Love Me Tender

Love Me Tender
Suamiku


__ADS_3

Indira mulai melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Daven, saat rasa takutnya mulai surut.. "Kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya sembari menatap Daven.


Daven pun menjelaskan tanpa ada yang dia tutup-tutupi. "Tadi bibimu menelponku. Dia mengatakan pamanmu akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, namun di sela-sela ucapan bibimu aku mendengar suara tamparan yang sangat keras hingga bibimu meringis."


Indira manggut-manggut. "Bisa jadi yang mengirimku pesan itu paman", ujar Indira saat mengingat isi pesan yang tidak seperti gaya bahasa sang bibi.


"Sudah... Jangan pikirkan itu lagi. Ayo, aku antar pulang." Untuk kesekian kalinya Daven menawarkan diri.


indira tidak menolak ajakan Daven. Dia merasa nyaman saat dekat dengannya.


 


Mobil Daven terparkir tepat di depan gerbang rumah Theo.


"Apa kau tidak merasa heran, aku turun di sini?" tanya Indira seraya menoleh ke arah Daven.


Daven pun menatap Indira dengan sedikit gugup. "Tidak! Karena aku sudah mengetahui tentang pernikahanmu dengan Theo dari bibimu."


Indira mengernyitkan keningnya. "Kau begitu akrab dengan bibiku, bahkan bibi menelpobmu saat aku dalam bahaya."


Daven sedikit kelabakan menghadapi kecurigaan Indira. "Aku pernah bertemu bibimu sekali. Tapi kami langsung akrab", ujar Daven menjelaskan.


Sebenarnya Indira belum puas dengan jawaban Daven, namun dia tidak ingin berlama-lama di luar. Dia kuatir akan kepergok keluarga Theo, saat dia berduaan bersama Daven.


"Terimakasih, untuk segalanya hari ini", ucap Indira dengan tulus.


"Sama-sama", sahut Daven. Lalu dia melajukan kendaraannya meninggalkan Indira yang sedang memencet bel.


 


"Masih ingat pulang?" tanya Theo saat Indira baru saja masuk.


"Ma-maaf pak. Sa..."


"Pak!", Theo memotong ucapan Indira dengan mengulangi kata pak yang baru diucapkan Indira dan dia merasa kesal mendengar kata itu. "Panggil saja aku, kak", ujarnya.


"Maaf, kak. Tadi pamanku mengirim pesan ini dari nomor bibi", ujar Indira seraya menyodorkan ponsel miliknya pada Theo.

__ADS_1


Entah kenapa Theo pun tertarik untuk melihatnya. Theo mengernyitkan keningnya saat membaca pesan di ponsel Indira. "Kau pikir aku akan percaya dengan tipuan murahan ini!" seru Theo.


"Terserah kakak mau percaya atau tidak!" Indira meraih ponselnya dari tangan Theo, kemudian berlalu meninggalkan Theo yang masih berdiri diposisinya dengan muka cengo.


Theo masih melongo saat melihat punggung Indira yang sudah menjauh. "Ini pasti pengaruh pria tengil itu, makanya Indira mulai berani membantah", ucap Theo bergumam.


 


Di dalam kamar Indira yang sebenarnya diperuntukkan bagi pembantu itu. Dia sedang duduk meringkuh di sudut tempat tidur kecilnya. Kejadian di rumah sang bibi seakan masih lekat dalam pikirannya.


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Indira. "Siapa?" tanya Indira dengan suara paraunya.


"Ini bibi", sahut suara dari balik pintu.


Indira bangkit, lalu bergegas membukakan pintu kamarnya. "Ada apa, bi?" tanya Indira saat pintu sudah terbuka lebar.


"Kemana saja kau pergi setelah pulang kuliah? Bukankah bibi sudah mengingatkanmu untuk melakukan tugasmu sepulang kuliah." Sang bibi terus berceloteh hingga membuat Indira pusing. Dan tiba-tiba Indira melihat sekelilingnya mulai gelap hingga akhirnya tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai.


 


"Dira... Dira..." panggil sang bibi sedikit panik saat Indira belum juga sadarkan diri, namun suara teriakan sang bibi berhasil mengusik perhatian Theo yang hendak berjalan menuju pantry.


"Kenapa, bi?" tanya Theo saat melihat sang bibi sedang menopang kepala Indira.


