Love Me Tender

Love Me Tender
Indira bertemu paman


__ADS_3

Pak Joko baru saja menghentikan mobil di halaman rumah. Ratu pun turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mommy dari mana?" tanya Tamara saat baru saja datang dari arah pantry.


"Nanti saja mommy cerita. Mommy mau ke kamar dulu,." Ratu terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Hari ini hari apa, sih? Kenapa sikap semua orang di rumah ini sedari tadi sangat aneh? Tadi siang Dira, terus kak Theo, nah sekarang mommy juga." Tamara berdecak kesal sembari berjalan menuju kamarnya.


 


Indira kembali ke ruangan sang bibi di rawat, setelah baru saja selesai mengisi perut keroncongnya di kantin rumah sakit. Indira terbelalak kala melihat sang paman yang sedang berdiri di luar kaca ruangan sang bibi.


"Untuk apa paman datang kemari?" Indira menarik paksa sang paman agar menjauh dari kaca.


"Hai, keponakanku yang cantik. Bagaimana kabarmu setelah tinggal di rumah orang kaya itu? Pasti hidupmu sudah enak sekarang kan!"


"Apa yang sudah paman lakukan pada bibi?" tuduh Indira dengan raut wajah emosi.


Sang paman menatap Indira dengan tersenyum sinis. "Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri. Bukankah kau yang tidak mau mengikuti keinginan pamanmu ini?"


"Pergi dari sini! Jangan pernah temui bibiku lagi!" Indira mengusir sang paman dengan nada emosi.


"Cih, kau tidak bisa menghalangi pamanmu ini, karena bibimu adalah istri sah paman.


"Cukup sampai hari ini, setelah itu bibi akan pergi jauh dari hidup paman."


Sang paman menatap tajam Indira. "Jangan pernah meremehkan pamanmu ini!"


Indira beringsut mundur kala mendengar ucapan sang paman. Sorot mata tajam sang paman membuatnya teringat akan niat jahat sang paman sebelumnya.


"Lebih baik paman pergi dari sini sebelum aku panggil security." Indira sangat kesal melihat sikap sang paman yang bertindak sesuka hatinya itu.


"Wah, sekarang kau sudah berani melawan sama paman? Apa kau pikir karena tinggal bersama dengan orang kaya, maka kau punya kekuasaan untuk melawan pamanmu ini?"


"Silakan paman berasumsi apapun!" Indira beranjak dari posisinya berdiri, lalu berjalan meninggalkan sang paman yang masih menatap kepergiannya.


 


Setelah dari kantor polisi, Indira berencana kembali ke rumah sakit. Namun dia urungkan karena tidak ingin bertemu kembali dengan sang paman. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali kerumah sang mertua.


Saat ini Indira tiba di gerbang rumah sang mertua. Dengan cepat jari tangannya memencet bel rumah hingga sang penjaga membukakannya pintu.


"Non Dira. Kenapa gak minta di jemput saja?" tanya sang penjaga sembari membuka gerbang.


"Dira tidak mau merepotkan pak Joko, pak", jawabnya dengan sopan seraya berjalan masuk. "Dira masuk dulu ya, pak."

__ADS_1


 


Indira mengetuk pintu kamarnya sendiri.


Ceklek.


Theo membuka pintu kamar yang tidak terkunci. "Kenapa kau mengetuk pintu? Biasanya langsung masuk."


"Mulai sekarang aku akan melakukan seperti itu", sahut Indira dengan tegas, lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Theo mengernyitkan keningnya. Kenapa dia berubah, biasanya dia sangat lembut saat bicara, batin Theo.


Tiba-tiba ponsel.Theo berdering. Wajahnya tersenyum kala membaca nama si penelpon. Lalu dia bergegas menuju balkon dan mengangkat panggilan telepon itu.


Tak berselang lama Indira keluar dari dalam kamar mandi. Lalu buru-buru berjalan menuju walk-in closet.


Setelah mengenakan pakaian rapi, Indira keluar dari dalam walk-in closet dan berjalan menuju meja rias hadiah dari sang mommy itu. Dia pun berdiri di sana sembari memakai produk skincare pemberian sang adik ipar. Setelah dirasa cukup, Indira berjalan keluar kamar, mengabaikan sang suami yang masih berada di balkon.


