalan ke luar dari ruangan Ratu.
__ADS_1
Ratu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Tamara pergi ke luar dengan merengut. Dia khawatir dalam 6 bulan ini Tamara belum siap sama sekali.