"Dira pingsan den", sahut sang bibi.


"Tolong pegang ini bi." Theo memberikan gelas kosong ditangannya pada sang bibi, lalu dia mengangkat tubuh Indira dan meletakkannya di atas tempat tidur. "Kenapa dia bisa pingsan, bi?" tanya Theo saat melihat wajah pucat Indira.


"Mungkin dia kelelahan, den", sahut sang bibi sekenanya, karena sebenarnya dia tidak tahu pasti penyebab Indira pingsan.


Tiba-tiba Indira mengerjap sembari memegang kepalanya.


"Dira sudah sadar, den", ucap sang bibi saat melihat mata Indira mulai terbuka.


Theo pun menghampirinya. "Kau kenapa?" tanya Theo seraya duduk di tepi ranjang Indira, namun Indira hanya menatapnya dengan wajah bingung. "Apa kau sudah makan?' tanya Theo dengan sedikit perhatian yang berhasil menyentuh perasaan Indira.

__ADS_1


"Terimakasih perhatiannya kak", sahut Indira dengan lirih. "Memang aku belum makan."


"Bi, tolong bawakan makanan!" pinta Theo dengan sigap, lalu membantu Indira duduk dengan menyandarkan punggungnya.


Sang bibi melangkahkan kakinya menuju dapur dengan segudang pertanyaan dalam benaknya. "Kenapa den Theo sangat perhatian pada pembantu, bahkan sampai menggendongnya", ucap sang bibi bergumam.


 


"Ini, den makanannya. Biar Dira makan sendiri.", ucap sang bibi saat membawakan makanan di atas nampan.


"Sini, bi" pinta Theo seraya meraih nampan dari tangan sang bibi. Lalu dia menyendokkan sesuap makanan ke dalam mulut Indira.


Indira menolak dengan menjauhkan wajahnya. "Sini, biar saya sendiri saja kak", ujar Indira sembari meraih sendok dari tangan Theo, namun Theo menahannya.


"Jangan membantah!" ucap Theo dengan tegas. Indira pun terpaksa menurutinya. Suapan demi suapan dia terima dari tangan Theo.


"Cukup, kak." Indira mendorong tangan Theo saat akan memasukkan suapan berikutnya. "Dira sudah kenyang", ucapnya sembari meraih segelas air minum dari atas nampan, lalu meminumnya dalam sekali tegukan.


"Tolong di simpan, bi", ujar Theo seraya memberikan piring dan gelas yang baru saja digunakan Indira di atas nampan.


"Baik, den", sahut sang bibi sembari meraihnya. Lalu dia beranjak meninggalkan kamar Indira.


"Apa kepalamu pusing?" tanya Theo, namun masih di dengar oleh sang bibi.


"Sedikit, kak", balas Indira lirih.


"Kalau gitu, kau istirahatlah dulu." Theo membantunya berbaring kembali! di tempat tidur dan menarik selimut sebatas dada Indira layaknya perhatian suami pada sang istri.


"Terimakasih kak", ucap Indira seraya mengusap air mata haru karena perbuatan manis Theo.


Theo pun pamit, lalu keluar dari dalam kamar Indira dan menutup rapat pintu.


Sepeninggal Theo, Indira tidak langsung tidur. Dia masih memikirkan perubahan sikap Theo. Entah apa yang sudah merasuki Theo hingga dia menjadi perhatian pada Indira.


Seulas senyum terbit di sudut bibir Indira saat mengingat sikap manis Theo, walau hanya beberapa saat. "Semoga hari esok lebih baik lagi", ucap Indira bergumam sembari memejamkan matanya.


 

__ADS_1


Di dalam kamar, Theo menatap nanar langit-langit kamarnya sembari mengingat kejadian saat Indira meminta Theo untuk melihat isi ponselnya. Satu nama mengusiknya pada notif panggilan tak terjawab di ponsel Indira, suamiku. Nama kontak yang Indira tujukan pada Theo. Theo tersenyum tatkala mengingatnya, namun sesaat kemudian dia tepis. "Sadar Theo... Sadar. Dia adalah orang yang sudah menjebakmu", ucap Theo bergumam sembari menepuk pelan pipinya.


Lalu Theo menarik selimut dan memejamkan matanya hingga akhirnya dia terbang ke dunia mimpi.


__ADS_2