 


"Dira sayang", panggil sang ibu mertua saat Indira baru saja menuruni anak tangga.


"Ya, mom", sahutnya dengan lembut.


"Mommy kirain kamu nginap di rumah sakit. Trus siapa yang jagain bibi kamu di sana?"


"Apa? Paman kamu ada di sana. Apa bibimu aman dijaga sama pamanmu sayang? Mommy kuatir pamanmu akan melakukan hal jahat."


"Tidak akan bisa, mom. Karena tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruangan itu."


Ratu tampak berfikir sejenak. "Okelah, kalau Dira yakin bibimu aman di sana. Tapi besok kita harus pergi melihatnya."


Indira menganggukkan kepalanya. "Baik, mom."


"Dicariin kemana-mana tak taunya sudah di sini", ujar Theo saat baru saja menuruni anak tangga.


Indira tidak menoleh ataupun membalas ucapan sang suami. Dia berdiri diposisinya seperti orang kebingungan.


"Dira... Hei, suamimu sedang bicara padamu."


Indira berdiri diposisinya semula dengan perasaan gelisah, sesekali dia meremas tangannya untuk mengurangi rasa gugupnya. "Em, iya", balasnya singkat yang membuat Ratu menatap Indira dengan curiga.


"Daddy dimana, mom?" tanya Theo yang sudah tak berminat untuk melanjutkan percakapannya dengan Indira.


"Ada di ruang kerjanya. Emang ada perlu apa dengan daddymu?"

__ADS_1


"Ada deh, mom. Theo ke ruang kerja daddy dulu, ya." Theo melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan berjalan menuju ruang kerja sang daddy.


---


Sepeninggal Theo, sang ibu mertua langsung mencecar Indira dengan banyak pertanyaan. Sikap aneh Indira berhasil mengundang kecurigaan sang ibu mertua.


"Apa kamu dan Theo sedang ada masalah?" tanya Ratu to the point.


Indira terkesiap kala mendengar ucapan sang ibu mertua. "Tidak ada, mom. Kenapa mommy bisa ngomong seperti itu?"


"Tadi mommy lihat sikapmu tidak seperti biasanya pada Theo. Dira yang mommy kenal sangat hormat pada suaminya."


Indira tertunduk lesu. "Maafkan jika sikap Dira membuat mommy kecewa. Dira tadi diam, karena masih kepikiran bibi yang sedang berada di rumah sakit, mom. Jadi Dira gak fokus mendengar ucapan kak Theo."


Ratu gak yakin sepenuhnya dengan ucapan Indira. Dia yakin sesuatu benar-benar terjadi pada hubungan keduanya. Namun dia mendiamkannya sembari menunggu Indira mau menceritakannya.


"Ayo, kita siapkan makan malam", ajak Ratu pada Indira. Lalu mereka berjalan menuju meja makan.


---


Di dalam ruang kerja sang daddy, Theo harus menebalkan telinganya kala mendapat nasehat dari sang daddy mengenai pekerjaannya di kantor.akhir-akhir ini. Ali-ali bercerita mengenai masalahnya. Dia bahkan tak diberikan kesempatan bicara oleh sang daddy.


Theo duduk di hadapan sang daddy dengan muka di tekuk. Entah kapan wejangan dari sang daddy itu akan selesai dia pun tak tahu.


"Sudah mengerti?" tanya sang daddy mengakhiri.


Theo pun bernafas lega. Akhirnya aku punya kesempatan bicara, batinnya. "Ya, sudah mengerti, dad", sahutnya dengan cepat.


"Oke, bagus kalau begitu. Daddy mau lihat perubahan hasil kerjamu dalam satu bulan ini."


"Siap, dad."


"Ya, sudah. Ayo kita ke.ruang makan", ajak Raja sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, dad."


"Apa lagi?"


"Ada yang mau Theo bahas, dad."


"Mengenai pekerjaan?" tanya Raja sembari menaikkan alisnya.


"Bukan, dad. Ini masalah pribadi Theo."


"Kalau gitu, nanti saja kita bahas itu. Sekarang kita ke ruang makan. Mommymu dan yang lainnya sudah menunggu di sana."

__ADS_1


"Baik, dad", sahut Theo.dengan lesu. Dia sudah tidak sabar mendengar pendapat sang daddy.


 


__ADS_2